
Seorang gadis Cantik, tengah berada diruang rawat seorang pria dewasa yang adalah ayahnya.. gadis itu kerap kali mengunjungi orang yang biasa ia panggil papa itu. Meskipun tidak tahu kapan papa akan bangun, Calista tetap optimis bahwa suatu saat, papa akan bangun. Keajaiban akan datang kepada siapa saja yang berharap.
"Paaaa.. bangunlah sesekali.. papa ga kangen kami? Papa curang ya, istirahatnya kelamaan. Paa.. ayo bangun dan melanjutkan mini market yang sudah papa rencanakan di kota asal papa itu.Tapi, papa jangan marah ya.. semua modal papa udah Calis pake buat bayar rumah sakit. Papa sih, ga mau bangun. Pa... Calis minta, tolong papa bangun kali ini. Jangan biarkan tahun ini berganti dan masih tutup mata. Aku sudah jadi gadis dewasa pa.. aku cantik seperti mama. Aku sudah bukan gadis manjanya papa lagi. Kalau papa bangun dan melihatku, aku yakin papa akan mengangkat 2 jempol papa dan bilang Calista Nara, kamu adalah putriku yang hebat. Papa masih ga percaya? Coba aja bangun dan lihat aku."
"Paaa.. Calista minta maaf ya pa, kalau selama kebersamaan kita dulu, Calista hanya bisa merengek dan tidak pernah melakukan apapun untuk papa.. satu-satunya yang bisa papa banggakan dari putri papa dulu hanyalah Nilai Raport yang selalu lebih tinggi daripada teman-teman. Jadi jangan menyerah ya pa... bersemangatlah. Sembuh. Calist pengen papa merasakan dan melihat dalam keadaan sadar, betapa bergunanya hidup Calista sekarang pa.."
"Pa... bangunlah, Calis mohon ya pa.. bangun dan bilang kepada pria itu, jangan pernah menghina anakku lagi. Bilang sama dia kalau putri papa bukan gadis hina seperti yang dia bilang. Ayo lah papa tunggu apa lagi? Bangunlah. Bangun dan bawa aku dan mama pergi.
Drrrrt drrrt drrrt..
Calis tersenyum melihat nama pemanggil yang sedang menghubunginya.
"Pa.. anak papa yang satunya mau bicara. Calist jawab dulu ya.."
"Halo Dion."
"Kak, kedebgarannya kakak lagi bersemangat? Lagi dimana?"
"Dion.. kakak lagi ngobrol sama papa."
"Oh ya? Kak, kebetulan saat ini Dion pengen ngobrol sama papa. Load speaker dong, biar papa dengar."
Calista mengaktifkan loadspeaker dari ponselnya.
"Halo paa.. papa apa kabar? Papa dengarkan? Paa.. Dion kangen papa. Dion kangen kalian bertiga. Paa 2 tahun lagi Dion pulang pa.. papa sudah bangun kan nanti? Jangan lama-lama pa tidurnya.. Paa.. tadi malam Dion diputusin pacar Dion pa.. papa tau kenapa? Cuma gara-gara Dion pria sederhana. Pa.. dimana sih bisa dapet cewek baik yang nerima kita apa adanya kayak mama?"Terdengar kekehan tawa kecil Dion.
"Pa... Dion doakan dari sini, semoga papa cepat bangun ya.. bangun, dan lihat Dion yang sekarang. Dion sudah dewasa pa.. Dion sudah bukan ABG lagi. Paa.. maaf ya karena Dion ga tinggal disisi papa saat ini. Maaf karena tidak bisa bantu kakak dan mama merawat papa. Satu yang Dion minta, papa bangun. Bangun aja dulu pa. Bangun dan kasi tau Dion, bagian mana yang sakit. Ehmmm .. sudah dulu ya pa.. Dion masih ada kelas nih. Da papa..."
Begitulah Calista dan Dion. Bebas mengatakan apapun pada ayah mereka yang sedang tidur. Setelah puas membicarakan banyak hal pada papa, Calista pun berpamit untuk pulang.
\=\=\=\=\=
Seperti biasa, Calista menunggu abang gojek diparkiran Rumah Sakit. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari dalam mobil. Orang itu adalah si ARLESSS.
Untuk kedua kalinya, Arles melihat Calista dengan raut wajah ini. Raut wajah yang menunjukkan kesedihan, tidak ada senyuman disana. "apa mungkin wanita ini dimarahi oleh atasannya? Atau dia sengaja mencari perhatian para lelaki dengan ekspresi itu? Heh,, benar-benar!"
*****
Sampai di rumah kontarakanya, Calist bersiap-siap untuk ke acara Lean.
"Aduuuh.. apa aku akan terlihat pantas dengan pakaian ini? Kenapa mereka memberiku dress mini dan sexy seperti ini? atau aku pakai milikku saja? Tapi, apa yang akan dikatakan mamanya Lean kalau aku tidak menghargai pemberian ini? Ahhh.. aku sangat bingung."
Drrrr drrrr drrrt.
Ponsel Calis kembali berdering.
"Fran?" Ucapnya saat membaca nama pemanggil yang masih ter save dengan nama Pria 420ribu.
