I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Masih Istri Kamu


__ADS_3

Wanita paruh baya itu menceritakan semuanya. Bahkan tentang Arland yang sangat marah mengetahui kenyataan bahwa Glesty tidaklah benar telah meninggalkannya.


.


.


Keesokan Harinya.


"Uuuuuuh, perutku sangat lapar." Gerutu Leon yang baru saja bangun. Dua detik kemudian, ia mengendus-enduskan hidungnya, karena seperti mencium aroma sesuatu. "Hmmm.... aromanya enak sekali.


Leon keluar dari kamar menuju ke dapur. Namun, mulutnya ternganga sempurna dengan kening berkerut begitu melihat Devan tengah mengunyah sesuatu.


"Pak direktur! Apa yang sedang anda lakukan?"


Nada tinggi Leon tentu saja mengejutkan Devan.


"Ehm.. ehm.. Aku sedang makan. Kemarilah. Aku juga menyiapkan sarapan untukmu." Sambil menunjuk sebuah piring yang berisi Steak dan sedikit nasi.


"Steak?" Leon berjalan cepat ke arah lemari pendingin dan membukanya, lalu menutupnya kembali."


"Apa anda sudah gila? Itu makanan kesukaan khusus untuk keponakanku, Arles!"


Devan sontak melepaskan pisau dan garpu dari tangannya. "Milik bocah tampan itu? Kenapa kau baru bilang?" Devan merasa bersalah, karena mengingat bocah itu sedang dirawat dirumah sakit.


Leon menggulingkan bola matanya ke atas, melihat ekspresi Devan. "Ya sudah. Aku juga sangat lapar. Anda sudah membuatnya." Leon menarik piringnya dan duduk dihadapan lelaki itu.


"Jadi bocah itu menyukai steak? Sama aku juga sangat suka. Dan ini steak terenak yang pernah ku makan." Ucap Devan memuji, bermaksud mengembalikan moodnya Leon.


"Tunggu!" Ucapnya lagi.. "Kak Arland juga sangat menyukai steak,!... Jika kak Arland adalah mantan suami kakakmu, apa jangan-jangan....."


Leon melirik dengan tatapan sinis.


"Arles adalah anaknya kak Arland?" Sambungnya lagi kemudian tersenyum sempurna.


"Tentu saja. Bahkan bukan hanya Arles... Lean juga anaknya. Mereka anak kembar!" Entah kenapa bibir Leon menjelaskan hal itu kepada Devan.


"Fix." Devan kembali tersenyum bangga.

__ADS_1


"Kenapa? Anda tidak perlu terlihat sesenang itu." Desis Leon lagi.


"Kita berdua adalah sama-sama sebagai seorang paman dari dua bocah. Jadi kau jangan lama-lama marah padaku!" Devan mulai ngelunjak.


"Cepat makan. Anda jangan lupa ada tanggung jawab yang lebih besar." Leon kembali mengingatkan Devan tentang Lea.


Devan tersenyum kecil mengingat wanita itu. "Aku bahkan hanya tidur 1 jam karena menghabiskan waktuku memikirkan dia." Batin Devan.


Leon sengaja mengingatkan Devan. Padahal ia sendiri tahu bahwa tadi malam pria ini tidak bisa memejamkan matanya. Karena saat Lean terbangun pukul 2 dini hari tadi, ia memergoki Devan tengah menatap sebuah bingkai foto yang tentunya itu adalah foto Alina Lea, adiknya itu, yang memang terpajang diruangan tempat Devan beristirahat.


.


Ponsel Devan berbunyi tepat setelah keduanya telah menyelesaikan sarapannya.


"Halo, silahkan bicara!" Tegas Devan.


"Halo pak, berdasarkan nomor ponsel yang anda laporkan, terlihat aktif terakhir kali pukul 22.30 malam, 4 hari yang lalu pak."


Devan mengingat, itu adalah malam dimana ia meninggalkan Alin dan mengutus banyak wartawan mengganggunya. Malam dinner keluarga yang gagal itu. Devan terlihat menelan ludahnya kasar.


"Aku ingin dengar. Tolong aktifkan loadspeakernya!" Devan pun menurut saja.


"Bisa anda menjelaskan dimana ponselnya aktif terakhir kali.?" Devan sudah tidak sabaran.


"Tepatnya di jembatan penghubung Kota B dan Kota S pak Devan." Jawab orang itu.


Baik Devan maupun Leon, mimik wajah keduanya berubah takut, begitu mendengar kata JEMBATAN. Ada ketakutan yang sangat besar dihati keduanya.


"Ayo kita ke jembatan itu." Ajak Devan.


.


.


Di Rumah Aurell.


"Papiiii.." panggil Aurell yang melihat kedatangan Arland. Keluarga itu baru saja menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


Wajah Arland nampak datar, tanpa ekspresi. Ia tidak menjawab Aurell yang menyapanya, dan membuat gadis kecil itu merasa aneh. Arland mendekat ke arah Lean, dan membelai rambut dikepala bocah imut itu. "Lean... anak papaaa!" Arland bersuara sangat pelan. Namun, semua yang ada dsitu dapat mendengar.


Lean nampak terkejut mendapat perlakuan aneh dari pria yang biasa dipanggilnya paman ini. Salah satu dari kaki kecil bocah imut itu bergerak mundur.


"Pamaaan! yang anak paman itu, kak Aurell bukan Lean." Dan tangan kecilnya menunjuk ke arah Aurell "Kak Aurel disitu paman!" dengan tatapan heran menatap Arland.


Kedua orang tua Arland saling beradu pandang. Nampak senyum getir dari keduanya.


"Ini kan yang papa dan mama senang? Anakku,,, tidak mengenalku sebagai ayah....! Puas kalian sekarang?" Arland sudah tidak peduli dengan yang ingin dia katakan, meskipun disana ada anak kecil yang menyaksikan.


"Arland, dengarkan papa!" Kali ini papa mencoba untuk bicara.


"Tidak perlu pa.. aku cukup tahu segalanya..." Lalu ia mengambil satu tangan Lean ingin membawa anaknya itu pergi.


"Arland... Glesty masih istri kamu.!"


Degh.


Perkataan papa berhasil membuat Arland menghentikan langkahnya.


Tapi lelaki itu tetap bersikap dingin. "Selamat, berarti mama dan papa telah menjadikan aku suami yang tidak bertanggung jawab, membiarkan istri berjuang melahirkan dan membesarkan anakku sendirian."


"Arland....." Lagi lagi papa mencoba berbicara.


"Setidaknya selama aku terbaring lemah, ada kalian yang menjaga dan merawat istriku, menyambut kelahiran anak-anakku. Tapi,,, apa yang mama dan papa lakukan? Kalian malah membuang mereka. Berarti dari awal, kalian tidak menginginkan mereka. Jadi mulai saat ini, jangan pernah mendekati istri dan anak-anakku." Tegas Arland, panjang lebar.


Arlan dan Lean berlalu pergi dari rumah itu..


.


.


Bersambung😊😊😊


Tengkyu yah gaes.. sudah meluangkan waktu membaca dan berpartisipasi untuk cerita ini.


Lanjut😊

__ADS_1


__ADS_2