I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Kami Anak Kembar


__ADS_3

Arland melepaskan pelukannya dari tubuh Glesty, setelah membisikkan kalimat ROMANTIS namun pada momen yang TIDAK TEPAT itu.


Laki-laki itu melangkah pergi dari sana. Ia mengurungkan niatnya untuk bertemu Arles. Saat ini, hati dan pikirannya penuh dengan rasa bersalah terhadap kedua anaknya itu. "Aku benar-benar merasa malu kepada anak-anakku.!" Arland rasa, dirinya harus menenangkan diri terlebih dahulu, ia pun pergi ke atap rumah sakit.


Glesty hanya berdiam mematung, tanpa melihat kepergian Arland. Wanita itu pun kembali ke ruangan Arles.


Setibanya dikamar, Glesty mendapati Arles sedang duduk menatap tangannya yang dibalut perban.


"Arles sayang!" Glesty segera berlari kecil kearah anaknya itu. Glesty langsung memeluk Arles dengan sayang. "Sayang, maafkan mama ya.."


"Mama... Jangan nangis. Arles jadi begini karena nakal." Arles menepuk-nepuk pelan tangan Glesty yang melingkar ditubuhnya.


.


.


Tiba didepan rumah minimalis keluarga Glesty.


Keheningan menyelimuti kedua pria tampan itu, selama diperjalanan. Dikarenakan Leon dan Devan tidak saling bicara. Terlebih Leon yang selalu memberikan sinyal permusuhan kepada Devan.


Hingga tibalah mereka berdua, namun tak satupun dari keduanya yang langsung turun dari mobil.


"Tadi aku mencari Lea ke seluruh titik sudut dikota ini." Devan memecah keheningan.


"Hah? Yang benar saja? Bukankah kau senang TELAH MEMBUANG adikku?" Leon membatin. Ia kembali menatap malas ke arah pria disebelahnya.


"Aku menyesal, Leon. Maafkan aku." Devan menarik nafasnya yang terasa berat.


"Maaf, aku tidak akan memaafkan anda jika adikku saja tidak tahu ada dimana."


"Aku akan mencarinya dengan seluruh kemampuanku Leon."


"Buktikan jika anda mampu. Aku butuh hasil bukan sekedar harapan." Ketus Leon lalu menarik handle dan membuka pintu mobil.


Devan tersenyum tipis melihat sikap Leon. Pria itu lalu menyusul Leon, ikut masuk kedalam rumah minimalis itu.


"Anda boleh tidur disini." Leon menunjuk sofa yang ada di ruang keluarga rumah itu. Devan hanya mengangguk kecil.


"Leon, pinjamkan aku bajumu. Aku tidak mungkin mengenakan ini lagi setelah mandi." Lagi-lagi Devan harus mengusir rasa malunya karna sampai pakaian pun ia harus pinjam.


Terlihat Leon membuang kasar nafasnya. "Apa anda tidak bisa mengatakan kata TOLONG saat meminta sesuatu? Bedakan antara memohon dan memberi perintah." Ketus Leon.

__ADS_1


Ia berlalu ke kamar miliknya untuk mengambil pakaian yg akan dipakai Devan. "Dasar direktur tidak tahu malu. Bukankan orang kaya dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan? Kenapa dia malah merepotkan aku?" Leon bergumam kesal pada lelaki itu.


Leon kembali ke luar kamar dengan membawa satu set pakaian lengkap untuk Devan, beserta bantal dan selimut. "Pakailah ini. Aku belum pernah memakainya. Leon tetap bersikap dingin terhadap Devan.


Sepeninggalan Leon yang masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi, Devan pun pergi membersihkan dirinya. Setelah itu ia pun kembali ke sofa dan tarik selimut. Namun, Devan tidak bisa menutup matanya. Pikirannya terbang keman-mana memikirkan dimana keberadaan Alin.


.


.


Ditempat lain.


Tepatnya diatap Rumah sakit yang sangat luas. Disinilah Arland berada saat ini.


Menatap hamparan kota B dari ketinggian. Langit malam ini mendung dan tidak tampak satu bintang pun. Sepertinya akan turun hujan. Arland berdiri tegak lalu menutup matanya, mengepalkan kedua tangannya menahan segunung kekesalan yang tengah bersarang didadanya.


"***Aku sangat menghormati kalian ma.... pa.. Tapi kenapa kalian berdua tega mempermainkan hidupku? Satu-satunya kesalahanku terhadap kalian karena menikahinya diam-diam.


