I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Akting Kebablasan? (Season 2)


__ADS_3

Calista merasa gelisah. Pasca mengakhiri telfon secara sepihak, Arles belum menghubunginya kembali. biasanya pria itu tidak pernah lupa untuk menelpon dirinya, seperti orang yang kurang kerjaan.


🍁🍁


Nino mengajak Arles ke restorannya. Ia akan merayakan pertemanan mereka dengan cara mentraktir Arles.


"Kau mengatakan ingin mentraktirku, tapi apa ini? Aku malah berakhir di restoranmu ini. Ini namanya bukan mentraktir Nino, karena kau tidak mengeluarkan biaya." protes Arles.


"Sudahlah.. makan saja jangan banyak protes." Ketus Nino.


"Sekarang kau mulai berani ketus padaku!" Arles kembali mengunyah makanannya.


Drrrt drrrt drrrt


Ponsel Nino yang terletak di atas meja yang mereka tempati tengah berdering.


"Calista? Kenapa dia menghubungimu?" Mata Arles menyelidik.


Nino: πŸ˜ŒπŸ™„πŸ™„ "Tentu saja.. dia sahabatku"


Nino menggeser tanda hijau untuk menjawab telpon dari Calista.


Belum sempat menyapa Calista, ponsel Nino telah berpindah ke tangan Arles.


"Sayang, ini aku." sapa Arles dengan santainya.


"Kamu? Kok kamu yang pegang ponselnya Nino?"


"Trus kamu ngapain menelfon pria lain, padahal sudah punya pacar!" Arles, masih dengan nada tanpa dosa.


"Calis.. aku baik-baik saja.. jangan mengkhawatirkanku!" Celetuk Nino, setengah berteriak.


"Oh, syukurlah Nino.. aku legah mendengarnya! Sayang, kenapa tidak menghububgiku? Aku menunggu.. trus, kalian sedang apa? Jangan membuatku bingung."


"Calis, kamu terang-terangan mengkhawatirkan pria lain! Aku tidak nyaman mendengarnya." Ucap Arles, dengan nada kecewa.


Tuuut tuuut tuuut.


Arles mengakhiri panggilan.


"Hei... kau jangan bersikap seperti itu padanya. Bagaimana kalau dia khawatir?" ucap Nino dengan nada kesal terhadap Arles.


"Biar saja Nino.. aku hanya ingin dia merindukanku. Tapi tentang perhatiannya padamu, aku jelas tidak suka." jujur Arles.


"Iya.. aku akan jaga jarak dengannya lain kali." Nino.


"Oia, jangan lupa, atur kencanku dengan Lean."


"Tunggu! ngomong-ngomong soal Lean, aku jadi teringat sesuatu Nino."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Apakah akhir-akhir ini kalian pernah bertemu?" tanya Arles.


"Ah iya.. terakhir kami berdua membersihkan apartemen yang ditempati Calista."


"Ya? Kalian berdua?"


"Iya... kenapa? Ada yang salah?" Tanya Nino polos.


"Tidak. Hanya ada yang mnegganjal dipikiranku." jawab Arles.


"Sepertinya Nino odalah orang yang dimaksud Lean." batin Arles, yakin.


🍁🍁🍁🍁


Esok paginya, Arles dan keluarganya sedang menikmati sarapan.


"Lean, Arles, tiga hari lagi kita akan ke kota B." Mama Gless pagi-pagi membuat pengumuman.


"Kenapa ma? Oma Opa sudah merindukan kita?" tanya Lean.


"Iya... dan, opa oma kalian akan merayakan pesta aniversary ke 50th. Seluruh keluarga wajib hadir." timpal papa.


"Pa.. ma.. aku mau pergi tapi ngajak Calista juga."


"Ah... itu lebih bagus... sekalian Calista dikenalkan ke opa oma." Sahut mama dan Lean hampir bersamaan.


🍁🍁🍁


"Aku penasaran, gimana reaksi dia saat melihatku hari ini." batin Arles.


