I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Glesty - Dini (Season 2)


__ADS_3

"Lean, pagi ini temani mama ya sayang!" Glesty.


"Sayang! Aku sudah lebih dulu mengajaknya. Kami ada meeting yang sangat penting dikantor." Arland.


Lean menatap kedua orangtuanya itu bergantian. "Pa... ma.. bisakah kalian berdua tidak memperebutkan aku? Anak kalian bukan cuma Lean kan?" Gadis itu seraya melirik kembaran yang duduk disampingnya itu.


Sadar dengan apa yang dikatakan Lean, Arles berhenti mengunyah sarapannya dan menoleh kearah Lean. "Kunyuk kecil, menurutlah pada mereka. Jangan melibatkan aku! Hmmm..?" Arles tersenyum serta menaikkan kedua alisnya.


"Les.. kamu tu ya, harusnya bantu papa aja. Jangan kerjanya cuma main-main dirumah sakit." Protes Lean.


Ktpok..


Arles menyentil jidat Lean.


"Berani kamu bilang aku cuma main-main?" Arles memperlihatkan kedua tangannya. "Kamu tau, dua tanganku ini sudah sekian kali menyelamatkan nyawa orang lain, di meja operasi sekalipun! Harusnya kamu bangga sama aku. Dasar kunyuk."


Glesty dan Arland hanya terkekeh kecil melihat tingkah dua bocah yang telah dewasa itu.


"Ehm..." Kenapa jadi kalian berdua yang berdebat?" Arland.


"Ya sudah. Mama pergi sendiri saja." Glesty.


"Memangnya mama mau kemana?" Arles dan Lean bertanya secara bersamaan.


"Mama cuma mau berkunjung ke rumah sakit tempat anak mama bekerja."


"Ha? Mama mau ngunjungin Arles?" Pria muda itu tersenyum.


"Iya sayang. Mama pengen tau aja seperti apa tempat kerja kamu. Ruang kerjamu. Setelah itu mama ada pertemuan dengan teman-teman arisan mama."


"Ma... mama jangan lupa ya janjian kita nanti sore!" Celetuk Lean.


"Iya iya sayang. Mama tidak akan lupa. Mama juga kangen quality time sama kalian berdua."


"Kalian berdua? Sama aku juga maksudnya?" Tanya Arles.


"Iya dong sayang kamu juga harus ikut. Iya kan Lean?" Glesty dan Lean saling bermain mata.


Arles merasa aneh melihat gelagat mama dan Lean. "perasaanku jadi tidak enak." Batinnya.


******


Dalam perjalanan.


Setelah berkunjung ketempat kerja Arles, putranya,


dengan diantar oleh supir pribadinya, Glesty saat ini menuju ke tempat pertemuan dengan teman-teman arisannya. Saat turun dari mobilnya, Glesty melihat seorang wanita sebayanya, yang sedang berjalan kaki. "Sepertinya aku pernah melihat orang ini? Dimana ya?"


"Haaaaaaaaaaaa!" Glesty menahan napasnya. Kedua matanya pun ikut membulat sempurna. Ia menghampiri wanita itu.


Wanita itu tampak sesikit bingung karena Glesty tiba-tiba berdiri dihadapannya seperti sedang menghadangnya. "Siapa ini? Apa dia mengenaliku?"


"Ehmm. Hai! Mamanya Calista kan?" Tanya Glesty.


Wanita itu sedikit mengerutkan alisnya, mungkin sedang berpikir dan bertanya dalam hati. "Siapa ini?"


"Masih mengenal saya? Ini Saya mamanya Arles!" Glesty tersenyum bersahabat. Sedangkan Dini, mamanya Calista terlihat kaget.


"Iya.. ini saya.. pasti ingat kan?" Glesty.


Ya iyalah, tidak mungkin Dini melupakan ibu dari pria yang telah mengecewakan putri tercintanya itu.


"Oh... bu Glesty!" Dini tersenyum canggung.


Glestypun menarik tangan Dini dan membawanya masuk kedalam mobil untuk mengobrol. Terutama tentang Arles dan Calist. Karena yang Glesty tau, Arles sangat penasaran dengan Calista.

__ADS_1


"Maaf bu Glesty, saya rasa saya harus segera pulang." Dini.


