I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Sah (Season 2)


__ADS_3

Setelah dipersilahkan duduk, Nino dan kelima orang yang datang bersamanya itu pun duduk. Kali ini, mama Gles terlihat sedikit bingung. Bukan tanpa sebab. Pasalnya, Papa dan Mama Nino yang adalah Haris dan istrinya yang merupakan wanita dengan mulut kasar itu, tidak duduk bersebelahan, melainkan malah duduk berdampingan dengan orang lain.


Arland si sudah paham akan situasi ini. Pria itu menebak bahwa kedua orang tua Nino sudah tidak lagi terlibat dalam suatu hubungan. Karena tampak sangat jelas.


"Ehm... trima kasih telah menyambut kami tuan.." Papa nya Nino memulai pembahasan, selaku orangtua Nino.


"Silahkan, lanjut saja.. jangan sungkan.. tidak perlu memanggil saya Tuan.. panggilan biasa saja" Arland sedikit tersenyum namun tetap menjaga wibawanya.


"Pertama-tama, saya akan memperkenalkan diri. Saya Haris, ayah dari Elnino, dan ini istri saya.


"Dan kau adalah mantan kekasih istriku!" batin Arland.


"Maaf, saya dan mama Nino telah bercerai. Itulah sebabnya kami datang dengan pasangan kami masing-masing, agar di kemudian hari tidak membingungkan keluarga anda pak." jelasnya lagi.


"APA? Jadi Elnino adalah korban brockenhome? Ya Tuhan.. apa anak ini tidak akan meniru jalan pernikahan kedua orangtuanya? Aku takut putriku akan disia-siakan!" Glesty membatin.


"Oh... begitu.." Arland mengangguk pelan. Terkejut memang, tapi pria ini tidak mempermasalahkannya.


Sekilas, Haris dan mantan istrinya itu melirik Glesty. Sebagai orang yang pernah saling terlibat dalam masa lalu, keduanya penasaran, apa Glesty akan menerima atau menolak Nino. Ditambah lagi dengan status brocken dalam keluarganya.


"Ehm... begini.. seperti yang kita semua tahu, bahwa putri kami dan Elnino terlibat dalam suatu hubungan asmara. Jujur saja, setelah mengetahui Nino adalah putra kalian, saya keberatan dengan hubungan ini." ujar Glesty secara lugas, dengan wajah datar.


Sesungguhnya, Glesty hanya ingin mengetes bagaimana ekspresi dan reaksi ibunya Nino atas yang baru saja Glesty ucapkan. Nyatanya, wanita itu hanya diam dengan wajah bersalahnya.


"Sepertinya wanita kasar ini sudah banyak berubah. Tatapannya sudah tidak lagi menakutkan seperti dulu."


"Tapi saya akan mencoba memberi mereka kesempatan. Bagaimanapun juga, Lean adalah putri saya satu-satunya."


"Benar yang dikatakan istriku" timpal Arland.


"Lalu... bolehkah kami melamarnya untuk putra kami Elnino ini?" tanya Haris dengan nada sopan dan sedikit was-was tak percaya diri. Karena jika diukur dengan status sosial, tentu saja Nino berada jauh dibawah level seorang princess Lean.


"Tentu saja. Asal jangan kau melamar istriku!" (Arland membatin).


"Emmm.. begini... mereka berdua juga baru-baru ini saling mengenal. Tidak perlu buru-buru, bukan begitu Nino?" kini Arland bertanya pada Nino. Dan diangguki oleh pria itu.


"Nino, pergilah temui Lean di kamarnya. Dia tidak tahu kamu ada disini makanya dia tidak kelihatan." suruh Glesty pada Nino, yg sedari tadi sedikit curi-curi pandang dengan matanya yang terlihat tak fokus. Wah... hal itu disambut baik oleh Nino pastinya. Lihat saja. Dia segera bangun dari duduknya setelah mengatakan permisi kepada kumpulan orangtua ini.


