I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Sedih, Juga Malu


__ADS_3

Pagi - pagi, seperti biasa Glesty akan mengantarkan kedua anaknya ke sekolah.


Setelah anak-anaknya sudah ia antar dengan aman ke sekolah, Glesty melanjutkan perjalanannya ke pasar, untuk membeli beberapa bahan makanan kesukaan anaknya. Kedua anak itu memiliki makanan kesukaan yang berbeda. Lean lebih menyukai japchai dan tidak menyukai makanan yang berbau daging. sedangkan Arles lebih menyukai Steak dan tidak menyukai sayur-sayuran.


Glesty memilih-milih kemasan daging yang biasa ia beli untuk membuat Steak andalan putra tercintanya. "Sungguh, kenapa anak itu bisa persis seperti ayahnya?" Gumam Glesty, ia tidak sengaja mengingat Arland, yang dulu terkadang selalu membawa steak saat pulang kerja malam hari. Glesty selalu mengingatkan Arland untuk jangan terlalu boros membeli makanan-makanan mahal. Tapi Arland selalu bilang bahwa ini steak biasa dan belinya juga di warung pinggiran.


"Heh, apa katanya dulu? steak warung pinggiran? Orang sekelasnya, membeli makanan pinggir jalan? Bahkan soal makanan saja dia membohongiku." Glesty menggeleng-gelengkan kepalanya "mungkin dulu aku terlihat sangat bodoh baginya" gumamnya lagi.


Glesty tersadar dari ketidakwarasannya bergumam sendirian seperti orang bodoh ketika seseorang tidak sengaja menyenggolnya. "Apa yang aku lakukan memandang daging ini lama-lama?" Glesty merasa kesal karna sempat-sempatnya mengingat orang itu.


.


.


\=\=\=\=\=


Restoran V di kota J


Terlihat Devan sedang duduk menunggu seseorang. Ia melihat seorang wanita yang dari tadi ditunggunya melangkah melewati pintu masuk restoran tersebut.


Wanita yang biasa ia lihat dengan dandanan luar biasa itu saat ini berubah menjadi gadis yang sangat manis dan polos. Devan pun memandang wanita yang semakin mendekat itu dengan menopang dagunya dengan satu tangan.


Alin. Kali ini dia muncul di hadapan Devan dengan penampilan yang terlihat asing dimata Devan. Celana jeans panjang sobek dilutut, dalaman you can see yang di tutupi kemeja yang tidak terkancing, memakai topi, kacamata hitam dan sepatu kets.


"Hei.. kamu lihat apa?"


Devan yang tadinya terperanjat menatap penampilan kekasihnya itu mengedip-ngedipkan matanya seperti sedang kelilipan.


"Oh, em.. ti.. tidak apa-apa! jawabnya terbatah-batah.


"Hmmm.. aku pikir penampilanku terlihat aneh," gumam Lea, yang masih terdengar ditelinga Devan.


Devan tersenyum ke arah kekasihnya itu. "Duduklah."


Tak lama makananpun datang. Mereka menyantap makanan itu dengan lahap dan bersih. Devan terlihat sesekali menyunggingkan senyumana dan menggeleng pelan kepalanya melihat Alin yang adalah seorang model dikenal dengan gaya elegan, tapi saat makan persis seperti orang yang tidak pernah diberi makan. Memang benar, Alin selalu dibatasi makannya oleh agensi tempat ia bernaung sebagai model.


"Jangan menertawaiku Dev, kau mungkin belum tahu, tapi inilah aku yang sebenarnya. mulai hari ini, aku tidak akan jaga image didepanmu. Aku ingin kau menerimaku apa adanya. Jujur saja, aku terlihat elegan hanya saat bekerja. Selebihnya aku seperti ini. Alin mengoceh sambil mengunyah makanannya.


"Aku senang kau makan dengan lahap sayang, aku juga senang melihat cara berpakaianmu seperti ini. saat bekerja dan saat dirumah, bahkan ketika kita dipantai waktu itu, kau selalu berpakaian sexy. Kalau seperti ini, orang-orang tidak menikmati keindahan tubuhmu." Giliran Devan yang mengeluarkan kata demi kata.


Lea terlihat bergidik ngeri mendengarkan perkataan Devan yang mengatakan soal menikmati keindahan tubuhnya.

