I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Gara-gara Oma (Season 2)


__ADS_3

Entah kenapa, Lean merasa tak terima mendengar pernyataan omanya Nino, bahwa cucunya itu telah memiliki pacar. Ah.. sudah jelas, Lean tak suka. Enak saja pria ini mempermainkannya. Mencuri ciuman pertamanya padahal statusnya adalah kekasih dari perempuan lain.


Oma yang terkejut karena cucu satu-satunya ini membentaknya di depan banyak orang, tentu saja merasa terganggu. "Hei.. kenapa malah bentak oma?"


"Haaa? Aku bentak oma?" tanya Nino dengan wajah polos.


"Iya. baru saja kau meneriaki oma di hadapan semua orang disini."


Nino merasa tidak enak hati. Ia lalu meminta maaf. "Oma, sorry yah..!"


Omanya Nino mendekati teman-temannya lalu berpamitan untuk pergi dari acara itu. "Ehmmm.. sepertinya sekarang waktunya aku dan cucuku segera pulang."


"Ah, sayang sekali. Tapi terima kasih telah datang ke acaraku ini teman." sahut omanya Lean.


"Kita pulang" ajak oma kepada Nino, dan melangkah pergi.


"Oma.. oma tunggu.. jangan begini oma!"


Oma sedikit mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung atas sikap Nino.


"Kamu berpikir oma sedang marah padamu?"


"Iya.. aku tahu oma marah kan.. ayolah jangan pulang dulu."


Dari jarak yang masih terbilang dekat, omanya Lean bisa melihat dengan jelas interaksi antara Nino dan omanya. Tak sengaja, oma juga melihat ekspresi aneh dari cucunya sendiri, yaitu Lean.


"Sayang, kamu kenapa? Wajahmu terlihat sedang marah."


"Hah? Apa terlibat begitu oma?"


"Iya... terlihat sangat jelas." jawab oma, singkat.


"Oma.. pria itu... aku sudah mengenalnya oma."


"Apa? Si Elnino itu? Kamu mengenalnya?"

__ADS_1


"Hmm."


"Oh.. astaga.. oma mengira kalian tidak saling kenal. Tapi.... kenapa wajahmu begitu? Apa kamu kesal pada Nino?" oma iseng menebak.


"Ayo ikut, Lean mau cerita dulu oma.." Lean membawa oma mencari tempat duduk. Lean bahkan menggenggam tangan omanya agar ikut dengannya.


Disisi lain Nino masih berusaha menahan omanya sendiri agar tidak pergi dari sana. Tapi Nino bahkan tidak tahu mengatakan alasan yang jelas kepada omanya, kenapa malah dia yang terlihat tidak mau pergi dari pesta yang katanya hanya dihadiri para lansia itu.


"Oma benar-benar bingung sama kamu Nino, tadi siang kamu ngotot tidak mau ikut oma ke acara ini. Sekarang, sepertinya kamu yang tidak mau pulang. Kenapa Nino? Apa karena ternyata banyak gafis cantik hadir disini?"


"Ssssuuuut"🤫 Nino hampir saja membekap mulut wanita tua yang adalah neneknya itu. "Oma, jangan nyaring-nyaring. Orang lain bisa mendengar."


"Cisshh.. jadi cucu oma pria seperti ini? Tidak konsisten dengan perasaan. Hatimu tidak berkualitas. Dengan mudahnya melirik wanita lain, padahal jelas kamu mengatakan punya seseorang yang kamu cinta. Kamu mengecewakan oma Nino,"


🤦‍♂️"Oma.. oke dengarkan aku dulu. Tentang gadis yang aku sukai.. dia.." Nino terliha mengusap kasar wajahnya.


🍒🍒


Di sisi lain.


"Tidak apa.. kamu tidak capek? Apa kita harus pulang duluan?" Arles mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa dia? Pasti ada sesuatu."


"Kita ikuti saja acaranya sampai selesai. Aku baik-baik saja." jawab Calista.


Arles hanya mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. Ia hanya mengingat tentang penjelasan Fran barusan di telepon, tentang Calista. Lagi-lagi, pria ini kembali di hampiri dengan perasaan bersalah. Ia lalu menggeser kursinya agar lebih dekat lagi dengan Calista. Arles mengambil satu tangan Calis dan tersenyum menatap wajah kekasihnya itu.


"Kenapa dia? Oke, dia ingin bermesraan. Tapi ini di depan umum dan banyak sekali para orang tua." batin Calista.


"Sayang, kamu kenapa? Jangan aneh-aneh. Ada banyak orangtua.!" bisik Calista.


Lagi-lagi, Arles hanya tersenyum sambil mengangguk. Tidak mengatakan apapun, masih menautkan jari-jarinya dengan jari tangan Calista.


Disisi lain.

__ADS_1


"Apa??" Omanya Lean menggebrak meja. Tentu saja ini mengejutkan bagi Lean.


"Jadi si Elnino itu telah mencuri ciuman pertama cucu oma?" Oma berdiri dan hendak mencari Nino.


😲"Oma... oma... jangan oma.. jangan mencarinya."


"Tidak sayang, dia harus bertanggung jawab. Kamu tunggu disini yah"


😳🤦‍♀️"O...oma tidak perlu seperti itu oma, pleasee.. jangan." Perkataan Lean, tidak dihiraukan oleh oma. Wanita tua itu terus melangkah mencari Nino.


"Mati aku.. ternyata mengatakannya pada oma bukanlah pilihan yang tepat. Oma benar-benar bertindak. Sembunyi.. iya.. aku harus sembunyi." Lean terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri.


🍒


Nino.


"Oma, tenang dulu. Tarik napas. Aku akan jelaskan sesuatu. Tapi, berjanjilah untuk tidak marah padaku."


"Memangnya apa yang harus di jelaskan? Kenapa pula oma harus marah padamu? Ayo kita pulang dan bicaralah di rumah atau di mobil. Oma sudah pamit ke teman-teman oma. Trus ngapain masih disini? Kamu jangan aneh-aneh Nino."


"Tentu saja karena cucumu itu harus mempertanggungjawabkan sesuatu." Seseorang tiba-tiba muncul, dan menghampiri keduanya.


Nino dan omanya tentu saja terkejut atas perkataan omanya Lean.


Berbeda dengan omanya yang semakin terlihat bingung, Nino sudah mengerti akan maksud oma dari Lean ini.


"Jangan dulu bawa pergi cucumu. Ayo ikuti saya."


"Kelar hidup aku malam ini" batin Nino.


.


.


LANJUT BESOK guys.

__ADS_1


oia, maaf karena author sedang kurang fit (alias migrain) jadi ngehalunya kurang lancar🤭 hehehe


__ADS_2