Omanya Nino yang sedari tadi hanya diam kini membuka suara. "Aku rasa, sebelum kedua anak itu melanjutkan hubungan ini, ada baiknya kalian menyelesaikan perasaan kalian dimasa lalu. Bicarakan hal itu, temukan penyelesaiannya agar tidak ada kecanggungan lagi ketika bertemu sebagai keluarga atau besan di masa yang akan datang." yang dimaksudkan Oma adalah masalah antara Glesty, Haris dan mamanya Nino yang merupakan putrinya itu.


Seperti yang dikatakan omanya Nino, ketiga orang itu pun mengambil tempat yaitu di taman belakang rumah bak istana itu. Hasilnya adalah, ketiganya kini saling memaafkan dan berusaha melupakan masa lalu agar bisa berbaikan. Terlihat jelas kelegaan di raut wajah wanita yang dulunya sangat ganas itu. Ia tak berhentinya mengucapkan terima kasih pada Glesty untuk hubungan baru ini.


Di Kamar Lean.


Gadis cantik itu baru saja keluar dari kamar mandinya dengan handuk kecil yang melingkar di kepalanya dan kimono mandinya yang masih melekat di tubuhnya. Ia lalu mengambil hair drayer dan mengeringkan rambut indahnya.


Tok tok tok.


"Masuklah!" teriak Lean dari dalam. Namun, sia-sia karena kamar ini redam suara. Lean pun terpaksa membuka pintu.


"Ninoooo!" Lean auto menghambur ke pelukan Nino yang sangat dirindukannya.


"Lean sayang, aku merindukanmu" jujur Nino.


"Sama... aku juga." Lean semakin mengerat pelukannya.


"Ehmmm.. apa kalian berdua hanya akan berpelukan?" Arles menghampiri mereka.


"Cishhhh.. jadi kau sangat bahagia sekarang?" ucapnya pada Lean. "Dasar kunyuk. Tidak tau cara menyembunyikan perasaan"


Kini dua keluarga itu menikmati makan malam bersama. Nino pun telah memperkenalkan Lean kepada pihak keluarganya.


.


.


Dua minggu kemudian.


Setelah melewati proses lamaran dan bertunangan, hari ini, Arles mantap mempersunting Calista dan mengucapkan janji suci pernikahan.


Selama satu minggu ini, Arles dan calista puasa untuk bertemu. Pihak keluarga mereka melarang untuk bertemu selama satu pekan menjelang pernikahan. Bayangkan, betapa menggunungnya kerinduan di hati keduanya.


Dengan perasaan tidak sabar, Arles menunggu kedatangan Calista menghampirinya di altar pernikahan.


Tak lama, pintu besar itu pun terbuka dan menampilkan sosok seseorang yang sangat di tunggu Arles.


"Calista? Benarkah dia yang berdiri di ujung sana? Bukan dengan kursi roda tapi, dia akan berjalan kesini dengan kedua kakinya?"




Rasanya sangat ingin Arles menghampiri Calista akan tetapi ia tahan karena hal itu pun tidak mungkin. Mana ada hal seperti itu. Yang ada, bisa-bisa dirinya akan menjadi tranding topik dengan judul PENGANTIN PRIA YANG TAK SABARAN. Memalukan bukan?

__ADS_1


Sudah banyak tamu yang hadir untuk menyaksikan hari bahagia ini. Termasuk keluarga dekat dari pihak orang tua Calista, turut hadir disana yang datang dari kota asal mereka.


Ada rasa terharu saat melihat gadis itu melangkah dengan kaki yang masih sedikit terlihat pincang menghampiri pria yang akan menjadi teman hidupnya itu.


Tidak hanya sendirian, seorang pria tampan berjalan mengiring Calis untuk menghantarnya kepada Arles. Pria itu adalah Dion Alnaro yang adalah adik kandung Calista.



Dan dari sekian banyaknya orang yang hadir, ada seseorang yang menatap Dion dengan mata membulat sempurnya dan jantungnya yang terasa berdetak tidak jelas.


Skip.


Arles tak henti-hentinya menatap langkah demi langkah kaki Calis yang kini hanya berjarak 5 meter darinya, seolah takut kalau-kalau kaki itu akan sakit dan membuat pemiliknya terjatuh.