Cklek, pintu apartemen terbuka.


Arles sama sekali tak menyangka, jika orang yang akan langsung dilihatnya adalah Calista.


"Arless?" Calista bersama kursi rodanya segera menghampiri Arles.


"Tolong bantu aku berdiri" Calista memohon dengan nada manja.


Arles hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun. Tapi ia tetap membantu Calis berdiri seperti yang dimintanya.


Calista kini sudah berdiri menghadap Arles. Otaknya tengah berpikir, bagaimana caranya agar pacarnya ini tidak ngambek lagi terhadapnya.


"Awwww.." Calista tiba-tiba seperti kesakitan. Beruntung Arles sigap menangkapnya jadi tidak sampai terjatuh.


"Hati-hati.. kalau masih sakit, jangan bertingkah minta berdiri segala." Arles, sengaja terlihat kesal padahal aslinya khawatir.


"Seperti ini saja, biar akut tidak jatoh." Calis memeluk Arles ditambah lagi tingkah manjanya yang sangat terlihat tidak natural, sebab ia pun juga sedang akting, sengaja mencari perhatian Arles.

__ADS_1


Arles tersenyum jahil melihat aksi pura-pura dari pacarnya ini.


"Aku capek Calista, aku mau duduk di sofa empuk itu." Arles sengaja bersikap cuek.


"Ayo, tapi gendong!" masih bernada manja.


"Tidak perlu.. kamu di kursi roda aja. Aku duduk di sofa."


Calista malah semakin mengeratkan pelukannya dan menggeleng kepalanya yang hanya setinggi leher Arles. "Ayolah sayang.... gendong aku..!" rengeknya, seperti anak kecil.


"Ah.. ya sudah kalau kamu memaksa." seolah-olah terpaksa, Arles menggendong Calista dengan hati-hati.


Keduanya kini duduk di sofa.


Arles menyalakan televisi, lalu melipat kedua tangannya di dada. Ia tidak berbicara apapun, hanya fokus ke televisi.


"Ternyata dia benar-benar marah padaku!.. dia terlihat tidak mengkhawatirkanku lagi. Apa perasaannya telah berubah? Yahhh.. mungkin saja dia capek harus peduli sama perempuan cacat sepertiku."


Arles beranjak dari duduknya, meninggalkan Calista sendirian tanpa mengatakan apapun. Calista melihat Arles menghilang di balik pintu keluar.


Calista menangis, karena merasa sedih. Ia mengambil ponselnya dan menelfon mama Dini.


"Halo Calis.. ada apa sayang?"


"Ma... Arles ma..."


"Kenapa Arles sayang?"


"Sepertinya, Arles sudah berubah mama.."


"Calis, kamu apa-apaan sih? Itu mustahil sayang"


"Dia... diamin Calis maaa.. mama pulang yah, ayo kita pindah dari sini, Calis tidak mau tinggal disini lagi kalau yang ngasih tumpangan aja sudah tidak memperdulikan Calis."


"Tenang sayang.. kamu itu sedang sensitif saja. Arles gak mungkin gitu ah."


"Mama gak percaya dia gitu kan? Sama.. aku juga gak percaya mama..!"


"Sudah ah, mama mau lanjut kerja. Kamu tenangkan diri dong sayang. Jangan sedih ya.. jangan nangis-nangis lagi."


Tuut tuut tuut sambungan terputus.


Calista mengusap air matanya. Tiba-tiba, ada tangan lain dari arah belakang Calista dan ikut menyeka air matanya itu.


"Arleeesss?" pangggilnya saat memgetahui orang itu adalah Arles.


"Kamu kenapa?" Arles pura-pura bertanya sedangkan dia sudah tahu dengan sangat jelas alasan Calista menangis.


Calista hanya menggeleng.

__ADS_1


"Gawat, dia malah menggeleng. Kalau sudah begini, bisa panjang ceritanya." batin Arles.


__ADS_2