
"Dia?"
"Benar."
"Dia lagi."
Batin Glesty.
Orang itu semakin mendekat kearahnya.. Ia melirik kearah motor Glesty, orang tersebut terlihat membuang nafasnya kasar, lalu menyorot matanya memperhatikan dari ujung kaki hingga naik ke ujung kepala Glesty dengan wajahnya tampak sedikit kesal.
Glesty spontan menelan slavinanya karena merasakan tenggorokannya yang mengering seketika. Karena salah tingkah, Glesty tidak bisa menatap lelaki itu. ia tidak punya keberanian sedikitpun menatap wajah itu saat ini.
Glesty mengalihkan perhatiannya ke lain arah.
"Luar biasa, dari ribuan orang didunia ini, kenapa dia orang pertama yang melintas disaat aku sedang kebingungan seperti ini?" Glesty hanya berkata-kata dalam hatinya.
"Apa kau tidak melihatku menghampirimu?" Ucap orang itu.
"Oke, karena kau lebih dahulu berbicara." Batin Glesty lalu menghadap ke orang itu dengan pandangan biasa-biasa saja yang di buat-buat.
"Iya, aku melihatmu. Ada apa kau disini?" Ucapnya, acuh - tak acuh.
"Apa yang kau lakukan disini seperti orang bodoh? Bagaimana jika bukan aku yang melintas dan melihatmu disini?" Tanya Arland dengan PDnya. Yah.. orang itu adalah Dia, Arland.
"Hah, trus kenapa jika orang lain yang melintas? Kurasa tidak ada hubungannya denganmu". Sahut Glesty dengan nada jutek, dan kembali memalingkan wajahnya kearah lain.
"Wah.. ternyata kau memang sudah berani melawan perkataanku sekarang? Maksudku adalah bagaimana jika orang jahat yang melihatmu disini?" Ucap Arland dengan nada yang dibuat agak meninggi.
Terlihat Glesty menautkan kedua alisnya dan memutar wajahnya menghadap Arland. "Cih, apa disekelilingmu banyak orang jahat? Asal kau tahu saja, seumur hidupku, baru sekali aku bertemu orang jahat." Tegasnya, "dan orang itu adalah dirimu" ingin sekali Glesty memgucapkan kalimatnya itu saat ini agar Arland tahu bagaiman marahnya dirinya terhadap lelaki ini.
Arland merabah saku celananya dan menelpon seseorang. Glesty dapat mendengarnya memerintahkan seseorang untuk meminta orang bengkel datang ke alamat dimana mereka berada sekarang.
"Ikut aku sekarang." Ucap Arland, dengan nada seperti sedang memerintah.
"Tidak. Kenapa aku harus menurutimu?" Tolak Glesty.
Arland menangkap tangan Glesty dan menyeretnya agar mengikuti langkahnya. Sampai dimobil ia memaksa Glesty untuk masuk.
"Ya ampun, kenapa orang ini berubah sekasar ini? Apa waktu itu kepalanya terbentur hebat,?"Glesty seperti tidak mengenal Arland yang sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ditempat lain.
"Omaaa... Opaaaa..." panggil Aurell yang melihat opa omanya menyambutnya saat ia pulang sekolah. Senyum ceria terukir di wajah cucu satu-satunya keluarga Adi Wijaya itu.
"Wah.. cucu oma sepertinya sangat bahagia!" Tebah oma dengan wajah begitu hangat. Mereka pun masuk ke rumah dan duduk di ruang keluarga.
"Oma, opa, Aurel punya teman baru loh disekolah. Dia adalah Arles yang tadi pagi kita bahas," jelas Aurel. Dan jelas saja kedua opa oma itu terlihat sangat tertarik mendengar nama Arles. Ah, membuat mereka makin penasaran dengan anak itu, terutama oma. Lama keduanya saling bertatap, seperti sedang berbicara hanya dengan mata.
.
.
\=\=\=\=\=
Di apertemen Lea.
Hari ini Lea tidak disibukkan dengan aktivitas pemotretan. Saat ini dia sedang memasak sambil menikmati alunan musik.
Karena suara musik yang lumayan nyaring, membuatnya tidak mendengarkan ada orang yang masik ke apartemennnya saat ini, dan melihatnya tengah asik mengaduk masakannya.