Pria itu merasa mendapatkan kejutan karena kekasihnya kini sudah tidak membutuhkan kursi roda lagi. Hal ini membuat Arles mengeluarkan airmata haru karena bahagia. Sesekali pria itu mengusap singkat airmata itu. "Tuhan.. terima kasih!" ucapnya dalam hati.


Keluarga dan tamu yang menyaksikan juga ikut terbawa suasana. Bahkan, mama Gles benar-benar menangis dari tempat duduknya.


"Sayang, jangan menangis. Putramu akan menikah!" Arland mengelus punggung Glesty.


Setelah tiba persis di hadapan Arles, Dion sepertinya akan mengatakan sesuatu. Dengan inisiatif pembawa acara memberikan mic kepada Dion.


Pria itu menarik dalam-dalam napasnya sebelum mengatakan sesuatu. "Kakak ipar, saya titip kak Calista. Dalam keadaan apapun tetaplah bahagia bersamanya. Tolong, jangan sekali-sekali menduakan kakak saya. Dan yang terakhir, jika suatu saat kakak ipar merasa kakak saya sudah tidak pantas untukmu, kembalikan dia baik-baik padaku dan mama." Dion benar-benar terharu mendengar perkataannya sendiri. Pria muda itu menyeka airmatanya.


"Dion.." panggil Calista. Ia lalu memeluk adiknya itu. Begitu juga dengan Dion, ia balas memeluk kakaknya.


Arles hanya menatap keduanya "Aku.. akan mengingat pesanmu dengan baik. Tapi jangan pernah menunggu aku mengembalikan kakakmu. Itu tidak akan terjadi,"


Saat masih saling memeluk dengan kakak, Dion bertatapan dengan senyuman di wajah mama. Mama mengangguk kearah Dion seolah membenarkan perkataan anaknya barusan. Mama Dini hanya berharap, Calista dan Arles bisa bahagia sampai mautlah yang akan memisahkan.


Skip.😉


Setelah acara sakral itu berakhir, kini tibalah waktunya untuk resepsi yang juga diadakan di tempat yang sama.


Semua orang mengucapkan selamat pada pengantin baru yang sepertinya hanya bisa tersenyum ini. Sudah lupa caranya berhenti tersenyum.


Bagas dan Fran bersama pasangan mereka masing-masing menghampiri Arles membawa hadiah. Firasat Arles mencurigai dua sahabatnya.


"Hadiah apa itu?.." tanya Arles Curiga.


Setelah memastikan tidak ada tamu lain yang mendengar, Fran memberkan kotak hadiahnya lalu berkata "yang ku dengar orang-orang memakai ini sebagai pengaman saat bercinta" ucapnya pelan dan masih terdengar di telinga Calis.


"Ini hadiah dariku.. bukalah ini sebelum malam pertama kalian. Isinya adalah buku panduan untuk bercinta dan sebuah memori Card. Ada banyak adegan di dalamnya yang bisa kau praktikkan." Tutur Bagas dengan senyum mematikannya, sengaja menggoda Arles dan Calista.


Otak Arles yang masih sangat berfungsi dengan normal seketika menjalar kemana-mana mendengar penuturan dua sahabatnya itu.


"Dasar kau ini.. candaanmu tidak lucu.. istriku sedang hamil muda. Jangan macam-macam padaku. Iya kan sayang?" Bagas merangkul mesra istri canteksnya.


"Iya, bukannya berterima kasih kau malah mengancam.. Ayo sayang, kita pulang biar kamu bisa kayak istrinya Bagas, hamil muda juga."


"Eh?? Siapa yang menyuruhmu cetak duluan?" Serentak Arles dan Bagas meninggikan suara kearah Eko Franata dan di sambut gelak tawa pasangan mereka masing-masing.


"Hahahaha... tenang saja kawan.." Fran lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.


"Ini undangan pernikahan kami"


Arles dan Bagas pun menerimanya.


"Apa? 2 bulan lagi?" Bagas setengah berteriak.


