I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Menangislah Mama


__ADS_3

Lean dan Arles sedang menonton televisi yang menyiarkan film kartun sembari menunggu kepulangan Glesty, sang mama.


Tiba - tiba Arles seperti teringat sesuatu. "Lean, apakah disekolahmu menyenangkan? Lean menjawab dengan anggukan kepala. Arles kembali bertanya "apa teman - temanmu mengganggumu? Lean menggeleng dengan tersenyum. "wah,, benarkah?" Arles terlihat memgangguk - anggukkan kepala sambil berfikir.


Suara motor yang berhenti di depan rumah, membuat Arles dan Lean berlari ke arah pintu, karena yakin bahwa mamanya telah pulang "mamaaa" panggil Arles mewakili keduanya, mereka berlari ke arah Glesty, dan langsung memeluknya.


Glesty yang masih dengan perasaan yang tidak jelasmya akibat terkejut melihat Arland yang tiba - tiba saja muncul untuk pertama kalinya setelah lebih dari 7 tahun, membalas pelukan dua bocah itu dengan sangat erat seolah takut ada yang akan merampas mereka darinya "mama sayang kalian" ucapnya membuat kedua bocah ini menangkap aura aneh dari dirinya.


Menyadari bahwa mereka bertiga masih berada diluar rumah, Glesty dengan spontan melepaskan pelukanya, lalu matanya mengedarkan pandangan disekeliling mereka "ayo cepat masuk sayang" ucapnya, seperti takut ada yang akan menangkap basah kebersamaan mereka. Ia menarik tangan kedua anaknya, membuat dua bocah itu semankin bingung dengan sikapnya dan sangat yakin bahwa telah terjadi sesuatu dengan sang mama.


Saat memasuki rumah "sayang, tolong bawa belanjaan mama" perintahnya dan menyerahkan tas belanjaan itu masing - masing ditangan Lean dan Arles, kedua bocah itu pun menurut. Glesty dengan gerak cepat menutup pintu dan menguncinya. Setelah pintu telah terkunci, Glesty membalikkan tubuhnya, namun rasanya ia tidak bisa melangkah. nafasnya terasa sangat tidak beraturan diiringi dengan debaran jantungnya yang berdetak tidak karuan. Glesty menyandarkan tubuhnya pada pintu yang telah terkunci itu, dan terduduk lemas dilantai. Ia berusaha menenangkan hatinya, mengembalikan keadaan tubuhnya agar kembali normal "tenang Glesty, tenang," batinnya.

__ADS_1


"Mamaa," suara Arles selembut mungkin, nanmun masih bisa membuat Glesty merasa terkejut. Ia tak menyadari kedua bocah itu sudah ada di dekatnya. Melihat mamannya yang terduduk dengan tangan bergetar, kedua bocah itu berlutut dan mengambil tangan Glesty dan mengelusnya, Arles dengan tangan kanan dan Lean disebelah kiri. "Mama kenapa,,,? Apa diluar ada penjahat?" Tanya Arles pelan dan penuh kelembutan.


Mendengar pertanyaan polos anaknya, membuat Glesty mengeluarkan air mata. Ia berusaha menahan isak tangisnya dan hatinya terasa sangat perih. "Kedua bocah itu perlahan mendekatkan tubuh mereka dan mendekap sayang sang mama. "Menangislah ma,,,, menangis saja" ucap Arles dan menepuk - nepuk pelan punggung mamanya. Isak tangis yang tertahan di dada Glesty pun kini pecah dan mengeluarkan suara. Glesty menangis sejadi - jadinya dipelukan anak - anaknya yang masih sangat kecil itu.


"Terima kasih sayang" tuturnya disela tangisannya. Arles dan Lean hanya mengangguk. Keduanya merasa sangat sedih melihat mamanya terang - terangan menangis di depan mereka. Karena selama ini Arles beberapa kali melihat mamanya menangis sendirian tanpa suara, Arles bisa merasakan kesedihan yang terlalu dalam dihati mamanya. Sudah berapa kali mamanya ini menangis? Seberapa besar luka dihati mamanya ini sehingga membuatnya sesedih ini? Mamanya yang selalu tersenyum jika didepan orang, namun saat sendirian ia menangis.


"Sayang," Glesty menatap wajah polos keduanya dan mengelus wajah itu "maafkan mama karena tidak menjadi kuat untuk kalian" ucapnya lirih. Glesty merasa sangat bersalah karena terlihat lemah dihadapan anak-anaknya.


Keesokan harinya.


Tuan besar terlihat memanggil seseorang melalui telfon genggamnya "halo pah, ada apa?" ucap seorang pria dari seberang sana. "Arland, papa minta kau menemani mamamu untuk berkunjung ke beberapa tempat hari ini. Papa harap kau bersedia" ucap papanya sedikit tegas. Arland hanya mengiyakan, walau ia rasa sebenarnya hal ini dapat menghalagi rencana yang ingin ia lakukan hari ini.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Seperti biasa aktivitas akan kembali normal menyambut hari pertama dalam satu minggu. Glesty mondar mandir sambil menunggu kedua anaknya bersiap untuk ke sekolah. Dengan berat hati, ia pun menelfon penyedia jasa taxi, untuk mengantar anak - anaknya ke sekolah hari ini. Hal ini ia lakukan karena merasa takut jika saja Arland akan tiba - tiba muncul seperti kemarin dan bertemu dengan kedua bocah itu. Membayangkannya saja Glesty merasa sangat takut.


Lean dan Leon kini berada di dalam taxi yang mengantarkan keduanya ke sekolah. Tiba di deoan gerbang sekolah Lean, Arles pun juga ikut turun. Pak supir bertanya kenapa Arles turun di sekolah ini, Arles hanya menjawab "aku ingin mengantar adikku paman, paman jalan saja, aku akan berjalan kaki ke sekolah ku yang tidak jauh dari sini" tuturnya dan diangguki oleh supir taxi tersebut.


**Bersambung.


Gaes,, siap - siap, part selanjutnya akan sedikit menguras emosi kalian😉.


Terima kasih telah membaca ya, jangan lupa dukung author😁😁**

__ADS_1


__ADS_2