I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Lukisan Lean


__ADS_3

Leon Lea masih dalam mode hening.


Pertanyaan Arles yang tiba-tiba tentang papanya membuat mereka bingung harus menjawab apa.


Leon melirik kaca spion yang ternyata langsung bertatap dengan adiknya Lea yang kebetulan juga melihat ke arah spion karena ingin melihat reaksi dan ekspresi kakaknya. Seolah mengerti dengan tatapan masing-masing, Leon memberinya kode agar Lea saja yang menjawab pertanyaan Arles.


"Ehm... sa.. sayang, kamu barusan nanyain papa? Tanya Lea dengan ekspresi biasa saja.


"Hmmm. jawab bocah itu singkat.


"Begini... papa kalian, masih hidup sayang. Belum meninggal.


"Jadi papa tidak sayang kami?


Arles kembali bertanya, dengan wajah tertunduk sedih. Lagi-lagi Arles bertanya.


"Sayang, tidak ada orang tua yang tidak sayang anaknya..


"Tapi kalau papa sayang, kenapa papa tidak tinggal dengan kami?


Kini pertanyaannya disertai dengan nada bergetar menahan rasa ingin menangis..


Lea dan Leon juga merasa sangat ingin memeluk bocah yang sudah banyak pertanyaa itu, dan menangis bersamanya..


Leon menepikan mobil dan berhenti.


"Hey boy.. kenapa tidak menanyakan hal ini ke mama? Tanya Leon.

__ADS_1


"Arles tidak ingin mama sedih. Saat hari pertama perkenalan kelas, teman-teman menertawakan Arles karena tidak punya papa, tidak tahu papa dimana. Terus pulangnya Arles langsung tanya mama. Tapi mama tidak bilang apa-apa. Setelah itu Arles lihat mama menangis sendirian. Arles tidak ingin melihat mama sedih lagi. Jawab bocah itu panjang lebar.


"Onty, kalau ontu Le tau papa dimana, tolong bawa kami lihat papa yah onty! Ucapnya lagi dan kini airmatanya sudah benar-benar mengalir. Sedangkan Lean, ia hanya memperlihatkan ekspresi sedih diwajahnya.


"Kasihan sekali keponakanku. Baru sekecil ini dia sudah merasakan sedih yang mendalam. Batin Leon


"Pasti dia merasa tersiksa akan pertanyaan teman-temannya yang selalu saja mempermasalahkan ketiadaan papanya. Batin Lea.


"Sayang, bersabarlah sebentar lagi yah.. Onty dan uncle akan membawa kalian bertemu papa yah... Ucap Lea.


"Benarkah? Kenapa tidak sekarang onty?


Arles dengan semangat menghapus airmatanya.


"Karna papa kalian lagi ditempat yang jauh sayang...


"Hah! Benarkah begitu onty?


Arles merespon dengan wajah bersemangat.


"Uncle, benarkah yang onty katakan?


Tanyanya kembali kepada Leo.


"Tentu saja boy.. Tapi...


Leon terlihat ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Tapi..?


Arles mengeryitkan dahi.


"Sayang tapi rahasiakan ini dari mama yah.. jangan sampai mama tau tentang yang onty dan uncle katakan barusan ya... sambung Leon.


" Oke uncle. Jawabnya singkat.


"Nah sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan uncle! Sahut Arles dengan wajah yang penuh kegembiraan.


"*Semoga aja papa cepat sembuh. Jadi papa pulang dari luar negeri. Papa... Arles pengen kayak teman-teman. Punya papa, punya mama!


"Pantasan aja mama menangis saat mengingat papa waktu itu. Ternyata mama sedih karena papa sedang sakit.


"Ya Tuhan, sembuhkanlah papa kami ya Tuhan.. Batin Arles.


\=\=\=\=\=\=


Gelsty sedang menatap sebuah kertas berbentuk persegi panjang yang baru ia temukan di dalam laci disebelah tempat tidur anaknya, yang didalamnya ada lukisan seorang gadis kecil yang sedang duduk, kepalanya bertumpu pada kedua kakinya dengan tangan melingkar memeluk kedua kakinya tersebut.


Disamping sosok gadis kecil itu ada kaliamat bertuliskan "Papa.. pulanglah! Lean kangen papa".


Terlihat pula gambar sosok laki-laki dewasa namun tidak memiliki wajah. Diatas sosok itu tertulis satu kata "Papa".


Glesty terduduk lemas di lantai samping tempat tidur putrinya, menatap lukisan itu dengan airmata yang kini benar-benar mengalir, pertahanannya runtuh bersamaaan dengan hatinya yang kembali terasa sangat sakit.


Lagi-lagi, ia menangis sendirian. Iapun memeluk kedua kakinya persis seperti gadis kecilnya yang ada di dalam lukisan yang ia pegang..

__ADS_1


__ADS_2