I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Keajaiban (Season 2)


__ADS_3

Nino merasa malu. Sangat malu. Bisa-bisanya dia tidak menyadari bahwa Lean dan Arles memang punya hubungan keluarga?


Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari Nino, Lean kembali masuk menemui Arles, namun ternyata Arles sudah mengganti pakaiannya.



Lean: "Arless.. aku akan pulang dulu. Karena aku merasa sangat mengantuk."


Arles: "Iya.. pulanglah.. minta pria yang tadi mengantarmu."


Lean: "Haah? Kenapa aku harus memintanya? aku bisa naik Taxi."


Arles: "Menurut saja.. tidak aman naik taxi saat merasa ngantuk. Bahaya."


Lean: "Terserah kau saja mau bilang apa, aku mau pulang." Lean pun pergi.


🍁


Ternyata Nino masih berada ditempatnya. Tepatnya, dia sedang menunggu Lean. Saat gadis itu melewatinya begitu saja, Nino mengikuti langkah Lean.


Lean terus saja melangkah anggun di depan Nino. Tidak peduli, pria itu mengikutinya atau tidak.


Tiba di basment, Nino kembali mengambil tangan Lean, membawa gadis itu ke mobil miliknya.


"Apaan nih? Hei.. lepaskan aku!" Lean bingung atas aksi Nino.


"Jangan banyak tanya. Masuklah!" Perintah Nino setelah membukakan pintu untuk Lean.


"Kamu mau membawaku kemana? Mau menculikku yah?" Lean menatap curiga.


"Cih.. untuk apa aku menculikmu? Aku hanya menjalankan amanat. Bukankah Arles memintamu diantar pulang olehku?"


"Hah! Jadi kamu menguping pembicaraan kami? Lancang sekali."


"Sudahlah Lean.. masuklah.. aku akan mengantarmu dengan selamat." dengan nada lembut.


"Baiklah, karena kamu memaksa!" Lean pun masuk ke mobil Nino untuk pertama kalinya.. terlihat sunggingan kecil disudut bibirnya, namun tidak dilihat oleh Nino. Lean senanglah diantar oleh pria ini. Munafik kalau dia bilang tidak senang🀭


.


Nino telah mengantar Lean selamat sampai tujuan yang sesuai dengan alamat yang diberikan Lean. "Lean, apa benar ini rumahmu?" tanya Nino, namun tidak dijawab oleh Lean.


"Astaga... dia tertidur." batin Nino.


"ngomong-ngomong, dia terlihat sangat cantik saat tidur!" batin.


Clek...


Nino melepaskan seatbelt yang masih mengikat tubuh Lean.. dengan perlahan Nino memastikan sabuk pengaman tersebut kembali ke posisi yang benar, namun membuat wajah tampannya hampir bersentuhan dengan wajah mulus Lean.


Lagi-lagi Nino berdebarrrrr.


Menyadari debaran jantungnya, Nino dengan segera menarik tubuhnya sendiri lalu mengelus dadanya.


"Sial.. benar kata Lean, aku harus segera memeriksakan kesehatan jantungku!" gumamnya dalam hati, dan terus menatap wajah Lean.


"Ninooo?" Lean auto memanggil nama Nino ketika membuka mata. Jangan lupa, suara serak khas baru bangunnya itu. Masuk ke pendengaran Nino dan terdengar sangat sexy.


Beginikah rasanya saat seseorang bangun tidur disampingmu ? Menyebut namamu dengan suara manja? Nino merasa senang.


"Nino...jangan melihatku begitu... kamu bisa tanggung jawab kalau aku jadi salah sangka?" Kata-kata yang tak tahu apa artinya itu lolos begitu saja dari mulut Lean, membuat Nino tersadar dari lamunannya.


Nino tentu saja menyudahi pemikiran tidak berguna yang diciptakan oleh otaknya itu.


"Ehmmmm... Lean, kita sudah sampai. Apa benar itu rumahmu?" menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Oh bukan. Tapi, ayo kita turun. Aku ingin sarapan bareng kamu. Kamu pasti laparkan?"


