I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Rasa Takut Lea


__ADS_3

****Tidak mudah berurusan dengan seorang anak kecil jika itu soal janji. Anak kecil akan selalu menuntut apa yang kita telah janjikan pada mereka.


Tidak baik menjanjikan seauatu kepada seorang anak kecil, apabila kita tidak bisa menepatinya. Karena, itu akan membekas dihatinya****.


Hal itu juga yang dirasakan oleh si bocah tampan, Arles. Anak itu merasa bahwa, paman yang telah berjanji padanya itu, gagal menepati janjinya.


Kekecewaan Arles pada Arland merupakan sebuah tembok penghalang yang harus bisa diruntuhkan oleh Arland, untuk mendapatkan kembali keluarga kecilnya secara utuh.


Selain bocah tampan itu, ada ibunya juga yang selalu bersikap dingin tak mudah untuk ditakhlukkan oleh Arland. Sampai saat ini, Glesty pun belum memberikan lampu hijau bagi Arland untuk mendekti dirinya.


Akan tetapi, Arland berfikir, dirinya harus bisa mendapatkan hati anak-anaknya terlebih dahulu, dengan begitu Glesty pasti akan mencair. Itulah keyakinan Arland.


Kini Arland sedang duduk ditaman Rumah Sakit itu. Ia sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Selamat siang pak Arland." Sapa orang tersebut dengan sikap hormatnya.


Ternyata orang tersebut ialah Anton, teman baik juga sebagai sekertaris andalan Arland.


Arland tidak menjawab sapaan Anton seperti biasa. Bahkan ia tidak menoleh sedikitpun kearah pria itu. "Anton, apa kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku?"


Mendengar pertanyaan bossnya itu, Anton seketika gelagapan. Ia bingung apa maksud Arland.


"Ap.. apa maksud anda pak?"


"Aku bertanya, adakah hal yang lupa kau beritahukan padaku?"


Anton hanya diam. Sepertinya ia mulai menyadari sesuatu.


"Anton, aku bertanya. Kau saat ini datang sebagai sekertarisku atau sebagai temanku?"


"Ya?" Anton merasa semakin gugup.


"Kau tidak bisa menjawabku? Baiklah. Jika saat ini kau berada disini sebagai temanku aku ingin memukulmu habis-habisan. Tapi jika sebagai sekertarisku, maka aku memecatmu sekarang juga."


Anton sekarang mengerti maksud Arland. Ia pun meminta maaf kepada Arland karena tidak berterus terang tentang kepergian Glesty waktu itu.


"Aku sangat kecewa padamu Anton. Seharusnya kau menjadi orang yang jujur padaku disaat keluargaku menyembunyikan kebenarannya.


"Maafkan aku Arland, kau boleh memukulku, asal jangan memecatku. Aku masih ingin bekerjasama denganmu!" Anton memohon. Kali ini ia tidak memakai embel-embel kata pak dibelakang nama Arland.


"Kau ingin aku memaafkanmu?" Kini Arland melihat ke wajah Anton yang tertunduk lesu. Ada perasaan iba saat Arland melihat Anton yang seperti ini.


"Tentu saja" Jawab Anton, singkat.


"Baik, aku akan melupakan kesalahanmu kali ini. Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku."


"Aku akan menyanggupinya!" sahut Anton.


"Bagus! Carikan sebuah tempat tinggal terbaik yang akan kutempati bersama istri dan anak-anakku di kota J, lengkap dengan isinya. Satu lagi, kamar kedua anakku masing-masing kau penuhi dengan berbagai jenis mainan terbaik yang cocok untuk anak-anak berusia 6 tahun. Ingat, anakku laki - laki dan perempuan."

__ADS_1


"Baik pak, saya akan menyanggupinya."


"Dan satu lagi Anton, aku memberimu waktu 3 hari dari sekarang. Begitu tiba disana, kami akan siap menempatinya."


Anton nampak terkejut dan terlihat ingin mengajukan protes. "Tiga hari? Oh, Yang benar saja!


"Apa kau ada pertanyaan Anton?" Tanya Arland, datar.


