
Arles seketika panik saat Calista mengatakan bahwa kakinya sakit. Arles sebenarnya hanya bercanda ingin menjahili Calista. Ternyata hal itu malah membuat Calista merasakan sakit di kakinya.
"Maaf sayang, aku hanya bercanda." Arles dengan segera mengangkat tubuh Calista dengan sangat hati-hati dan membaringkannya ke kasur empuk itu.
"Arles, apa aku sangat berat?" tanya Calista.
Karena Calista bertanya, Jadi Arles tidak buru-buru menjauhi tubuhnya dari Calis. Ia malah menatap gadis itu. Dalam posisi yang sangat dekat karena berhubung barus saja membenarkan posisi Calista ditempat tidur.
"Oh tidak.. kenapa jantungku masih saja berdebar saat dia sedekat ini?" batin Calista berteriak.
"Sayang!" Arles mengelus rambut Calista. "Tentu saja aku sedang berbohong, jika aku bilang kamu tidak berat."
"Jadi.. aku sangat berat?"
"Iya, sangat berat. Aku kehilangan banyak tenagaku. Maka dari itu, kamu harus tanggung jawab sayang."
"Ap-- apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri. Bagaimana mungkin bisa melakukan sesuatu untukmu?"
"Kau bisa melakukannya sayang. Bukankah sudah dua kali kita melakukannya? hm?"
Calis tersenyum malu sembari menggigit bibirnya dan membuang mukanya kesembarang arah tatkala mengingat hal itu.
"Kamu tersenyum sayang! Sudah tahu kan caranya?" bisik Arles
"Hm... tapi... aku tidak bisa memulainya. Aku malu Arles." Calis Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat sangat lucu bagi Arles.
"Hei.. wajahnya jangan di tutup. Lihat aku. Kenapa harus malu, hm?"
"Aku malu untuk melulai.. kamu aja yang memulainya" ucap Calis dengan wajah merona.
"Baiklah, kalau begitu, kali ini aku yang memulainya sayang..." Arles semakin mendekatkan wajahnya. Melihat Arles yang semakin mendekat, Calista menutup matanya dengan jantung yang menderu.
Arles yang melihat adanya lampu hijau, semakin mendekatkan wajahnya dan siap mengulang sweet kissing dengan wanitanya ini.
Dalam hitungan detik, bibir itu sudah bersentuhan. Arles pun mulai menutup kedua matanya.
Tok tok tok.
"Naraaa.."
"Arleesss"
๐ฎ๐คฆโโ๏ธ
Arles dan Calista terkaget mendengar ketukan pintu yang disusul dengan suara cempreng Lean memanggil nama mereka.
Sweet Kissing ke 3 itu pun gagal total.
Arles mengacak rambutnya dan membuang napas kasar. Baru saja akan menciptakan hal manis, malah digagalkan oleh Lean.
"Arlessss" Lean kembali berteriak
Ceklek.
Arles membuka pintu. Kedua bola mata Lean langsung menyorotinya dari atas sampai ke bawah bagaikan Laser.
"Ada apa ini? Kenapa menatapku begitu?"
"Waktumu sudah habis Arles, sekarang giliran aku yang temani Nara." Lean melangkah masuk melewati Arles.
"Naraaa.. Hei.. apa kau baik-baik saja?"
"Lean, aku tentu saja baik-baik saja." Calista menjawab dengan sedikit kikuk. Sebab, ia masih syok, bagaikan dipergoki bersama selingkuhan, gugupnya bukan main.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kau terlihat sangat kacau Arles, dan Nara, kenapa terlihat sangat gugup? Aku merasakan aura lain disini.
"Hah? Benarkah aku terlihat kacau? Apa kami ketahuan? Tidak. Apa yang aku pikirkan? Bahkan hal itu tidak terjadi." Arles.
๐"Apa maksudmu?"
"Aura apa maksudmu Lean, tidak ada." Jawab Calis.
__ADS_1
"Benar tidak terjadi apa-apa Arles?" Lean beralih tanya kepada Arles, dengan tatapan curiga.
"Memangnya apa yang kau harap kami lakukan?" Arles kembali mendekati Calista dan duduk di bibir ranjang, ia menautkan jari jemari tangan mereka.