"Tunggulah dulu. Sebentar saja. Ada yang ingin aku tanyakan dan beritahu." Glesty sedikit memohon.


Dini tidak punya pilihan selain mendengarkan. "Baiklah, akan ku dengar apa yang yang ingin dia katakan." Batin Dini.


"Emmm.. dimana putrimu berada saat ini? Maksudku adalah Calista." Glesty bertanya dengan tatapan senang. Karena akhirnya ia akan menemukan cinta pertama putranya itu.


"Emmm putri saya? Dia baik-baik saja. Dia bekerja saat ini." Dini.


"Seperti apa wajahnya? Saya sangat penasaran. Oia, putraku tumbuh dengan sangat baik. Dia sangat tampan seperti ayahnya." Jelas Gleaty.


"Oh syukurlah.." Ucap Dini.


"Emmm bagaimana kalau kita atur rencana untuk mempertemukan mereka? Apa kamu ingat? Dulu putraku memberi fotonya pada Calista. Sepertinya putraku sangat menyukai Calista." Glesty dengan semangat menceritakan ingatan masalalunya ketika Arles selalu menyebut-nyebut Calista. Ingin mencari Calista. Saat SMA dulu pernah nekad bolak-balik ke kota B untuk mencari Calista.


"Apa putrimu tidak penasaran dengan Arles? Apa dia tidak mengingat permintaan konyol Arles untuk mencarinya ketika sudah dewasa?" Glesty bertanya sembari tertawa.


Dini mendengarkan perkataan Glesty dengan perasaan ngilu. "Benar sekali. Putriku datang mencari putra konyolmu itu. Tapi apa sekarang? Putramu dengan tega menyakiti Calistaku." Dini sangat ingin mengatakan hal itu pada Glesty.


"Emmm saya rasa mereka tidaklah cocok! Karenaaa.. Calista tidak terihat cantik. Putri saya itu juga tidak berpendidikan tinggi. Dia hanya gadis yang bekerja dan bekerja untuk memenuhi biaya hidup" ucap Dini dengan nada bergetar. Airmatanya pun keluar begitu saja.


Glesty yang melihat raut kesedihan dari wajah Dini pun, memeluk wanita itu dengan hangat. "Sabarlah.. memang seperti itulah hidup. Tidak ada salahnya jika dia hanya gadis yang seperti itu." Glesty bermaksud menghibur Dini.


"Arles, ternyata Calista kecilmu dulu menjalani hidup yang keras sayang." Batin Glesty. Ia yakin akan hal itu karena melihat mama nya Calista menceritakan anaknya dengan tangis kesedihan.


"Saya akan membuat Arles bertemu lagi dengannya. Putraku itu pasti sangat senang." Glesty benar-benar merasa tidak sabar akan hal itu.


"Sepertinya wanita ini tidak tahu apa-apa tentang kisah anaknya dengan putriku. Ah, biarlah. Aku tidak perlu menjelaskan apapun." Batin Dini.


"Emmm bu Glesty. Mungkin saja anak-anak kita sudah memiliki hidupnya masing-masing. Anakku sudah tidak pernah menyebut nama Arles lagi. Itu hanyalah kesenangan masa kecil mereka. Saya yakin, mereka sudah tidak saling mengingat lagi." Ucap Dini.


"Iya sih, kamu mungkin benar. Karena putraku juga sudah tidak pernah menyebutkan nama Calista lagi. Tapi aku ingin melihat, seperti apa reaksinya kalau bertemu lagi dengannya. Aku juga ingin bertemu putrimu itu lagi" Glesty kembali tersenyum.


"Oh ya, aku akan masuk ke Cafe itu menemui teman-temanku. Dan ini kartu namaku. Tolong hubungi aku."


"Tidak perlu turun. Supirku akan mengantarmu pulang. Sudah, jangan menolak. Sebaiknya kita berdua berteman mulai sekarang." Glesty keluar dari mobilnya dan meminta supirnya mengantarkan Dini ke alamatnya.


********


Sore harinya.


Calista sedang bersiap dari tempat kerjanya untuk bertemu dengan sahabatnya di tempat biasa. Karena kebetulan Shiftnya berakhir, jadi Calis berangkat langsung dari tempat kerjanya.


Drrrt drrrt drrrt..


