
Cukup lama Arles menunggu dalam mobilnya. Eit.. nunggu? Memangnya siapa yang memintanya menunggu? Pria itu benar-benar seperti orang kurang kerjaan. Sepulang bekerja, bukannya pulang ke rumah untuk istirahat malah main singgah ke restoran tempat Calista bekerja.
Calista sudah tidak terlihat sejak 1 jam yang lalu, tapi Arles juga tidak ada keinginan untuk cabut dari halaman parkir restoran yang tidak begitu luasnya itu. Benar-benar pengunjung tak tahu diri. Basa-basi pesan makanan kek, ini namanya cuma numpang parkir bambang. Menuh-menuhin parkiran aja deh.
"Masuk, jangan! Masuk, jangan! Masuk, jangan! Aaaaah masuk ajalah!" Setelah mempertimbangkan untuk masuk ke restoran atau tidak, Arles memutuskan untuk turun dari mobil hendak masuk ke restoran itu.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Baru saja hendak menurunkan kaki dari mobilnya, Arles menariknya kembali, lantaran orang yang menjadi alasannya mengunjungi tempat itu, yakni Calista, telah keluar dari restoran tersebut. Entahlah, mungkin gadis itu telah selesai dengan pekerjaannya.
Tak lama, muncul pula Nino dari arah belakang Calista dan langsung menggenggam tangan gadis itu, berjalan gagah di depan Calista, seolah sedang menyeret gadis itu, membawa Calis menuju ke mobil miliknya.
Sebelum masik ke mobilnya, terlihat Calista berbicara dengan pria itu dengan tatapan protes. Entahlah, Arles juga tidak tahu apa yang Calista katakan pada pria itu. Yang jelas, Arles sangat terganggu melihat pemandangan ini.
"Dia lagi, dia lagi. Kenapa orang itu selalu ada disekitar Calista?" gumam Arles. Arles mengikuti mobil yang membawa Calis dan Nino.
Ini adalah jalan kearah rumah Calis. Seperti dugaan Arles, Calista diantar pulang oleh pria itu. Baru saja tiba di depan gang, hujan tiba-tiba turun tanpa di undang.
Sepertinya kali ini, Arles harus belajar berbesar hati lagi. Sebab, dilihatnya Nino tengah keluar dari mobil dengan sebuah payung, lalu membukakan pintu mobil untuk Calis. Calista dan Nino, berjalan beriringan memasuki gang sempit itu dengan menggunakan satu payung yang sama.
Arles kembali menyalakan mobil dan pergi dari sana dengan kecepatan tinggi. Pria ini takut, bisa saja tempramen buruknya akan membuat masalah baru jika terus menyaksikan Calista dan Nino bersama dalam jarak yang sangat dekat.
Tiba-tiba Arles menghentikan mobilnya di jananan yang sangat sepi. Pria itu menarik dan menghembuskan napasnya kasar.
Ia pun turun dari mobilnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Akhirnya Arles berteriak, meluapkan perasaannya.
Sakit? marah? iya. Itulah yang kini dirasakan Arles. Sudah sekian kali ia menyaksikan hal manis yang diperbuat oleh Nino kepada Calista.
"Calistaaaaa!" Arles meneriaki nama itu dengan perasaan sakit dan marah dalam hatinya.
"Aku adalah pria yang egois Calista. Aku marah dan tidak suka jika ada pria lain yang dekat dengan wanitaku."
What? Kamu bilang wanitaku? PD banget sih? (author)
"Kenapa aku,,, harus melihatmu dengan dia Caliss!Kenapa kau harus menyiksa aku beginiii..?"
Memikirkan semua itu, membuat air mata pria ini akhirnya jatuh. Arles, MENANGISSS. Ia menangis dan terduduk disamping mobilnya. Membiarkan air matanya disapu oleh air hujan. Akan tetapi, cairan bening itu terus saja keluar dari tempatnya.
πππ
Ditempat lain.
"Nino... terima kasih ya.!" ucap Calista pada Nino yang telah mengantarnya pulang.
"Iya Calista.. sama-sama!"
Keduanya kini berada di rumah Calista. Calis membuatkan teh hangat untuk Nino.
"Nino... soal yang tadi---"
"Tidak usah diungkit lagi Calis.. aku puas sudah mengatakannya padamu, meskipun aku tahu kalau kamu tidak akan menerimaku.
Yaaa.. benar sekali. Tadi, sebelum pulang dari restoran, Nino telah mengungkapkan perasaan cinta yang telah ia pendam begitu lama pada Calista. Seperti dugaannya, Calista menolakπ₯Ί. Namun, Nino sama sekali tidak merasa sakit hati. ia justru merasa lega karena telah mengungkapkan perasaan yang selama ini menyiksa dirinya. Wahhh Nino keren deh.
