I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Tangisan Seorang Calista (Season 2)


__ADS_3

Arles merasa bingung setelah menyadari bahwa dirinya sedari tadi nongkrong didalam mobil untuk menunggu seorang Calista keluar dari restauran tempat kerja wanita itu. "Apa yang kulakukan disini? Tungguu.. aku tidak sedang ingin mengantarnya pulang dan memberinya tumpangan kan? Aku pasti sudah gila kalau aku melakukan itu." Arles melirik sekilas jam digital yang ada di dasboard mobilnya. "Sudah hampir tengah malam tapi wanita itu belum juga selesai bekerja?" Gumamnya tanpa sadar.


Tak lama, Calista muncul dari pintu keluar Restauran tersebut. "Hei.. Nara, tunggu!" Seorang pria menyusul dan menahan pundak Calis. Arles dapat melihat dengan jelas respon Calis pada pria itu. Calis tersenyum dengan sangat manis.


"Ada apa Nino?" Tanya Calista.


"Nara, biarkan aku mengantarmu pulang ya, ini sudah malam."


"Maaf Nino, lain kali saja. Aku bisa pulang sendiri. Aku... sudah memesan ojek." Tolak Calis dengan ramah, lalu melirik tangan Nino yang masih menyentuh bahunya. Nino lalu menurunkan tangannya merasa canggung.


Nino hanya pasrah, tidak bisa memaksa Calista. "Baiklah, kamu hati-hati dijalan ya!"


"Oke," jawab Calista dengan mengangkat jempolnya.


Calista tidak tahu bahwa ada seorang mantan yang sedang panas hati melihat interaksinya dengan Nino.


"Siapa laki-laki itu? Kenapa mereka terlihat sangat akrab? Sial. Untuk apa aku tahu?" Arles mengumpat. "Hei.. Arles.. dia itu hanya wanita sampah yang menjijikkan. Tentu saja dia bebas bersama lelaki manapun." Sambungnya lagi.


Terlihat Nino kembali masuk ke delam restoran dan Calis pun melanjutkan langkahnya. Calis menunggu jemputan gojeknya. Namun, babang gojek belum datang, tapi hujan buru-buru turun.


"Rasakan itu Calista." Terlihat seringai kecil di sudut bibir Arles. Ya... Inilah yang ingin Arles lihat. Calista yang sedang kebingungan dibawah rintikan hujan. Tampak sedikit kecemasan diwajah gadis itu.


"Sudah beberapa taxi yang melintas, tapi perempuan ini tidak juga menghentikan mereka? Apa yang ditunggunya? Mengharapkan Pangeran yang tiba-tiba muncul dan memberi tumpangan gratis? Cih, mimpi." Arles sedikit menertawai Calista.


Tidak lama seorang pria muncul dengan mengendarai motor matic lengkap dengan helm dan jacket yang berwarna hijau. Terlihat Calista kembali tersenyum serta mengelus dada.


"Maaf neng, saya kelamaan yak.?"


"Tidak apa pak, sini helmnya!" Calis menerima helm dari abang gojek dan segera memakainya. Dengan sopan abang gojek membantu Calis mengenakan helm karena nampak kesusahan mengunci helm itu dikepalanya. "Terima kasih pak!" Calis tersenyum.


"Cih, dia bahkan tersenyum seperti itu kepada tukang ojek. Dasar wanita murahan! Lihat saja Calis, kau akan menerima balasanku setelah ini. Enak saja kau tersenyum pada siapapun. Kita lihat nanti, sampai kapan senyumanmu itu akan bertahan."


Sepertinya Arles ini benar-benar kesal. Dia bahkan meremas dan sesekali memukul stir mobil yang tidak bersalah itu.


Arles benar-benar aneh. Saat ini saja, pria itu membututi motor yang membawa Calis yang sudah basah kuyup. Abang Gojek berbelok ke sebuah gang sempit. Alhasil, Arles tidak bisa lagi membuntutinya.


"Jadi, dia tinggal di gang sempit ini sekarang? Oke, cukup menyedihkan!" Gumamnya lagi.


***


Calis tiba di kontrakan kecil, tempat tinggalnya dan mama saat ini. "Ah, sampai juga aku dirumah." Calis segera mandi setelah itu masuk selimut karena cuaca malam ini begitu dingin.

__ADS_1


Sebelum benar-benar tertidur, Calista mengambil ponselnya dan menghubungi mama yang kini berada di rumh sakit untuk menemani papa.


"Halo sayang," suara mama dari seberang.


