I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Mereka Sangat Mirip


__ADS_3

Haai hai haii Gaesss...


Author balek lagi nih😊


Selamat membaca ya.. Semoga kalian suka.


.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya...


Seluruh surat kabar, sosial media dan berita gosip di setiap channel pada hari ini memberitakan tentang Alin, model cantik pendatang baru.


Bagaimana tidak, Video dan foto-foto yang menampakkan dirinya yang sudah terlanjur tersebar di media sosial itu tampak sangat menyedihkan.


Belum lagi, pernyataan seorang Alin tadi malam


yang mengatakan dirinya telah berbuat salah dan sekarang ia dicampakkan oleh seorang Devan Adi Wijaya.


Satu-satunya pernyataan yang keluar dari bibirnya itu membuat banyak orang kini menerka-nerka sebenarnya apa kesalahan dari seorang Alin terhadap kekasihnya?


Apakah dia kepergok selingkuh?


Apakah wajah cantiknya itu tipuan semata?


Mungkinkah Devan telah mengetahui jika sebenarnya wanita itu berwajah jelek dan menutupinya dengan operasi plastik?


Banyak yang bersimpati terhadap Alin, namun lebih banyak lagi yang menghujat, dan menertawakannya. Kini status keartisan Lea sudah TAMAT .


Namanya telah di tendang dari Agensinya pagi ini juga dikarenakan semua perusahaan yang bekerjasama dalam kontrak dengannya telah membatalkan kontrak kerja mereka dengan seorang Alin, setelah melihat kabar yang beredar tentang gadis cantik itu.


Semua itu juga tidak luput dari ulah Devan. Dengan pengaruh besar yang ia miliki, mampu memghancurkan Alin hanya dalam satu malam.


Devanlah yang mendatangkan para pemburu berita mendatangi Lea secara bersamaan dan melemparkan banyak pertanyaan pada Lea, yang tentunya bertujuan untuk memojokkan Lea, membuat gadis itu tidak akan berani muncul dan berhadapan lagi dengan kamera.


Devan sedang berdiri didepan cermin dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang dikenakannya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dan berbicara.


"Kenapa Lea? Kenapa kau berani mempermainkanku? Devan menarik nafasnya berat.


"Sebenarnya apa yang ku rasakan ini? Setelah memberikan efek jerah pada perempuan itu, kenapa hatiku jadi tidak tenang? Bukankah aku seharusnya legah setelah membalas kecurangannya padaku?


.

__ADS_1


.


\=\=\=\=\=\=


Glesty bangun lebih awal dari biasanya. Hari ini Glesty berencana mengunjungi teman Arles dirumah sakit. Meskipun biaya rumah sakit telah diselesaikan, tapi sebagai orang tua dari anak yang bersalah, Glesty harus tetap menunjukkan etikat baiknya.


Bicara soal biaya rumah sakit, Glesty teringat pada Arland. "Jadi, bagaimana aku harus menghadapi laki-laki itu lagi? Aku bahkan berani meminta orangtuanya untuk menjaganya agar tidak lagi melihatku? Astaga... Aku seperti seseorang yang tidak tahu malu. Aku bahkan belum berterima kasih dengan benar." Kesal Glesty pada dirinya sendiri.


Glesty mengambil ponselnya untuk mengecek jika saja ada pesan masuk. Dan benar, disana ada pesan masuk dari kontak adik bungsunya, Lea.


Alina Lea" "Kakakku tersayang, terima kasih karena telah datang ke undangan makan malam tadi. Kak, aku hanya berharap yang terbaik untuk kakak. Mungkin dalam waktu dekat ini, kakak akan susah mencariku, tapi kakak jangan khawatir aku pergi untuk menenangkan diri. Jaga keponakanku. Aku harap kakak memberitahukan tentang siapa papa mereka secepatnya kak."


"Lea? Apa maksudmu?" Glesty seketika merasa sangat pusing.


"Astaga, kenapa aku merasa kepalaku sangat penuh? Gerutu Glesty, lalu membuang nafasnya kasar. Ia pun bangkit dari tempatnya dan menuju ke dapur hendak memasak. Sebulumnya, Gleaty menyempatkan diri untuk melihat keadaan anak-anaknya.


Cklek,


Glesty membuka pintu dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur anak-anaknya. Kedua anak itu sedang tertidur nyenyak. Karena hari ini hari minggu, maka Glesty tidak membangunkan mereka. Lagipula saat ini Arles masih menjalani hukumannya untuk berkurung dikamar. "Arles, maafkan mama sayang..."


Glesty merasa bersalah ketika memandang wajah polos putranya yang tengah tertidur pulas.