"Aaa? Tidak.. aku hanya menjalankan perintah mama"
"Apa? Jadi kau rela-rela kesini demi hal itu. Kau dan mama benar-benar keterlaluan padaku." Arles sesekali menciumi tangan Calista dengan santainya sembari berdebat dengan Lean.
"Arrllleeees" Calis ingin menarik tangannya karena merasa malu. Tapi, Arles sengaja tidak melepaskannya.
Lean menatap heran kearah Arles.
"Apa lagi? Sana.. lapor ke mama apa yang kau lihat." Ucap Arles dengan tampang coolnya.
"Arles, ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. kau bahkan mencium tangannya didepanku? Bagaimana jika tidak ada orang lain! Entah apa yang akan kau lakukan."
"Terserah kau saja Lean, silahkan, otakmu bebas memikirkan dan menafsirkan apapun!" Arles melangkah keluar setelah berpamitan pada Calista.
"Sayang, kamu istirahat yah! Kita ketemu nanti malam saat sudah bersiap ke pesta.
Calista tersenyum mengiyakan.
Selepas kepergian Arles, Lean menutup pintu kamar itu dan mulai menjalankan aksi keponya.
Ia menanyakan banyak hal kepada Calista tentang hibungannya dengan Arles, sampai kepada apa saja yang telah mereka lakukan selama menjadi sepasang kekasih.
"Lean, itu privasi... aku tidak akan membagikannya dengan orang lain.... yang benar saja kamu ini" ujar Calista menolak semua pertanyaan Lean.
"Cieh... yang privasi.. Nara...trima kasih ya, sudah menerima Arles lagi!"
"Lean, aku yang trima kasih. Selama ini kamu sudah baik sama aku dan jugaa... kamu mau nerima aku sebagai kekasih saudara kembarmu." Calis tersenyum tulus kearah Lean.
"Haha.. tentu saja aku sangat sangat sangat ingin menerima kamu. Aku senang."
"Owwww.. trima kasih Lean!"
Keduanya pun berpelukan manja.
"Nara... kamu dengar yah, aku mau cerita." Lean menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Calist.
"Iya, apa itu Lean?" Calista memasang wajah serius mendebgarkan.
"Waktu itu, aku berpikir akan segera memperkenalkan Arles dengan seseorang bernama Nara. Trus, mama tu lagi gencar-gencarnya bahas masa lalu Arles dengan seseorang bernama Calista."
Calista menautkan kedua alis dengan mulut terbuka, heran karena Lean menyebutkan namanya dua kali, sebagai dua orang yang berbeda.
"Kamu ingat nggak sih, waktu aku sama mama ngajakin kamu ketemuan sore hari di Kafe biasa, trus kamunya batal datang. Nah disitu, kami juga ngajak Arles.
Calista hanya diam, mendengarkan. Sepertinya, dia mengingat sesuatu.
"Nara, aku itu sempet bete sama mama. Pas kamu batal datang tu mama malah santai aja dan malah membahas soal Calis ke Arles. Dan... ternyata, si Calis dan si Nara itu adalah orang yang sama, yaitu kamu."
"Kamu tau nggak sih, betapa tercengangnya aku waktu acara ultah aku, kamu nampar Arles, aku tuh benar-benar syok. Aku takut kalau kakakku itu telah melecehkan kamu. Seseorang yang mau aku jodohkan dengannya telah menamparnya dengan sangat kuat. Aku bertanya-tanya, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh saudaraku ini. Kenapa gadis baik seperti Nara sampai menamparnya?" Lean terus saja bercerita sambil mengingat - ingat beberapa momen di kepalanya. Namun, di detik berikutya perasaan Lean jadi sangat tidak enak saat melihat Calis dalam keadaan menundukkan kepala.
"Hei.. Nar.. kamu kenapa? Jangan Nangis... Maafkan aku ya, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih Nar.." Lean kembali memeluk gadis itu.
Calista mengusap wajahnya sendiri. "Maaf Lean, aku memang sangat sensi akhir-akhir ini."
"Iya... aku ngerti kok, sudah-sudah.."