Orang itu menyunggingkan senyumnya, dan semakin melangkah mendekati Lea.
"Ah, sudah selesai, aku tinggal menghidangkanya." seru Lea, saat ingin mengambil mangkuk hidangan Lea membalikan tubuhnya "Aaaa" teriaknya karena kaget melihat Devan yang saat ini ada dihadapannya dengan jarak begitu dekat.
Mereka pun larut dalam ciuman untuk kedua kalinya setelah yang pertama waktu itu saat di ruangan Devan.
Mendapat balasan dari Lea, Devan mengangkat tubuh gadis itu tanpa melapaskan ciuman panas mereka. Ia mendudukkan Lea diatas tempat tidur yang ada di dalam salah satu kamar apartemen itu. Mereka terus saja menikmati tautan bibir yang saling ******* itu, tanpa ada rasa ingin melepaskan.
Devan tiba - tiba mengingat apa yang menjadi tujuannya sebelum hendak ke apartemen ini beberapa saat yang lalu.
Dengan penuh perasaan ia mengakhiri ciuman mereka. Membuat Lea yang dari tadi memejamkan matanya, kini membuka matanya dan melihat kedalam mata kekasihnya ini.
"Kenapa?" bisik Lea pelan.
Devan tersenyum dan membelai sayang rambut Lea dan mengecup kening wanita itu. "Tidak sayang, tidak boleh diteruskan. Jika kita teruskan, maka kita akan melewati batas terlalu jauh." Ucapnya dengan nada yang begitu lembut.
Lea terlihat salah tingkah, seakan kepergok menginginkan sesuatu yang berlebihan. Ia pun tersenyum sambil menggigit sedikit bibir bawahnya.
"Aku kesini karena ingin beristirahat. Tapi setiap melihatmu, rasanya aku selalu ingin menyerang bibir ini" jelas devan dan menyentuh jarinya pada bibir Lea.
Devan membaringkan tubuhnya disebelah Lea.
__ADS_1
"Kalau begitu beristirahatlah, aku akan membereskan dapur dulu." Ucap Lea dan beranjak keluar dari kamar itu.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Didalam mobil.
Arland dan Glesty hanya saling berdiam sembari menunggu motor Glesty kini sedang diutak - atik oleh ahlinya.
"Orang seperti apa dia?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Arland. Ia membuang rasa gengsinya jauh - jauh karena ingin tahu orang seperti apa yang berhasil menggantikan posisinya dihati Glesty.
"Ya? Apa... siiiapaa yang kau maksud?" Tanya Glesty hati - hati.
"Suamimu. Orang seperti apa suamimu?" tanyanya lagi dan menghadapkan wajah datarnya ke arah Glesty yang juga sedang menatapnya saat ini.
Arland dapat menangkap ekspresi aneh dari wajah Glesty yang tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, aku akan ganti pertanyaanku. Apa kau mencintainya, suamimu, mencintai ayah dari anak-anakmu itu?" Pertanyaan tanpa basa - basi itu dilontarkan Arland begitu saja, dia sangat ingin melihat ekspresi dan jawaban wanita ini.
Pertanyaan itu membuat Glesty memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Hah,,Mencintai ayah dari anak-anakku?" Batinnya, Lirih.
Entah kenapa Glesty merasa terpukul mendengar pertanyaan itu. Rasanya Glesty sangat ingin menagis saat ini. Ia sangat ingin berteriak diwajah Arland.
"Hei.. ada apa dengan wajahmu ini? Aku hanya ingin tahu perasaanmu terhadapnya." Ucap Arland datar.
Arland merasa sangat marah menanyakan tentang hal ini. Lebih tepatnya, Arland tidak ingin menerima kenyataan bahwa Glesty telah bahagia dengan keluarga barunya.
Jujur saja, kembali berjarak sedekat ini lagi dengan Glesty, rasanya Arland sangat ingin dan ingin mendekap tubuh wanita itu lagi. Ia sangat merindukan wanita ini. "Andai saja waktu bisa diulang, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan yang lain!" Batin Arland, memandang lekat wanita itu.
.
.
.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
Guys, trima kasih telah membaca, dan jika berkenan, berikanlah Like, Vote, Rate n komen kalian yah.. Agar Cerita ini terus berkembang dan semakin menarik🙏