
Arles juga berdiri mematung membalas tatapan Dini, yang tengah menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.
"Ap..pa benar nama...mu Arles?" Tanya Dini hati-hati.
Arles pun kembali tersenyum "iya.. benar sekali bu. Apa ibu pernah mendengar namaku?" Arles penasaran.
"Emmm emmm.. i..ya, tapi mungki saya salah dengar." Ucap Dini.
"Mungkin di negara ini hanya ada 1 nama Arles. Saya juga tidak terkenal. Jadi, dimana ibu mengenal orang yang bernama Arles?" Arles mulai menebak-nebak, mungkin saja keluarga atau kenalan ibu ini yang mengenal dirinya.
"Ehmm.. saya tadi hanya membaca nama anda dok. Maaf, saya harus segera pulang." Dini dengan asal menstop taxi yang lewat. Untuk menghindari Arles.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul 23.40.
"Ah.. sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kita pulang." Fran.
"Baiklah.." Jawab Calis dan segera masuk ke mobil. "Gila, baru kali ini aku berada di pantai hingga tengah malam." Gumam Calis.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu barusan?" Tanya Fran yang merasa telinganya mendengar gumaman dari mulut Calis.
"Iya.. tadi aku sedang menghitung tarif." Jawab Calis asal.
"Hah? Astaga.. kau benar-benar sesuatu. Jaga image sedikit. Setidaknya kau jangan terlalu jujur membahas tentang bayaran." protes Fran panjang lebar. Sedangkan Calista hanya menaikkan kedua bahunya cuek.
__ADS_1
"Cantik-catik, tapi hanya memikirkan tarif."
"Apa salahnya? Selama itu adalah hakku?"
Fran hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran, ternyata ada gadis cantik yang blak-blakan seperti Calista.
Di jalan, pulang dari pantai.
Calista langsung mengantar Fran ke kediamannya.
“Fran, kita sampai.” Ucap Calis, karena Fran tengah tertidur nyaman.
“oh, ternyata sampai. “
“serahkan disini saja.” Ucap Calis lagi, membuat Fran seketika mengerjap-ngerjapkan matanya.
“iya. Lalu apa lagi? aku tidak enak jika diluar mobil, ada yang melihatmu membayarku, orang bisa salah sangka!” jelas Calist.
Fran menarik napasnya yang terasa sedikit sesak. “gadis ini sangat konsisten dengan kata-katanya.” Yang Fran maksud adalah Calist tidak pernah lupa untuk menyebutkan tentang tarif.
“baiklah Calist, ini bayaran untuk hari ini.” Fran menyerahkan beberapa lembar uang tunai kepada Calist.
Calista yang tidak ingin membuang waktu, dia menarik uang itu dari tangan Fran, lalu menghitungnya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan sampai 20. “tunggu ya, ini ada kembaliannya”
“Ambil saja kembaliannya Calist! Aku tahu kau pasti senangkan aku memberimu bonus!” Fran sengaja sedikit bercanda.
__ADS_1
“kau memakai jasaku selama 4 jam lebih 40 menit. 4 x 300ribu \= 1,2jt. Ditambah 40 menit 200rbu. Jadi total tagihan 1.4jt. ini ambil kembalianmu 600ribu.” Calis meletakkan uang tersebut pada dashboar mobil Fran. Setelah mengatakan permisi, ia langsung keluar dari mobil dengan membawa 1.4juta ditangannya.
Tidak lupa juga Calis mengucapkan terima kasih kepada Fran dengan wajah sumringahnya. Meninggalkan Fran yang hanya bisa diam mematung ditempatnya. Entah kenapa, Fran merasa iba kepada Calista. “hidup seperti apa yang kau jalani sebenarnya?“ batin Fran.
\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari berikutnya.
Lean datang mengunjungi toko milik mama Gles. “selamat pagi nona boss!” Sapa semua karyawati yang sedang bertugas termasuk Calista Nara.
“pagi semuanya.. gimana kabar kalian? Sehat?” tanya Lean.
“sehat boss” jawab mereka serempak.
“kedatangan aku kesini,,,,, mau ngasih ini ke kalian.” Lean menyerahkan beberapa souvenir yang ia bawa sebagai oleh-oleh saat berlibur beberapa waktu yang lalu.
Mereka menerima pemberian Lean dengan senang hati. “dan ini juga. Kartu undangan ulang tahunku tiga hari lagi. kalian harus datang. Ingat, bawa patner yah!” pinta Lean, dijawab oke oleh karyawati itu, kecuali Nara.
“Nara, tolong ikuti saya sebentar.” Perintah Lean, sambil berlalu menuju ruangan pribadi milik mama Gles. Calista Nara pun menyusulnya.
\=\=\=\=\=
.
.
__ADS_1
bersambung.