
Arles menahan pintu mobil Fran, saat pria itu akan masuk.
"Ada urusan apa antara kamu dengan Calis? Apa itu lebih penting dari perasaanku? Fran.. mengertilah.. aku harus bicara dari hati ke hati dengannya."
"Broo.. trus gimana kalau dia yang tidak mau bicara denganmu? Sudahlah.. berhenti menahan mobilku."
"Fran... tolong jangan buat aku marah padamu. Dia itu perempuan yang aku cintai. Tolong jangan membawanya pergi."
"Apa? Kau pikir aku akan merebutnya darimu? Jangan konyol. Aku sama dia ada hubungan kerja."
"Hubungan pekerjaan seperti apa yang kau maksud?" Arles terus saja bertanya.
"Pulanglah Arles.. urus dirimu. Penampilanmu sangat acak-acakan. Calis hanya bekerja sebagai supirku. Aku membayarnya perjam 350ribu. Puas? Minggir, jangan membuang waktuku!
"Tunggu.. kenapa di harus menjadi supirmu? Aku tidak setuju!"
"Apa maksudmu Arles? Itu adalah pekerjaannya. Apa urusannya denganmu? Kau hanya mantannya."
Fran menepis tangan Arles, hingga terlepas.
Buuum buuumm.. mobil Fran pun melaju, membelah keramaian.
Di dalam mobil Fran.
"Caliss.."
"Hmmmm?
"Berbicaralah lain kali dengannya! Aku kasihan melihatnya memohon seperti tadi." Fran mengingat saat tadi sahabatnya itu berusaha meminta Calis keluar dari mobilnya, tapi diacuhkan oleh gadis itu.
"Iya.. lain kali aku akan berbicara padanya. Aku belum siap sekarang. Banyak hal yang ingin aku bilang ke dia. Tapi aku takut tidak bisa menguasai diri aku jika sekarang."
"Menguasai diri yang bagaimana? takut baper yah?"
"Iya... tentu saja.. tapi baper MARAH. Melihatnya seperti tadi saja aku rasanya ingin mengamuk dan mencakar seluruh wajahnya. Kamu tidak tahu Fran.. aku sangat membenci dia. Enak saja dia sukses meraih cita-citanya menjadi dokter setelah menghancurkan cita-cita aku."
__ADS_1
"STOP calis,, nanti kita sambung lagi yah.. sepertinya kamu harus menceritakan kisah kalian padaku, sambil memakan nasi goreng hantumu itu."
"Nasi goreng setan" protes Calis.
Tiba di warung nasi goreng.
Benar saja, Calista lagi-lagi memesan nasi goreng setan, sedangkan Fran hanya memesan level 3 untuk dirinya.
"Calis... silahkan mulai ceritamu!"
"Fran, bukankah kau yang membutuhkanku? kenapa jadi hidupku yang harus kita bahas?"
"Emmm.. jujur, aku hanya ingin tahu, sebesar apa kesalahan sahabatku itu padamu. Percayalah.. aku tidak akan memihaknya."
"Fran benar... aku membutuhkan tempat mencurahkan perasaanku saat ini! Tidak ada salahnya, lagi pula, mungkin ini pertemuan terakhir kami!" batin Calista.
"Fran... aku tahu.. kau ingin curhat tentang Merry padaku kan? Baiklah.. aku akan mendengarnya nanti. Dengarkan kisahku dulu."
Calista mulai bercerita.
"Karena biaya operasi dan pengobatan tidak bisa dicover semuanya oleh asuransi, aku mencari pekerjaan. Aku bekerja di sebuah club malam yang terkenal sebagai service open bottle. Arles yang mengetahui itu, tidak terima. Dia berpikir bahwa aku memang hidup di dunia malam. Tanpa meminta penjelasan, dia mengakhiri hubungan kami Fran.."
"Dia menghilang begitu saja dari negeri ini. Dia bahkan sempat-sempatnya membuat beasiswa full yang aku terima, dicopot dari kampus itu."
