
Flashback beberapa jam sebelumnya.
Setibanya dirumah, Glesty meminta Arles dan Lean untuk langsung ke kamar ganti baju dan tidak ada yang boleh keluar dari kamar.
"Ganti baju kalian, beristirahat saja dikamar, tidak ada yang boleh keluar dari kamar. Terutama kamu Arles!Biar mama yang mengantarkan makan siang kalian ke kamar." Tegas Glesty. Ia pun berlalu, berusaha bersikap mengacuhkan kedua bocah itu.
Arles yang mengetahui alasan mamanya bersikap demikian, merasa sedih dan merasa sangat bersalah. Ini pasti dikarenakan sikap kasarnya yang telah mencelakai temannya dan juga tidak sopan pada orang tua dari teman nakalnya itu.
"Lean, bisakah kau membantuku?" Ucap Arles pada saudara kembarnya dan seperti biasa, diangguki oleh Lean.
"Tolong bantu buka kancing seragamku."
Lean terlihat bingung. Tadi mamanya yang bersikap aneh, sekarang kembarannya lebih aneh. Yang Lean tahu, Arles adalah anak yang mandiri dan tidak pernah bersikap manja. Lalu ia bertanya "kenapa?" dalam bahasa isyarat yang dimengerti oleh Arles.
"Bantu saja. Aku sedang lelah. Tanganku tidak bisa bekerja dengan baik." Akhirnya, Lean pun tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Setelah baju seragamnya sudah terlepas, Arles meminta bantuan Lean untuk mengancingkan baju kemejanya yang baru saja ia ambil dari lemari pakaiannya.
"Tolong pakaikan aku baju ini." Dan Lean? Tentu saja bocah itu mengerutkan keningnya karena merasa semakin bingung.
"Aku hanya ingin mengenakan kemeja. Apa itu salah?"
Lean segera menormalkan ekspresinya dan menggeleng. Ia pun menuruti permintaan saudaranya itu.
Saat hendak memasukkan tngan Arles ke lengan kiri baju tersebut, tiba-tiba Arles reflek menepis tangan Lean dengan menggunakan tangan kanannya. "Aku bilang, tanganku sedang lelah. Kau harus hati-hati."
Lean lalu bertanya karena merasa ada yang tidak beres dengan saudaranya ini. Ia menatap tangan kiri Arles. "Apa tanganmu sakit? " tanya Lean dalam bahasa isyarat. Sepertinya tangan kanan saudaranya ini sedang ada masalah.
Arles ikut menatap sebentar tangannya dan mengangkatnya dengan hati-hati. Agar Lean tidak khawatir, Arles berusaha terlihat tenang.
"Tentu saja ini terasa sangat sakit. Jika tidak, aku tidak aka mengenakan kemeja ini saat sedang dirumah saja" Batin Arles. Pikirnya, memakaikan kemeja ke tubuhnya lebih mudah saat tangannya terasa sangat sakit jika digerakkan. Ia lalu membuang nafasnya berat. "Ini sedikit sakit. jadi berhati-hatilah. Tanganku hanya lelah. tidak seperti yang kau pikirkan." Ucapnya pelan.
Setelah berhasil mengenakan pakaiannya yang penuh drama tanya jawab dengan Lean, Arles naik ke tempat tidur dan masuk dalam selimut.
Sedangkan Lean, ia lanjut mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai untuk dirumah.
Tok tok tok
clek, Glesty membuka pintu kamar dan mendapati putrinya sudah berganti pakaian. Ia melihat kearah tempat tidur Arles dan langsung yakin bahwa putranya sedang bersembunyi dibalik selimut.
__ADS_1
" Lean, ini makan siang untuk kalian berdua."Ucap Glesty yang dengan sengaja memperdengarkan suaranya agar Arles tahu bahwa makan siang telah siap.
"Lean, apa mama bisa minta tolong?" Yang empunya nama hanya mengangguk.
Setelah meletakkan makan siang kedua anaknya diatas nakas, Glesty lalu berbicara dengan Lean.
"Lean, mama akan keluar rumah nanti malam. Karena Arles sedang dihukum tidak boleh keluar kamar selama 3 hari, maukah Lean menemani Arles dikamar?" Lean terlihat berfikir sebelum menganggukkan kepala. Akhirnya, Lean mengerti bahwa saudaranya kini sedang dihukum karena nakal.
