I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Oma dan Opa?


__ADS_3

Gaeees.. Moon maap ya, Author baru sempat up. Maklum, kesibukan merayakan tahun baru. hehe. gimana tahun baru kalian? semoga teman2 ttp sehat dan bahagia ya🥰🥰🥰.


Oke, kita lanjut.


.


.


-----------------------


Arland menyatakan kesediaan dan kesanggupannya untuk menjadi pendonor darah bagi Arles yang akan dilakukan operasi di pergelangan tangannya, Karena kebetulan mereka memiliki golongan darah yang sama. Namun, dokter mengatakan meskipun mereka adalah ayah dan putra kandung, tetap akan dilakukan tes kecocokan sebelumnya, sesuai dengan peraturan yang berlaku.


"Kita akan memastikan kecocokan darah anda dengan pasien terlebih dahulu" Jelas salah seorang dokter kepada Arland, dan disetujui oleh pria itu.


.


Lean melongo mendengarkan penjelasan dokter yang dengan entengnya mengatakan bahwa Arland dan Arles adalah ayah dan anak kandung.


"Pak dokter.. paman ini, bukan papanya Arles." Protes Lean, dengan wajah polosnya.


"Ya?" Sang dokter tentu saja bingung dibuatnya. Ia menoleh pada bocah perempuan imut yang berada di sebelah Arland, lalu bergantian melihat Arland, dan pria itu hanya tersenyum kecut.


"Oh maaf pak.. saya sudah salah mengira." Ucapa


dokter itu, canggung.


"Arland... Arland..." Muncullah kedua orangtuanya Arland.


"Ma... Paa... kalian sudah sampai,"

__ADS_1


"Jadi bagaimana nak? Dimana Glesty?" Kedua paruh baya itu terlihat sangat khawatir.


"Untuk pasien yang bernama Glesty, dia hanya butuh istirahat yang banyak. Jika sudah bangun nanti, pasien sudah boleh langsung pulang." Ucap dokter yang tadinya menangani Glesty.


"Untuk Arles, apakah ada anggota keluarganya disini? kita butuh persetujuan untuk dilakukan tindakan operasi dan harus ditanda tangani."


"Pak dokter, saya dok.. saya saudaranya Arles. Saya bisa tanda tangan dokter." Lagi-lagi ucapan polos keluar dari bibir Lean.


"Hei cantik, yang pak dokter maksud ialah, anggota keluarga yang lain. Misalnya papamu, atau saudara mama kamu!" Dokter menyamakan tingginya dengan bocah ini lalu tersenyum lembut ke arah Lean.


"O........, papa ya? Emmm...." Lean terlihat berfikir dengan menggaruk kepalanya. "Papa kami juga sedang sakit pak dokter. Kalau onty Le dan Uncle Le sedang berada di kota yang lain untuk bekerja." Sambungnya lagi.


Mendengarkan bocah itu menyebutkan bahwa ayahnya sedang sakit, kedua orangtua Arland merasa terganggu, dan penasaran. Pasalnya, waktu itu Arles bilang kalau ayahnya telah meninggal. Dan, keduanya memang sangat yakin bahwa kakak laki-laki dari gadis kecil ini, yakni Arles, adalah anak Glesty dengan putra mereka.


Dokterpun berpamitan dan meminta Arland untuk bersiap, setelah Arland memastikan bahwa dirinyalah yang akan bertanggung jawab atas apapun yang akan terjadi pada Arles.


"Hei gadis kecil.." papa Arland mendekat ke arah Lean yang tengah duduk menyendiri pada kursi panjang yang tersedia disana, Mama dan Arland pun melakukan hal yang sama.


"Kamu kenapa cantik?" Tanya mama tersenyum.


Lean memandang wajah tiga orang dewasa didepannya ini, bergantian.


"Kenapa mereka semua sakit? Apa mama dan Arles juga tidak akan bangun-bangun lagi kayak papa? Apa mereka juga akan dibawa pergi ke negara yang lain sama kayak papa?" Lean menangis. Saat ini gadis kecil itu sangat takut nasib mama dan saudaranya itu akan sama seperti papanya yang karena sakit dan dibawa pergi orangtuanya, sehingga entah ada dimana papanya itu saat ini. Lean benar-benar sangat takut.


"Lean, tidak akan ada yang membawa mereka pergi sayang.. disini ada kita. Kita akan jaga mereka yah.. Ada paman, ada oma opa juga ya" Arland memeluk Lean memberikan ketenangan.


"Kenapa aku merasa hatiku sangat terpukul melihat kesedihan gadis kecil ini? Apa karena kesalahanku pada ibunya begitu besar?" Batin mama.


"Arland terlihat sangat dekat juga dengan gadis kecil ini. Mereka terlihat seperti ayah dan anak. Seandainya Tuhan masih memberikan waktu untuk Glesty dan Arland kembali bersama, aku akan memperlakukan gadis kecil ini seperti cucuku sendiri" Batin Papa.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, tangisan Lean sudah tidak terdengar.


"Paman, apakah mereka ini adalah orangtuamu?" Lean merasa ingin tahu dan bertanya.


"Benar sayang.. dan kamu harus panggil mereka oma dan opa ya.." pinta Arland, dan Lean hanya memasang wajah tanpa ekspresi.


"Oma opa itu apa paman?" Tanya Lean, yang merasa aneh meyebutkan kata oma opa.


"Cantik, kamu tidak punya opa dan oma?" Tanya papa, dan Lean hanya menggeleng.


"Lean, oma dan opa itu sama artinya dengan kakek dan nenek. Mereka itu adalah orangtua dari mama atau papa kamu" Jelas mama kepada Lean.


"Kakek, nenek?..." Lean terlihat berfikir sejenak. "aku tidak menyukai kakek dan nenekku."


"Loh kenapa begitu sayang?" Arland bertanya dengan asal.


"Karena mereka membawa pergi papaku yang sedang sakit, ke negara yang sangat jauh. Aku dan Arles jadi tidak punya papa." Lean berkata sambil menundukkan kepalanya.


.


.


.


Bersambung....


Tar sore atau malam kita sambung lagi yah gaes... 😉.


Happy new year.....

__ADS_1


__ADS_2