
"Arles? Dia datang? Kenapa aku merasa sesenang ini??? Mungkin benar... aku sangat merindukan pria ini! Aku takut memilikinya. Tapi hatiku sangat menginginkannya."
"Ehm..." Fran berdehem, untuk menyadarkan Calista dari lamunanya.
Ternyata, Fran dan Arles sudah berada tepat di sisi ranjang Calista, persisnya mereka berhadapan dengan Dion.
"Calista.. maaf aku hanya bisa mengucapkan selamat tanpa bisa memberimu pelukan semangat. Pria di sebelahku ini mengancamku jika aku nekad." tutur Fran panjang kali lebar.
Sedangkan Arles, hanya mengangkat kedua alisnya sebagai respon atas pengaduan Fran kepada Calista. Kedua tangannya ia selipkan pada saku celananya kiri dan kanan.
"Fran, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Mama bilang, kamu dan temanmu yang satunya telah mendonor darah kalian untukku. Aku sangat berterima kasih." ucap Calista, tulus.
Fran tersenyum menanggapi.
Lalu, pandangan Calista beralih kepada Arles. Pria itu juga sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Kali ini, sudah tidak terlihat aura permusuhan dari pancaran bola mata mereka.
"Hai.... bagaimana keadaanmu?" sapa Arles, pelan.
"Emmm.. seperti yang terlihat." Calista menjawab dengan sikap salah tingkah.
Dion merasa lucu melihat ekspresi malu-malu kakaknya ini. "benar.. kakakku pasti masih menyukai pria ini." Yang Dion tahu, pria ini bernama Arles. Dion yakin dia ini adalah Arles yang sama dengan masa lalu kakaknya dulu.
🍁
"Permisi.."
Seorang dokter mengunjungi ruangan Calista.
"Maaf dok? apa ini memang waktunya kunjungan?" Arles bertanya.
"Oh.. ada dokter Arles. Ah.. sebenarnya tidak. Tapi, pasien minta selang Chateternya di lepas. Bukan begitu Calista?"
"Oh.. iya.. aku.... merasa tidak nyaman dengan selang ini." jelas Calista sembari menunjukk selang kateter tersebut.
"Silahkan semuanya tunggu diluar. Saya akan membantu pasien." jelas dokter, ramah.
Fran dan Dion pun, membalikkan badan bersiap keluar. Tapi, tidak dengan Arles.
"Dok, dimana dokter wanita?" tanya Arles, membuat Fran dan Dion berhenti melangkah.
"Yah?? oh.. kebetulan mereka tidak sedang bekerja di shift saat ini tuan Arles." Jelas dokter apa adanya.
"Kalau begitu, saya saja yang membantunya!" tukas Arles, tanpa beban.
Calista: 🤨😯😶
Dion:🤨🤨🤨
Fran: 🤨😯🙄🤦♂️
"yah? maksud anda,--"
Fran menghampiri dokter: "Ehmmm.. dok.. kita cari aman saja tunggu diluar. Dia ini tidak bisa dibantah kalau sudah soal pasien yang satu ini." bisiknya ditelinga dokter.
Dokter: "Oh baiklah, saya hampir lupa bahwa anda juga seorang dokter. Terima kasih karena mau membantu pekerjaan saya"
Dokter membenarkan perkataan Fran. Dia baru ingat bahwa pasien satu ini adalah Calista, gadis yang digilai oleh dokter muda ini.
Kini semua orang telah meninggalkan ruangan, kecuali Arles.
__ADS_1
"Arlesssss!"
"hmmmmm? Apa masih yakin mau melepas benda ini?" tanya Arles, melirik kearah bawah Calista.
"Aaaaaku, sedikit malu." jawab Calis, semakin terlihat salah tingkah.
"yang benar saja? masa iya dia yang harus melakukannya?" batin Calis.
Arles mendekat. "Malu denganku? kalau dengan pak dokter yang tadi bagaimana? Tidak malu?" tanya nya pelan.
"Aaa.... Arles, aku menunggu dokter yang perempuan saja."
"Pintaaarrr!" Arles menyentuh kepala Calis dan sedikit mengelusnya.
"Lagi pula, kakinya masih sakit kan. Kalau kateternya dilepas, ranjang ini akan jadi korbannya. Mengerti?" masih dengan nada pelan.
Calista mengangguk.
"Ya sudah.. kamu istirahat saja.. biar cepat pulihnya. Aku dan yang lain akan menunggu diluar."
"Arless... tunggu dulu."
"Ya? ada yang bisa dibantu?"
"Emmmm... duduklah disini dulu." Calis meminta Arles, duduk berhadapan dengannya diatas ranjang kecil itu, dan tentu saja Arles menurut. Baginya, ini adalah angin segar.
Kini mereka dalam posisi duduk berhadapan. Calista menggerakkan tangannya yang tidak sakit dan memegang tangan Arles.