"Yah?" Lagi-lagi Nino berdebar.


"Benar-benar sakit nih jantung aku. Masa ajakan sarapan bareng aja harus berdebar juga? Tuhan.. tolong aku."


"Ayo... tunggu apa lagi?" Lean segera turun.


Nino pun juga turun dari mobilnya.


"Ayo... jangan malu-malu... kita kan teman!" ucap Lean dan menarik lengan baju Nino tanpa bersalah.


Lean mengucapkan selamat pagi kepada 2 security yang sedang berjaga.


"Pagi pak..." lalu tersenyum.


"Eh nona... selamat pagi non.." sapa keduanya dengan ramah. "Cieh nona sudah punya pacar ya?" goda keduanya.


"Hah?? Bukan, bukan! Dia hanya teman baru saya." jawab Lean dengan sedikit bersemangat.


Entah kenapa, perasaan Nino sedikit sakit mendengarnya.

__ADS_1


Keduanya pun, memasuki halaman rumah megah itu. Satu kata untuk rumah ini adalah waw..


"Tunggu Lean, tadi pas aku tanya, kamu bilang ini bukan rumah kamu? Apa tadi kamu mengigau atau semacamnya?"


"Ohhh.. memang benar ini bukan rumahku. Aku hanya nenumpang disini. Ini adalah kediaman orang tuaku. Saat aku menikah nanti, suamiku akan membawaku ke rumahnya, yang akan menjadi rumah kami. Disanalah nanti rumahku. Apa kamu paham?"


Jlebbb.. bahkan dengan pernyataan tak masuk akal dari gadis ini pun, membuat jantung Nino kembali bergejolak, meronta-ronta tak jelas.


"Pagi Mona.." Lean menyapa salah satu ART yang sedang menyapu.


"Pagi Non... waaaaaahhhhhhh non.. pangeran dari mana ini? Sepagi ini sudah ada dirumah kita?" si ART yang tergolong masih muda itu mengagumi ketampanan Nino.


"Haha... Mon-mon.. kamu ada - ada aja sih, kayak gak pernah liat orang ganteng aja! Bukankah Tuan muda rumah ini juga ganteng?" Lean basa-basi.


"Hehe.. tuan Arles ganteng banget si Non, tapi Mona bosan liat yang itu-itu aja!" jawab Mona jujur, membuat Lean tertawa ngakak.


"Mon, kenalin.... dia Nino. Tapi.. bisa kan kamu stop senyum-senyumnya.. dia punya aku!" Lean kembali berkata asal dengan memainkan matanya ke arah si Mona.


Lagi-lagi Nino mati kutu, dan jantungnyalah yang menjadi korban disini.


"Lean? Siapa yang punya kamu?" Glesty tiba-tiba muncul entah sejak kapan.


"Mama? Mama dari tadi?"


"Mama tanya kamu.. apa yang tadi kamu bilang? Dia? Punya kamu?" melirik Nino.


Lean hanya bisa pasrah. Candaannya menuai kecurigaan mama.


"Dia? Dia Nino ma... temannya Nara. Teman aku juga!"


"Mama tahu itu. Tapi mama tadi dengar kamu bilang ke Mona kalau dia punya kamu. Maksud kamu, kalian---"


"Iya ma... tapi belum! Aku masih berusaha!" ucap Lean cuek dan melangkah ke dapur..


Waaaahh Lean benar-benar sedang mempermainkan kesehatan jantung Nino.


"Apaaa?? Leaaannnn. Kenapa dia jadi mirip Arles begini? Dari mana kepedean itu muncul? Bikin malu aja" Glesty merutuki putri satu-satunya itu.


"Ah Nino... maafkan anak tante itu. Tante yakin dia hanya asal. Dia terlihat sedikit aneh pagi ini." ucap Glesty salah tingkah.


Nino hanya tersenyum sebisanya, lalu mengangguk.


"Nino... ayo, kemarilah.. sarapan dulu baru pulang." teriak Lean dari dapur. Nino pun, mendatangi Lean setelah berpamitan pada Glesty.