"Undangannya terlalu cepat tersebar. Orang bisa lupa." protes Arles.


Fran dan Merry hanya tersenyum tak peduli.


\=\=\=\=\=\=\=


Acara pernikahan sejoli itu akhirnya selesai.



Keduanya kini berada di kamar yang telah di buat sedemikian rupa untuk mendukung malam pertama mereka.


Calista duduk di sisi ranjang dengan masih dengan gaun pengantinnya. Entah apa yang wanita itu pikirkan, tapi dia hanya diam. "Sayang,, kamu pasti capek yah" Arles mendekati Calis dengan membawa kursi mendekati ranjang dan duduk diatasnya. Ia menyibak sedikit bagian bawah gaun itu untuk melihat kondisi kaki istrinya yang sedang selonjoran.


"Arles..."


"Ya sayang"


"Pijatanmu tidak nyaman"


Arles menghentikan pijatannya.


"Sayang, aku seorang dokter.. bukan tukang pijat."

__ADS_1


Tok tok tok..


Arles membuka pintu.


"Mama?"


"Arles, sini mama mau bicara"


Arles pun keluar dan menutup pintu.


"Kamu sama Calis sedang apa?"


"Kenapa mama mau tau? Itu urusan kami mah.."


"Sayang.. mama mohon, jangan dulu apa-apakan menantu mama yah.. dia belum sehat sayang.."


Arles mengusap kasar wajahnya.


"Maaa... aku tahu ma... apa yang mama pikirkan?" greget Arles.


"Syukurlah kalau kamu ngerti sayang.. mama hanya takut kamu tidak sabaran" mama pun pergi. Arles hanya melongok heran menatap punggung mama yang semakin menghilang.


"Arles, tadi mama bilang apa?"


"Kata mama, semoga malam pertama kita sukses sayang!"


"Sssssh... aku merasa kau berbohong!"


"Ya sudah... ayo buka gaun itu.."


"Haa?"


"Tenang saja.. malam ini kita istirahat saja. Besok kan kita berdua berangkat ke Paris buat honeymoon". Disana aku akan melahapmu habis-habisan.


"Aaaah.. iya..."


"Memangnya istriku mau tidur dengan gaun itu? Ayoo lepaskan sayang."


"Oooohh.. i...ya.. aku akan membukanya!"


"Sini aku bantuin sayang,"


"Arles aku malu buka pakaian di depanmu"


"Jangan malu.. biasakan saja sayang.."


Arles mulai menurunkan resleting untuk membuka gaun Calista.


"Apa kau tidak merasa kenapa-kenapa? Kau tidak malu saat melihat tubuh polos orang lain?"


"Aku ini dokter bedah sayang, suamimu ini bahkan hampir setiap hari melihat hal seperti itu."


"Benarkah? Berarti aku bukan orang pertama!" Calis memanyunkan bibirnya.


"Kalau kamu beda lagi sayang.."


"Iya... iya percaya" Calis melingkarkan tangannya memeluk.. "I Love You suami"


"Love you too istriku"


Sebelum gaun benar-benar akan diturunkan, Calista meminta Arles mengambil pakaian tidurnya. Arles pun mengambil lingerie berwarna navi.


"Sayang, tidak ada yg lebih hangat? Itu terlalu dtipis."


"Pakai itu atau tidak berpakaian sama sekali?"


"Baiklah-baiklah.. sekarang tutup matamu. Aku belum siap tubuh polosku di lihat olehmu.. aku malu"


Arles menghela napas. "Jangankan MENIKMATI malam pertama melihatnya saja belum boleh" Arles pun membalikkan tubuhnya.


"Sayang... sudah.."


"Oopsss" Arles terlihat bodoh begitu melihat istrinya.


"Sayang... kamu terlihat sangat cantik memakai itu." Tanpa sadar pria itu memasukkah jari telunjuknya kedalam mulut. Entah apa yang dia pikirkan.



.


.


Bersambung.......

__ADS_1


Maaf lama gaes..


ayo tetap semangat ya. Jangan lupa partisipasinya🥰🥰🥰🥰


__ADS_2