
Empat pasang kaki melangkah masuk kedalam rumah besar itu.
“uwaaa.. Rumah ini lebih keren dari pada rumah onty Le” Kagum Arles dalam hati.
Lean? Jangan tanya lagi seperti apa reaksi si bocah imut itu.
Setibanya didalam, Arlan merasa ada hal yang kurang. Tidak ada orang lain dirumah ini. Yang dimaksudkan Arland adalah dimana pekerjanya?
Arland menarik ponsel miliknya dari saku celana, dengan kening sedikit mengkerut dan mencari nama seseorang. Ia lalu sedikit menjauh dari anak dan istrinya itu.
“Halo Pak Arland.. Bagaimana? Suka dengan rumahnya?” Anton merasa bangga telah memenuhi keinginan bossnya itu.
“Anton. Apa kau tidak melupakan sesuatu? Dimana para pekerja? Apa kau ingin membuat aku dan istriku kelelahan memasak dan mati muda mengurus rumah sebesar ini?
Anton terkekeh mendengar ocehan Arland.
“tenang saja.. mereka akan datang setiap hari. Bahkan setiap anda bangun pada pagi hari, sarapan telah siap. Aku menjadwalkan mereka untuk bekerja dirumah itu hingga pukul sembilan pagi. Dan semuanya boleh pulang setelah beres."
“Apa? Lalu siapa yang akan menemani anak dan istriku dirumah saat aku bekerja dikantor?”
“Pak Arland.. aku sengaja mengaturnya seperti itu. Agar anda bisa lebih banyak waktu bersama dengan istri yang sangat anda rindukan itu. Bahkan kalian bebas melakukannya di sudut ruangan manapun diseluruh rumah itu, saat anak-anak sedang tidur.” Anton menjelaskan panjang lebar tanpa filter, membuat Arland menelan slavinanya. Entah apa yang ada dipikiran Arland saat ini.
Wah... sepertinya si boss Arland akan benar-benar berterima kasih pada sekertaris Anton atas ide-ide gilanya itu.
“Kau bahkan berpikir sampai kesana Anton? Belum tentu hal itu segera terjadi.” Batin Arland.
“Baiklah.. Tapi kalau semuanya tidak terjadi seperti yang kau katakan, aku akan membuat perhitungan denganmu!”
Tuuut, tuuut,
Arland mematikan sambungan telpon secara sepihak.
“Apa? Kenapa aku lagi yang akan menanggung akibatnya? Dasar Arland gila.” Anton dengan bebasnya mengatai Arland saat sedang sendirian. Lelaki itu bahkan menonjok-nonjok gemas ponselnya sambil menggerutu.
.
“Ayo kita naik, kamar kita ada diatas!” Ajak Arland den menggenggam tangan dua bocah itu.
“Paman, lepaskan tanganku. Aku bisa jalan sendiri.” Ketus Arles yang masih menjaga imagenya.
Arland rasanya ingin protes karena Arles masih bersikap dingin padanya, dan terus saja menyebutnya paman.
__ADS_1
“Tidak, papa akan terus menggenggam tanganmu!” Arland cuek saja menarik bocah itu.
Glesty mengikuti mereka dari belakang.
“Nah... Lean, silahkan buka pintunya. Ini adalah kamar milik tuan putri papa.”
Lean pun membuka pintu kamar itu.
Cklek..
Pintu terbuka....
Bayangkan bagaimana ekspresi gadis imut itu saat ini. “Haaaaaaaaa...” Mulut kecilnya menganga sempurna seiring tarikan napas panjangnya. Ditambah lagi dengan kedua matanya yang berkedip-kedip.
Glesty tak kalah takjub akan apa yang dilihatnya. “Waw.. sempurna” kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.
“Arles... Arles, kesini..” Lean terlihat sedang melompat-lompat kegirangan disamping boneka doraemon yang berukuran big size. Selain itu ada berbagai macam mainan dan boneka lainnya yang tertata rapi memadati hampir setengah dari kamar itu. Lean sangat-samgatlah suka.