Flashback end.
.
.
Malam harinya.
Glesty begitu bersemangat bersiap untuk bertemu dengan calon adik iparnya. Iapun berdandan dengan sangat cantik seperti permintaan adiknya, Lea.
Glesty memasuki hotel dan menuju ke restaurant yang ada disana. Hotel ini merupakan hotel nomor satu dikota ini.
"ya ampun, kenapa aku merasa sangat gugup? Semoga saja keluarga pacarnya Lea adalah orang baik..
Dari jarak yang cukup dekat, ada dua pelayan berdiri tegak. hinggga tibalah Glesty di depan pintu masuk restaurant tersebut. "Maaf, anda keluarga dari pihak nona Alin?" Tanya salah satu dari pelayan tersebut.
"Mari ikut saya" ucap pelayan tersebut.
Glesty mengembangkan senyuman dari wajahnya. Sampailah mereka di depan sebuah pintu, yang Glesty sangat yakin bahwa tempat pertemuan makan malam ini adalah ruangan khusus yang biasa digunakan oleh orang-orang tertentu.
Pintu pun terbuka... semua mata tertuju pada sosok wanita yang baru saja tiba.
"Glesty?" Reflek ketiga orang itu berdiri dari tempatnya.
Sedangkan Glesty? Wanita itu tampak tidak kalah terkejutnya, sampai-sampai ia reflek melangkahkan kakinya mundur.
"Bagaimana mungkin orang-orang ini ada disini? Jantungnya yang sedari tadi memang berdegup, kini terasa semakin tak karuan.
Devan mulai menangkap hal aneh saat melihat ekspresi kekasihnya. Lea terlihat tenang sendiri diatas suasana aneh ini. Lea tidak berani melihat ke arah sang kakak.
Kedua orang tua Arland terlihat saling mandang dan tersenyum kecil terlukis diwajah keduanya.
__ADS_1
"Lea, situasi apa ini?" Suara datar milik kakaknya terdengar sangat menakutkan ditelinga Lea.
"Lea?" Kali ini Arland menatap ke arah gadis yang dikenalnya sebagai Alin ini. "Jadi kau adalah Lea?" ucapnya lagi.
Lea tak bergeming.
"Jadi kau sengaja menjadikan pria ini kekasihmu? Kau tau sejak awal bahwa pacarmu adalah saudara dari mantan kakak iparmu?" Glesty merasa curiga terhadap adiknya.
Ia memberanikan diri untuk melangkah maju karena Lea tidak berbalik menghadapnya.
Glesti mengangkat dagu adiknya dengan jari tangannya untuk menatap mata gadis itu.
"Lihat mataku dan jawab pertanyaanku Lea. Apa benar kau sengaja melakukan ini?" Lea hanya mengangguk kecil.
"Jadi mau sampai berapa lama kau bersandiwara? Apa hanya sampai malam ini saja setelah kakak bertemu dengan keluarga ini?" Glesty bertanya dengan penuh penekanan.
Mata Lea mulai berkaca-kaca. "Percayalah, setelah ini kaulah yang akan ditinggalkan." Lanjut Glesty dengan masih menatap tajam mata adiknya itu.
Saat mengatakan kalimat barusan Glesty merasa hatinya sedang diremukkan. Teringat lagi masa sulit yang pernah menimpanya dulu tatkala Arland menghilang begitu saja dari hidupnya.
kedua orang tua itu merasa terpukul mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Glesty.
"Glesty...." Sepertinya mama Arland ingin mengatakan sesuatu, tapi Arland memberi kode untuk mencegahnya. Ia hanya ingin mendengarkan wanitanya saat ini.
Semua yang ada disitu hanya bisa berdiam, memberi waktu untuk Glesty berkata-kata sepuasnya.
Devan mulai menyadari sitiasi ini. "Jadi begitu rupanya?" Batinnya.
"Kekuatan dari mana yang kau punya berani mempermainkan keluarga ini?. Apa kau tau apa akibatnya jika berani mengusik mereka?" Glesty memalingkan wajahnya dan menatap keempat orang itu secara bergantian dengan wajah datar.
"Tuan Devan, saya meminta maaf kepada anda dan seluruh keluarga anda atas nama adik saya." Glesty lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari tempat itu.
Tapi, Arland tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Gaes, terima kasih telah membaca!