I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Gara-gara Dion (Season 2)


__ADS_3

Disuatu pagi. Sarapan telah siap di meja makan. Belum sempat mama Gles memberi kode seperti biasa, Arles sudah muncul dan duduk manis disana dengan penampilan yang sudah on. Biasanya juga tunggu teriakan mama dulu baru keluar dari istananya (alias kamar)


"Sayang? Kamu jam segini udah ganteng, rapi pula, mau kemana?" Mama Gless sungguh basi. Sudah tahu anaknya tampak bersemangat, masih bertanya. Tentu saja ada hubungannya dengan Calista.


"Pagi sayang.." Arland menghampiri Glesty dan langsung mengecup kening istrinya itu, di depan putranya.


Arles: 🤨🤦‍♂️


Pemandangan ini hampir tak pernah disaksikan oleh Arles. Ini kedua kali matanya menyaksikan keuwuan kedua orangtuanya tersebut. Masih mending pagi ini Papa cuma mengecup kening mama. Waktu itu sangat jelas sekali ia melihat papa mama hot kissing di samping meja makan ini.


Jangan tanyakan keberadaan ART! Mereka tidak ikut campur soal dapur. Tugas mereka hanya bersih-bersih tepat setelah sarapan.


"Boy,, kamu tumben sudah siap sepagi ini? Biasanya juga setelah sarapan baru kamu bersiap?"


"Mau ketemu Calista pa" jujurnya.


"Ow... jadi ternyata kamu belum menyerah pada gadis itu!?"


"Bagaimana mau menyerah pa? Sepertinya... sebentar lagi si Calis itu bakal jadi menantu kita" mama Gles nyeletuk.


"Benarkah itu boy?"


"Harusnya begitu pa" Arles menjawab singkat.


"Lalu? Apa dia sudah menerima kamu lagi?"


"Belum sepenuhnya pa.."


"Sepertinya dia sama saja dengan mama kamu. Agak keras kepala, tidak mudah luluh. Papa harus mencoba berkali-kali untuk bisa meluluhkan hati mama kamu." Arland kembali mengenang masa lalu.


Arles melirik mama.


"Apa lirik-lirik mama? Makanya kamu itu, setelah ini jangan pernah bersikap kekanakan lagi. Kalau ada masalah apa-apa, dibicarakan baik-baik, jangan main kabur aja." ujar Glesty panjang lebar.


"Iya maaa... tau.. aku sudah dewasa sekarang. Waktu itu kan masi umur 19." Arles membela diri dengan perasaan bersalah.


tap.. tap.. tap..


Langkah kaki seseorang menuruni tangga.


Dia adalah Lean yang baru turun dari kayangan, akan tetapi tidak tampak seperti seorang bidadari. wajahnya sangat murung.


"Kenapa lagi kali ini?" batin mama Gless.


Lean duduk disebelah Arles, seperti biasa.


Arles mengerutkan kedua alisnya ketika tak sengaja melihat wajah jelek kembarnnya ini.


"Kau kenapa kunyuk? Seperti orang yang sedang putus cinta, padahal pacar aja tidak punya."


"Apa??" Lean menatap nyalang kearah Arles. Perkataan Arles sangat menyinggung dan terdengar sedang menghina dirinya.


"Belum juga jadian sama Nara sudah menyombong. Aku tanya sekarang dulu waktu masih jadi pacarnya Nara sudah pernah ciuman belum?" Lean, dengan nada marah, bermaksud balik menghina Arles.


"Uhuk uhuk uhuk" Arles tiba-tiba tersedak.


"Pertanyaan macam apa ini?" balas Arles.


Arland dan Glesty hanya menyaksikan.


"Aku memang tidak punya pacar. Tapi aku sudah berciuman." tegasnya lagi.


Glesty, Arland, Arles: 😯😯😯


"Apa katamu?" Emosi Arland mulai terpancing.


"Gadis bodoh mana yang berciuman dengan pria yang bukan siapa-siapanya?" nada Glesty tak kalah kencang.


