
Devan kembali ke kantor dan langsung masuk ke ruang kerjanya. Makan siangnya ia batalkan meskipun saat ini sedang merasa sangat lapar.
Pikirannya saat ini sedang sangat kacau. Bagaimana mungkin wanitanya yang sangat ia sayangi itu terlihat begitu mesra didepan umum bersama laki - laki lain.
Devan memgambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
.
.
\=\=\=\=\=\=
"Pa.. jadi bagaimana? Apa kita harus segera bertemu dengannya?" Tanya mama Arland kepada suaminya.
"Terserahmu saja ma.. Lebih cepat juga lebih baik. kita sudah tahu alamat rumahnya. Kita hanya perlu mendatanginya seperti keinginanmu." Jelas suaminya panjang lebar.
"Kalau begitu kita harus segera mendatanginya pa."
"Baiklah sayang. Ayo.. lebih cepat lebih baik."
Keduanya pun berdiri, dan melangkah masuk ke mobil yang akan mengantarkan mereka.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Arland kini kembali gedung kantor perusahaan yang sempat ditinggalkannya selama lebih dari satu minggu.
Arland segera memasuki ruangannya. Baru saja ia duduk di kursi empuknya, tiba - tiba Seseorang masuk dengan wajah yang sangat tidak enak dipandang.
"Ada apa dengan ekspresimu? Apa kau ingin protes padaku karena meninggalkan pekerjaanku beberapa hari?" Tanya Arland, dengan mengerutkan keningnya.
"Kak, aku ingin memindahkan manager Toni ke kota lain. Kuharap kau tidak keberatan.
"Hei.. ada apa memangnya dengan dia? Tidak, dia sangat cocok berada di kantor ini.
"Kak, ini masalah pribadi kak. Aku rasa aku tidak akan bisa melihatnya berada di kantor ini." Seru Devan lagi.
__ADS_1
"Masalah pribadi? Kenapa? Karena kau takut pacarmu juga akan menyukainya? Aku dengar, manager Toni digilai oleh gadis -gadis muda di kantor ini." Tutur Arland sambil menatap wajah Devan.
Devan terlihat salah tingkah mendengar penuturan Arland. "Tadi aku melihatnya menjemput Alin di lokasi syuting iklan di pantai."
"Kalau begitu kau harus memeriksa dulu apa hubungan mereka. Bisa saja itu tidak seperti yang terlihat." Tegas Devan.
Devan nampak berfikir, lalu keluar dari ruangan Arland. "Benar kata kak Arland. Aku harus memeriksa apa hubungan mereka."
.
\=\=\=\=\=\=
Di rumah Glesty.
"Sayang, mama akan ke toko sebentar yah, boleh kan!! Seru Glesty dari arah kamar dengan sedikit berteriak kepada kedua anaknya yang sedang menonton televisi sambil memasukkan cemilan kedalam mulut.
"Iya mama.." Jawab Arles, singkat.
Glesty pun bersiap dan bergegas keluar rumah dan manaiki motor maticnya. Karyawannya mengabarkan bahwa barang yang baru diorder tiga hari yang lalu ternyata sudah tiba ditoko. Jumlahnya yang lumayan banyak membuat Glesty harus turun tangan.
Tanpa Glesty sadari, ada 2 pasang mata yang sedang memperhatikannya dari seberang jalan. "Pa.. benar.. itu dia.."
"Ia sayang.. itu benar - benar dia. Akhirnya kita menemukannya sayang," Kedua orang tua itu merasa legah. Akhirnya, wanita yang sangat digilai oleh putra mereka itu telah mereka temukan, dan berharap Glesty akan memaafkan kesalahan mereka dimasa lalu.
Sampailah Glesty di sebuah ruko yang bertuliskan AL colection.
Awalnya, toko itu bernama the twins, namun karena ketakutan Glesty akan keberadaan orang tua Arland di kota ini, Glesty mempertaruhkan ketenaran The Twins dengan mengubahnya ke nama yang baru, yaitu AL Colection yang diambil dari inisial nama kedua anaknya (Arles dan Lean).
"Apa menantu kita mungkin bekerja ditoko ini ma? Kenapa dia tidak keluar juga?"
"Mungkin saja pah, tapi kita tidak mungkin masuk ke toko itu kan? Dia pasti sangat terkejut jika melihat kita. Mama.... mama belum siap kecewa pa, dia tidak akan dengan mudah menerima kita lagi." keluh mama Arland.
.
.
\=\=\=\=\=
"Lean.. kau menyimpan kartu nama paman kan? pinjamkan padaku. Aku ingin menelfonnya." Pinta Arles, dan Lean mengangguk lalu berlari ke kamar untuk membuka tas sekolahnya mengambil kartu nama yang Arland berikan padanya.
__ADS_1
Arles dengan teliti menekan nomor ponsel Arland yang tertera di kartu nama tersebut.
"Halo, selamat siang." Ucap Arland datar.
"Paman... ini aku Arles."
"Wah, jagoan. Apa kabarmu?"
"Kami sedang merindukanmu paman" ucap Arles sebagai jawaban dari kabar yang ditanyakan Arland kepadanya.
Terdengar Arland tertawa ringan "jadi kau sedang bersama Lean? Apa gadis kecil itu sehat?"
"Iya kami sangat sehat paman."
"Syukurlah jika kalian berdua sehat. Oia, apa mama dan papa kalian ada disitu?
"Mama sedang ke toko paman. Tapi kenapa paman bertanya tentang papa? Apa paman lupa kalau papa kami sedang sakit dan tinggal di tempat yang jauh?" Terdengar nada kesal dari mulut Arles.
Arles memang sangat sensitif jika orang bertanya tentang papanya. Awalnya bocah itu santai saja, tapi karena ulah teman - teman nakalnya yang selalu mengejeknya tentang papa, Arles merasakan sedikit kebencian pada papanya.
"Oh, iya... maaf jagoan, paman mengira papa kamu sudah sembuh dan sudah pulang." Arland mengerti akan kekesalan dari ucapan Arles, dan entah kenapa dia merasa bersalah pada bocah itu.
"Iya, tapi paman jangan bertanya soal papa lagi yah, aku tidak mau menjawab pertanyaan yang jawabannya itu-itu saja." Tegas Arles, membuat Arland diam sejenak. "Apa bocah ini membenci papanya?" Batin Arland.
"Paman, apa paman lupa telah berjanji padaku untuk menemuiku di sekolah sebagai papa? Aku menunggumu setiap hari paman!" Tutur Arles dengan nada sedih.
Arland memijat pelipisnya. "Kenapa aku bisa lupa telah berjanji pada bocah itu? batinnya.
"Arles, maafkan paman. Belakangan ini paman sedikit sibuk. Tapi bersabarlah dulu. Paman akan datang tiga hari lagi" janji Arland.
"Terima kasih paman, aku akan menunggu. Dan juga, aku sudah sangat lelah harus menghindari teman - teman nakalku. Aku tidak sabar ingin pamer kepada mereka bahwa ternyata aku punya papa yang sangat keren." Ucap Arles bersemangat, namun terdengar menyedihkan ditelinga Arland.
.
.
**Bersambung..
*Readers, trima kasih telah membaca.
__ADS_1
Semoga kita semua selalu sehat ya..
Tetap semangat.🤩🤩🤩***