I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Mengakui (Season 2)


__ADS_3

Terlamabat. Saat Nino hendak memulai sebuah pengakuan, pintu ruangan itu kembali terbuka, menampilkan Lean yang di apit oleh oma opanya. Gadis itu terlihat sedikit menundukkan kepala.


"Duuuh, bagaimana ini? Nino, maafkan aku jika ini menyulitkanmu." batin Lean. Ia tahu bahwa Nino sudah pasti ada di dalam ruangan itu.


"Ahhh.. kenapa aku harus mengkhawatirkan dia? Sudah jelas dia telah mempermainkan aku." sambungnya lagi, menyadari kekesalannya pada Nino.


Namun parahnya, oma dan opa itu membawa Lean kearah Nino, dan memintanya untuk duduk bersebelahan dengan pria itu.


Walaupun dalam keadaan gugup, tapi Nino merasa legah dan senang karena Lean yang kini disukainya itu berada tepat disampingnya saat ini.


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Yang terpenting sekarang, kamu, ada di sebelahku." batin Nino.


Berbeda dengan Nino, Lean hanya bisa mendumel dalam hatinya. "Oma opa apaan sih, kenapa minta aku duduk di sini? Sudah jelas aku sedang menghindari dia." batinnya.


"Pah, mah, ada apa ini? Kenapa dengan mereka berdua?" tanya Arland, merasa sedikit khawatir melihat putri kesayangannya kini duduk dengan ekspresi wajah ketakutan. Arland tidak tahu saja bahwa putrinya kini sangat takut kalau-kalau papa Arland akan memarahinya maupun Nino.


"Tenang saja nak, kita hanya akan menginterogasi mereka berdua." jawab opa, singkat.


Arles dan Calista terlihat melipat tangan di atas perut. Berbeda dengan Calista yang nampak bingung, Arles malah terlihat santai. Mendengar opa menyebutkan kata interogasi, Arles mulai paham akan sesuatu.


"Sayang, kenapa kamu tersenyum?" Calista berbisik menyadarkan Arles yang sedang tersenyum memandang dua sejoli yang seperti sedang siap untuk dihukum itu.


"Tentu saja aku sedang mentertawai mereka berdua" jawab Arles tanpa beban seperti biasa.


"Ya ampun, kau ini gila ya." ketus Calista.


"Berani sekali mengataiku gila? Apa pacarku ini tidak ingin pulang dengan selamat dari tempat ini?" bisik Arles, tentu saja dia hanya main-main.


"Arles, kata-katamu menyeramkan. Kamu seperti ingin menghabisiku. Jangan bercanda seperti itu."

__ADS_1


"Aku serius sayang, aku tidak main-main. Aku bisa saja menyeretmu ke salah satu kamar hotel ini dan menghabisimu disana. Yang ku maksud adalah... berbulan madu sebelum waktunya." 😉


☺"Arleees. Diamlah. Percuma bicara denganmu." Calista membuang pandangan ke arah lain.


🙊🙊


"Hei teman, cepatlah aku sudah sangat penasaran. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa cucuku terlihat seperti tersangka dan cucumu seperti korbannya? Benarkah yang aku pikirkan ini?" omanya Nino sudah tidak sabar ingin berkomentar.


"Ap.. apa? Apa yang oma pikirkan?" Nino mulai menyelami pemikiran sang oma yang mungkin saja melampaui batas.


"Tanya saja apa yang kau pikirkan." saran opa kepada omanya Nino.


Tanpa basa-basi, omanya Nino langsung bertanya.


"Siapa namamu? Lean? Jawab Oma. Apa Nino telah berbuat macam-macam padamu?"


DEG. Semua orang menantikan jawaban Lean.


"Oma, pertanyaan macam apa itu?" Protes Nino.


"Diam. Oma tidak menanyakanmu."


"Emmmm..." Lean mulai membuka suara.


Belum sempat Lean mengatakan sesuatu, Nino malah berdiri dari tempatnya. "Aku... menyukai Lean. Ya.. aku sangat-sangat menyukai dia sebagai wanita." tegas Nino, membuat orang yang ada diruangan itu terkejut.


"Nino.. apa-apaan kau ini sangat lancang! Jangan bikin malu oma."


Lean tiba-tiba berdiri dan berkata "Dia berbohong. Dia tidak menyukai aku. Dia hanya terpaksa mengatakannya karena dia sudah ketahuan." terang Lean.

__ADS_1


😳😳😳 Semua orang melotot mendengarkan Lean. Kecuali Arles, malah ngakak. Ekspresinya sungguh menyebalkan🤣.


"Sayang. Berhentilah terlihat seperti penghianat." Calis melempar tatapan mengancam ke arah Arles.


"Apa maksudmu Lean? Dia berbohong kenapa?" Opa memulai interogasinya.


"Opa, maafkan saya, saya melakukannya karena menyukai cucu anda. Hal itu terjadi begitu saja. Tapi, aku akan mempertanggungjawabkannya." ucap Nino tulus.


"Nino... jadi benar yang oma pikirkan? Kamu telah bersikap tidak sopan kepada Lean?" Omanya Nino mulai memanas.


"Tunggu.. Lean, jawab mama.. apa dia yang telah mencuri ciuman pertamamu itu?" tanya Glesty terang-terangan.


Lean kembali tertunduk dan mengangguk malu.


"Oh astaga.. jadi begitu?🤭 pantas Arles ngakak," batin Calista.


"Oma.. dia yang aku maksudkan oma.. dia adalah gadis yang aku ceritakan ke oma. Orang yang aku sukai." Nino pun kini terang-terangan.


Lean kini menghadap Nino. "Kamu bohong kan? Waktu itu kamu bilang tidak sengaja melakukannya. Jangan beralasan kamu" ucapnya dengan nada bergetar.


"Leaann." Nino memberanikan diri mengambil satu tangan Lean sambil memohon.


"Maafkan aku.. aku terlambat menyadari perasaanku. Tolong percaya yah!"


"Haaa?" Omanya Nino terduduk lemas.


.


.

__ADS_1


Sekian😊


__ADS_2