
Toko mainan semakin ramai karena banyaknya pengungjung.
Arland kembali menawarkan mainan kepada keduanya.
"Atau apa kalian berdua ingin mainan yang disana? Arland menunjuk kearah mainan yang terpajang dengan sangat menarik.
"Terima kasih paman. Tidak perlu repot membelikan kami. Onty dan uncle akan membelikan kami mainan apa saja hari ini. Mereka sudah berjanji. lyakan Lean?
Dan diangguki oleh pemilik nama yang dimaksud.
"Oh.. Kalau begitu.. paman akan pergi. Kalian jangan terlalu lama terpisah dari pengawasan orangtua yah.
Keduanya hanya mengangguk.
"Baiklah.. kapan-kapan kita pasti akan bertemu lagi kan! Ucap Arland.
"Tidak paman, kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Karena kami tidak tinggal dikota ini. Kami hanya berlibur dikota ini paman.
"Wah.. kau ini sangat pintar.. kalau begitu, mari kita berpisah sebagai teman. oke?
"Keduanya kembali mengangguk.
Arland meraba saku celananya mengambil ponsel kemudian memotret kedua bocah itu.
Merekapun memutuskan untuk berpisah satu sama lain. Namun, baru beberapa langkah, entah apa yang tengah mereka rasakan, Arles dan Lean perlahan membalikkan badan, demikian juga dengan Arland.
Entah kenapa, rasanya sangat aneh. Ada perasaan tidak rela untuk berpisah dari pertemuan pertama ini.
Kini mereka kembali saling bertatapan. Namun, dalam jarak yang agak jauh..
Arland menatap kedua bocah itu secara bergantian. Tidak ada lagi senyuman diwajah keduanya. Terutama Lean, gadis kecil itu memperlihatkan ekspresi yang merenyuh hati Arland.
Dari pancaran matanya dapat terbaca bahwa ia ingin mengatakan, JANGAN PERGI.! KAMI INGIN BERSAMAMU.!
Ada linangan air mata dari kedua sudut matanya, dan bibir bawahnya yang ia gigit, untuk menahan agar mulutnya tidak menangis.
Membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa kasihan.
Arland menarik nafasnya yang terasa sangat berat, lalu melangkah perlahan kearah gadis kecil itu.
Tak disangka-sangka, Lean juga berlari kearah Arland, dan kini ia benar-benar menangis.
"Kenapa? Tanya Arlan, kemudian mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
Dan tiba-tiba,
Hug' Lean memeluk Arland. Memeluknya dengan sangat erat.
Arland pun memeluk tubuh kecil itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Sudut mata Arland pun kini mulai mengeluarkan cairan bening.
DARI KEJAUHAN
Leon juga tengah memeluk tubuh adiknya, Lea. Bagaimana tidak, Lea saat ini sedang menangis. Ia benar-benar tidak tahan melihat drama yang sejak tadi ia dan kakaknya saksikan.
Menyaksikan kedua keponakannya terlihat sangat bahagia saat berhadapan langsung dengan papa mereka, namun tidak tahu sama sekali bahwa orang itulah papa yang baru mereka tanyakan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Dan kini, saat mereka akan berpisah dari pertemuan pertama itu, sangat jelas terlihat bahwa ketiganya memiliki ikatan batin.
Ada perasaan tidak rela untuk saling meninggalkan.
Lea benar-benar sakit menyaksikan ini.
"Sudah-sudah.. jangan menangis adikku.. jika nanti ada fansmu, kau akan dituduh berselingluh dari pak direktur. Ucap Leon, berusaha menenangkan Lea yang menangis sesegukan dalam pelukannya.
\=\=\=\=\=\=
Sudah beberapa menit berlalu, Lean masih memeluk erat Arland.
Kini perasaan mereka berdua satu sama lain mulai tenang.
Perlahan, Lean melepaskan pelukannya.
Arlan memegang kedua bahu bocah imut itu, dan kini mereka saling berhadapan lagi.
"Kau tak ingin berpisah dariku gadis kecil? Tanya Arland, dengan tatapan usil untuk menggoda Lean.
Gadis itu hanya tersenyum tipis.
"Ayo, berjanji untuk bertemu lagi! ucap Arland menaikkan jari kelingkingnya untuk membuat janji.
