
Devan tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf sambil memeluk tubuh Lea, menahannya agar tidak pergi. Lea, tentu saja gadis itu luluh.
Perlahan Lea melepaskan tangan Devan yang melingkar di perutnya, lalu berbalik menghadap pria itu dan memeluknya.
Merasakan permintaan maafnya diterima, Devan mengucapka terima kasih. "Terima kasih sayang!" Dan dibalas anggukan kepala Lea. Suasana haru kembali memenuhi rumah itu. Semua orang merasa senang menyaksikannya.
Beberapa menit kemudian.
"Wah wah wah... Van, kamu sudah sembuh sayang?" Disambut oleh gelak tawa yang lainnya.
Devan -Lea pun saling melepas pelukannya, merasa malu karena ternyata mereka jadi tontonan seluruh keluarga. Keduanya pun kembali menuruni tangga, dan tak lupa dengan kedua tangan yang saling bertaut.
"Apa setiap pasangan kalau menuruni tangga harus saling pegangan tangan yah?" Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulut seorang Angel yang masih jomblo. Lagi-lagi semua orang tertawa.
"Pa, ma, kayaknya virus alaynya kak Arland sudah nular ke kak Devan deh. Liat saja nanti, setelah ini mama akan sakit mata disuguhkan pemandangan ini terus. Candanya lagi.
Plok,
Entah bagaimana bisa, Angel baru sadar jika Arland sudah ada didepannya dan menyentil jidat gadis itu.
"Awwww kaaaak," jerit Angel manja yang dibuat-buat.
"Kau sangat ribut." Ucap Arland.
"Aaaah kakak!" Angel mendekat dan memeluk kakaknya yang hanya satu-satunya itu. "Kak, maaf kakak!" Gadis itu mengungkapkan kata maaf dari hatinya yang sangat tulus.
Arland memahami kenapa adiknya ini meminta maaf. Dia membalas pelukan adiknya itu. "Trima kasih sudah menyadari kesalahanmu. Hmm?" Arland mengelus punggung Angel.
"Sayang.." Mama dan papa juga mendekati kedua anaknya itu. "Bisa mama dan papa bicara dengan kamu nak?" Mohon mama.
Arland melepaskan pelukanya dari Angel, kemudian menghadap pada kedua orangtuanya. "Maaa.. paaa.. sudah lah.. aku sudah tidak marah lagi." Arland memeluk kedua orangtuanya. "Maaf atas sikapku selama ini pa.. maa.."
"Iya sayang, mama dan papa sebagai orang tua juga meminta maaf atas kesalahan kami nak.. mama dan papa benar-benar menyesal."
"Pa... ma.. ayo kita mulai lagi dari awal. Aku harap, mama dan papa benar-benar tulus pada istri dan anak-anakku." Papa dan mama menganggukan kepala dengan senyuman hangat.
"Pa.. ma.. kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Tapi, jika aku tidak panjang umur, tolong jangan pernah membuang mereka bertiga. Anak- anak dan istriku." Arland kembali menangis, memohon pada orangtuanya.
"Tidak sayang, itu tidak akan terjadi lagi sayang," mama mengusap wajah Arland, menghapus airmata putranya itu.
Glesty, Devan dan Lea, tersenyum hangat dan merasa legah, bahwa Arland sudah kembali berdamai dengan kedua orangtuanya.
Hening!
.
"Omaaaaa... Opaaaaa!" Tiba-tiba suara seorang gadis kecil memecah keheningan. Gadis itu ialah Aurel, yang datang bersama Rina, mamanya, tanpa pemberitahuan. Niatnya sih buat surprise. Tapi Rina, wanita itu yang sepertinya yang mendapat surprise.
"Glesty........?" dr. Rina mendekati Glesty yang juga merasa terkejut.
"Dok--dokter?" Glesty nampak sedikit bingung.
"Hei.. kenapa kita bertemu disini? Kenapa kamu ada disini Glesty?" Rina spontan saja memeluk Gleaty sok akrab.
Arlan, mama, papa, dan Angel pun mendekat pada dua wanita itu. "Kalian, saling kenal?" Tanya Arland.
"Iya.. kami sempat beberapa kali bertemu. Saat itu Glesty memeriksakan kandungannya yang berusia 7 bulan, dan... ah iya, waktu itu kami juga bertemu disekolah anak-anak kami." Jelas Rina.
Degh..
