I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Pemaksaan (Season 2)


__ADS_3

Jika biasanya Calista akan segera kabur untuk menghindari Arles, kali ini Calis hanya bisa pasrah.. Dia tidak punya kekuatan untuk pergi kemanapun. Jangankan lari, jalan saja dia sudah pasti belum kuat. Kecuali jika dia nekad ngesot dah.


Apalagi, Calista berpikir, kini Arles sudah terlanjur tahu sesuatu yang menjadi kelemahannya. Salah satu kelemahan Calis adalah saat orang lain mengetahui bahwa dia memiliki hutang. Setelah ini sudah tidak bisa menyombong lagi ke Arles karena dirinya kini bahkan berhutang kepada pria ini.


Sepeninggalan mama Gless dan yang lain, Arles dan Calista kini benar-benar hanya berdua saja di ruangan yang cukup luas ini.


Untuk sejenak, Arles merasa bingung, apa yang harus ia katakan dalam situasi ini. Akhirnya, pria itu menundukkan kepalanya, karena menatap Calista pun dia merasa tidak sanggup.


Ah, ternyata mereka sama-sama merasa tak berdaya pada detik ini.



"Seperti yang kamu katakan tadi, bahwa ketika aku terbangun, maka kamu akan pergi meninggalkanku. Lakukanlah Arles. Lakukan seperti katamu." Calista memulai perbincangan. Dia berusaha untuk bersikap santai saja, seolah tidak terjadi apapun.


"Memang itukah yang diinginkan hatimu Calis? Kamu memang tidak mau lagi melihatku?" tanya Arles dalam keadaan masih tertunduk.


"Aku... sudah lama tidak peduli dengan hati dan perasaanku Arles."


"Tapi aku peduli Calis.. aku peduli. Calis... tidak bisakah kita memulai lagi dari awal? Aku benar-benar gila tanpa kamu. Aku tidak bisa tanpa kamu." jujur Arles.


Calis tersenyum getir mendengar penuturan Arles. "Kamu pasti bisa.. bukankah dulu pernah kamu lakukan?"


Dasar hati Arles lagi-lagi merasa tertusuk mendengar perkataan Calis. "Itu adalah kesalahanku Calis.. aku menyesal. aku ingin memperbaikinya."


"Menyesal? Tidak. Kamu salah. Kamu tidak perlu merasa menyesal. Akan lebih menyesal dan sakit jika waktu itu kamu tidak pergi. Karena... tetap bersamaku hanya akan membuat kamu merasakan yang namanya kesulitan hidup.." Kali ini, Calis berusaha tersenyum.


"Maaf Calis.. Maafkan aku. Seharusnya waktu itu aku tetap bersamamu bukan malah menghilang membawa kemarahanku!


"Arles... kenapa kamu begini? Aku pernah bilang aku sudah memaafkanmu."


"Tapi aku tidak hanya membutuhkan itu Calis.. aku menginginkanmu. Aku sungguh-sungguh."


"Tapi aku tidak punya keberanian untuk memiliki kamu atau siapa pun Arles... Aku ini,,, hanya seseorang yang hanya akan membebani hidup orang lain. Aku saja muak dengan hidupku sendiri, apalagi orang lain yang terlibat denganku!" Lagi-lagi Calis berusaha mengeluarkan tawanya.


"Calis... jauh darimu adalah sesuatu yang paling menyakitkan untuk aku. Aku tidak bisa."


"Arles... jangan bicara seperti itu. Aku ini... tidak layak untuk disukai apa lagi diinginkan seperti katamu. Kamu hanya akan menyesal.


"Bahkan aku sangat malu berhadapan denganmu sekarang."

__ADS_1


"Arles,, maaf telah membuatmu terlibat dalam urusan hutang piutang." Calista menundukkan kepala.


"Aku akan membayarmu kembali." Sambungnya lagi.


"Calista..." kini Arles mendekat.


"Aku tidak peduli sebesar apa kehidupan sulit yang kamu maksudkan. Ayo kita hadapi bersama. Itu adalah tekadku.


"kamu benar-benar keras kepala. Pemaksaan."


"Iya.. aku hanya akan memaksamu sampai kapanpun. aku akan selalu mengganggumu Calis. Sampai kau bosan dan akan bilang iya padaku." Terdengar sedikit pilu, namun tegas.


"Untuk hari ini, aku akan pulang dulu. Permisi!"


Calista: 🀨🀨🀨


🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


Pagi-pagi, Lean telah tiba di rumah sakit untuk mengunjungi Calis.


"Selamat pagi..." Lean muncul tanpa mengetuk, membuat Calis sedikit terkejut.


"Lean?..." Calis menerima dengan baik pelukan dari sahabatnya itu.


"Kamu datang sendirian?" tanya Calis, sembari melirik ke arah pintu, kali aja ada yang menyusul Lean.


"Cieh.. kangen yah sama Arles?" goda Lean.


"Haah? Kata siapa aku sedang menunggunya?"


"Ini, barusa kamu sendiri yang bilang!" Lanjut Lean.


"Sabar Nara.. tadi malam dia berangkat. Mungkin 3 hari lagi, dia akan pulang!"


"tiga hari? itu artinya dia tidak datang hari ini?"


"Tu kan.... kamu ngelamun. Kamu mikirin dia.. tu lihat muka kamu murung!"

__ADS_1


Calista memegang kedua pipinya, reflek.


"Nara... Nara.. jelas-jelas suka sama dia, tapi masih juga tidak mau mengakui." batin Lean.


"Selamat pagi" Nino menyapa dan mengejutkan keduanya.


"Nino?" Calis terlihat bersemangat. Terlebih lagi Lean. Namun, Nino terlihat mengacuhkan Lean. Perlu diketahui, Nino sengaja bersikap demikian, sebagai balasan karena Lean telah mempermainkan perasaannya beberapa hari lalu.


"Cih.. apa dia tidak melihatku? kenapa sepertinya dia sedang menfacuhkanku?" Lagi-lagi Lean hanya membatin.


Drrrrt.. drrrrt.. drrrrt


Glesty tengah menghubungi ponsel Lean.


Lean mengaktifkan loadspeaker.


"Halo mama.."


"Sayang... gimana keadaan calon menantu mama?" tanya Glesty dari seberang, dengan terang-terangan menyebut Calis sebagai calon menantunya.


Calista: 😯😯


"Maaa.. pagi ini dia terlihat sangat sehat. mungkin karena tidak mendapat gangguan dari putra mama itu." Lean sengaja menekan perkataannya.


"Huss kamu tu yah, asal aja kalau bicara. Lean, gini maksud mama, kamu tidak perlu ke kantor hari ini. Mama minta tolong kamu pergi ke salah satu apartemen kita dan membersihkannya."


"Apa? Aku sendirian?" Lean protes.


"Emmm.. ajaklah beberapa pria pengangguran yang ada disana. Mereka cukup ramah."


Mata Nino menatap tak suka ke arah Lean. Enak saja dia mau bersama pria lain di Apartemen?


.


.


Bersambung.


othor jadi ga sempat balas komen, karena sibuk nulis gaesπŸ˜„

__ADS_1


__ADS_2