I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Kecurigaan Mama Gless (Season 2)


__ADS_3

Kalian pasti tidak akan mengerti bagaimana perasaan Arles saat ini. Dibalik gayanya yang selalu terlihat tanpa beban, pria itu akhirnya bisa bernapas legah. Respon yang sangat baik dari Calista, yang tentunya sangat tak terduga itu, membuat Arles serasa berada di alam mimpi. Dia merasa menjadi orang yang paling bahagia saat ini. Bagaimana tidak! Calista masih betah memeluknya sedari tadi, seolah takut jika Arles pergi lagi (setidaknya, begitulah yang dipikiran Arles saat ini, dengan PDnya).


"Hei.. sampai kapan kita seperti ini?" tanya Arles, dalam posisi masih membelakangi Calista.


"Hmmm? Kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman?" Calista balik bertanya.


"Bukan.. aku takut kalau kakimu akan sakit berdiri lama-lama." Arles menjawab sekenanya.


"Aku sudah lelah hanya duduk dan berbaring. Aku masih ingin berdiri."


"Jadi itukah alasanmu?"


"Hmmmmm"


"Bukan karena sangat merindukanku?"


"Tadi aku sudah mengatakan merindukanmu"


"Jadi itu juga alasanmu masih memelukku?"


"Hmmmmm"


"Apa kamu juga takut aku pergi lagi?"


"Emmmmmm.. tidak"


"🤨Kamu tidak takut kehilangan aku lagi?"


"Tidak. Bukankah dari awal aku memang memintamu pergi?"


Arles terdiam. Sakit. Sementara Calis? Dia tertawa ngakak tak bersuara dibalik punggung Arles, merasa senang menjahili pria ini. Beruntung Arles tidak menyadari kejahilan Calis. Kalau sampai dia tahu, maka Calis harus bersiap menerima hukuman manis dari Arles.


🍁🍁


"Diniiiiii apa itu tadi yang kita lihat?" Mama Gles sudah Heboh dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Aku rasa.. aku melihat putriku sedang memeluk putramu." jawab mama Dini.


"Din.. apa artinya ini? Apakah mereka kembali jadian?"


"Aku juga tidak tahu pasti. Tapi mungkin saja." Mama Dini tersenyum senang.


"Astagaa... Dini, aku sangat bahagia.. lihat tanganku saja masih bergetar" Glesty memperlihatkan getaran tangannya.


"Ah... putraku yang sedang bahagia, tapi kenapa aku yang merasa gugup?" sambungnya lagi.


"Tunggu.. kenapa anakmu meminta kita keluar? Apa yang ingin dia lakukan dengan putriku?"


"Din.. tolong jangan menyalahkan putraku kalau dia menyerang anakmu itu. Kau lihat sendiri tadi putrimulah yang memeluk putraku. Ya... dia memeluk Arles dari belakang"


"Tapi putramu tidak akan melakukan apapun kalau dia tidak tergila-gila pada putriku."


"Din.. Calislah yang memancingnya duluan, maka dia harus tanggungjawab. Putraku itu pria normal."


😯😯

__ADS_1


"Astagaaa.. apa yang kita pikirkan?"


🤣🤣


Kedua wanita yang sudah tidak muda lagi itu, tertawa terpingkal-pingkal oleh perkataan yang keluar dari mulut mereka sendiri.


"Ehmmm.." Seseorang berdehem pelan, menyadarkan kedua orangtua itu.


"Nino?"


"Hai tante.." sapa Nino sebagai jawaban dari sapaan tante dini yang memanggil namanya. Tidak lupa, pria muda itu juga manyapa hai kepada Glesty, dengan gerakan tubuh yang sedikit salah tingkah.


Glesty merasa curiga melihat gerak tubuh dan ekspresi anehnya Nino.


"Apa... pria ini yang diceritakan Lean? Tunggu, apa dia yang sudah berani mencium putriku tanpa status yang jelas?.... astaga, apa yang aku pikirkan. Sepertinya dia bukan pria seperti itu."


"Nino, kamu mau ketemu Calista?" tanya Dini.


"Iya benar.. saya.. akan menemuinya."


"Tunggu!" Glesty menghentikan Nino yang sepertinya ingin masuk.


"Ya tante?" Nino merasa sedikit gugup. Biar bagamana pun, wanita ini adalah mama dari Lean. Nino merasa was-was, takut aksinya menyosor Lean waktu itu telah bocor ke permukaan.