"Ehm... oh.. ti.. tidak ada pak Arland." Jawab Anton, gelagapan.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Devan dan Leon telah tiba di dekat jembatan dimana sinyal terakhir dari ponsel Lea diaktifkan. Keduanya berharap akan menemukan jejak Lea disana.


Lama Leon menatap kebawah. Ia seperti sedang membayangkan sesuatu. Devan lalu mendekatinya.


"Apa anda tahu? Adikku sangat takut berada diluar rumah sendirian saat malam hari. Lalu kenapa dia memilih datang ke jembatan ini?"


"Tenanglah Leon. Jangan berfikiran macam-macan."


"Jika adikku ternyata kenapa-kenapa, bagaimana?" Ujar Leon, datar.


Ponsel Devan bergetar menandakan adanya panggilan.


"Halo, bicaralah!"


"Begini pak, kami menemukan bahwa nomor ponsel tersebut terakhir kali terhubung dengan seseorang. Kami mendapatkan rekaman panggilan telponnya."


"Pak, segera lacak nomor ponsel tersebut dan kirimkan alamatnya pada saya secepatnya."


"Kami sedang melakukannya pak."


"Baik Terima kasih."


Dua detik kemudian, Devan menerima rekaman suara dari ponsel Alin ketika menghubungi Asistennya, yang bernama Ima.


"Mereka mengirim rekaman suaranya."


"Cepat putarkan. aku ingin dengar." Perintah Leon.


Tuuut... Rekaman dimulai:


"Akhirnya mengabariku juga!. Bagaimana acara pertemuan keluarga dengan pak direktur gantengmu itu? Cie... mbak Alin pasti sedang bersenang-senang sekarang kan?"... Ima menggoda Alin.


"Haalo Im... Im... tolong aku... aku sa..ngat takut. Disini sa.. sangat sepi..!" Dengan nada ingin menangis.

__ADS_1


"Mbak Alin sedang dimana? Trus dimana pak direktur?


"***Im... ketakutanku terjadi.. dia meninggalkanku..."


"Ha? Trus dimana mbak Alin sekarang? Mbak Alin, jangan menangis ya, sekarang bukan saatnya untuk itu. Pikirkan hal yang menyenangkan."


"A..aku dibawah jem..batan. Aku melihat ada tiga orang laki-laki sedang berjalan kaki, aku takut jika mereka adalah orang jahat, jadi aku bersembunyi***..


"***Apa? Jembatan? Jembatan mana?


"Jem...batan layang, penyebrangan bla.. bla bla" Alin menjelaskan.


"Baiklah, tunggu disana. Sekitar 1 jam aku akan tiba mbak.


"Im.. Jangan 1 jam. Itu sangat lama. Aku takuuut.


"Mbak yang tenang ya.. berdoa. Begini mbak, rumahku sangat jauh dari jembatan itu. Tidak mungkin bisa tiba dengan cepat. Cuaca juga tidak bersahabat."


"Yah sudah... Im... Jalan sekarang bisa kan. Tolong... bawa teman pria, jadi mereka bisa melindungi kita. Ini sudah hampir tengah malam. Aku... takut bahaya. Tidak ada kak Leon yang biasa melindungiku***."


Sambungan telpon pun terputus.


Tanpa disadari, Devan dan Leon ternyata sama-sama mengeluarkan air mata. Sama-sama menyimpan penyesalan dalam hati.. Mereka berdua memang benar adalah dua orang yang bersalah disini.


"Lea... maafkan kakak!" (Leon)


"Alin... maafkan aku!" (Devan)


drrt drrt.


Devan membuka ponselnya dan mendapatkan alamat Ima. Devan tak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersenyum saat ini.


"Ayo Leon, kita jemput Alin."


Devan kembali menjalankan mobil yang mereka tumpangi.


.


.


\=\=\=\=


Bersambung.


Dalam kesempatan ini author mau mengucapkan turut berbelasungkawa / berdukacita kepada keluarga korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air.


Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap diberi kekuatan dan kesabaran. Amin


Gaes... Tetap semangat. Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2