"Halo Fran..." jawab Calis datar.
__ADS_1
"Hei Calis... bisakah temani aku malam ini? Begini.. aku akan mengha---"
Belum sempat Faran menjelaskan maksudnya, namun sudah di cut dengan lancangnya oleh Calista "maaf Fran, malam ini aku tidak bisa. Aku harus ke suatu tempat. Dan saat ini aku sedang buru-buru. Lain kali kau hubungi aku lagi ya."
"Tapi Calis aku aku----"
tut tut tut..
panggilan diputuskan sepihak oleh Calista.
"Dasar wanita langka.. kenapa dia jadi jual mahal begini? Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku akan memberinya bonus." gumam Fran, merasa kesal rencananya malam ini akan tertunda.
"Heeh? apa kataku? memberinya bonus? Dia tidak akan semudah itu tergiur dengan bonus." Fran terus saja mengatai dirinya sendiri.
****
Masih di rumah kontrakan, menunggu Nino menjemput.
"Calista.." mama menghampiri Calist.
"Waah... anak mama sangat cantik."
"Hehe... mama.. apa Calis cocok pakai ini?"
"Cocok sayang.. sangat cocok."
"Tidak apa-apa sayang, sekali-sekali. Seperti ini.." mama mem benarkan penataan rambut putrinya itu agar rambut panjangnya dapat menutupi bahunya yang terbuka.
"Oh.. jadi seperti ini? Trima kasih mama."
"Kamu tunggu dijemput Nino sayang?" tanya mama.
"emmmmm.. iya ma.. teman Calis minta Nino sebagai hadiah." ucapnya polos.
"Nino? Jadi hadiah?"
"Hehe.. iya ma.. teman Calis ini, naksir sama Nino."
"Emang kamu ga naksir sama Nino?" goda mama.
"Haaa? Calis? Naksir Nino? ya nggak lah maa.. Nino teman baik Calis. Calis cuma mau sahabatan sama dia."
"Beneran sayang? Bener kamu ga ada perasaan suka sama Nino?"
"Beneran mama.. Calis cuma suka dia sebagai sahabat aja ma.. ga lebih.."
"Kenapa sayang?... mama pikir, Nino suka sama kamu sebagai wanita."
"Ya meskipun begitu, ya aku kan ga sama perasaannya mama.. kan ga bisa dipaksain!"
__ADS_1
"Lalu, apa kamu sudah punya pacar sekarang?"
"Mama apaan sih? Aku masih muda mama.. ga usah punya pacar dulu deh."
"Kenapaaa...?? Apa karena diaaa? Karena Arles itu?"
Degh.. mama mengorek luka lama yang memang selalu membekas, meskipun tidak terasa sakit.
"Apaan sih ma.. aku sudah lupa sama dia kok." ucap Calis dengan nada rendah namun tegas.
"Mama ga mau aja kalau kamu tidak mau membuka hati terhadap lelaki lain sayang.."
"Tenanglah maaa.. akan tiba waktunya kok. Lagian, pria mana yang mau dengan cewek kayak Calis maa.. yang ada mereka hanya akan terbeban dengan kehidupan Calis ma.. Cuma pria gila yang mau dengan gadis seperti Calis ini ma.. Calis bekerja sana-sini dari pagi hingga tengah malam, cuma buat bayar cicilan sana sini juga kan. Uda ah ma.. Calis hanya mau lunasin hutang-hutang aja dulu. Ga ada waktu buat pacaran mama.." Calista seenaknya nyerocos panjang lebar tanpa sadar bahwa mama kini tengah merasa sangat bersalah.
"Maaa? Mama... maafin Calis ma.. maaf ya ma.." Calista memeluk mama. "Calist tidak bermaksud menyinggung ataupun menyakiti perasaan mama. Calist paham maksud mama. Mereka pun menangis bersama.
"Mama menyentuh dua belah pipi putrinya itu, memandang putrinya dengan air mata yang menetes dengan sendirinya disana. "Mama minta maaf ya sayang.. maaf.. mama cuma pengen kamu bahagia, punya seseorang yang spesial yang bisa membahagiakan kamu sayang. Sampai-sampai mama lupa bahwa kamu punya beban hidup yang tidak perlu dibagikan kepada orang lain." Mama kembali memeluk Calista dengan menangis.
"Maa.. terima kasih sudah mau mengerti ma.. mama jangan khawatir ya.. aku ini bisa bahagia dengan caraku sendiri ma.. ada mama, papa, Dion, kalian bertiga adalah yang spesial dalam hidup aku ma.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.
Ibu dan anak itu pun melepaskan pelukannya.
Cklek... Calis membuka pintu, dan terlihat Nino dengan tampannya telah tiba disana.
"Selamat malam tante.." sapa Nino.
"Malam Nino.." jawab mama.
"Maah.. Calis jalan dulu ya sama Nino.."
"Iya sayang.. hati-hati ya.. Nino, titip Calis ya.."
"Iya tante.. tenang aja. Nino jagain kok."
Nino dan Calista pun berangkat bersama menuju pesta dirumah Lean.
.
.
.
Bersambung.
😊☺☺☺☺
__ADS_1