"Emmm Nino, ini bukan saat yang tepat untuk mengunjungi Calista. Soalnya, didalam ada... Arles" Glesty menjelaskan.


Nino: "Hah?😮🤨 oh... iya tante.. Kalau begitu, nanti saja saya kembali lagi" Nino mengangguk paham akan maksud wanita itu.


Nino pun, pamit untuk pergi dari sana. Namun, saat sdah berbalik, kakinya seperti tidak bisa melangkah.


Dia, seseorang yang selalu memenuhi otak Nino akhir-akhir ini, sedang berada tepat di depan mata Nino. Dia adalah Lean!.



Bukan saja karena merasa bersalah pada gadis ini, langkah Nino benar-benar tercekat karena merasa pangling melihat penampilan Lean yang luar biasa.


"Ya ampun, cantik sekali dia." batin Nino. Sayang sekali, Lean hanya melewati Nino tanpa menyapa.


Seperti tidak mengenal pria itu.


"Mama... tante Dini..! Ini Lean bawakan makan siang." Menyerahkan rantang makanan kepada tante Dini.


Glesty sedikit merasa bingung, kenapa Nino tidak pergi padahal sudah pamit. Ia mulai menerka-nerka. Kenapa juga Lean tidak menyapa pria ini, padahal mereka saling mengenal. Bahkan kapan hari, Nino pernah sarapan pagi bersama Lean di rumah. Dan Glesty masih ingat dengan jelas, putrinya ini waktu itu mengatakan bahwa Nino adalah miliknya, dan sedang berusaha mendapatkannya.


"Ya... kau sudah ketahuan Lean," batin mama Gless.


"Em... sayang, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menjenguk Calista saat ini."


"Loh.. memangnya kenapa ma?"


"Kakak kamu sedang bersamanya."


"Oh ya? Apa hibungan mereka sudah ada kemajuan?" Lean merasa ingin tahu.


"Sepertinya begitu" jawab Glesty.

__ADS_1


Lean mengangguk paham.


"Kalau begitu, Lean balik ke kantor saja. Tante, jangan lupa dimakan yah makanannya." pintanya pada Dini. Wanita itu pun mengiyakan serta mengucapkan terima kasih.


Tanpa banyak bicara lagi, Lean pergi meninggalkan keduanya.


Nino? Ternyata pria itu sudah pergi.


"Kemana dia?" batin mama Gless.


"Din.. maaf aku harus meninggalkanmu sebentar. Aku harus memastikan sesuatu." Glesty pergi dari sana menyusul Lean.


Lean kini berada di dalam lift.


"Astaga. Kenapa dari.semua tempat, pria menyebalkan itu harus berada di tempat tujuanku?" gimamnya.


Ting,


pintu lift terbuka lalu keluarlah Lean. Tiba-tiba, tangan seseorang menariknya dan membawanya ke tempat yang tidak banyak orang berlalu lalang.


Hal itu tentu saja tidak lepas dari pantauan mama Gless, karena dia memang membuntuti Lean.


"Itu kan Nino? Jadi mereka ada apa-apa?" tanya Glesty dalam hati.


"Iiiiih lepas.." Lean menepis tangan Nino.


"Lean, dengarkan aku dulu..."


"Maaf, kita tidak punya urusan penting." Lean kembali melanjutkan langkahnya. Nino berusaha mengikuti Lean.


"Lean tunggu. Ayo kita bicara baik-baik.. Lean, maafkan aku Lean..."


"Maaf-maaf.. enak saja kamu mendapatkan maaf. Aku tidak sudi memaafkan kamu." Lagi-lagi Lean menepis tangan Nino yang kembali berhasil meraihnya.


Tidak terasa, mereka sudah tiba di luar rumah sakit itu.


Tin tin tin..


Seorang pria muda dan terbilang sama tampannya dengan Nino, berhenti tepat di hadapan mereka.


"Andre?"


Pria yang disebut namanya itu, keluar dari mobil dan setengah berlari membukakan pintu mobil untuk Lean.. Lean pun masuk, meninggalkan Nino yang sempat mematung.


Andre kembali melaju membawa Lean bersamanya.


"Sial.. siapa pria itu? Beraninya dia membawa pergi Lean tanpa permisi?" geram Nino.


Nino segera berlari untuk mengambil mobilnya. Ia berniat mengejar Lean dan pria itu..


"Ya.. sebelum aku benar-benar terlambat, aku harus segera mengatakannya." Batin Nino.


🍁


.

__ADS_1


Bersambung?...


Iya☺🙏


__ADS_2