
Arles duduk termenung dikursi taman yang ada di halaman rumahnya. Dari ekspresi wajahnya, ia tengah memikirkan sesuatu. Arles kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Calista, dulu.
Arles Pov.
Saat Calista datang dihadapanku untuk pertama kalinya setelah kami dewasa, aku merasa sangat senang. Aku benar-benar senang. Teman kecilku, Calista Nara, dia benar-benar mencariku. Sesuai dengan pesanku padanya dulu bahwa dia harus mencariku. Dan hebatnya, dia menemukanku. Dia datang disaat yang sangat tepat, ketika Kirana, seorang gadis yang sangat menggilaiku itu akan mengungkapkan isi hatinya padaku, didepan semua orang.
"Maaf, apa ini kamu?" Calista menghampiriku dan tanpa basa-basi menyodorkan lembar foto diriku saat masih bocah. Dia tidak peduli dengan gadis disebelahnya yang akan mengatakan cinta padaku. Entahlah, mungkin Calista pikir ini adalah kesempatan besar untuk bertemu denganku, karena kampus itu sangat luas dengan banyak sekali mahasiswa/i yang berkeliaran disana.
Aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dalam batinku, dia pasti Calista teman kecilku.
"Maaf, aku bertanya. Apa ini kamu?" Ulangnya lagi, karena aku tidak kunjung menjawab. Aku sibuk menatapnya.
"Ehmmm" aku berdehem. Lalu aku bertanya "Apa kau tahu namaku?"
Dia tampak menelan kasar, mungkin dia gugup, jika aku bukanlah orang yang ada difoto yang dia pegang. Jika sampai aku mengatakan tidak, dia pasti akan sangat malu. Karena dia juga menjadi pusat perhatian saat ini. Bagaimana tidak, disaat orang-orang ingin menyaksikan pernyataan cinta dari Kirana terhadapku, dia nekad melangkah mendekatiku.
"A-aku.. tadi mendengar teman-teman menyebutmu Arles." Jawabnya ragu.
"Lalu, apa bocah itu bernama Arles?" tanyaku basa-basi. Dia mengangguk cepat dengan senyuman cantiknya..
__ADS_1
"Iy-iya.. bocah itu aku." Jawabku. Dan kalian tahu? Dia tampak sangat senang. Dia bahkan melompat-lompat kecil sangking girangnya bertemu denganku.
"Emmmm.. aku Calista Nara. Aku datang mencarimu.. apa kamu ingat, saat dulu pernah mengatakan untuk mencarimu?" Waww dia sangat berterus terang.
Kulihat sekelilingku, teman-teman yang sedang mengelilingi kami menatap Calista Nara dengan tatapan kagum. Mereka menatapku dan Calista secara bergantian. Tidak ada lagi yang peduli dengan gadis gila yang mati-matian mengejarku itu.
"Calis? Jadi ini kamu?" Akupun memberi tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Tak disangka, teman-teman yang menyaksikan kami bertepuk tangan, seolah kami adalah pasangan yang baru jadian.
Satu minggu berlalu, akhirnya kami sepakat untuk jadian. Itu karena ternyata kami memiliki perasaan yang sama. Aku tertarik padanya, dia juga tertarik padaku.
Dengan beredarnya berita tentang hubungan kami yang sudah jadian, tidak ada lagi gadis yang berani mendekatiku. Hah, mereka pasti minder bersaing dengan Calista. Karena dibalik penampilannya yang sederhana, dia memiliki body dan wajah yang sangat cantik. Ditambah lagi, Calista masuk dalam kategori mahasiswi berprestasi secara akademik.
Hari demi hari kami lewati hingga tibalah dibulan keempat hubungan kami. Aku merasa heran, Calista tidak pernah sekalipun basa-basi untuk menawarkan aku mampir kerumahnya untuk sekedar berkenalan dengan keluarganya. Padahal, aku mengantarnya pulang dari kampus setiap hari. Setiap hari, kecuali hari minggu.
Saat aku ingin mengajaknya untuk main kerumahku, dia juga selalu menolak. Terlihat sekali kalau dia malu untuk melibatkan orangtua dalam hubungan kami. Ya, tidak apa-apa, asalkan kami selalu bersama.
Kalian tahu? Aku sangat-sangat menghormati Calista. Aku menjaganya dengan sangat hati-hati. Orang-orang mungkin berpikir bahwa hubungan kami seperti gaya berpacaran yang bebas. Lelaki normal sepertiku pasti telah melahap habis pacarku yang terlihat sangat mempesona itu.
Aku? Aku tidak pernah sekalipun bertindak lebih padanya. Niatku adalah tidak akan macam-macam sebelum kami menikah. Berpegangan tangan saja, kami sudah sangat bahagia, dan berdebar.
__ADS_1
Hingga suatu malam mengejutkanpun tiba. Malam itu, aku janjian makan malam dengannya. aku sudah mengatur acara makan malam romantis untuk merayakan ulang tahunku, di salah satu restoran ternama dikota ini. Dia tidak kunjung datang. Aku menunggunya selama berjam-jam.
Ponselku memberi sinyal bahwa ada pesan yang masuk. Aku segera membukanya, karena kupikir itu darinya. Namun apa yang ku lihat pada ponselku?
Ada beberapa gambar yang dikirimkan padaku, yang memperlihatkan Calista, pacarku itu sedang berada di Club malam. Mini dress yang menempel pada tubuhnya membuatku naik pitam seketika. Belum lagi, foto lainnya yang memperlihatkan dia sedang tersenyum manis pada para pria yang ada disana. Dia menuang minuman kedalam sloki para lelaki itu dengan senyum cantiknya, senyuman yang sama yang selalu dia perlihatkan padaku.
AKU SANGAT MARAH.
.
.
Oia, Part ini dibuat sengaja untuk menggantikan Part sebelumnya yang berjudul (Arles - Calista). Jd, biar yg blum baca part itu, ga bingung gaes.👇
Part itu menghilang, dan othor ga tau kenapa.
Cukup! Bersambung dulu Gaes.
__ADS_1
Terima kasih readers😊😊😊