
Glesty yang tadinya ingin mengabaikan pintu ruang kepala sekolah, menahan pergerakan kakkinya. "Kenapa aku seperti melihat Arles di dalam? Memangnya ada urusan apa putraku di ruang kepala sekolah? Batinnya.
Glesty kemudian mendekat ke arah pintu. "Aku hanya perlu mengintip dari sini untuk memastikannya" Batinnya lagi.
Di dalam ruang kepala sekolah.
"Hmm.. jadi teman - temanmu benar - benar nakal dan suka mengusikmu rupanya. Bagaimana jika paman mengantarmu kesekolah dan memberi pelajaran pada mereka. Katakan saja pada mereka bahwa aku ini adalah papamu. Ucap Arland, menenangkan Arles yang kini sedang menangis.
"Wah manis sekali mereka ini, ternyata putraku bisa sedekat ini dengan seorang anak, " batin mama Arland. Jujur saja, sebelumnya ia sangat yakin bahwa bocah lelaki ini merupakan cucunya. Tapi setelah kepala sekolah mengatakan kalau Arles mempunyai seorang adik yang bersekolah ditempat ini, berarti Arles bukanlah anak dari putranya. Karena saat memisahkan putranya dari kehidupan Glesty dulu, mereka belum memiliki anak.
Mendengarkan perkataan Arland, Arles menghentikan tangisnya. "Benarkah paman? Arles meyakinkan. Arlandpun mengangguk. "Terima kasih paman," ucap Arles dan memeluk Arland.
Didepan pintu.
Glesty dengan ragu - ragu ingin memastikan siapa bocah yang ada bersama kepala sekolah tersebut. Lalu ia memiringkan sedikit kepalanya agar dapat melihat kedalam.
"Arles?"Jadi benar, putraku ada didalam? Glesty melihat dengan jelas kepala sekolah tersenyum ke arah Arles, yang sedang memeluk seorang pria. Glesty merasa semakin penasaran "siapa itu?" Batinnya. Namun matanya tak sengaja menangkap wajah wanita paruh baya yang tenga tersenyum hangat melihat kedekatan Arles dengan pria itu.
Deg..
Betapa terkejutnya Glesty karena ia sangat mengingat wajah itu. "Nyo...nya be...sar?" Glesty tak bisa lagi menahan reaksi tubuhnya yang bergetar hebat, karena ketakutan. Ditambah lagi saat pria yang tadinya membelakangi pintu, kini memutar tubuhnya "Arland?" Spontan Glesty menutup mulutnya dengan ujung jari tangannya yang semakin bergetar tak karuan.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus masuk dan membiarkan mereka melihatku? Lirih Glesty.
"Mamaaa" Tiba - tiba suara Arles terdengar, dan menyadarkan Glesty. Ketiga orang dewasa yang ada didalam pun menoleh kearah pintu, karena melihat Arles berlari keluar. Dengan cepat Glesty menggeser tubuhnya. Ternyata Arles melihatnya di depan pintu.
Melihat putranya keluar seorang diri, Glesty menangkap tangan Arles. Dengan sisa fokus dan tenaga yang ia miliki, ia menyeret paksa Arles. Membawanya jauh dari ruangan itu.
"Arles! Ketiga orang itu serentak memanggil nama Arles. Karena melihat bayangan bocah itu menghilang begitu saja. Arland pun menyusulnya. Dikejauhan, ia melihat seorang wanita menyeret Arles dengan langkah cepat. Seperti seseorang yang ingin menculik anak.
Merasa khawatir, Arland berusaha mengejar mereka. "Arles..." teriaknya.
__ADS_1
Deg.
Glesty kemudian mencari cara untuk bersembunyi. Untung saja ada sebuah ruangan tak terkunci. Dengan cepat ia dan Arles masuk, dan menutup pintunya.
"Mamaa, kenapa kita disini? Dengan cepat Glesty menutup mulut Arles dengan satu tangan, "suuut... jangan ribut sayang," bisik Glesty.
Glesty memeluk tubuh putranya itu. "Maafkan mama karena membuatmu bingung sayang" Lirihnya. Iapun duduk bersila melepaskan tas Arles, lalu membimbing tubuh bocah itu untuk duduk diatas pangkuannya, ia memeluk tubuh putranya dari belakang.
"Ma... apa mama masih ketakutan? Glesty memgangguk. Lalu Arles menepuk dan mengelus tangan mamanya yang tengah memeluknya.
"Maafkan Arles ya ma.." Arles menyadari kesalahannya. "Tak apa sayang" jawab Glesty pelan.