Nino tiba di dapur luas itu dimana Lean sedang menunggunya.


"Ayo Nino, silahkan! Jangan mengira keluar dirumah ini tidak harmonis karena tidak sarapan bersama. Mama papa aku pasti sudah sarapan dari tadi. Lagi pula Arles sedang meratapi kesedihannya dirumah sakit, jadi dia tidak mungkin sarapan dirumah hari ini."


Nino membatin: "berani sekali kau bermain-main dengan jantungku! Tunggu, akan ku balas."


Lean membatin: "Kenapa Nino? Kau merasa gugup sekarang? Sedikit lagi Nino.. maka candaanku tadi akan terwujud."


🍁


Mama Dini, akhirnya diantar oleh perawat menuju ruang rawat dimana putri satu-satunya itu berada. Dilihatnya Pria muda itu sedang berdiri di samping putrinya yang masih tertidur, kedua tangannya terselip pada saku celananya. Pria itu menatap lurus kearah Calista. Seolah tak ingin melewatkan 1 detik saja napas pendek yang terhembus dari mulut yang tertutup oksigen itu.


Dini mendekati keduanya.


"Sayang... maafkan mama... mama tidak menjaga kamu dengan benar!" Mama Dini mengecup kening putrinya itu dengan perasaan sedih.


Dini lalu berdiri dan berhadapan dengan Arles. Dini mengambil satu tangan pria itu. "Arles... maafkan putriku jika dia bersalah padamu!" Dini mengelus punggung tangan Arles. Keduanya kembali mengeluarkan cairan bening dari mata mereka.


Arles menggelengkan kepala. "Tante.. tolong jangan berhenti berharap. Aku, berjanji, dia akan bangun." Arles memeluk mama Dini. Mereka berdua adalah orang yang paling sakit disini.


Ceklek,


Pintu terbuka. Mama Gles masuk dengan rantang makanan ditangannya. Ia merasa terharu melihat putra satu-satunya itu memeluk ibu dari wanita tercintanya.


"Putraku ternyata sudah dewasa" batin Glesty.


Arles dan mama Dini menghampiri Glesty.


"Sayang.. kamu sama tante Dini sarapan dulu ya nak.. ini mama bawain sarapan yang bisa menambah tenaga kalian berdua biar tetap semangat jagain Calista." Glesty lalu membuka rantang susun bawaannya itu, serta memberikannya pada Arles dan Dini.


"Trima kasih bu Glesty. Maaf, saya jadi merepotkan anda. Tidak apa bu Dini. Jangan merasa terbebani ya.."


🍁🍁🍁


Tiga hari kemudian.


Ruang rawat yang ditempati Calista dipenuhi dengan bucket bunga. Setiap ada yang mengunjunginya selalu membawa bunga. Apa lagi Arles, pria itu selalu membawa bunga setiap datang menjenguk Calista.


Arles baru saja menyelesaikan shift sore dirumah sakit tempat ia bekerja. Saat ini ia bersiap untuk menjenguk Calista lagi.


drrrt drrrt drrrt


Lean menelfon.

__ADS_1


"Halo Lean!"


"Segera kemari. Calista... Calista..... darurat.."


Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, Arles segeran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Tuhan.. tolong kuatkan dia.. Jangan ambil dia Tuhan!" Pikiran Arles kini tertuju pada segala kemungkinan buruk.


"Calis... tunggu aku.. Calis.. jangan pergi Calista.."


🍁


Arles kini sudah tiba dirumah sakit. Suasana tegang menyelimuti area ruang rawat Calista. Semua orang yang mengenal Calista berada disana karena telah dihubungi oleh Lean. Karena, mungkin inilah saatnya kemungkinan terburuk itu terjadi. Lean sangat bersedih.


Kedua sahabat Arles juga tiba disana. Tujuan mereka adalah untuk menguatkan Arles.


Di dalam, dokter sedang berusaha melakukan tindakan sebaik yang mereka bisa. Arles bisa melihat dari kaca pintu bahwa dokter sedang memegang alat pacu jantung, dan sesekali menempelkannya pada tubuh Calista.


