
Arles, Lean dan onty Le sudah bersiap dan Leon pun sudah menunggu di parkiran bawah tanah dari apartemennya ini. "Bu Sum, saya mau keluar untuk mengantar anak - anak pulang ke orangtuanya. Mungkin saya akan pulang larut bu, jadi boleh saja ibu pulang setelah selesai beres - beresnya tidak perlu menunggu saya." Ujar Lea kepada bu Sum!
Bu Sum pun mengiyakan, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Benar! Nona Alin terlihat seperti orang baik, dia ramah, tidak sombong." Batin Bu Sum.
Di dalam mobil.
Lean dan Arles nampak sangat bahagia. Kedua bocah itu sudah sangat tidak sabar, ingin segera tiba dan bertemu lagi dengan sang mama.
"Puas jalan - jalannya?" Tanya uncle Le.
"Puas uncle, nanti kalau liburan lagi Arles mau mengajak mama ah, biar mana happy juga." Seru Arles.
Beberapa jam menempuh perjalanan, kini mobil yang membawa mereka tiba di halaman rumah minimalis keluarga itu. Seorang wanita cantik keluar dengan senyuman diwajahnya menyambut kedatangan empat orang kesayangannya itu.
__ADS_1
kalian sayang" ucapnya.
Keluarga itu pun menyantap makan siang yang telah dipersiapkan Glesty.
Tidak terasa waktu berjalan dan kebersamaan keluarga ini harus berakhir. Leon mengajak Lea untuk pulang ke kota J.
Dalam perjalanan mereka awalnya hanya ada keheningan. Sepertinya kedua orang itu sedang sibuk dengan pikirannya masing - masing. Leon pun akhirnya memecah keheningan "apa kau menyukai orang itu?" Lea sontak menghadapkan wajahnya ke arah Leon "apa maksud kakak?" Leon hanya bersikap santai "direktur itu, kau menyukainya kan?" Lea hanya terdiam. Dia merasa seakan tengah tertuduh melakukan kesalahan. "Jadi benar, kau menyukainya" sambung Leon.
Lea merenungi apa yang Leon tuduhkan terhadap dirinya. "Benar, hatiku mengatakan aku menyukainya" batin Lea.
"Kendalikan dirimu Lea, jangan sampai perasaanmu mengacaukan semuanya. Kita sudah hampir selesai, kumohon jangan terbawa perasaan. Kukatakan padamu sekali lagi. Direktur itu tidak menyukai perempuan. Dia menyukai laki - laki. Mungkin dia bersikap manis terhadapmu, tapi percayalah, kau pasti akan sakit hati." Tegas Leon.
Dilingkungan kantor, semua pegawai wanita tidak ada satupun yang tidak tergoda akan ketampanan direktur utama perusahaan itu. Ya dia adalah Devan. Namun, rumor yang beredar menyatakan bahwa Devan memiliki kelainan, alias seorang guy, dan berita itulah yang diyakini oleh semua karyawan maupun karyawati perusahaan itu, termasuk Leon.
Media massa memang telah mengumumkan tentang hubungan kekasih antara dirinya dan Alin, seorang model wanita yang baru saja terjun di dunia model namun namanya langsung melejit naik saat dekat dengan Devan. Tapi, banyak yang menebak bahwa Devan hanya berusaha menepis rumor tentang dirinya yang seorang penyuka sesama jenis, dan tidak sedikit yang menuduh dirinya dan Alin hanya settingan.
__ADS_1
"Kau menganggap pelukannya itu adalah pelukan dari seorang lelaki yang menganggapmu sebagai wanita Lea? Aku bisa menjamin, bahwa orang itu hanya bersandiwara. Mungkin keluarga itu memang pandai bersandiwara." Ucapnya Leon meyakini Lea.
"Memangnya kakak melihatnya memelukku kemarin?"
"Kau pikir dari mana aku tahu jika bukan karena melihat?"
Lea menarik nafasnya panjang. "Lalu bagaimana kalau dia bukan seorang guy?"
"Aku tidak akan merekomendasikannya padamu kalau dia lelaki normal." Jawab Leon dengan nada yang terdengar sangat santai, namun agak mengerikan ditelinga Lea.
"Cih, kau saja yang tidak normal kak, pacar saja tidak punya. Aku penasaran, jika kakak tau kami hampir saja berciuman tadi malam, apa kakak masih bisa menyebutnya kelainan?" Lea mengata - ngatai kakanya dalam hati.
"Jika direktur itu terbukti sebagai lelaki sejati, tolong jangan memberi hatimu padanya Lea, kendalikan perasaanmu! Belajarlah dari pengalaman kak Glesty, dan fokus saja pada tujuan kita." Leon berkata - kata seperti sebuah peringatan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Glesty tiba - tiba mendapatkan telpon. Seluruh penyewa gedung ruko tempat ia menjalankan bisnisnya itu akan menghadiri pertemuan dadakan dirumah pemilik gedung tersebut. Dengan terpaksa ia meninggalkan si kembar dirumah. Iapun berpesan kepada kedua anknya itu untuk tidak keluar rumah, seperti biasa sebelum meninggalkan kedua anak itu dirumah, Glesty pasti selalu mengingatkan tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan saat hanya berdua saja.
"Kenapa aku lagi - lagi merasa gugup saat hendak berpergian? Ah entahlah, Ya Tuhan, tenangkan hati dan pikiranku ini, agar aku selamat diperjalanan," batinnya.