I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Lean Terpesona (Season 2)


__ADS_3

Seperti ywng telah dikatakan Lean bahwa Calista harus membayar waktu kebersamaan mereka untuk makan bersama waktu itu, jadilah mereka berdua saat ini berada di restauran milik Nino untuk makan siang bareng.


"Lean... ini tu restauran milik teman aku. Kamu tunggu disini ya.. aku mau ketemu dia dulu. Boleh kan?" Tanya Calis.


"Hmmmm.. oke deh." Jawab Lean singkat.


Calista pun beranjak untuk menemui Nino.


Tok tok tok...


"Masuk.." Sahut Nino dari dalam.


Ckkek...


Nino menoleh, dan langsung mendapati senyuman tak berdosa dari bibir cantik sahabatnya, Calista.


Beberapa hari ini Nino merasa kesal terhadap Calista, karena sahabat tercintanya ini tidak mau berterus terang tentang absen kerjanya beberapa hari yang lalu.


Nino terus bertanya kemana Calist malam itu, kenapa tidak masuk kerja direstorannya ini. Tapi Calista tidak mau menceritakan detilenya. Baru kali ini Calist merahasiakan sesuatu dari Nino. Meskipun itu hal yang tidak penting, tapi Nino merasa berhak mengetahui kemana dan dengan siapa sahabatnya ini berpergian.


Akan tetapi, bukan Calista namanya kalau tidak berhasil membuat mood Nino yang berantakan menjadi normal lagi.


Saat ini saja Calista tersenyum manja yang terpaksa dihadapan Nino, terlihat sangat lucu.


"Ciiih.. kau ini. Kau selalu bisa membuat kekesalanku hilang." ucap Nino, menandakan jika dia tidak ngambek lagi pada Calista.


"Siniii.. aku mau kenalin kamu sama seseorang." Calis menarik paksa lengan Nino.


*****


Lean menunggu Nara dengan menopangkan dagunya diatas kedua tangannya. Wajah imut gadis ini mampu membuat siapa saja merasa gemash padanya dipandangan pertama.



Calista menghampiri Lean dengan menggandeng lengan seseorang disampingnya.

__ADS_1


"Hei.. Lean. Jangan melamun."


"Hah?" Lean terkejut lalu melirik kearah Nara yang sudah disampingnya. Lebih terkejut lagi saat melihat ada cowok tampan berada disamping Nara. Spontan saja Lean berdiri dari duduknya, dan tersenyum malu kearah Nara dan pria itu.



"Aduuu.. si Nara nemu dimana makhluk ini? Terlihat sangat tampaan..." batin Lean.


Calis dengan segera bisa menangkap ekspresi memuja dari tatapan Lean untuk Nino. "Si Lean baru kali ini natap cowok sampai begininya!"


Nino menatap aneh kearah gadis yang katanya sahabat dari sahabatnya ini.


"Ehmmm... karena kalian sama-sama adalah sahabat aku, aku pengen kalian saling kenal." ucap Calist kepada Nino dan Lean.


"Hai.. aku Elnino." Ucap Nino datar.


"Ha.. hai... aku Lean. iya.. namaku Lean!" ucap Lean, dengan tangan sedingin es, namun wajahnya terlihat sumringah. Lean... gugup.


"Ehmmm.. kalian berdua duduklah dulu, aku akan mengambil sesuatu untuk kalian nikmati." Ucap Nino lalu pergi.


"berhenti menatapnya seperti itu. Terlihat sangat jelas." Ucap Calis, yang menyadarkan Lean dari pikirannya.


"Haah? Apa maksudmu? Naraaaa? Kau cemburu ya?" Goda Lean, dengan senyuman jahilnya.


"Cemburu kepalamu." Calis mencubit kedua pipi Lean, gamash.


"Eh... Naraa... bilang padaku.. sebenarnya kenapa kau tidak muncul saat kita mau quality time sama mama? Aku merasa kau berbohong waktu kau bilang kurang sehat." Lean menyipitkan kedua matanya melirik Nara, curiga.


"Hmmmmmmm.. iya aku berbohong." Calis mengangkat dua jarinya membentuk peace. Lalu memajukan bibir bawahnya.


"Aku bertanya kenapa tidak datang, padahal sudah di jalan?"


"Ehm.. iya.. jadi, aku ga sengaja bertemu mantan pacar aku. Jadi, aku pergi menghindar." ucap Calis, yang memaang ada benarnya juga.


"Ya ampuun.. mantan dihindarin. Mantan itu harus dihadapin Nara. Perlihatkan kalau kamu baik-baik aja setelah sudah jadi mantan!" Lean sok menasihati Nara. Padalah dirinya saja belum pernah punya mantan pacar.

__ADS_1


"Iya... iya boss.. aku mengerti." Ucap Calis.


"Hmmmm... tenang aja Nara.. aku akan kenalin kamu ke seseorang yang mungkin saja lebih keren dari mantanmu.." Lean tersenyum membayangkan Nara akan jadian dengan saudara kembarnya.


"Hmmmmmm. Mulai deh... bilang aja kalo kamu mau aku dekatin sama Nino kan? Ga usah modus comblangin aku segala.." Ledek Nara.


Pelayan pun datang membawa makanan yang telah dipesan oleh kedua gadis itu.


Lean menggeleng-geleng kecil seraya menutup wajahnya. Heran karena sahabatnya ini tidak mengerti akan niat baiknya. "Oke-oke Nar.." Lean pasrah. "saat ulangtahun ku, aku akan memperkenalkannya denganmu.. kita lihat nanti. Aku sangat yakin kau akan klepek-klepek di pandangan pertama. Banyak wanita yang mengantri ingin mendapatkan hatinya. Setelah ini kau akan merengek padaku untuk bisa jadian dengannya." Ucap Lean penuh percaya diri.


"Hahaha.." Calis tertawa renyah. "Lean.. diamlah dan ayo kita makan." Calis menyuapi sepotong daging ke mulut Lean.


Tidak lama Nino datang membawa dua porsi ice cream ditangannya.


"Ini gratis buat kalian berdua." Nino meletakkan ice cream tersebut.


"Waaaa. sejak kapan ada menu ice cream? aku baru tahu Nino." Calis terlihat senang.


"ya.. itu memang menu baru." Jawab Nino. Tak sengaja mata Nino berpapasan dengan mata Lean yang dengah mencuri pandang kearahnya. "Apaan sih ni cewek lirik-lirik ga jelas. Sok cantik banget sih?." Batin Nino.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rumah Kontrakan Calista.


Hari ini, mama Dini tidak pergi ke rumah sakit. Memang.. untuk pasien seperti suaminya itu tidak harus dijaga oleh keluarga. Akan tetapi, Dini dan Calista merasa tidak tega melihatnya sendirian terbaring disana, sehingga keduanya sangat sering mengunjungi suami yang juga ayah dari anak-anaknya yang entah kapan akan bangun. Mereka hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban datang.


"Kenapa aku selalu mengingat dokter yang bernama Arles itu? Aku yakin. Dia pasti orang yang sama. Apakah putriku bertemu dengannya dirumah sakit itu? Akankah putriku baik-baik saja?" Batin Mama Dini.


.


.


Berambung....


Thanks gais...

__ADS_1


Niatnya sih, othor target 2500 kata/ hari. tolong doain othor biar mampu yak..😁😁😁


__ADS_2