"Leaan.. aku pengen cerita boleh?"
"aah? Tentu saja sangat boleh Nara."
Calista pun mulai bercerita.
"Sore itu, aku datang kok ke Kafe. Tapi, aku bertemu Arles yang juga mau masuk ke Kafe itu. Tidak sengaja dia menolong aku yang hampir saja tertabrak mobil. Aku mengira, dia menolongku atas dasar masih cinta. Aku dengan PDnya memeluk dia. Dan kamu tahu? Dia kembali lagi menyerangku dengan perkataan menghina. Ya... puncaknya malam itu, saat ulang tahun kalian. Dia menghina, merendahkan aku. Itu sebabnya... aku menamparnya. Karena sangat sakit hati mendengar perkataannya."
Lean memeluk Calista yang terlihat sedih mengenang masa sulitnya menghadapi Arles.
Keduanya memutuskan untuk beristirahat sebentar karena sudah menjelang sore.
__ADS_1
๐๐๐๐
Tok tok tok!
"Ya... sebentar!" Lean bergegas menuju pintu kamar yang ia tempati bersama Calista.
"Kakaaaaaak" memeluk Aurel yang baru saja tiba.
Kalian ingat kan sepupu Lean yang bernama Aurel.
Selama ini, Aurel berada di sebuah desa untuk mengabdikan diri sebagai seorang guru. Emaknya dokter, dia lebih memilih menjadi seorang guru. Untuk diketahui, Aurel sudah menikah tapi belum dikaruniai anak.
Lean mempersilahkan Aurell masuk dan bertemu dengan Calista.
"Jadi ini yang namanya Calista? Calon adik ipar aku?" Aurell menyapa Calis dengan ramah.
"Hai kak, senang bertemu denganmu." sapa Calis.
"Oh ya, ini titipan untukmu." Aurell memberikan sebuah paperbox untuk Calis.
"ih.. kakak curang, Lean nggak di kasi.!" Lean memanyunkan bibirnya.
"Ini tu, bukan dari aku Lean. Ini tu titipan dari Arles. Tu anak ada-ada aja, masa ngasih sesuatu ke pacar main titip, kurang romantis tu orang."
Calis hanya tersenyum senang memandang box cantik dihadapannya.
"Ayo buka.. isinya apa yah?" Lean paling bersemangat.
Dengan perasaan bahagia, Calis membukanya. Ternyata isinya adalah sebuah gaun.
"Pakai ini nanti malam ya sayangโค!" Pesan Arles pada secarik kertas yang berwarna pink.
"Aduuuu... Calis.. muka kamu gemesin!" Aurell mencubit gemas kedua pipi Calista yang tengah merona setelah membaca pesan dari Arles.
"Ternyata... Arles bisa se sweet itu. Aku jadi iriiii!" Lean kembali bertingkah manja dan memeluk kak Aurell. Tingkah nya memang menggemaskan kalau sudah bertemu Aurell.
"Makanya.. cari pacar. Jangan jomblo. Sudah umur berapa, tapi pacar belum punya!"
"iiiiiiih kakak jangan gitu dong. Cariin kek," Lean kini bergelayut manja merayu Aurell.
"Nanti malam. Pasti banyak cowok yang datang kan? Jangan lupa, kamu dandan yang cantik." Saran Aurell.
"Okeh, kita mulai dandannya saat ini juga kan acaranya 3 jam lagi! Lean mau tampil cantik. Sapa tau bisa tebar pesona diantara banyaknya lansia malam ini." Seru Lean, membuat Calis dan Aurell tertawa terbahak-bahak.
๐๐๐
Malam harinya.
Arles sudah menunggu kedatangan Calista yang sedari tadi katanya lagi berdandan.
Karena lagi tidak stress, sibabang boleh senyum lepas dong.๐คฃ๐คญ.
Skip.
Calista sudah di dandan dengan makeup yang membuatnya tampil lebih feesh kali ini.
Apa lagi si princess Lean. Sudah pasti akan tampil maksimal.
.
.
Bersambung dulu gaes..
Maaf kesiangan. hehehe
__ADS_1
Salam hangat untuk kalian semua๐ฅฐ