Sejak hari itu, aku berhenti kuliah, dan aku hanya kerja kerja dan kerja. heh.. aku bekerja sepanjang hari dan baru tiba dirumah saat sudah tengah malam. Apakah aku bekerja sepanjang hari agar bisa melupakan dia? Bukan.. aku bekerja untuk mendapatkan banyak uang, karena hidupku dan keluargaku terus berlanjut."
"Apa aku pergi mencari dan mengejar dia? Tidak. Aku tidak memiliki kemampuan untuk hal itu. Dia sudah meninggalkan aku. Maka, kalau memang dia masih cinta, dia pasti akan... datang mencari aku."
"Apa aku sudah melupakan dia bahkan membenci dia? Tidak.. aku bahkan terkadang menunggunya datang. Aku.... merindukan dia setiap hari Fran."
"Tapi.. setelah dia pulang ke negara ini, dia ternyata masih Arles yang membenci aku. Disetiap pertemuan kami, dia tidak berhenti menghina dan merendahkan aku. Dia sendirilah yang telah menutup paksa hati aku. Dia... yang buat aku membencinya.."
"Jadi, seperti itulah ceritanya Fran..! Hei.... kau jangan menangis!" Calista tertawa melihat ekspresi Fran yang tiba-tiba sedih.
"Hahaha.. aku hanya akting..!" ucap Fran.
__ADS_1
"Waahh jadi dokter bodoh itu benar telah menyia-nyiakan Calista. Dasar kurang ajar!" Fran memaki kebodohan sahabatnya itu.
"Calis.. menurut aku, dia harus membayar semua ini. Dia sudah merusak rencana masa depanmu. Dia mengecewakanmu. Menurutku, kau harus membalasnya dengan cara memorotinya, minta dibelikah rumah, mobil, tas mahal dan semua yang kau inginkan. Buat dia.... menikahimu, habiskan semua yang dia punya, sampai dia melarat!"
Ide konyol nan gila itu meluncur dengan mulusnya dari bibir tumpis Fran. Pria itu bahkan tidak menyadari bahwa kini Calista tengah melototinya dengan tatapan mengerikan.
"Fran! Apa kau ingin nasi goreng setan ini berpindah di kepalamu?"
"Haah? Caliss... kenapa kau menatapku begitu? Apa aku salah bicara? Maafkan aku Calis!" Fran lalu memukul pelan bibirnya sendiri.
"Dasaar mulutku ini! Kenapa malah mengajarkan Calista hal konyol itu? Menikahi Arles kataku? Itu hanya akan menguntungkan pria bodoh itu!" Fran tak henti-hentinya merutuki bibirnya itu.
πππππ
Arles.
"Calis... maafkan aku sayaang! Aku menyesal!"
"Caliss! Maafkan aku... Aku sangat menyesal!"
"Calis.. satu kali lagi.. sekali aja lagi.. tolong kasih aku kesempatan."
"Bro... sudahlah... jangan seperti ini." Bagas.
Bagas merasa prihatin pada sahabatnya ini. Sebegitu putus asanya dia sehingga datang ke apartemen Bagas di waktu yang harusnya Bagas sedang memeluk guling dan tidur nyenyak setelah lelahnya bekerja seharian. Namun semuanya hanya tinggal harapan karena Arles mendatangi apartemennya ini dalam keadaan sempoyongan.
Menangis, tertawa, bicara sendiri, tidak jelas. hanya satu nama yang disebutkan oleh mulut pria ini ialah Calis. Apakah gadis itu yang menyebabkan kegilaan ini? Seandainya Bagas mengenal Calista, dia pasti sudah menghubungi wanita itu dan memintanya bertanggungjawab atas yang terjadi pada Arles saat ini.
"Biarlah dia tertidur disini. Lebih baik aku melanjutkan mimpiku." gumam Bagas.
.
.
Sekarang gak gantung kan?π
__ADS_1
Cukup dulu yah, othor mau nulis lagi. hehe