"Noooo.. trima kasih kamu sudah mengerti."
"Iya Calista. Dan setelah ini, persahabatn kita akan tetap sama, berjalan tanpa mengingat lagi tentang perasaanku. Aku sekarang legah sudah mengatakannya Calis. Aku tidak marah!" Nino tersenyum legah.
"Nino memang sangat baik. Semoga saja dia bisa memdapatkan wanita yang baik nantinya. Amin!" Calis mendoakan Nino dalam hati.
"Ya sudah.. aku pulang dulu. Kamu beristirahatlah!" Nino pun pergi dari sana setelah menghabiskan teh hangatnya.
ππππ
Arland, Glesty dan Lean sedang menikmati mkan malam.
"Sayang... anak itu belum pulang? Bukannya dia shift pagi?" Tanya Arland pada Glesty.
"Iya, shift pagi. Seharusnya dia sudah pulang sejak sore, tapi ini sudah malam belum nongol. Malah hujan lagi!" sahut Glesty.
"Maa.. pa... paling juga dia lagi datangin Nara, sambil nangis-nangis nungguin di depan rumah Nara gak peduli sama hujan." Lean tertawa membayangkan Arles yang cool itu melakukan hal yang menyedihkan.
"Hus... kamu tu yah kebiasaan." Glesty melayangkan protes pada putrinya, Lean.
Tap... Tap.. Tap..
Terdengar langkah kaki memasuki rumah.
__ADS_1
Muncullah seseorang yang tak lain adalah Putra tampan dari pemilik rumah ini.
Arland: "Boy?"
Glesty: "Sayang?
Lean: π―ππ€
Penampilan acak-acakan, basah kuyup, wajah murung.
Lean segera menghampiri Arles. Tidak. Bukan hanya Lean. Papa mama juga turut serta.
"Ada apa ini Arles? Apakah benar seperti dugaanku? Kau habis menangis hujan-hujanan menunggu Calista di depan rumahnya seperti di Sinetron?" Lean berjalan mengitari Arles yang hanya berdiri mematung, tanpa sepatah katapun.
"Lean. Berhenti bertanya!. Sayang, ayo kita naik ke kamarmu dan mandilah dulu dengan air hangat." Gelsty dan Arles bersama-sama menaiki tangga ke lantai 2 rumah itu.
Arles masuk ke kamar mandinya sementara Glesty, ia menyiapkan pakaian ganti untuk putranya itu.
Tidak lama, Arles selesai dengan mandinya. Ia pun mengenakan pakaian ganti yang telah disiapkan mama..
Glesty duduk di sisi ranjang menunggu anaknya itu.
Arles duduk disamping mama setelah mengenakan pakaiannya.
"Dari mana tadi sayang? Habis ngejar Calis ya?" Glesty memulai pembahasan yang pasti disukai anaknya ini.
Arles terlihat menarik napasnya berat.
"Bagaimana ini ma?? Calista mungkin aja sudah punya seseorang yang dia sukai ma.. tempatku dihatinya mungkin sudah digantikan oleh oria lain ma," Arles menatap mata mama Gles. Lagi-lagi air matanya menetes.
Glesty berusaha terlihat tegar di depan putranya yang terlihat sangat rapuh saat ini.
"Hei... dengarkan mama!" Glesti menyentuh kedua sisi kepala Arles dengan kedua tangannya. Dan memberikan semangat kepada putranya ini.
"Kamu, adalah putra mama yang kuat. Jangan menangis. Jangan hanya menduga-duga. Pastikan hatinya." Glesty menghapus air mata Arles dengan tangannya.
Saat ini, Glesty tidak lagi mengatakan menangislah jika bersedih. Tapi dia mau putranya ini tegar. Tidak cengeng.
"Ingat Arles, disini memang kamu yang bersalah. Jadi, sudah sepantasnya kamu menyesal. Tapi, tidak ada yang mustahil sayang. Kalau kamu tetap semangat mengejar Calis, akan ada hasilnya nak."
"Supaya kamu tidak menyesal berkelanjutan, tenangkan hati dan pikiran kamu, biar kamu bisa memikirkan apa yang harus kamu lakukan sayang." Glesty memeluk putranya itu.
"Ayo semangat. Kamu adalah putra mama yang keren. Rebut hatinya lagi! Mama percaya kamu bisa Arles."
π
Calista telah bersiap berangkat ke restoran.
Pagi ini Calista merasa senang dan bersemangat, karena pada akhirnya, Nino kini menjadi sahabat seutuhnya, tanpa ada embel-embel perasaan lebih yang dinamakan cinta.
Cklek.