Tak lama, terlihat dokter menggeleng. Lampu yang menyorot tubuh Calista kini dipadamkan. Arles yang melihat itu segera membuka pintu, lalu masuk kesana dengan perasaan tak karuan.


"Dok... jangan berhenti dok.. lanjutkan dok."


Para petugas medis hanya diam, menggeleng pelan.


"Dok... teruskan.. hidupkan dia!"


"Maaf tuan.. anda dapat melihat dengan jelas layar monitor itu."


"Sudah berapa detik hah? Ini baru beberapa detik kalian sudah menyerah?"


Entah keberanian dari mana, Arles dengan lancangnya menyalakan kembali lampu dan mengambil kendali alat pacu jantung itu, untuk mencoba membuat Calista bangun.


Semua orang disana hanya menatap Arles dengan perasaan takut. Dia terlihat marah juga terlihat sedih.


Beberapa kali Arles mencoba, hasilnya tetap sama. Dia pun menghentikan tindakannya.


"Calista... aku mohon, bangunlah.. bangun.. aku memaksamu bangun Calis.. kau harus menurut." Kini pria itu terlihat mulai gila.


Mama Dini? Wanita itu kini sedang menangis, meratapi kepergian anaknya.


Yaa.. semua orang juga merasakan hal yang sama.


"Calistaaa! I Love You.... bangun... aku bilang aku mencintaimu. Bangunlah!" Arles benar-benar terlihat sedih.


"Apa? apa yang kau inginkan? Kau ingin aku meninggalkanmu? Oke... oke.. aku akan menjauhimu.. aku tidak akan menganggumu lagi.. tapi bangunlah.. bangun, dan aku janji akan pergi darimu jika itu yang kau mau!" Lagi-lagi Arles menangis dengan tidak tahu malu.


Semua orang menatap Arles dengan hati terenyuh. Didepan semua orang, pria itu mengatakan akan menjauhi Calista asalkan Calista mau bangun." Semua orang juga percaya, Arles tidak akan bisa membuktikan perkataannya itu jika benar Calista akan babgun. Tidak mungkin pria itu sudi meninggalkan Calista.


"Lihat...! pasien sedang merespon!" seru seorang tim medis yang lebih dulu melihat Calis menggerakkan tangannya. Dan isak tangis semua orang terhenti begitu saja, termasuk Arles.


Hening seketika.


Monitor juga menunjukkan adanya perubahan. Detak jantung Calista telah kembali. Semua orang tentu saja merasa legah... Ini keajaiban.


Arles terduduk ditempatnya! Ini benar-benar keajaiban.


Dokter: "Ini sebuah keajaiban. Pasien telah melewati masa kristisnya. Keluarga pasien, mohon tunggu diluar! Kita akan melakukan tindakan lebih lanjut."


"Bro... ayo kita tunggu diluar!" Fran dan Bagas memapah tubuh Arles keluar ruangan.


Diluar ruangan!


Arles hanya menundukkan kepala, sementara yang lain sudah menampakkan ekspresi legah. Namun, hati kecil mereka kini bertanya-tanya. Bagian mana yang membuat Calista merespon? Apakah usaha terakhir Arles melakukan tindakan pacu jantung, atau saat Arles mengatakan mencintai Calista? Ataukah karena Arles mengatakan akan menjauhi Calista? Atau.... ini murni keajaiban dari Tuhan?


Ahhh.. yang terpenting sekarang adalah Calista akan segera bangun.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


3 hari kemudian.


Dini hanya seorang diri menunggui putrinya.


Ia tertidur disamping putrinya.


Calista... perlahan... membuka mata.


"Mama..." panggilnya dan menyentuh kepala mama.


Dini terbangun karena mendengar seseorang memanggilnya mama.


"Calista? Sayang? Kamu bangun?" Dini segera memencet tombol untuk terhubung dengan dokter.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Gaes... terima kasih. Maafkan kehaluan yang terkadang tak masuk akal ini.


Love you all☺☺


__ADS_2