__ADS_1
Arland menarik nafasnya berat.
"Oh ya, dimana anak-anakmu? Maaf, karena saat kamu melahirkan, aku sedang cuti." Rina menyayangkan.
Glesty yang masih bingung dengan kemunculan dr. Rina ini, terlihat sedikit mengerutkan alis.
"Tunggu! Kenapa dokter ada disini?" Glesty dengan wajah bingung.
"Saya juga bertanya kenapa kamu ada disini? Hei.. ini sangat kebetulan!"
"Kakak ipar, Glesty adalah istriku!" Arland menyela.
"Haaaaaa?" Rina sangatlah terkejut karena tak menyangka. Wanita itu bahkan menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Tungguu.. jadiiiii? Anak itu? Bocah imut itu, anak kamu Glesty?" Tanyanya tak percaya.
"Lean maksudnya? Iy--iya, dia anak saya dok.!" Jawab Glesty.
"Tunggu dulu.. kalian berdua, jelaskan padaku! Maaf aku mau menanyakan ini, jadi waktu kamu memeriksakan kandunganmu, itu adalah anak-anak Arland? hah? Anak kembar itu ya kan?"
"Iya benar!" Jawab Glesty pelan dan tetap menampilkan senyumannya.
"Oh, ya ampun, dunia ini benar-benar sempit! Aku sangat tidak menyangka! Glesty, saya adalah kak ipar Arland." Rina menjelaskan, padahal jelas-jelas Glesty sudah mendengar Arland memanggilnya kakak ipar.
"Iya, saya juga tidak menyangka hal ini dok!" Timpal Glesty.
Rina terlihat sangat senang akan hal ini. Dia lalu mengucapkan selamat dengan tulus kepada Arland. "Arland, kakak senang kamu menemukan kebahagiaanmu lagi. Selamat yah.
Glesty sekarang tahu bahwa ternyata suaminya memiliki seorang kakak yang telah tiada. Meskipun begitu, dr. Rina sudah seperti kakak kandung bagi Arland dan Angel. Sekarang, keluarga brsar ini benar-benar mulai menata hubungan keluarga yang lebih baik lagi. Tidak ada sakit hati, tidak ada kemarahan, kebencian itu telah tekikis oleh rindu yang menuntun pada kebahagiaan.
Dua minggu kemudian.
Hari ini adalah pernikahan Lea dan Devan. Meskipun dipersiapkan hanya dalam waktu singkat, namun hasilnya adalah waw. Menakjubkan.
"Leon, apa kau tidak bisa memberikan kami selamat dengan cara yang benar? Siapa yang berniat menyakitinya?" Sewot Devan dengan nada bercanda.
Bicara yang sopan denganku. Sekarang anda adalah adik iparku. Ingat, aku ini kakak iparmu bro!" Balas Leon dengan bangga. Keduanya pun berpelukan. "Tolong bahagiakan adikku ya, saya percaya pada anda direktur.!" Lanjut Leon lagi.
Para undangan telah pulang. Tinggallah keluarga besar itu. "Baiklah, pengantin baru, kembalilah ke kamar dan silahkan menikmati waktu istirahat kalian. Kami juga akan pulang." ucap mama dengan delikan mata.
.....
Tinggalah Devan dan Lea dikamar yang telah dipersiapkan untuk malam pertama keduanya itu.
Keduanya merasakan kecanggungan memenuhi kamar ini. "Eemmm, aku akan mandi dulu!" Tanpa menunggu jawaban Lea, Devan sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi itu.
"Ya ampuuunn, bagaimana ini? Aku sangat gugup!" Teriak Lea dalam hati. "Ah.. kenapa harus gugup? Belum tentu hal itu terjadi malam ini kan?" Tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Masih dengan gaun penganti yang menutupi tubuhnya, Lea berlari ke ranjang dan memakai selimut.
Ternyata Devan juga merasakan hal yang sama. "Apa kami akan melakukannya malam ini? Bagaimana cara memulainya?" Ah, aku merasa gugup.... Ah bukankah kami pernah ber**uman sebelumnya? Dimulai dengan itu saja? Apa seperti itu?" Gumam Devan, dengan senyum tampannya.
Klek, suara pintu terbuka, Lea berpura-pura memejamkan matanya. Devan tersenyum memandangi istrinya yang sedang Acting. "Benar-benar tidak jago akting!" Batinnya.