"Ma, ada seorang paman yang memiliki anak perempuan. Paman itu berjanji akan memarahi teman nakal Arles. Kata paman, Arles boleh bilang ke teman - teman kalau paman itu papa Arles.
Deg.
"Apa paman itu adalah orang tadi? Arlespun mengangguk membenarkan. "Jadi paman itu punya seorang putri?" dan hanya di jawab "hmmmm" oleh Arles.
"Jadi ternyata kau sudah bahagia?" Glesty kembali mengeluarkan butiran kristal dari matanya. "Syukurlah, jika kau sudah hidup dengan bahagia. Batinnya lagi.
"Jadi paman itu juga orang asing ma?" tanya Arles polos dengan nada pelan.
\=\=\=\=\=\=\=
"Aaaaaaaahhh" teriak seseorang. "Sialan kau Lea. Berani - beraninya kau melawanku sekarang?" Leon merasa frustasi saat mengetahui Lea tadi berduaan dengan Devan diruang kerja pria itu. "Aku sudah memperingatkanmu untuk mengingat batasanmu dengan pria itu, tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan berani masuk ke ruangan direktur itu?" Ketusnya lagi.
"Kak, sadarlah sekarang sebelum kita menyesal. Aku tidak mau melanjutkan rencana jahat ini lagi kak. Aku takut akan menyakiti banyak orang." Tegas Lea kepada Leon.
"Menyakiti banyak orang katamu? Kita hanya akan membalas keluarga itu saja. Hanya keluarga Adi Wijaya itu Lea. Kau mengerti?" Ucapan Leon tidak semakin tegas dan lantang.
Tidak disangka, ternyata Leon benar - benar menyimpan kebencian dibalik sikapnya yang ramah dan memiliki selera humor yang cukup baik.
__ADS_1
Ya, dulu ketika masih menjadi seorang pelajar, mereka berdua memang telah merencanakan hal ini bersama, mereka sudah merencanakan sesuatu yang dapat membalas sakit hati sang kakak, Glesty.
"Atau kau hanya tidak ingin kekasih pura - puramu itu sakit hati, hah? Jadi dugaanku benar, kau menyimpan perasaan yang nyata untuknya? Kau pikir aku akan setuju, hah?" Sarkasnya lagi.
Sikap Leon sangat membuat Lea merasa takut. Ternyata jujur tentang perasaannya tidak bisa melunturkan perasaan benci Leon pada keluarga itu. Tidak ada lagi Leon yang biasa bersikap konyol namun hangat saat ini.
"Maaf karena kau harus melihat kemarahanku Lea. Setidaknya jalankan sedikit saja tugasmu. Aku memintamu mendekati saudara orang itu, agar bisa mempermainkan perasaannya. Membuat keluarga itu kecewa, atau bahkan kau sebagai model yang sudah dikontrak oleh perusahaan itu, pakailah kesempatan itu untuk menjatuhkan nama baik Arland dan nama baik perusahaannya. Lakukan salah satunya saja sudah cukup Lea. Silahkan kau pilih.
"Tapi aku takut kak, bagaimana jika gagal? Bagaimana jika kita ketahuan? Kakak tau kan betapa berkuasanya mereka?"
"Kita pasti berhasil jika kau fokus. Aku yakin kau bisa."
"Kak Leon, aku tidak akan mau mengikuti rencana jahatmu. Kak, sadarlah.."
Leon terdiam. "Apa? Rencana jahat? Yang benar saja. Batin Leon.
"Kak, bagaimana kalau begini saja. Daripada kita berdua melakukan hal jahat, ayo kita buat mereka bersatu lagi kak, demi Lean dan Arles,!! Lirih Lea. Ia sangat berharap bahwa kakaknya akan menyetujui hal ini.
"Kalau begitu, lakukan hal ini. Buatlah supaya Devan melamarmu, kemudian atur pertunangan kalian secara live, dan pada saat itu juga kau harus mengakhiri hubungan kalian. Aku sangat ingin melihat keluarga itu malu didepan publik, dan berita itu pasti akan mempengaruhi harga saham perusahaan mereka."
"Kak, apa kau gila? Mana mungkin aku...."
"Lebih baik bagimu jika Devan membencimu Lea. Membencimu lebih baik dari pada sekedar perasaan sakit telah dimanfaatkan." Sambung Leon lagi.
.
.
Bersambung..
.
__ADS_1
.
Gaes, trimankasih telah membaca. Salam hangat dariku untuk kalian.🙏