I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Membuka Mata (Season 2)


__ADS_3

Calista telah membuka matanya.


Tentu saja ini adalah kejutan. Dini sangat senang.


"Sayang... kamu bangun? Anak mama benar-benar bangun sekarang?" Dini tak hentinya memeluk dan mengecup selurih wajah anaknya itu.


"Dini lalu teringat akan pesan dokter, bahwa ketika Calista bangun atau apapun reaksi yang dialaminya, harus segera menghubungi medis dengan cara menekan tombol yang tersedia disana.


"Sebentar ya sayang," mama dini laku menekan tombol tersebut, dengan tergesa-gesa.


Tiba-tiba, Calista menahan tangan mama, dan meremasnya. Tatapannya seperti orang yang ketakutan.


"Calis? Ken...napa sayang?" Dini kembali khawatir.


"Sssuuuuut.. ma.. jangan berisik.." Calista seperti berbisik. Ia bahkan memberi tanda diam pada mulutnya.


"Ma........ mereka.. me.. reka mengejarku.." Calista tampak semakin ketakutan.


"Sa.. sayang, tidak ada yang mengejarmu nak." Dini menggeleng.


Calista pun ikut menggeleng. "ma..... mereka mengejarku... mere...ka.. ingin menjualku ma.. maaa, aku sangat takut." Calista semakin merancau tak jelas dengan wajah ketakutan. Bahkan seluruh tubuhnya sampai bergetar hebat.


Ceklek.


Dokter membuka pintu.


Calista, dengan perasaan takutnya melihat ke arah siapa yang datang.


"Ma.... itu mereka ma, to to tolong usir mereka ma... maaa.. Calis takut" gadis itu berusaha bersembunyi dibalik tubuh mamanya, berharap adanya perlindungan.


Perlu diketahui bahwa saat ini, kondisi Calista masih terbilang lemah. Dimana, salah satu tangan dan kakinya yang patah, membuatnya tidak bisa banyak bergerak untuk saat ini. Tidak lupa juga, masih ada perban yang melingkar di kepalanya yang juga cidera.


"Sayang... mereka adalah dokter nak. Kamu sedang sakit, jadi dokter datang untuk merawatmu sayang!"


"Do..do..dokter?" tanya nya meyakinkan. Dini mengangguk. Perlahan Calista mengendurkan eratan tangannya pada tangan mama.


"Selamat sore Calista.." sapa pak dokter yang sudah berusia kepala 5 itu.


"Sore dok.." jawabnya pelan. Jujur saja, kepala Calista masih terasa berdenyut.


Dokter: "Wahhh. Selamat ya Calis, karena sudah bangun. Kamu hebat. Darimu, saya bisa melihat betapa hebatnya kekuatan cinta itu." Sambung pak dokter.


Calista: 🀨🀨🀨🀨"apa maksudnya dok?"

__ADS_1


Dokter: "Yang saya maksud adalah.. seseorang yang sangat mencintaimu, dialah yang membuatmu bangun dari kematian. Sepertinya.... Tuhan memang mendukung cinta kalian." dokter tersenyum, mengingat Arles.


"Aaaaaaaaa.." pekik Calis, sembari memegang kepalanya.


Dokter: "Apa kepalanya masih terasa sakit?"


Calis: "Sedikit dok!"


Dokter: "Waaaaa.. sepertinya saya terlalu banyak bicara ya," candanya.


Setelah memeriksakan keadaan Calista, dokter pamit untuk keluar, dan diikuti oleh perawat dibelakangnya.


"Sayang, mama keluar sebentar ya..."


Dini bergegas menyusul pak dokter untuk menanyakan sesuatu.


"Permisi dok.. ada yang ingin saya tanyakan kepada dokter."


"Baik, mari ikut ke ruangan saya bu Dini!"


🍁


Cklek.


"Calista.....? Sayang!" Glesty berlari dan memeluk Calista.


"Tanteee... saya sangat takut sendirian." Calista memeluk Glesty dengan sangat erat. Sepertinya dia benar-benar takut.


"Ini mama Gless sayang.. jangan takut ya!!" Glesty berusaha menenangkan Calista.


"Tantee, apa ada orang lain diluar?"


"Tidak ada sayang.. apa kamu menunggu seseorang?"


"Tidak. Saya tidak menunggu siapa pun. Aaaaku, hanya takut jika ada orang jahat diluar."


"Sebenarnya apa yang anak ini pikirkan? Kenapa dia terlihat sangat takut?" batin Glesty.


Clek.


Pintu kembali terbuka. Calista kembali terlihat panik.


"Selamat sore bu Glesty, Calista! Permisi, saya mengantarkan Makan malamnya, selamat menikmati!"

__ADS_1


Glesty dapat melihat dengan jelas Calista bernapas legah.


"Calis sayang, kita makan dulu yah, mama Gless suap ya.." Glesty mulai terbiasa memanggil gadis ini dengan nama Calis, seperti yang disukai oleh putranya.


Hah Arles? Ngomong-ngomong dimana pria itu? Kenapa tidak muncul saat Calista sudah membuka mata?


Kini Glesty, sedang menyuapi Calis.


🍁


Di tempat lain:


Dokter: "Untuk kasus seperti ini, tidak perlu khawatir bu Dini. Putri anda tidak Gila. Dia hanya masih syok pasca operasi dan memory nya masih mengulang peristiwa ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Pasien hanya trauma, dan ini biasanya tidak berlangsung lama. Pasien akan pulih. Untuk gejala ini, kita akan menugaskan ahlinya untuk membantu pasien."


Dokter memberi penjelasan kepada mama Dini atas kekhawatirannya terhadap putrinya itu.


🍁


Arles sedang menuju ruangan Calista, dengan membawa 4 orang yang menjadi penyebab kecelakaan yang dialmi Calista.


Bagaimana Arles bisa menemukan 4 bajingan ini lengkap dengan nomor rumahnya adalah karena campur tangan papa Arland.


Mereka adalah sang rentenir dan 3 anak buahnya sebagai depkolektor.


Keempat orang itu sudah babak belur karena ulah Arles yang menggila.


Meskipun terlihat sangar, namun keempat orang itu ternyata tidak dibekali dengan ilmu bela diri yang baik, sehingga melawan Arles seorang diri saja tidak mampu.


Tak lupa, kedua sahabat Arles itu juga berada bersama dengan Arles saat ini, namun keduanya tidak ikut campur dalam aksi pukul memukul. Hanya jadi penonton saja dan membantu Arles mengevakuasi 4 preman itu. Tapi keempatnya masih bisa berjalan, tidak harus di gotong loh yaπŸ˜„.


"Masuk!" Perintah Arles, saat mereka sudah tiba di depan pintu yang bertuliskan VVIP.


"Apa kalian tidak dengar? Masuk" ucap Fran dan Bagas bersamaan.


Arles mengatakan bahwa, keempat orang ini harus melihat keadaan Calista, dan memohon ampun kepada Calista, sebelum dirinya mengirim empat orang ini ke neraka.


Ternyata pria ini serius dengan kata-katanya dan disinilah keempat orang itu sekarang, namun belum berani membuka pintu itu. Pintu yang mungkin saja mereka bisa lewati untuk terakhir kalinya dalam keadaan hidup, sebelum pintu neraka.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2