"Kenapa kalian harus membohongiku ma..? Kenapa kalian membuat aku membencinya....? Dialah yang pantas membenciku***"


Arland menangis dan berteriak sepuasnya berharap semua kekesalannya terbang terbawa angin malam. "Arles,,, Lean,,, maafkan papa ini.. Kalian lahir dan bertumbuh tanpa kasih sayang papa.."


Arland kembali menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Ia mengingat setiap momen pertemuannya dengan kedua bocah itu. Mulai dari pertemuan awalnya dengan Lean dan merasa langsung jatuh hati terhadap bocah imut itu.


"Adikku ingin bermain denganmu paman."


"Kami tidak punya papa, paman!"


"Papa kami sedang sakit paman,"


Arland mengulang setiap potongan dari perkataan Arles itu didalam memorinya. Membuatnya merasa semakin sakit.


Arland juga kembali mengingat janjinya pada Arles untuk pura-pura menjadi papa untuknya, namun berakhir dengan peristiwa tragis karena Arles mencelakai temannya. "Paman tidak perlu pura-pura jadi papaku lagi. Aku sudah tidak butuh papa." Perkataan Arles itu yang paling sakit diantara semuanya.


.


Arland mengambil ponsel dari sakunya saat benda pipih itu tengah berbunyi dan menampilkan pesan dari seseorang. "Bos, saya sudah mengirimkan ke email anda rekaman CCTV yang merekam kejadian saat anak-anak itu terjatuh. Sekian.


Ternyata Arland meminta seseorang mencari tahu kejadian yang melibatkan Arles disekolah beberapa hari lalu.


.

__ADS_1


.


\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah Aurell.


"Oma... oma.. Apa oma sudah bertemu Arles? Apa Arles sudah bangun? Tanya Lean, begitu melihat wanita yang berapa hari ini biasa dia panggil oma.


"Belum Lean.. Kata dokter, sebentar lagi akan bangun." Bohong oma.


Rina dan Aurel muncul dan bergabung untuk mengobrol.


"Lean, kalau Lean memanggil atau menyebut nama Arles, harus dengan cara yang benar sayang. Arles kan kakaknya Lean. Jadi, harus menyebutnya Kak Arles atau Abang Arles." Rina tersenyum mengajari Lean, yang hanya memperlihatkan ekspresi bengong.


"Iya Lean, kayak aku kan Lean manggilnya kak Aurel." Sambung Aurel lagi.


Lean memutar matanya memberi tatapan sekilas kearah orang-orang yang ada disekelilingnya. Yakni oma, opa, Aurell dan Rina. Semuanya tersenyum kearah Aurel.


"Tapi, Arles bukan kakak aku.."


"Haaa?" Setiap orang kompak membuka mulut.


"Kata mama, kami lahir dihari yang sama. Jadi kami anak kembar!"


Lagi lagi semua orang menganga. Aurell dan Rina tersenyum lebar mengetahui kenyataan itu. Rasanya sangat unik ada anak kembar laki-laki dan perempuan.


Namun, oma yang mengetahui bahwa Arles adalah cucu kandungnya menampakkan ekspresi yang berbeda. Ia menutup mulutnya dengan mata yang menangis.


"Ma.. ada apa denganmu?" Opa mulai khawatir.


"Pa.. Lean.. Lean.." Oma benar-benar tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia malah mendekat kearah Lean dan memeluknya. "Cucu oma.. maafkan oma ini sayang.." Lean hanya diam mematung. Aurell, Rina dan Opa hanya diam membisu dan bertanya-tanya dalam hati.


Setelah merasa tenang, Oma melepas pelukannya dan meminta Aurell mengajak Lean untuk masuk kamar dan beristirahat.


Setelah kedua anak itu masuk ke kamar, si oma mulai menceritakan semuanya. Mengatakan bahwa Glesty membenarkan jika Arles adalah buah hatinya Arland.


Reaksi sang opa? Tentu saja opa merasa senang bukan main. pria paruh baya itu sampai mengeluarkan air mata.


"Ma? Aku seperti mendengar mama menyebut nama Glesty?" Rina penasaran.


"Iya.. Istri Arland bernama Glesty." Jawab Mama, dengan wajah bersalahnya.

__ADS_1


Rina menelan kasar salivanya sambil terus menatap ibu mertuanya. Ia merasa kenal dengan nama itu..


__ADS_2