
"Memangnya mama bisa menjamin keselamatan aku, mama kok tega nyaranin minta tolong ke orang asing?"
"Astaga Leaaaan. Kamu tidak bisa nurut mama tanpa protes? Mereka sudah sangat mengenal mama. Lagipula, kemarin mama baru dari sana. Mama sudah pesan ke mereka maksud mama ini."
"Ma.. lagian buat apa dibersihkan sih ma? Kan tidak di tempati jugaa!"
"Mama berencana menempatkan Calis dan tante Dini disana setelah keluar dari rumah sakit sayang. Sampai sini kamu paham?"
"Oh, jadi gitu? TrUs kenapa tidak dibawa pulang ke rumah kita aja sih ma? Kan lebih aman, dirumah kita ada dokter. Nara kan belum pulih benar."
"Lean, akhir-akhir ini kamu salah makan apa gimana sih, otakmu gangguan? Kamu gila? Nara tidak akan mau tinggal seatap sama kakak kamu."
Lean hampir saja ngakak mendengarkan perkataan mama Gless. Sering berkata seenaknya, membuat mama menyebutnya salah makan.
Dia sibuk sendiri dengan dunianya, sedangkan Calis dan Nino hanya jadi penonton.
"Ehmmm.." Nino berdehem untuk menyadarkan Lean.
"Upsss.. lupa kalau disini ada orang." Lean membekap mulutnya sendiri.
"Suara siapa itu sayang? si Nino yah? Lean, kamu pagi-pagi sudah menghilang, jadi kamu mendatangi Nino? Lean kamu mau bikin malu orang tua mendatangi pria yang kamu sukai sepagi ini?"
Tut tut tut.
Lean memutuskan sambungan sepihak. Pasalnya mama sudah mulai merancau.
"Mama yang benar saja? Kenapa harus terang-terangan? Aku kan jadi malu sama Nino."
Kali ini, Giliran Nino yang menahan tawa karena wajah Lean memerah tiba-tiba saat mama Gless menyebutkan nama Nino.
"Lean... tadi mama kamu bilang apa? Kamu-- suka sama--"
"Ah... bukan Nara.. mama cuma curiga aja sama aku. Ohya, kalau begitu aku pergi laksanain perintah mama dulu ya.."
"Tunggu!... Lean, bilang aja ke tante, aku akan pulang ke rumah kontrakan. Tidak perlu repot-repot mengurusku Lean."
"Hadeeh.. kamu tu, bawaannya nggak enak aja yah. Udah sih, terima aja. Lagian mama itu pasti punya alasan nempatin kamu disana.
"Alasannya?" Calis terlihat kepo.
Sini aku kasih tahu. Pertama, apartemen itu deket dari sini. Kedua, untuk memudahkan Arles mengakses keberadaan kamu."
"Awwwwww.... Naraaa.. sakit." pekik Lean, karena baru saja mendapat cubitan dari Calis.
"Kamu juga, asal ngomong."
"Ya ampun, kamu gak percaya lagi. Mama pasti juga memikirkan kesehatan jiwa putranya. Kamu gak tau sih, betapa gilanya Arles saat kamu belum bangun, tanya aja Nino kalo gak percaya, iya kan Nino?"
Nino hanya menjawab Hmmmm, lalu menjauh dari kedua gadis itu untuk menjawab panggilan dari ponselnya. Ia menempatkan bokongnya pada sofa yang tak jauh dari Lean dan Calista.
"Rumah kontrakan itu terlalu jauh dari pusat kesehatan Calis. Arles khawatir kalau terjadi apa-apa sama kamu, perjalanan ke rumah sakit akan memakan banyak waktu kalau tinggal disana."
"Jadi begitu?" Calis menyunggingkan senyuman kecil.
"Cieeeee.. senyum!! Seneng ya, pas denger nama Arles?" Lean kembali usil.
"Haah? Lean, kamu tu kalau ngomong jangan seenaknya. Tebakanmu salah!" Calis memanyunkan bibirnya. Terlihat sangat imut.
__ADS_1
"Ah sudahlah Calis, aku akan pergi dulu. Kamu cepat pulih yah... Lean memeluk Calista.
Lean pun, menghilang dibalik pintu.
"Ehmm.. Calis,, sepertinya aku juga harus pergi karena mendadak ada urusan. Nino pergi begitu saja sebelum Calista sempat menjawab.
"Nino terlihat aneh, kenapa dia harus buru-buru?"
"Lean... Tunggu!" Suara Nino memenuhi lorong rumah sakit. Tentu saja mengagetkan pemilik nama.