"Sana, pergilah! Kakakmu yang ganteng itu sedang menunggumu! Suruh Arland kepada Lean, Leanpun mengangguk mengiyakan.
Arlan menatap tubuh kecil Lean yang semakin menjauh sampai dimana Arles berada.
Terlihat Arles mengelus sayang punggung Lean.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=////
Kepadatan lalu lintas di Kota J membuat Arland banyak membuang waktunya dijalanan saat ini. Situasi jalan padat memang terjadi jika sudah menjelang weekand seperti ini.
Entah mengapa, pikiran Arland kembali lagi kepada kedua bocah yang baru saja ia ketemu di mall tadi.
"Mereka sangat manis. Aku cukup lama bicara dengan mereka. Lalu perasaan apa yang tadi kurasakan?
"Sangat aneh rasanya saat akan berpisah dengan mereka. Tapi entah kenapa aku tidak melihat orangtuanya.. kenapa membiarkan anak-anak seusia itu berkeliaran tanpa pengawasan? Arlan bergumam panjang.
"Ah.. pasti mereka adalah anak-anak yang pintar dan mandiri sehingga tidak perlu selalu diawasi.
"Jika aku akan punya anak-anak nanti, apa mereka juga akan sama manis dan pintarnya seperti dua bocah itu?
"Aku salut dengan kedua orangtua mereka. Orangtuanya pasti selalu mengajarkan hal baik pada mereka.
"Keduanya sangat tau cara yang sopan berbicara dengan orang lain, mengembalikan yang bukan miliknya, dan lihat saja tadi boca laki-laki itu..
"Anak laki-laki itu mungkin sudah terbiasa berbicara untuk adiknya yang belum bisa berbicara.
"Dia menjelaskan banyak hal padaku tanpa terbatah. Persis seperti orang dewasa.
"Sungguh menggemaskan*!
Arland tersenyum mengingat Lean dan Arles.
__ADS_1
"Arles dan Lean. Arles, Lean.
Tunggu! Namaku Arland, dan nama bocah itu Arles.
Arland mengulang menyebutkan nama Arles.
"Nama kami hampir sama.
"Sepertinya aku tidak bisa melupakan nama mereka. Batinnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Onty... Uncle...
Suara Arles membuyarkan lamunan onty dan unclenya, yang sejak tadi fokus pada pikirannya masing-masing.
"Eh.. boy.. apa saja yang kau pilih? Leon masih berusaha menetralkan keterkejutannya.
"Cantik! Mana mainan pilihanmu sayang ? tanya Lea pada Lean.
Lean dan Arles hanya menaikkan bahu dan memperlihatkan tangan kosong mereka.
Onty, uncle, tadi kami sedang lama berbicara dengan seorang paman.
"Ini dia.. tanpa ditanya, Arles akan menceritakan apa saja yang tadi ia bicarakan dengan orang itu! Batin Lea dan Leon bersamaan.
Si kecil imut Lean hanya menampakkan ekspresi gembira diwajahnya. Entah apa yang dirasakan dan yang dipikirkan oleh gadis kecil itu saat ini.
"Seorang paman?
Lea kini bertanya dan mensejajarkan tingginya dengan Arles.
"Ia onty, seorang paman. Paman itu sama tampannya denganku. Ucap Arles.
"Oh ya? Lebih tampan mana sama uncle Le.? Tanya Leon.
Terlihat Arles memperhatikan wajah sampai ujung kaki uncle Leonnya.
Busset dah, apa yang diperhatikan bocah ini dariku?
Em... Paman itu... sedikit lebih ganteng daripada uncle Le! Ucapnya dengan wajah polos.
Ucapan Arles berhasil membuat Lea mengakak, lalu mendekatkan kepalanya kearah telinga Leon dan berkata : Kak, ini baru namanya darah lebih kental dari pada air. Hahaha
Gbug...
Leon menjitak gemas kepala Lea.
"Aduh, kak.. kau ini..kenapa malah menjitakku? Kesal Lea.
Diliriknya bocah kembar itu tengah menahan tawa dengan cara menutup mulut dengan tangan.
"Sungguh lucu uncle dan onty ini, batin mereka.
BERSAMBUNG😊
__ADS_1