
Dalam perjalanan, didalam mobil.
“Nar.., kita kerumah aku yuk. Bantuin aku persiapan acara ulang tahun. Ya, mau ya..”
“maaf ga bisa Lean!”
“ish.. kamu gimana sih, selama kita berteman, kamu ga pernah sekalipun mau aku ajak kerumah.”
“Leaan.. kamu kan tahu, pinjaman aku belum lunas di keluarga kamu. Ya aku malu lah dateng kesana.”
“hus... kamu aja yang anggap itu hutang. Papa mama ga pernah minta kamu balikin uang itu. Tapi kamu ngotot buat balikin. Kamu tu kenapa sih? Keras kepala banget.!"
“Lean... kamu pasti ga tau gimana berdebarnya jantung aku menahan malu saat meminjam uang ke mama kamu waktu itu. Dan tetap jadi beban di pikiran aku kalau aku ga balikin. Mau taro dimana muka aku kalau sesuatu yang aku pinjam baru ga dibalikin? Sementara aku juga kerja ditoko mama kamu. Setiap mama kamu dateng ke toko, rasanya aku kayak pengen sembunyi.. “ Calis tersenyum simpul.
“haaaaaaaah. Dasar manusia keras kepala” batin Lean.
“Nara.. boleh aku tanya? Untuk apa kamu waktu itu pinjam uang sebesar itu? Apa ada yang mendesak saat itu? Kamu ga pernah cerita ke aku."
“Jadi kamu mau tahu?”
“ya iyalah Nara..”
“Waku itu... papaku .. lagi-lagi harus dioperasi untuk kesekian kalinya. Aku harus mendapatkan uang dan uang. Tabungan papa dan mama yang tidak banyak itu, habis tidak tersisa. Bahkan sampai sekarang pun, hutang aku bukan hanya di keluargamu Lean. Pinjamanku ada dimana-mana.” Calista tersenyum. Namun, air matanya tidak terkendalikan. Dia bahkan berusaha untuk mengeluarkan tawa dari bibirnya. Ia menatap ke sembarang arah agar Lean tidak menyadari bahwa dirinya sedang menangis.
Tiba-tiba Lean menghentikan mobil. Gadis imut itu lalu memeluk Nara. Lean tidak sanggup untuk menahan perasaannya. Ia sangat terharu membayangkan bagaimana kerasnya hidup yang dijalani oleh sahabat yang pernah jadi malaikat pelindungnya ini.
“Menangislah... menangislah jika bersedih! Aku ada disini..!” ucap Lean, dan terus saja mendekap tubuh Nara.
Keduanya pun menangis bersama. Calista tersedu-sedu didalam pelukan sahabatnya, Lean.
Lean yang terkadang bertingkah kekanak-kanakan itu ternyata mampu menjadi gadis dewasa disaat-saat tertentu.
Cukup lama keduanya menangis. Terutama Calista Nara. Merasa sudah legah, keduanya sama-sama mengusap airmatanya masing-masing.
“kamu yang sabar ya Nara.. akan indah pada waktunya. Hmmm?!” Lean tersenyum kearah Nara. Nara hanya mengangguk.
“maaf ya Lean.. kamu jadi mendengar cerita tentang aku! Lean.. aku ceritakan ini hanya karena kamu ingin tahu. Jangan pernah berpikir untuk melakukan apapun untukku.”
“Nar.. biar aku bantu kamu ya..”
“gak usah Lean... biarkan aku mengurus masalahku sendiri. Aku yakin, aku pasti bisa.!"
“oke-oke.. tapi ingat.. saat kamu kebingungan, cari aku yah!”
“hmmmmm” jawab Nara singkat.
\=\=\=\=\=
Waktunya pergantian shift.
__ADS_1
Nara berlari keluar dari mall yang sangat ramai pengunjung itu karena mendapatkan kabar dari RSUD bahwa papanya sedang koma tiba-tiba mengalami kejang-kejang.
Setibanya di rumah sakit.
Nara kembali berlari ingin segera tiba di ruangan papanya. “Tuhan, tolong selamatkan papa aku.” Setitik harapan dari seorang putri yang masih mengharapkan keajaiban. Nara kembali menangis. Raut wajah sedihnya mewakili seluruh kekhawatirannya akan papa saat ini.
Bruuuk.
Nara menubruk seseorang.
“maaf” ucapnya, tanpa melihat orang dihadapannya. Ia pun kembali berlari.
“Calis???” ternyata seseorang itu adalah Arles.
Arles tidak tinggal diam ditempatnya. Pria itu berlari menyusul Calista.
“benar.. aku pasti melihatnya tadi. Aku sangat yakin itu dia.” Batin Arles.