Lean berbalik dan benar saja, Nino ada di belakangnya.
"Kamu lupa kalau ini rumah sakit? Kenapa harus teriak?"
"Maaf Lean, aku.. takut kamu tidak dengar." Nino salah tingkah.
"Jadi ada apa?" tanya Lean, cuek, sambil kembali berjalan.
"Emmmm.. aku.. aku ingin membayar kembali yang waktu itu."
Nino bilang apa sih? ga jelas.
"Bayar? Emang kamu berhutang padaku?" Lean mengerutkan alisnya, bingung.
"Itu.. sarapan gratis yang waktu itu dirumah kamu."
"Oh, itu.. santai saja Nino, maaf, tapi aku sudah sarapan."
"Emmm. Aku bukannya ingin memberimu makanan gratis. tapi aku akan membayarnya dengan membantumu membersihkan apartemen"
"Kamu serius Nino?"
"Iya.. tentu saja aku serius. Aku tidak ingin merasa berhutang."
Lean tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu, ayolah."
🍁
Tiba di apartemen.
Lean masuk ke salah satu kamar dan keluar dengan membawa pakaian ditangannya.
"Ini.. pakailah. Kita akan membersihkan seluruh apartemen ini, maka kita harus berganti pakaian."
Kaos oblong kebesaran dan sepotong celana kolor.
"Jangan khawatir. Itu milik Arles. Pakai saja. Itu pakaian bersih."
Lean kembali ke kamar untuk berganti pakaian. 3 menit kemudian, Nino juga sudah mengenakan pakaian yang diberikan Lean padanya. Terlihat sangat pas, karena itu adalah pakaian pria, milik Arles.
Tak lama, Lean keluar dari kamar itu. namun, Nino terperanga heran melihatnya. Bagaimana tidak. Gadis ini mengenakan baju kaos yang terbilang sangat tipis, hingga terlihat sangat jelas bra yang melapisi tubuh bagian dalamnya. dan lihat celananya itu. Sangat pendek.
"Kenapa Nino? Terpesona melihatku?" Lean, dengan PDnya.
Nino mendekati Lean dengan tatapan aneh.
"Apa maksudmu berpakaian seperti ini? Kau sengaja menggodaku?"
__ADS_1
"Hah? Astaga.. Nino sadar.. kita kesini untuk jadi Babu. Bukan untuk bermesraan."
"Aku bertanya kenapa berpakaian seperti ini? Bagaimana jika bukan aku yang menemanimu disini? Bagaimana jika hanya ada kamu dan pria lain disini? Apa kamu pikir bisa selamat?"
Lean hanya menatap Nino dengan tatapan bingung. Pikiran seorang Lean tidak sampai ke arah yang dimaksudkan oleh Nino.
Nino menarik tangan Lean, membawanya masuk ke kamar yang tadi dimasuki oleh Lean. Tiba dikamar, Nino lalu membuka lemari pakaian dan mengambil baju kaos longgar yang lain, dan memakaikannya ke tubuh Lea. Kini gadis itu mengenakan baju 2 lapis.
"Seperti ini.. begini baru pantas."
Kini Lean menatap Nino dengan wajah berbinar. Lagi-lagi dia terpesona pada pria ini.
"Jangan senyum-senyum. Kamu bisa tanggung jawab kalau aku salah paham?" Nino membalikkan perkataan yang pernah Lean ucapkan padanya.
Lean terdiam.
Keduanya berbagi tugas dengan cukup adil.
🍁
"Nino... Nino..." Lean memanggil Nino.
Nino pun mendatangi Lean. "Kenapa?"
Nino kesini dulu. Tolong tahan kursi ini, aku akan membersihkan yang bagian atas itu."
"Begini saja Lean, biar aku yang lakukan. Kau saja yang menahan kursi ini."
"Tak apa. Aku bisa kok.. pegang yang benar ya.."
Lean pun segera beraksi.
"Oke.. sudah beres! Aku akan turun." Lean pun turun, namun karena kurang berhati-hati, kakinya malah terpeleset.
"Awwwwwww" pekik Lean.
Beruntung saja Nino siaga, hingga Lean tidak harus terjatuh ke lantai. Bak adegan film romantis, keduanya kini saling memeluk, dengan wajah saling menatap dalam.
degh degh
degh degh
Jantung itu kembali berirama.
Detik demi detik berlalu, sepertinya tidak ada diantara keduanya yang mau melepaskan diri.
Dalam posisi ini, jangan salahkan Nino jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
CUP...
.
.
Cut... Bersambung. Kita lanjut malam gaes😁
Tengkyu😊
__ADS_1