
Arland menatap Glesty dengan sangat lama.
"Kenapa dia menatapku seperti ini? Apa dia masih memiliki perasaan terhadapku? Lirih Glesty dalam hati. Namun, ia segera mengusir pikiran itu dari otaknya. Bagaimana seperti itu, pikirnya.
Glesty menarik napasnya dalam kemudian berkata "Kurasa kita tidak perlu ikut campur tentang perasaan satu sama lain. Lagi pula, 7 tahun telah berlalu. Itu waktu yang cukup untuk dua orang saling melupakan." Tuturnya datar.
Arland terdiam sejenak mendengar penuturan Glesty.
"Kalau begitu aku permisi!" Sambung Glesty, dan keluar dari mobil Arland.
Arland merasa sangat marah melihat sikap Glesty yang terang - terangan terlihat tidak menyukai kehadirannya. Apalagi mendengar penuturan Glesty barusan. Seenaknya saja perempuan ini melupakannya, sementara, selama ini dia Arland, sangat menderita karena harus menerima kenyataan bahwa Glesty telah pergi meninggalkannya.
"Apa katanya? Saling melupakan? Jadi selama ini dia sudah nelupakanku sementara diriku tersiksa merindukannya? Shiit!" Arland mengumpat dalam hatinya, terlihat Arland sudah mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang kini sudah sampai di ujung tanduk.
"Selama ini kau pasti berharap aku tidak akan bangun, iyakan?" Ucap Arland, datar. Membuat Glesty menahan kakinya yang hendak melangkah pergi.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kembali ke apartemen Lea.
Kini dapur Lea yang tadinya berantakan karena aktivitas memasaknya tadi, sudah terlihat normal seperti biasa kembali.
Lea lalu kembali ke kamar dimana Devan berada untuk mengajak pria itu makan siang bersama. Saat melihat kekasihnya yang tertidur begitu tenang, Lea tidak tega untuk membangunkannya. "Ah, lebih baik aku tunggu saja dia bangun, mungkin dia sangat lelah bekerja." Batin Lea. Ia pun keluar dari kamar itu menuju ke kamarnya untuk menikmati istirahat siang.
Niatnya untuk tidur teralihkan karena pikirannya yang sedikit kacau. Lea tampak memikirkan sesuatu. "Apa aku terus terang saja yah padanya kalau aku adalah adik dari mantan istri kak Arland," Lea bingung harus menjelaskan yang sebenarnya mulai dari mana. Ia merasa harus jujur sebelum waktunya terlambat. Karena jika tidak, hubungan mereka bisa saja terancam apabila Deva mengetahui motiv awalnya mendekati Devan. Ya walaupun hal itu telah berubah menjadi perasaan yang sesungguhnya, Lea tetap merasa takut.
"Alin," suara Devan memanggil dari arah pintu. Lea auto menoleh kearah lelaki itu dan tersenyum "baru saja memikirkannya, dia tiba-tiba muncul," Batin Lea.
__ADS_1
"Sudah bangun?" Tanya Lea basa - basi, kemudian beranjak dari kasur empuknya.
"Tunggulah dulu Alin sayang," Devan seperti menyorot matanya keseluruh kamar itu.
"Kau sedang mencari sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin melihat-lihat kamarmu saja." Devan menuju ke kasur dan duduk menselonjorkan kakinya disana.. "Sini, duduk disebelahku," pinta Devan, dan Lea hanya menuruti namun mengerutkan kedua alisnya. "Ada apa denganmu?" Ucapnya dan duduk disamping kanan Devan.
"Seperti ini" ucap Devan lalu merentangkan tangan kanannya dan membuat kepala wanita itu bersandar di dadanya. "Lea pun, tersenyum karena merasa senang.
"Aku masih mengantuk Alin sayang, ayo tidur lagi sebentar," bisiknya pelan ditelinga Lea dan hanya diangguki oleh wanita itu.
"Kali ini aku akan benar - benar menikmati tidur siangku," ucap Devan lagi.
.
.
\=\=\=\=\=
"Dia adalah orang baik" tutur Glesty, tanpa membalikkan tubuhnya yang kini berdiri membelakangi Arland. "Tentu saja aku mencitai dia, bagaimana mungkin kami sampai memiliki dua anak jika tidak saling mencintai" ucap Glesty lagi. Bukannya menjawab pertanyaan yang barusan, Glesty malah menjawab pertanyaan Arland yang diawal.
Kini Arland dapat merasakan sendiri gemuruh di dadanya menahan perasaan kecewanya. Seketika tubuhnya merasa lemas. Rasanya ia tidak sanggup mendengar penjelasan Glesty barusan.
Tidak hanya Arland, Glesty pun merasakan hal yang sama. Ia berpikir dengan mengatakan itu, akan membuat perasaannya legah, namun, ternyata tidak.
"Oh ya, satu lagi! Terima kasih, karena kau masih sehat. Aku merasa legah mengetahui kau sudah bangun lagi." ucapnya, lalu benar - benar pergi dari hadapan Arland.
Glesty mengendarai motornya sambil menangis di balik helm yang terpasang dikepalanya. Sebenarnya Glesty sangat ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi diantara mereka, ia sangat ingin bertanya kenapa dulu Arland bersandiwara, ia juga ingin mengatakan bahwa Arlanlah yang dibawa pergi meninggalkan dirinya yang tengah mengandung buah hati mereka. Namun, Glesty sadar bahwa jalan hidup memang tidaklah mulus, dan harus menghadapi kenyataan.
Ditambah lagi, mengetahui Arland yang dulu ternyata telah bertunangan dengan yang lain, Glesty merasa dirinya menjadi wanita yang telah mengambil milik wanita lain. Jadi lebih baik baginya untuk merelakan Arland, memilih hidup tenang bersama anak kembarnya.
Belum lagi tentang kedua orangtua Arland yang terang - terangan tidak menginginkannya sebagai istri putra mereka. Memikirkan itu, sungguh Glesty tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga itu.
__ADS_1
.
.
\=\=\=\=\=\=
Malam harinya..
PRANK....
PRANK....
PRANK....
Beberapa barang pecah dan berhamparan dilantai. Saat ini Arland tengah mengamuk seperti orang kehilangan akal.
"Arland... Arland... kamu kenapa nak!"
Nyonya besar yang tiba - tiba muncul mendapati anaknya terlihat sangat kacau.
Arland melihat kearah mamanya, dan kini airmatanya benar - benar keluar!
"Ma.. kenapa ma.. kenapa Glesty sangat kejam padaku? Glesty meninggalkanku ma..." lirihnya dengan menangis.
Mama dengan segera memeluk tubuh putranya itu yang kini terlihat lebih kurus.
"Maafkan mama nak, semua ini salah mama. Mama akan bayar ini semua sayang." Batin mama.
Bersambung....
Trima kasih telah membaca ya guys..
Maaf, author lg kurang sehat jadi part ini mungkin kurang greget 😊
__ADS_1