I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Hanya Sampah (Seson 2)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Calista sudah tiba di rumah sakit. Seblum ia melakukan pekerjaannya, Calis menyempatkan diri mungunjungi papa.


Setibanya Calis di ruang papa Yanto, kebetulan mama juga hendak keluar dari ruangan itu. "Sayang? Kamu datang?"


"Iya ma, gimana papa?" Tanya Calis.


"Seperti yang kamu lihat." Mama tersenyum.


"Calis, mama akan pulang sayang."


"Iya maa.. mama hati-hati.."


Sebelum benar-benar pergi, mama menatap sejenak putrinya itu. "Calis, kamu gak apa-apa nak?" mama Dini hanya ingin memastikan kondisi hati putrinya.


Calis tersenyum simpul "Calis baik-baik aja ma.. seperti yang mama lihat." Jawabnya santai.


Mama Dini melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit. Pikirannya selalu saja melayang pada putri kesayangannya. Hatinya bertanya-tanya kenapa putrinya itu menngis tadi malam? Apakah ada hubungannya dengan mantan pacarnya itu? "Ya Tuhan! Apa putriku akan baik-baik saja?"


Brug.....


"A..." tidak sengaja mama Dini menubruk seseorang karena sedang melamun.


Orang itu memang terkejut, tapi dia berusaha tetap terlihat biasa saja. "Maaf, anda baik-baik saja bu?" Tanya orang tersebut.


Mama Dini sedikit terperanjat saat melihat pemuda dihadapannya ini. Seorang pria yang sangat tampan dan terlihat cukup ramah.


"Maaf nak, saya tidak hati-hati." Ucap Dini.


"Tidak apa-apa bu," jawab pria itu lalu tersenyum.



Yaaaaay sapa ni? ingat wajahnya gaes?😆


"Ya ampun.. anak muda ini, sudah tampan, ramah pula." Puji mama dalam hati.


"Ibu tidak apa-apa? Sepertinya ibu kurang sehat? Tanya pria itu lagi.


"E.... saya mau pulang nak." Jawab Dini.


"Sini biar saya yang bawakan barang-barang ibu!" Ucap pria itu, lalu mengambil tas bawaan mama Dini.


Kini Pria itu juga memanggil taxi untuk mengantar pulang wanita yang baru dilihatnya untuk pertama kalinya ini.


"Maaf nak, saya jadi merepotkan kamu. Saya jadi tidak enak!" Ucap mama Dini, sopan.


"Anak ini sangat sopan dan rendah hati. Orang tuanya sangat baik mendidiknya. Ah.. Semoga putraku Dion juga bisa sebaik anak ini." Batin mama Dini.

__ADS_1


"Nak! Siapa namamu?" Tanya mama Dini.


"Emmmm panggil saja aku pak dokter. Itu lebih gampang di ingat. Saya dokter baru disini" Jawab pria itu tersenyum.


"Oh, jadi kamu seorang dokter? Wah kamu hebat." Mama Dini menyentuh lengan pria itu. "Kalau begitu, kita pasti akan sering bertemu." Karena saya sering kemari." Sambung mama Dini.


"Iya bu, mari kita bertemu lagi dilain waktu." Tukas pria itu, ramah.


Keduanya pun berpisah.


Arles kembali memasuki rumah sakit itu. Ya, seperti yang sudah di duga, pria tampan itu ialah Arles.


Andai saja mama Dini tahu bahwa pria tampan itu adalah Arles mantan pacar yang telah mencampakkan putrinya, yakinlah, wanita yang usianya hampir setengah abad itu tidak akan pernah memuji Arles seperti tadi.


*****


Keesokan harinya.


Calista telah menyelesaikan pekerjaannya pagi ini, yakni membagikan jatah sarapan untuk para pasien. "Sekarang waktunya aku bersiap untuk pekerjaanku selanjutnya. Dia masuk ke ruangan papa untuk mengganti pakaiannya.


Setelah sekedar berpamitan pada papa, Calista pun keluar dari ruangan itu.


Namanya rumah sakit, pasti banyak orang yang berlalu lalang disana. Calista tidak hentinya tersenyum bahkan sekadar say hai kepada siapapun. Bukan karena ingin menjadi pusat perhatian, tapi begitulah Calista.


Hari ini, Calista memakai baju berwarna merah, membuatnya terlihat lebih fresh dan percaya diri.


