I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ketakutan Yang Sia-sia (season 2)


__ADS_3

Tiba di balkon yang terhubung langsung dengan ruangan Arles..


Arles hanya diam. Begitu pula dengan Nino.


Drrrrt drrrt drrrrt


Arles melihat layar ponselnya ternyata Ada telfon dari kontak yang bertuliskan : CINTAKU❀.


Waja Arles yang tadinya masam, kini berubah bahagia. Dan itu sedikit mencairkan suasana hati Nino yang sedang menegang.


πŸ“ž : "Halo sayang!" jawab Arles.


πŸ“ž: "Sayang, kamu dimana?" tanya Calis.


πŸ“ž: "Di balkon ruang kerjaku!" jawab Arles.


πŸ“ž: "Haa? Malam-malam begini di balkon? Sama siapa?


πŸ“ž: Sama Elnino." Arles benar-benar tidak bisa membohongi Calista.


πŸ“ž: Nino? Tumben? Emang kalian seakrab itu sayang?


πŸ“ž: Tidak. Sangking tidak akrabnya, aku ingin membuatnya terjun dari balkon lantai 3 ini." Jawab Arles sekenanya, tanpa perasaan.


πŸ“ž: Haaa? Kenapa sayang? Nino salah apa? Jangan gitu sayang!" Calis memohon dan terdengar memggemaskan di telinga Arles.


Apa kabar Nino? Pria itu rasanya akan pingsan saat ini juga karena merasa ketakutan.


πŸ“ž: Aku hanya akan membuat perhitungan dengannya. Karena dia hampir saja merebut milikku." jawab Arles.


πŸ“ž: "Arles.. apa maksud kamu?" Calista mulai curiga.


πŸ“ž: "Jangan berpura-pura sayang, kamu dan dia berteman akrab sejak kecil hingga sekarang, tapi kamu tidak cerita padaku? Aku keberatan." menjawab dengan santai, namun terdengar sangat menyeramkan di pendengaran Calis, terlebih lagi Nino.


πŸ“ž: "Sayang jangan gitu.. yang ada, kamu seharusnya bilang terima kasih ke Nino. Dia... menjagaku dengan baik selama kamu tidak ada. Bahkaaan, Nino juga yang bantu aku waktu mencari keberadaan kamu setelah kita dewasa. Nino tidak jahat kok, Nino selalu semangatin aku untuk tetap optimis akan bertemu kamu lagi. Buktinya, aku berhasilkan menemukan kamu?" Calis menjelaskan panjang lebar, berharap Arles akan luluh.

__ADS_1


Arles melirik Nino yang berada di sebelahnyaπŸ˜’πŸ€¨.


πŸ“ž: "Jadi begitu kah? Tapi yang aku lihat, dia sangat menyukaimu. Dan itu membuatku kesal."


πŸ“ž: "Sayang.. sudah tidak lagi. Dia sudah menghilangkan perasaan sukanya padaku. Percayalah.."


πŸ“ž: "Begitukah? Baiklah, aku akan memikirkannya"


Tuut tuut tuut.


Arles mengakhiri sambungan telpon secara sepihak.


Nino terlihat mengusap dadanya saat mendengar Arles mengatakan akan mempertimbangkannya.


"Ehmmm bagaimana ini Elnino? Dia setengah mati membelamu. Sepertinya kekasihku itu sangat peduli padamu. Aku jadi tidak tega."


"Owhhhhh.. syukurlah.. terima kasih Calista!" Batin Nino bersorak.


"Tapi.. aku tatap ingin melampiaskan kekesalanku terhadapmu. Bagaimana kalau aku memberimu sekali saja pukulan? Aku janji, tidak akan sesakit seperti saat jatuh dari tangga darurat itu."


Nino:😌😌


Kesuraman kembali menguasai pikiran Nino. Ia menatap Arles yang kian mendekat.


"Apa aku terlihat seperti monster? Kenapa kau terlihat sangat takut?" Arles menyentuh bahu Nino seolah sedang merapikan kemeja yang dikenakan musuh masa kecilnya itu.


Perasaan Nino semakin tak karuan. Bisa saja setelah ini tangan itu akan mencekiknya.


Mungkin Nino bisa melawan. Akan tetapi, dia masih memikirkan Lean. Nino tidaklah takut dengan seorang Arles, namun itu akan sia-sia jika membuat Lean akan semakin kecewa padanya.


Tiba-tiba saja tangan Arles malah merangkulnya. Namun, rangkulan itu terasa sedang mengunci pergerakannya.


"Nino, bagaimana jika aku mematahkan lehermu saja?"


Nino auto menengadakan wajahnya menatap Arles sembari memaki pria itu dalam hati. "Dasar Arles gila. Beruntung kau punya saudari kembar yang sangat ku sukai."

__ADS_1


"Apa? Kau sedang mengataiku sekarang? Aku bisa membaca otakmu" ucap Arles dengan nada tegas.


Pletuk


Kepala Nino kini mendapat jitakan dari tangan Arles, tangan yang sama yang pria itu biasa gunakan untuk menolong orang sakit.


"Kenapa kau menjitakku? Memangnya aku anak kecil?" protes Nino.


"Katamu tadi menyukai Lean kan? Dia adalah adikku meskipun kami hanya selisih 3 menit. Jadi, jika kau menginginkannya, maka kau adalah adik iparku. Seorang kakak berhak menjitak kepala adiknya yang nakal. Lean juga sering menerima jitakkan dari tanganku ini." ucapnya dengan bangga.


"Apa katamu? Berani-beraninya kau menjitak gadis yang aku sukai? Rasakan ini, aku akan membalasnya" Nino bersiap membalas Arles.


Namun..... aksinya terhenti saat otaknya mengulang perkataan Arles barusan.


"Apa katamu barusan? Kau mendukungku mendapatkan Lean?" tanya Nino dengan wajah berbinar.


"Tentu saja. Anggap saja sebagai tanda terima kasihku telah menjaga wanitaku selama ini."


"Jadi, kau telah membatalkan rencanamu yang tadi hendak menjahatiku?" tanya Nino.


"Jadi kau benar-benar menganggapku akan mencelakaimu? Tidak mungkinlah Nino. Terakhir kali aku berbuat kasar adalah minggu lalu saat menghajar rentenir yang menyebabkan Calista celaka. Setelah ini, tanganku hanya akan kugunakan untuk menolong orang yang sakit. Kecuali....., ada yang mengganggu Calistaku, aku akan kumat."


"Benarkah Arles?? Yessss!! Terima kasih banyak Arless. Kau tahu, setiap kali berhadapan denganmu, aku selalu merasa ketakutan." Nino spontan memeluk Arles.


"Hei.. Nino.. jangan menodaiku.. hanya Calista yang boleh memelukku, lepas!"


"Astaga.. Arles.. kau sangat keterlaluan." Nino melepas pelukannya.


Keduanya pun tertawa bersama padahal tidak ada hal yang lucu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Bersambung.


hayukkk.. lanjut.🀭🀭🀭

__ADS_1


komen kalian, aku menantikannya.


Kalian ga tau kan sensasi yang aku rasakan saat bolak-balik ngecek kolom komentarπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ₯°


__ADS_2