Glesty kemudian keluar dari kamar itu untuk membuat makanan lezat.


.


Tiba di ruang rawat teman Arles.


Pasca menjalani operasi, kedua bocah itu dirawat di kamar inap yang berbeda namun hanya bersebelahan, jadi memudahkan Glesty memgunjungi keduanya.


"Saya minta maaf atas nama putra saya nyonya." Glesty berusaha bersikap sebaik mungkin untuk memperlihatkan ketulusannya.


Tak sia-sia, ibu dari anak tersebut tersenyum hangat ke arah Glesty.


"Tidak apa-apa bu Glesty. Namanya juga anak-anak. Saya mau marah-marah juga percuma." Balasnya, tulus.


"Trima kasih atas pengertian anda nyonya. Semoga Putri anda lekas sembuh." Glesty tersenyum tipis.


Glesty pun berpamitan setelah memberikan makanan yang tadi ia bawakan.


"Maaf, bu Glesty!"


"Ya?" Glesty bertanya karena sepertinya nyonya muda ini ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Em... Pak Arland,,, maksud saya, kalian saling kenal?" tanya nya ragu.

__ADS_1


"Sa...ya? dengan... pak Arland? Glesty menunjuk dirinya sendiri. Yang hanya disenyumi oleh lawan bicaranya tersebut.


"Dia.. em... ha.. hanya kebetulan nyonya." Glesty menjawab dengan terbata-bata.


"Anda juga mengenalnya?" J


Glesty balik bertanya untuk mengusir kecanggungannya.


"Beliau pemimpin di tempat suami saya bekerja bu Glesty. Saya hanya tau itu, tapi beliau tidaklah mengenal saya." Jawab wanita itu masih dengan senyumannya.


"Saya pikir awalnya Anak anda dan pak Arland adalah ayah dan anak, karena....menurut saya mereka sangat mirip. Maafkan prasangka saya ya bu, Sambungnya lagi, dengan memgatupkan sedikit ujung jarinya.


Glesty pun tersenyum kecut mendengarkan penuturan wanita itu, sebelum akhirnya melanjutkan kunjungannya di kamar pasien satunya lagi.


Tiba didepan Kamar inap bocah laki-laki itu, Glesty mengintip dari kaca bening yang terpasang pada pintu masuk tersebut. Dilihatnya bocah itu tertidur pulas. Entah karena memang ngantuk ataukau pengaruh obat bius yang belum menghilang dari tubuhnya.


Glesty pun memutuskan untuk masuk.


"Ngapain anda kesini." Suara itu sontak membuat Glesty terkejut dan hampir saja menjatuhkan rantang makanan yang ada digenggamannya.


Ternyata wanita yang kemarin mempermalukannya di depan banyak orang dan tak lain ialah ibu dari teman Arles itu. Ia datang bersama sengan dua orang.


Melihat sepasang paruh baya yang sangat dikenalnya bersama dengan wanita ini, Glesty merasakan jantungnya berdegup begitu kencang.


"Kenapa? Kau terkejut dengan kedatangan mereka? Heh ku perkenalkan padamu. Mereka ini adalah sponsor terbesar untuk sekolah anakku dan anakmu. Mereka juga ternyata sahabat dari orangtuaku dan Aku akan meminta pada mereka untuk mengeluarkan anakmu dari sekolah itu."


Lalu nyonya muda itu memalingkan wajahnya dan melihat ke arah papa dan mamanya Arland. "Bisa kan om? tante?"


Glesty memberanikan diri untuk ikut mengarahkan wajahnya ke arah mantan mertuanya itu.


"Kami bisa melakukan itu, asalkan ada yang bisa membuktikan bahwa anak yang bernama Arles itu memang bersalah." Jawab papanya Arland dengan nada berat namun tegas. Sedangkan sang istri hanya diam membisu menatap sendu ke arah Glesty, namun Glesty tidak dapat mengartikan pandangan itu.


"Ow... mereka semua benar-benar mengerikan. Aku tidak percaya mereka berdua adalah kakek dan nenek dari anak-anakku. Apakah perbuatan kasar Arles menurun dari keluarga ini?" Batin Glesty.


"Baiklah, apapun keputusan pihak sekolah untuk putraku, aku akan menghormatinya. Aku juga tidak bisa membiarkan putraku berlama-lama mendapatkan bullying psikis di sekolah itu.." Ucap Glesty tanpa ekspresi.


"Permisi" Glesty pergi begitu saja.


.


.


.


Gaes... gaes... Ber..sambung😇.

__ADS_1


Part selanjutnya, kita akan tau kondisi terkini si bocah tampan, Arles🥰.


Terima kasih🥰🥰🥰🥰


__ADS_2