"Halo.. iya.. aku sudah dijalan. Sebentar lagi tiba.


Tuuut tuut tuuut.


Calista mengakhiri panggilan. Dia yakin, sahabat cerewetnya itu pasti sedang mengumpatnya.


"Terima kasih mas." ucap Calis kepada babang gojek yang mengantarnya.


Saat ini, Calis telah tiba persis di seberang Cafe terkenal itu.



Namun, baru 5 kali melangkahkan kaki, Calista auto mematung ditempatnya ketika kehadiran Arles disana dilihat oleh Calista saat ia menolehkan kepalanya ke sembarang arah. Calista benar-benar tidak bisa melanjutkan langkahnya, seolah langkahnya sudah terpaku disana. Bukan karena terpesona. Tetapi, dia tidak - ingin berada ditempat yang sama dengan Arles.



Tak sengaja, mata Arles bertemu dengan tatapan mata Calista. Untuk seketika, Arles juga terpaku. Tidak menyangka akan bertemu Calista, bahkan ditempat ini sekali pun.


Tin tin tiiiiiiiin...

__ADS_1


Bunyi klakson menyadarkan Arles maupun Calista dari fokusnya mata keduanya saling menatap.


"Calistaaaaaa awaaas!"


Arles berteriak tanpa sadar dan spontan berlari sekencangnya ke arah gadis itu, yang dengan bodohnya mematung ditengah jalan!


Sebuah mobil Cargo melintas dengan kencangnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak calista.


deg deg. deg deg. deg deg.


Sunyi.


Hening.


.


Saat ini Calista...... masih memejamkan kedua matanya ia tidak berani melihat ke sekelilingnya. Ia berpikir apakah sekarang dia sudah dialam lain?...


Arles merasa legah bahwa dirinya berhasil menyelamatkan seseorang dari maut. Namun, situasi apa ini? Kenapa Arles memeluk tubuh Calista?


Calis memberanikan diri membuka matanya karena ia seperti mendengar detak jantung seseorang.


"Tidak.. ini seperti aku sedang berada dalam pelukan seaeorang. " Batin Calis.


Calista merasa sangat gugup dan takut. Saat kedua matanya itu terbuka pandangan matanya langsung berhadapan dengan bola mata Arles.


"Aaaaarles?" Panggilnya lirih.


Arles menatap mata Calista dengan tatapan yang tak bisa dibaca.


"Arles, kamu menyelamatkan aku? Kenapa aku merasa Arles yang dulu telah kembali? Apa aku benar? Perasaanmu ke aku masih sama?" Batin Calista menangis.


Calista tidak mengerti kenapa Arles tidak juga melepas pelukannya? Pria itu hanya menatap Mata Calis. Maka, Calista dengan bebas menebak-nebak perasaan Arles padanya. Ia memberanikan diri untuk membalas pelukan itu.


"Lepaskan pelukanmu! Apa yang kau pikirkan? Kau tidak merasa malu memelukku? Jangan membuatku semakin merasa jijik dan mendorongmu dengan kasar." Tegas Arles dengan nada datar. Ternyata Arles sudah tidak memeluk Calis lagi.


Degh....


Dengan spontan Calista melepaskan tangannya dari tubuh pria itu.


"Maaf.. maaf.. maaf.." Calista hanya menundukkan kepalanya. Cuma kata itu yang mampu keluar dari mulutnya saat ini. Kali ini, Calista tidak mampu membalas perkataan Arles. Pengen nangis? Iya. Malu? iya.


Tidak ada pilihan lain. Calista harus segera pergi dari sana. Dia pun berbalik arah.


Drrrrrt drrrrt drrrrt.


"Halo" jawab Calista.


"Naraaa... kamu dimana? Kenapa lama sekali?"


"Maaf Lean, aku tidak jadi kesana. Aku merasa kurang sehat. Lain kali yah..."


tuut tuuut tuut.


Wah.. gaes ternyata Calista janjian dengan seseorang bernama Lean.? Apakah Lean itu sama dengan kembaran Arles?


.


.


Bersambung!


Wah wah wah.. cie.. yang tebakannya hampir bener. 😆.

__ADS_1


Btw.. kok Calis Sama Lean bisa saling kenal sih?


kita sambung besok yab gaes😊


__ADS_2