Semakin Arles mengejar, Calista semakin menjauh. Gadis itu menghilang entah kemana. “itu tadi pasti dia. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Kemana dia?” arles bertanya-tanya dalam hatinya kemana Calista pergi?
Kenapa dia terlihat sangat sedih? Memikirkan itu, hati Arles merasa terenyuh. “sial... kenapa aku harus merasa bersalah? Ada apa dengan perasaanku? Aku jelas-jelas membencinya. Lalu kenapa aku mengejarnya sampai kesini?” Arles pun berbalik untuk kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan tak menentu.
***
Diruang operasi.
Arles akan bertugas untuk menangani pasien yang baru saja kecelakaan untuk dilakukan operasi darurat. Namun kali ini, Arles benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya selalu saja tertuju pada Calista.
“dr. Arles.. ada apa dengan anda? Apa anda merasa kurang sehat? Dari tadi anda hanya memegang pisau bedah itu tanpa melakukan apapun. Apa anda lupa ini operasi darurat?” ucap seorang dokter senior yang juga berada disana.
“ehmmm.. maaf. Kita akan segera mulai” Jawab Arles hormat.
\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya.
Saat ini, Calista berada di gedung perusahaan milik Arland. Ngapain lagi jika bukan permintaan sahabat manjanya yang baik hati itu. Lean beralasan akan meminta Calista Nara untuk melihat kecocokan akan pakaian mana yang akan dikenakannya saat pesta nanti. Calist memasuki lift khusus untuk para petinggi di perusahaan ini, sesuai dengan arahan dari Lean.
Sesampainya didalam lift, Calis hanya menundukkan kepalanya sembari memainkan ponselnya, tanpa menghiraukan seseorang yang juga masuk kedalam lift. Orang itu sedikit terkejut akan hadirnya Calis di kantor ini.
Drrrt drrrt drrrt.
Ponsel Calis berdering. Seseorang menelponnya, dengan nama kontak “Pria 420ribu.” ya.. calis belum sempat mengubah nama kontak Fran pada ponselnya.
“iya halo, ada apa?” Calis.
“halo cantik...” Fran.
“hmmm.. aku tau aku cantik. Ada apa?” Calis.
__ADS_1
“aku kembali membutuhkan jasamu!” Fran.
“Hmmm... kapan kau membutuhkan aku?” Calis.
“malam ini.” Fran.
“oke,tapi aku menaikkan tarif jadi 350ribu/jam. Soalnya aku sedang butuh.”
“tidak masalah berapapun! Akan kubayar! aku tunggu nanti malam!”
“oke..” jawab Calis santai, dengan senyum cantiknya. Calista benar-benar tidak menyadari bahwa seseorang yang berdiri disebelahnya dari tadi mengepalkan tangan merasa marah sekaligus jijik kepadanya.
“mau sampai kapan kau hidup seperti ini Calista?” ucap seseorang itu. Betapa terkejutnya Calista saat merasa mengenal suara orang disebelahnya ini.
Dgh....
“Aaaaaarrrr...les?” calista benar-benar melihat sosok Arles berada didekatnya. Arles hanya menatap lurus pintu lift, tanpa menoleh sedikitpun kepada gadis itu.
Saat ini, tidak ada lagi perasaan kasihan mengingat kesedihan Calista yang selalu memenuhi pikiran Arles dari kemarin. Dia benar-benar melihat sisi menjijikkan gadis itu, saat Calis menerima telpon dari pelanggannya.
“kenapa? Kau terkejut? Aku berpikir apa kau sudah memperbaiki cara hidupmu selama ini. Ternyata, kau masih berperan sebagai wanita jalang.”
“Arrlees aku..”
“jangan menyebut namaku dengan mulut kutormu itu. Aku jijik mendengarnya.”
“Hmmmm .. iya.. maaf aku tidak sengaja menyebut namamu. Seperti yang kau lihat, aku sangat nyaman dengan hidupku.” sahut Calista cuek.
“Ciih.. sepertinya bangga sekali kau dengan status jalangmu itu. Berapa? 350/jam? MURAHAN.” Hina Arles.
“jika kau mau, aku punya kolega yang bisa membayarmu 1000 kali lipat dari itu!” sambungnya lagi dengan nada menghina.
Calista mengepalkan kedua tangannya menahan perasaannya. Calis benar-benar merasa marah dan sedih mendengarkan penghinaan dari Arles. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria ini. Pikirnya.
.
.
Ting. Pintu lift terbuka.
.
Ini muka menyebalkan Si Arles Gais. Boleh kalian tabok sebelum dia keluar dari lift. (Author)
.
Bersambung.
__ADS_1
Lanjut nanti malam gaes😁