"Kau berciuman? Dengan siapa?" Arles ikut mengencangkan suaranya.


Lean hanya menundukkan kepala.


"Tidak. Kami tidak berciuman. Dia yang menciumku" 🥺🥺😫... Lean menangis. Menangis sedih bahkan sampai sesegukan.

__ADS_1


"Apa maksudmu Lean? Bicara yang jelas." Mama Gles.


"Katakan! Siapa yang beraninya bermain-main dengan putri papa ini? Papa harus segera memberinya pelajaran." Tegas Arland.


Arles menarik pelan tubuh Lean untuk masuk ke pelukannya. "Sudah... jangan nangis lagi ya... aku akan mencari dan menghajar orang itu." Arles berusaha menenangkan Lean.


Lean berdiri dan menggeleng kepalanya.


"Tolong pa. Jangan apa-apakan dia. Aku menyukai dia." Lirihnya.


"Jangan cari tahu siapa dia. Setelah ini, kami tidak akan saling bertemu." Sambungnya lagi. Kini Lean sudah tidak menangis.


Kalau sudah Lean bilang begini, semua orang bisa apa? Mama papa dan Arles hanya pasrah.


🍁🍁🍁🍁


Ditempat lain.


Nino sedang duduk termenung. Pikirannya lagi-lagi tertuju hanya pada satu nama yaitu Lean. Nino sengaja tidak kemana-mana agar tidak bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, hati dan pikirannya selalu bertanya-tanya tentang dia.


"Lama-lama begini, aku pasti akan gila. Lebih baik aku mendatanginya. Yaaa... aku akan mengatakan kalau aku merindukannya." Nino meraih kunci mobilnya, dan keluar dari ruang kerjanya itu.


Di dalam mobil.


"Ngomong-ngomong, kemana aku harus mencarinya? Apa Lean pergi mengunjungi Calista lagi? Atauuu.... ke rumahnya saja? Lalu bagaimana tanggapan orangtuanya ketika melihatku nanti?"


Akhirnya Nino memutuskan untuk mengunjungi Calista terlebih dahulu.


🍁🍁🍁🍁


Di Rumah Sakit.


Dion sedang berbincang dengan Calista. Katanya sih, besok Dion akan kembali ke negara tempat ia menuntut ilmu itu.


"Kak, kok dari tadi ngeliat ke pintu terus? Ada yang ditunggu?" tanya Dion dengan mata menyelidik.


"Oh,,, tidak ada kok,"


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seseorang masuk dan dia adalah Arles..



Arles masuk dan langsung berhadapan dengan wajah Calista yang terlihat berbinar bahagia.


Dion: "Maaf, apa saya harus memanggil anda kakak ipar mulai sekarang?"


Arles: "Yah? Dengan wajah tak mengerti. Dia baru saja masuk dan langsung disodorkan dengan pertanyaan seperti itu. Arles takut salah menjawab.


Calista: "Dion, kamu bicara apa sih?"


Dion: "Memangnya tidak terjadi apa-apa antara kalian? Maksudku.... kalian tidak terlibat suatu hubungan romantis?"


Calista dan Arles sama-sama diam, tidak menjawab.


"Ah kalau begitu saya ingin bertanya kepada anda tuan, apakah anda memyukai kakak saya ini?" Sembari melirik Calista.


Calis:🤨


Arles: "Tentu saja. Aku bahkan tidak sekedar menyukainya. Dia menguasai seluruh otak dan hatiku." jawab Arles mantap, dia yakin ini adalah jawaban yang sangat ampuh.


Calista: "Diooon!" memperingati.


Dion: "Saya percaya tuan... Anda juga tidak mungkin repot-repot membawa saya pulang ke negara ini untuk bertemu dengan kakak jika anda tidak memiliki perasaan apapun terhadap kakak saya....


Calista tercengang😯


Arles hanya dengan ekspresi datar. Batinnya merasa takut mendapat protes dari Calista gara-gara hal ini.