__ADS_1


"Minggu depan, aku akan memgajakmu makan malam dengan keluargaku di kota B.


"Uhuk,, uhuk,, " Lea tersedak mendengar perkataan Devan barusan.


"Sayang, tidak apa-apa? Pelan - pelan saja makannya" Devan mendekatkan air mineral ke mulut Alin.


Ya... Devan akan melancarkan aksinya. Ia tak mau wanitanya didekati oleh lelaki lain. Ia berpikir, dunia harus tau jika dirinya dan Alin memiliki kejelasan akan hubungan mereka. Yang Devan maksudkan disini adalah hubungan ke arah yang lebih serius. Devan ingin segera mengumumkan duseluruh media bahwa ia akan melamar gadis itu.


Lea mengambil tisu dan mengelap mulutnya setelah meneguk air minum yang diberikan Devan.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Arland kini tiba di sekolah Arles.


Sesuai janjinya, ia akan berperan sebagai papa bagi Arles didepan teman-temannya hari ini. Ia sengaja datang 15 menit sebelum kelas dibubarkan. Sesuai saran Arles yang mengatakan bahwa dirinya harus datang lebih awal dari mamanya bocah itu, agar akting mereka tidak ketahuan oleh mamanya. Arles memang benar-benar waspada.


Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu Arles pun tiba. saat ini kelas telah berakhir.


Terlihat teman-teman nakal dikelas itu saling melirik, namun mereka juga penasaran apa benar Arles tidak hanya mengada-ada.


Anak-anak itupun keluar bersama.


Dari atas Arles sudah melihat Arland yang berdiri di samping tangga. Arles dan teman sekelasnya berada dilantai atas namun dapat melihat Arland dengan jelas, karena hanya ada satu tangga menjadi penghubung mereka. Arland sedang dibuk menelfon seseorang, jadi tidak melihat keatas dimana anak-anak itu berada bersama Arles.


Arles menarik bibirnya untuk tersenyum.


"Papaaa..." panggilnya dengan teriakan khas miliknya. Tapi, Arland tidak mendengar dan terus saja berbicara dengan lawan bicaranya di telpon.


"Papaaa" Arles tetap optimis.


Lagi-lagi Arland tidak mendengar. Mungkin disebabkan banyaknya anak-anak yang berlalu lalang karena telah bubar semua dari kelas masing-masing.


Kali ini Arles merasa sedikit gugup dijantungnya.


Teman-teman, ayo kita turun," ajaknya kepada semua temannya.


"Papaaaa" panggilnya lagi. Tapi, baru dua anak tangga yang mereka turuni, tiba - tiba dari arah lain ada seorang anak perempuan berlari kearah Arland dan memanggilnya "Papiiiiiiiii." Anak itu langsung memeluk Arland dengan manjanya. Ternyata anak itu adalah Aurel yang bersama dengan omanya, tak sengaja melihat Arland yang ternyata juga ada disana.

__ADS_1


Arles merasa kakinya bergetar dan terasa berat. Ia tidak bisa lagi melangkah menuruni tangga. begitu pula dengan teman-temannya yang berhenti karena mengikuti pergerakan Arles.


Aura bahagia yang tadinya terpancar dari wajah tampan Arles kini menghilang, diganti dengan ekspresi datar.


Bukannya apa, Arles merasa sangat malu juga sedih.


"Mamaa... mama dimana? Mama tolongin aku!" Bisiknya dalam hati. Dia tau, hanya kehadiran mamalah yang bisa menolongnya saat ini.


"Waaa... haha..haha..haha.. waa.. ha ha ha..."


Arles, kamu bohongi kita?"


Teman - teman nakal mulai memunculkan tanduk mereka, mengata-ngatai, memojokkan, serta terus saja menertawai Arles.


Arles mengepalkan genggamannya. Rasa sedih dan malunya kini berubah menjadi perasaan marah.


Ia mendorong salah satu temannya hingga membentur dinding tangga itu.


Temannya tidak tinggal diam. Iapun membalas Arles.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa teriak semua orang yang melihat 2 orang anak terjatuh menggelinding dari tangga hingga terkapar di lantai dan.....


Deg deg..


Deg deg..


Deg deg..


.


.


.


.


Bersambung...


Trima kasih telah membaca ya gaes..


Saranghae..

__ADS_1


__ADS_2