"Ma, gimana keadaan papa hari ini?" Tanya Calis.


"Seperti biasa nak."


"Itu bagus ma, yang terpenting tidak memburuk."


"Iya sayang. Kamu istirahat ya nak, besok kamu kerja lagi kan."


"Iya ma..." jawab Calista pelan.


"Tunggu sayang, kamu kenapa?" Mama merasa jika putrinya sedang bersedih.


Mendengar pertanyaan mama, air mata Calis keluar dengan sendirinya. Entah kenapa, saat ini dia sangat ingin menangis.


"Maa... maaa...hikh! Calis boleh menangis sesekali kan ma!"


"Iya sayang... menangis saja saat ingin menangis naak. Menangislah, mama disini akan mendengar." Kini mama pun tak kuasa menahan perasaannya. Wanita itu menangis didalam ruangan sunyi disamping suaminya. "Sayang, bangun! Dengarkan ini... Putrimu manjamu sedang bersedih." Batin mama. Sengaja ia mengaktifkan loadspeeker di ponselnya, agar suaminya juga bisa mendengar sura tangis putri mereka itu.


Setelah 30 menit, Calista mulai menghentikan tangisannya. "Maa.. apa mama masih bangun?" Tanya Calista dengan suara khas habis menangis.


"Gak apa-apa ma!" Jawab Calis.


"Apaaa... anak mama bertemu dia lagi?" Tebak mama dengan hati-hati.


"Emmm.. iya ma... tapi, Calis nangis bukan karena dia ma." tagasnya yakin.


"Hmmmm. Jadi putriku bertemu lagi dengan anak itu?" Batin mama, merasa sedih, memikirkan perasaan putrinya.


"Sayang, mama ngerti perasaan kamu. Tapi mama tau, kamu adalah anak mama yang kuat. Yang sabar ya sayang..."


"Iya maa"


"Sekarang, ayo kita tidur. Mama tidak mau kamu sakit.


Selepas berakhirnya drama melow Calista melalui sambungan telpon, kini mama Dini (Mamanya Calista) termenung seorang diri. Dini ingat betul sekiter lebih dari 5 tahun lalu, putrinya datang ke rumah sakit, dalam keadaan sedikit kacau. yang lebih mengejutkan Dini adalah putri manjanya itu membawa banyak uang ditangannya. Waktu itu, papa Dimas (papanya Calista) sudah 4 hari terbaring di rumah sakit pasca kecelakaan.


Flashback on👇

__ADS_1


Seorang gadis cantik, yaitu Calista Nara, berlari menyusuri lorong rumah sakit, untuk menemui keluarganya.


"Mama... mamaaa.."


"Calistaaa?" Dini merasa syok melihat anaknya yang datang dengan penampilan yang agak kacau."


Calista memeluk erat tubuh Dini dan menangis tersedu-sedu.


"Maaamaa... Arles maa.. Arles jahaaat.."


degh...


"Sayang, tenang.. apa yang terjadi sayang? Jahat bagaimana nak?"


"Arles maa.. Arles pergi ninggalin aku.. maa.. Arles benci aku ma, Arles marah ma.." Calis menjelaskan sambil menangis.


Dini merasa bingung. Pasalnya setiap hari putrinya ini selalu memasang wajah bahagia saat menceritakan tentang Arles, pacarnya.


"Dia pergi? Benci? Marah? Sama kamu?" Mama Dini merasa sulit merangkai pertanyaannya sendiri. Dini berusaha menenagkan putrinya itu.


"Dia gak suka kerjaan aku ma... dia benci, dia bilang aku cewek gak bener ma..." Tangis Calista semakin menjadi.


degh..


"Memangnya kerja apa kamu Calis?" Mama merasa gugup. Dia merasa takut dengan pikirannya sendiri.


"Ma... Calis hanya berusaha mendapatka uang banyak. Apa itu salah? Kata dokter papa butuh biaya banyak." Lalu dengan tangan gemetar, calis membuka bungkusan berwarna hitam dari tangannya.


"i,i,i..ini ma.. ada uang banyak ma.."


Betapa terkejutnya mama Dini melihat uang pecahan seratus ribuan yang nampak kumal tak karuan didalam bungkusan tersebut.


"Sayang.. darimana kamu mendapatkan uang ini?" Mama semakin bingung..Pasalnya, tidak hanya uang, ada banyak pasir bercampur dengan uang tersebut.


Sebelum menceritakannya, Calista mengusap air matanya.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Gaes.. maaf upnya telat.


trima kasih telah membaca😊


__ADS_2