Arles? Bocah itu menggaruk keningnya yang tidak gatal, dan menggigit bibir bawahnya. Ia lalu tersenyum kearah Lean untuk turut senang atas kebahagiaan kembarannya itu.
“Ayolah sini Arles, lebih dekat.. Kau harus melihatnya dengan jelas.” Lean mulai memaksa.
“Tidak... dari sini saja sudah terlihat jelas.” Arles sama sekali tidak ingin masuk kekamar itu. Apakah Arles cemburu? Tidak. Bocah tampan itu sangat senang melihat kembarannya bahagia.
“No, mama, apa aku juga harus melompat-lompat dan memeluk boneka-boneka itu seperti Lean?” Sungguh Arles menolak tegas.
Arland tersenyum menggeleng melihat kelucuan putranya itu.
“Sekarang waktunya kita antar Arles ke kamarnya.” Arland kembali menarik tangan bocah tampan itu.
Lean tidak mau ketinggalan. Ia sudah menebak bahwa kamar Arles juga akan berisi banyak mainan. Ia berlari menyusul “papa... tunggu.”
“Nah.. kamarmu disini jagoan, bukalah.”
Saat pintu kamar terbuka, kedua bola mata Lean kebali membulat sempurna. Bagaimana tidak, ada robot transformer menjulang tinggi disana.
“Optimus prime? My hero!” Arles berteriak dan benar-benar berlari untuk bisa menyentuh kesukaannya itu. Belum lagi mainan keren lainnya juga tertata dengan sangat baik diruangan itu.
“Bumble bee.. “ Lean tidak kalah heboh.. “Arles,,, aku suka bumblebee!...” Lean memeluk bee dengan sangat erat.
Arles dan Glesty tak sengaja saling pandang dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
Kali ini, Arles benar-benar harus mengucapkan terima kasih kepada Arland. Bocah itu mendekat dan sedikit tersenyum. “Terima kasih, papa!” ungkapnya, singkat, tanpa menatap mata Arland. Nampaknya bocah itu malu-malu.
Arland mensejajarkan tubuhnya dengan Arles dengancara duduk di sisi tempat tidur Arles yang ada dikamar itu. “Ucapkan dengan benar sekali lagi.” Arland hanya ingin mendengar putranya menyebutnya papa.
“terima kasih,, papa!” Kini Arles melihat kedalam mata orang yang adalah papanya ini.
Arland segera mengulurkan tangannya dan menarik bocah tampan itu kedalam pelukannya.
“Terima kasih juga, jagoan papa!” Arland mengelus punggung Arles.
Lama Arland memeluk putranya itu sehingga sebuah suara menghentikannya.
“Papa... Aku juga ingin dipeluk!
"Kemarilah Princess!" Lean lalu masuk ke pelukan papanya itu dengan senang hati.
"Papa akan selalu memeluk kalian seperti ini, selagi papa masih bernafas.. Maafkan papa selama ini tidak mengenal kalian." Arland memeluk kedua bocah itu dengan sangat erat. "Aku akan mengganti waktuku yang pernah terlewatkan bersama kalian." Batinnya lagi.
Glesty hanya berdiri mematung, memandang ketiga orang yang sedang berpelukan didepannya ini.
Jujur saja, Glesty bingung harus bersikap seperti apa setelah ini. Bertatapan sekilas dengan Arland saja ia merasa sangat canggung.
"Lalu kamarku ada dimana? Apa jangan-jangan kami berdua dikamar yang sama? Astaga, bagaimana ini? Apakah akan baik-baik saja?" Glesti sibuk dengan pikirannya sendiri.
.
Setelah ketiganya saling melepaskan pelukan, Arland meminta anak-anaknya itu untuk beristirahat.
"Sayang, kalian beristirahatlah! Papa dan mama.. mau beristirahat dikamar sebelah." Arland sengaja tersenyum jahil ke arah istrinya.
Glesty? Ia sontak mengerutkan keningnya, ingin protes pada Arland.
.
.
Bersambung ya Gaes.
Tengkyu.
kesempatan ini author mau mengucapkan turut berbelasungkawa / berdukacita kepada keluarga korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air.
__ADS_1
Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap diberi kekuatan dan kesabaran. Amin