
Saat ini, semua Manejer Perusahaan Grup XX telah tiba diruang rapat, untuk memberi penghormatan kepada pemimpin perusahaan yang telah kembali.
Selama ini mereka hanya mendengar desas desus bahwa Arland sedang koma dan dirawat diluar negeri. Namun, tidak satupun karyawan berani mengetahui lebih lanjut bagaimana kondisi sesungguhnya dari pewaris Grup XX tersebut.
"Kita lihat mantan kakak ipar, apa kah kau masih mengenali wajahku setelah kau tidur dalam waktu yang sangat lama. Batin Leon.
Ya... Leon kini bekerja sebagai Manejer salah satu Divisi di kantor Pusat Grup XX. Bukan tanpa alasan Leon bergabung dengan perusahaan ini. Namun, tentu saja tanpa sepengetahuan sang kakak.
Leon sangat yakin bahwa mantan kakak Iparnya itu tak akan mengenalinya lagi. Karna dilihat dari segi manapun, dia tampak sangat berbeda dengan Leon yang dulu. Mulai dari gaya rambut, postur tubuh, fashion, ditambah lagi kacamata bening yang selalu menempel di hidung mancungnya, membuat kesan lebih dewasa dan tetap terlihat tampan. Belum lagi nama panggilan yang sengaja dia ubah.
Derap langkah berat nan berwibawa memasuki ruang rapat.
Semua Maneger yang telah siap disana berdiri serentak memberkan penghormatan.
Arland duduk di kursi yang telah dipersiapkan untuknya, setelah mempersilahkan semua orang untuk duduk.
Terlihat mata Arlan menyisir ruangan itu dengan mata elangnya.
'Ternyata banyak wajah baru! batin Arland
Jelas sekali mata kami bertemu. Tapi ternyata dia tidak mengenalku. Batin Leon
"Terima kasih kepada kalian semua, karena masih setia dengan perusahaan ini. Aku selalu menerima laporan tentang kinerja baik anda semua selama aku berada diluar negiri. Tegasnya.
'Apa? Sejak kapan dia bangun dari komanya? Apa selama ini dia memang sudah sembuh dan sengaja tinggal diluar negeri? Dalam keadaan sehat? Dan tidak mencari istrinya?
Leon merasakan darah panas naik ke ubun-ubunnya. Kemudian ia mengulum senyum yang tak dapat diartikan.
__ADS_1
\=\=\=///
"Sayang. Aku ingin bicara denganmu.
"iya? apa itu?
Alin (Lea) dan Devan kekasihnya sedang menyantap makan siang di sebuah restoran mewah.
"Aku ingi bertemu dengan agensimu.
"Ingin bertemu? untuk apa? (cuek)
"Aku berencana merekomendasikanmu untuk bekerjasama dengan Perusahaanku!
'yesss... akhirnya! (Alin tersenyum).
'apa dia sesenang itu akan bekerjasama denganku? Batin Devan.
"Yahh.. Sayang, kan direkturnya kamu. Masa iya saran kamu bakal ditolak? Lea merasa sedikit kecewa.
"Iya. Meskipun aku direkturnya, tapi pemimpin sebenarnya kan kakak sepupuku. Lagipula dia sudah pulang dari Luar Negeri.
"Ap. Apa? Jadi dia sudah pulang?" Lea terlihat sangat bersemangat.
Devan sedikit terkejut melihat ekspresi Alin, yang menurutnya sangat berlebihan.
"Memangnya dia dan kak Arland saling mengenal?"
__ADS_1
"Tunggu! Apa dia juga menyukai kak Arland?"
Ada apa dengan ekspresinya itu? Apa selama ini dia menunggu kak Arland? Devan meresa kesal.
Menyadari keterkejutan Devan terhadap ekspresinya, Alin cepat-cepat menetralkan perasaannya.
"Sayang.. Aku yakin Presedirmu akan menerimaku sebagai model perusahaannya jika kau yang meminta. Aku merasa tidak sabar ingin bekerjasama denganmu. Lea memasang wajah pura-pura tersenyum malu.
"Benarkah aku adalah motivasimu untuk bergabung dsana? Bukankah karena hal lain?" Devan sengaja memicingkan matanya.
Jleb.
Waduh.. kenapa dia berpikir begitu? Gawat!
"Em.. Aku tidak memaksa jika perusahaanmu tidak menerimaku.
"Tidak mungkin kan aku harus bilang kalau aku selalu ingin dekat dengannya dan selalu merindukannya. Itu benar-benar bukan gayaku.
"Iya aku jamin kamu akan segera mendapatkann kontrak dengan perusahaanku. Tapi ingat ketika berurusan dengan orang-orang disana kau tidak boleh ramah terhadap semua orang. Rata-rata Manager yang mengurus para model disana laki-laki. Aku takut kamu kecantol sama mereka."
"Idiiih.. kok kamu mikirnya kesana sih? Semua orang juga tau kan kalo kita pasangan. Emangnya kamu pikir aku wanita apaan?! Alin memanyunkan bibirnya, yang berhasil membuat Devan merasa gemas, ingin rasanya menerkam bibir sexy pacarnya itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
"Trima kasih sudah membaca ceritaku sejauh ini ya dears... maaf masih terus belajar. hehe.