"Arles... terima kasih sudah baik padaku.." ucapnya tulus, entah untuk hal apa dia berterima kasih, Arles pun tidak mengerti.
"Terima kasih? Kebaikan yang mana maksudmu? Tentang hutang lagi?" Tebak Arles.
"Jadi benar ini tentang balas budi dan hutang? Kamu tidak bisa menerima kebaikanku dengan senang hati? Jadi kamu merasa harus membayar semua kebaikan yang kamu terima? Baiklah, aku memintamu membayarku kembali sekarang juga."
"Arles🥺 kamu marah?"
Cup......
Arles tiba-tiba menyerang Calista dengan ciuman dibibir.
Dalam beberapa saat, Calista terdiam. Ia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali. Namun, perlahan, dia mengikuti permainan bibir Arles.
Tentu saja Arles merasa senang bukan main. Tangannya kini menahan tengkuk Calista. Hal itu berlangsung dalam beberapa menit.
Arles menyudahi aksinya saat dirinya merasa bahwa Calista tidak bernapas dengan normal.
"Terima kasih!" ucap Arles dengan suara seraknya yang terdengar sangat sexy di telinga Calista. Calista tampak sangat malu. wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.
"Arles... apa yang sudah kita lakukan?" tanya Calista, namun wajahnya ia tundukkan tidak berani mematap Arles.
"Hei... lihat aku.." Arles menyentuh dagu Calista membuat wajah itu menatapnya kembali.
"Yang terjadi barusan adalah... kita saling mengungkapkan kerinduan. Kauu.. juga merindukan aku kan?"
Calis mengangguk tanpa paksaan.
"Apa ini artinya Calistaku sudah kembali? Kau bersedia membuka kesempatan kedua untukku kan?" masih dengan nada pelan, yang yak mampu di tangkis.
"Aku tidak tahu Arles.. aku bingung dengan hatiku. Aku memang tidak ingin terlibat perasaan itu lagi denganmu. Tapi, hatiku masih ingin. Bagaimana ini?" Calista tampak frustasi.
__ADS_1
"Pelan-pelan. Aku akan berusaha membantumu membuka hati untukku lagi.. Aku akan melakukannya perlahan."
Perlahan palamu. Belum apa-apa, sudah main nyosor aja. Bikin kesel readers aku aja deh.😋.
"Ya sudah.. beristirahatlah.. aku akan bekerja dulu. Terima kasih karena.. sudah tidak marah lagi saat melihatku."
Calista menjawab dengan senyum malu dan anggukan kepala.
Arles melangkah keluar dengan wajah bahagia yang tidak bisa disembunyikan. "Sedikit lagi Calis, aku akan mendapatkan hatimu kembali secara utuh." batinnya.
🍁
Beberapa orang yang sangat dikenal oleh Arles sedang berjejer rapi diluar ruangan itu.
Dengan wajah penasaran, orang-orang itu menatap Arles yang terlihat sangat bahagia.
Mama Dini: "Apa yang terjadi nak? Kenapa kamu terlihat senang?"
Mama Gless: "Arles.. jangan senyum-senyum tidak jelas, membuat orang mencurigai kamu yang tidak-tidak."
Lean: "Hei.. aku dengar kau membantunya melepas kateter? Itukah yang membuatmu merasa senang?"
Fran: "Memangnya sekeren apa aksimu didalam sehingga kau terlihat sebahagia ini? Dan kenapa lama sekali?"
Arles mengusap wajah bahgianya dan menghembuskan napas legah.
"Permisi, aku akan mengerjakan tugas negara dulu." bukannya menjawab, Arles malah pergi begitu saja.
Mereka hanya menatap kepergian Arles
Mama Gless: "Aku curiga terhadap dokter gila itu. Ayo kita temui Calista."
Setibanya di dalam,
Mereka lagi-lagi hanya bisa tercengang. Calista juga sedang tersenyum sendirian ditempatnya, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran orang lain. Dan apa ini? Kenapa Chateternya belum terlepas?
"Sepertinya dugaanku benar." batin Dion.
"Ehmmmm." Lean berdehem dan mengejutkan Calista.
"Lean? kamu datang?" Calista menyapa semua orang yang berdiri disana.
"Kami disini sudah sejak tadi."
"Hah?😯😯🤨🙊.. lalu, kenapa hanya berdiri disana?"
Dion: "Kami hanya penasaran kak, kenapa kateternya masih terpasang? lalu apa saja yang kalian lakukan sejak tadi?" Dion sengaja bertanya, membuat Calista gelagapan.
Fran: "Sudahlah Calis, tidak perlu menjawab. Kami sudah tau jawabannya. Cepatlah sembuh. Aku akan pergi. Permisi" Fran pergi setelah berpamitan.
Calista: "*memangnya apa yang kalian ketahui?"
.
.
to be cotinue☺☺☺☺*
Kita lanjut gaes🙊
__ADS_1