Calista mengambil ponselnya dan membuka aplikasi gojek disana. Dan kini, dia pun menunggu sang babang yang telah terhubung dengannya.



Deggh....


"Dia lagi...? Kenapa dia harus memarkirkan mobilnya didekatku? Apa dia sengaja?" Batin Calista.



"Sumpah, parkiran rumah sakit ini sangat luas. Lalu kenapa wanita ini harus berdiri di sekitar tempat parkir mobilku?" Batin Arles.


Melihat Calista didepan matanya, mengingatkan Arles tentang bagaimana sikap Calista yang selalu tebar pesona pada semua lelaki, terlebih senyum calista kepada para lelaki saat membuka tutup botol dan menuangkan minuman untuk laki-laki yang haus akan wanita di club malam waktu itu.


Ingatan itu selalu berlarian dikepala Arles, membuatnya semakin membenci Calista Nara, yang ternyata adalah wanita yang menjijikkan.


Arles mendekati Calista. Calista sangat yakin, dari balik kacamatanya itu, Arles pasti sedang menatapnya.


"Apa yang kau lakukan disini hah? Kau sengaja berdiri didekat parkiran mobilku?"


Meskipun merasa gugup dan kesannya dituduh seolah sengaja, Calista berusaha bersikap santai. "Maaf, bukankah disana dan disitu masih ada tempat parkir? Kenapa anda malah parkir disini? Sepertinya anda yang sengaja."

__ADS_1


Arles merasa geram, kenapa seorang Calista berani melawannya.


Arles semakin mendekat. Lalu, mengangkat dagu Calis menggunakan pulpen yang ada ditangannya. Seolah takut jika bersentuhan langsung dengan kulit gadis itu. "Kau, asal kau tau, tempat kaki kotormu berpijak saat ini, adalah area parkir khusus mobilku." tegasnya.


Calis, tidak bisa menjawab. Dia masih bingung harus berkata apa.


"Apa mungkin kau sengaja menggodaku? Apa kau pikir, aku masih tergila-gila padamu? Maaf.. bagiku, wanita sepertimu, hanyalah kotoran yang pantas dibuang ketempat sampah. Aku, tidak menyukai... BARANG BEKAS." Arles menghina Calista.


"Jadi, sehina itukah aku ini dimatanya?" Calista menangis dalam hati.


"Uppps.." Arles sengaja menarik kasar pulpen itu dari dagu milik Calista.


"Kau lihat pulpen ini? Pulpen ini adalah benda kesayanganku. Kau juga pasti tahu berapa harga benda ini. Tapi, sekalipun begitu, ujung pulpen ini sudah bersentuhan dengan kulit kotormu. Jadi, aku juga harus membuangnya."


Dengan wajah yang masih menatap hina Calista, Arles melemparkan pulpen mahalnya itu kedalam tong sampah. Benar-benar tepat masuk ke tong sampah.


Kedua tangan Calista mengepal sempurna. Dia membalas tatapan menghina itu dengan wajah datarnya. Namun, persekian detik berikutnya Calista membentuk senyum seringai di salah satu sudut bibirnya.


"Ya... aku tidak melupakan bahwa kau... sudah pernah membuangku sebelumnya.... dan TERIMA KASIH BANYAK, kau orang pertama yang mengenalkan aku dengan yang namanya rasa KE..CE..WA"


Kaliamat panjang dari bibir Calis itu berhasil membungkam mulut Arles.


"Dan seperti katamu, aku ini layaknya kotoran. Kau benar. Aku bahkan lebih hina dari pada sekedar sampah. Tapi, meskipun aku hidup dalam keadaan seperti itu, aku sangat BAHAGIA.. Aku,, sangat MEN..NIK..MATI,,, hidupku. PERMISI."


Calista pergi dari hadapan Arles, setelah mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan.


******


Drrrrt drrrt drrrrt


"Halo," jawab Calista.


"Hei Nara!! Besok sore, ketemu aku sama mama yah.. Kita bertiga mau makan bareng. Sekalian, aku pengen kenalin kamu sama seseorang."


.


.


.


Bersambung.


Gaes... tengkyu sudah baca ya.


Jangan lupa, jika berkenan ayo baca novel aku yg lainnya:


Judul: PERNIKAHAN JANDA DUDA

__ADS_1


Ada juga chat srory aku:


Judul: First Love and my Son


__ADS_2