Calista membuka pintu lalu keluar dari kontrakan kecilnya itu.
Langsung berhadapan dengan seseorang yang berusaha dia hindari.
Tidak mengatakan apapun, seperti tidak melihat siapapun, Calista menuruni rumah itu dengan langkah cepat.
Tanpa basa basi, Arles menahan tangan Calis dan menyeret gadis itu ke mobil.
"Apaan sih? Lepas!" Calista menepis tangan itu dengan sekuat tenaga.
"Masuklah ke mobilku. Aku akan mengantarmu." Perintah Arles dengan PDnya.
"Tidak. Terima kasih." Calista meneruskan langkahnya.
"Calis.. ayo bicaralah denganku sebentar.."
"Bicara? Bukankah kita orang asing? Sudah lah. jangan mengikutiku! Aku,, tidak ingin melihat wajahmu.
Tin tin tin..
Nino datang.
Calista tentu saja langsung menghampiri mobil Nino untuk menghindari Arles.
__ADS_1
Arles tidak tinggal diam. Pria itu lalu berlari mengambil mobilnya.
"Nino.. lebih cepat. Aku tidak mau dia mengejar kita." Perintah Calis.
Nino pun memercepat laju mobilnya. Keduanya dapat melihat dengan jelas mobi Arles membuntuti mereka.
"Gila.. dia sangat laju Calis. Kita tidak akan lolos."
"Jadi kalian berdua mau balapan denganku?" batin Arles. Pria itu pun mempercepat laju mobilnya.
Tidak memakan banyak waktu, kini mobil Arles sudah menghadang mobil Nino, membuatnya terpaksa berhenti mendadak.
"Dasar manusia egois! Calis.. temui dia. Aku tidak mau berurusan dengan priamu yang gila ini!"
"Haiiiz... ini gara-gara kamu Nino. Aku bilang tancap gas kan tadi!" Kesal Calista.
Arles sudah menunggu di depan mobil Nino.
Karena merasa sedikit geram, Nino akhirnya keluar dari mobilnya.
"Bro.. pindahkan mobilmu. Kita mau lewat." ucap Nino.
"Aku berurusan dengan Calis.. bukan kamu."
"Eh.. dia tidak mau berurusan denganmu lagi. Menyerahlah."
"Apa? Menyerah? Kau kira aku akan menyerah? Tidak akan!"
"Tolong mengertilah.. biarkan Calista bahagia dengan hidupnya."
"Dia tidak akan bahagia jika bukan denganku. Ingat itu."
"Waaah Arles... kau benar-benar percaya diri!" batin Nino.
Akhirnya, Calista menyerah. Menurutnya, dia harus berbicara dengan pria keras kepala ini.
"Nino... biarkan dia yang mengantarku ke restoran.!"
Nino hanya mengangkat bahu dan mengatakan terserah.
Calista segera masuk ke mobil Arles.
Terlihat senyum kecil menghiasi wajah Arles.
Arles kembali melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan rendah.
"Bicaralah sekarang!" Calista.
"Aku rasa, kita harus cari tempat Calis!"
"Bicara sekarang atau atau-----"
"Baiklah... Calis, dengarkan aku! Pertama aku mau minta maaf. Aku minta maaf sama kamu ya!"
"Lalu? Ada lagi?"
"Ayo kita baikan.. ayo mulai dari awal lagi.. kayak dulu!"
Terlihat Calis menarik napas dalam.
"Oke.. aku maafkan kamu! Tapi maaf, untuk yang satunya, aku tidak bisa."
"Calis... please.. kasi aku kesempatan satu kali lagi!"
Kini mobil Arles sudah terparkir manis di depan restoran Nino.
"Arles... kau mungkin tidak tahu.. aku, sangat ingin meninggalkan kota ini supaya tidak lagi bertemu denganmu. Aku, memaafkanmu dengan mulutku. Tapi, di hati dan pikiranku, tidak bisa melupakan sakit yang sudah kamu tancapkan disana. Sakit itu terlalu dalam. Aku tidak tahu cara menghilangkannya. Jadi, kuharap kamu mengerti dan jangan menemuiku lagi. Kehadiranmu, sangat menggangguku."
Calista keluar dari mobil itu tanpa menunggu Arles mengatakan apapun lagi. Arles lagi-lagi harus menelan pil pahit atas perkataan Calista.
.
.
.
Bersambung.
Thanks ya buat kalian semua.. Kalian tu, sesuatu banget buat akuπ€π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
oia, yuk mampir ke cerita aku yang satunya. udah up tuπ
Jadi rupanya kenapa sempat rekendala upnya itu, karena kata miminnya part itu mengandung konten fulgarππ€ (Perjodohan Janda Duda)