"Hei.. sayang, mandi sana!" Devan mengelus kepala Lea.
Lea membuka matanya perlahan, seolah baru bangun.
"Mandi sana!" Devan.
"Emmmmmm aku kedinginan." Lea.
"Kalau begitu, sini dekat aku biar hangat." Goda Devan.
__ADS_1
"Hah??... baiklah aku akan mandi." Lea berlari ke kamar mandi.
Devan menggelengkan kepalanya melihat Lea yang ketakutan. "Jadi dia takut? Ataukah dia malu? Baiklah.. biarkan dia mandi dulu."
Setelah 30 menit, Lea keluar dari kamar mandi. "Semoga dia sudah tidur." Batinnya.
Ternyata benar, Devan sedang terlelap sempurna. Pelan-pelan Lea naik ke atas ranjang berharap tidak mengganggu tidur Devan.
Saat membaringkan tubuhnya, Devan menggeser tubuhnya dan memeluk Lea. "Jadi dia belum tidur?"
Lea kini berada dalam dekapan Devan. Pria itu hanya menutup mata. Lea memandangi wajah pria itu dengan debaran jantungnya yang bersorak tak terkira. Dengan pelan Devan membuka matanya "Kenapa? Apa aku setampan itu?" Devan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang tengah menatapnya itu.
CUP.
Devan memulai aksinya. Lea hanya mematung dan masih menatap wajah pria yang memeluknya itu.
CUP.
Kali ini Devan tidak hanya mengecup. Pria itu sedikit *******. Semakin lama, semakin lama, semakin lama *******, akhirnya ada respon dari bibir milik Lea. Tentu saja, mana bisa Lea menolak.
"Ayo sayang, kita mulai kegiatan baru ini." Bisik Devan dengan nada seraknya.
Lea mengangguk. Membuat Devan tersenyum lebar. Devan juga tak kalah gugup. Pria itu bahkan merasakan debaran jantungnya sendiri. bagaimanapun juga, ini pertama kali baginya.
Saat Devan hendak masuk, tiba-tiba Lea sedikit menjerit. "Sayang, kenapa rasanya sedikit sakit?"
"Hah? Sakit? Maaf sayang. Ini bahkan belum berhasil, kenapa kamu bilang sakit?" Devan menjauhkan tubuhnya dari Lea, dan mencari ponselnya. Keduanya kini tengah mensearching tentang malam pertama. Akhirnya mereka menemukan jawabannya. "Jadi, memang seperti itu? Baiklah.. aku akan pelan-pelan sayang,"
Skip.ππππ
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
12 Tahun kemudian.
ARLES... ARLES.. ARLESS..
Ada begitu banyak mahasiswi/i yang tengah menyoraki seorang pria tampan yang baru saja keluar dari mobilnya yang terparkir di area parkir kampus terkenal itu.
Seorang gadis cantik tengah berdiri menghadap Arles dengan senyuman yang menggoda. Gadis itu bernama Karina. Dia sangat tergila-gila pada Arles, dan semua orang tahu akan hal itu.
Kali ini, nama Arles dan Karin bergantian terdengar. Persisnya, Arles dab Karin kini dikelikingi oleh banyak mahasiswa/i yang berdiri melingkar keduanya. Harapan mereka sih, dua insan ini bakal jadian.
Diantara kerumunan, seorang gadis cantik lainnya, memegang erat selembar foto yang didalamnya pose seorang bocah tampan berusia 6 tahun. "Apakah ini kamu?" Batin gadis itu.
Arles, dengan gaya coolnya, terlihat santai dan biasa saja. Semasa hidupnya, pria tampan ini sering mengalami hal serupa. Dirinya tahu bahwa wanita didepannya ini pasti akan mengatakan cinta.
Gadis yang semula ada diantara kerumunan banyak orang itu, pun melangkah ke arah Arles. Sontak saja dirinya ikut menjadi pusat perhatian.
Mata Arles pun, tertuju padanya. Saat menatap mata gadis yang satu ini, Arles merasakan debaran jantungnya. Perasaan ini berbeda saat menatap mata gadis lain. Arles menelan kasar, karena tenggorokannya merasa kering seketika.
Kini tidak terdengar lagi sorakan nama Arles dan Karin. Semua orang terdiam, ingin menyaksikan gadis yang satu ini mau ngapain?
................
...TAMAT...
...Lanjut Seson 2 gaesππ...
.........
__ADS_1