"Meskipun dari awal anda tidak memgatakannya, tapi saya percaya anda cinta pada kakak saya. Sekali lagi, terima kasih atas perhatian anda. Selamat! Sepertinya perasaan anda sudah terbalaskan, kakak Ipar!"

__ADS_1


Arles dan Calista sama-sama mengerutkan kening menatap Dion.


"Ada apa? Bukankah aku benar?" Dion menunjuk dirinya dengan kedua jari telunjuknya, tambah lagi wajah tak bersalahnya itu.


Calista: "Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu? Kau ingin mempermalukan kakak?"


"Tidak perlu malu kak. Akui saja. Sejak tadi kakak memamg menunggunya kan? Kakak selalu melihat ke arah pintu tak berdosa itu. Dan saat dia muncul, wajah kakak langsung bersemangat. Apa itu tidak berarti apa-apa?" Dion sepertinya sengaja ingin kakaknya menyadari dan mengakui perasaannya.


"Benarkah begitu Dion?" Arles menanggapi.


Calista? Kini wanita itu menundukkan kepala. Malu dengan perkataan adiknya. Seandainya saat ini Calis dalam keadaan sehat, sudah pasti dia akan menempelkan lakban di mulut losong adiknya ini.


"Kakak ipar, terima kasih banyak telah memberikan saya tiket gratis. Saya sangat mendukung perasaan anda terhadap kakak saya. Dan tolong jaga dia baik-baik selama saya disana." ucap Dion tulus.


"Permisi, saya keluar dulu." Dion pun berlalu membawa perasaan bahagianya.


Kini wajah tertunduk Calista berubah menjadi tangisan. Entah, gadis ini menangis karena apa.


"Hei.. lihat, aku ada di depanmu.. kenapa hanya menunduk?" Arles mengangkat dagu Calista.


Calista dengan cepat mengusap air mata itu.


"Kenapa menangis? Bagian mana yang menyedihkan? Aku saat ini merasa bahagia, tapi kenapa kamu malah menangis? hmmm?" tanya Arles lembut.


Calista pun tersenyum simpul.


"Arles, bisa membantuku berdiri, aku bosan duduk di ranjang ini. Aku ingin sesekali berdiri." wajah Calista sedikit memohon.


"Em... apa kakinya tidak sakit lagi?" Arles ingin memastikan.


"Emm sakit, tapi kaki satunya tidak sakit. Aku pasti bisa menahan tubuhku"


"Baiklah.. ayo, turunlah pelan-pelan."


Saat sudah dalam posisi berdiri, Calista terlihat senang.


"Arlesss,"


"Hemmmm?"


Calista membalikkan tubuh Arles yang menjadi pegangannya.. Arles kini membelakangi Calista.


"Ada apa lagi ini?" batin pria ini.


Tiba-tiba.. kedua tangan milik Calista, melingkar pada tubuh Arles. Calista memeluknya dari belakang. Memeluk tubuh itu dengan sangat erat.


"Benar yang Dion katakan barusan. Aku,,, bahagia kamu datang melihatku. Arles... aku sangat merindukanmu.


Mendengar pengakuan Calista, Arles tersenyum dalam diam. Akhirnya... akhirnya Calista mulai membuka hati untuknya.


Ceklek,


Pintu kembali terbuka. Namun, Calista tidak menyadarinya.


Karena posisinya menghadap ke pintu yang katanya Dion pintu tak berdosa itu, Arles langsung berhadapan dengan orang yang hendak masuk, yang tak lain adalah dua wanita yang dihormatinya, yakni Mama Gles dan tante Dini.


Arles: 🤫🤫 memberi kode supaya jangan masuk.


Glesty-Dini: 😯😯😯😯🤭🤭 keduanya auto keluar lagi.


.


.


.


Bersambung.


Maaf guys.. author semalem ketiduran🤦‍♀️


Pengumuman:


"Perjodohan Janda Duda" dan Chat story sudah up ya gaes. silahkan dibaca🥰

__ADS_1


__ADS_2