I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ciumanku yang Pertama


__ADS_3

Saat ini, Glesty terlihat sangat gelisah. Ia berusaha menenangkan hati dan perasaannya dengan berbagai cara. "Ada apa denganku? apa mungkin ini masih efek dari keterkejutanku yang kemarin? batinnya.


Glesty benar - benar tidak menyangka, bahwa ia akan melihat lelaki itu lagi. Jangankan untuk melihatnya lagi, memikirkan dia saja Glesty tidak mau.


\=\=\=\=\=\=


"Pammaan" Arles sedikit berlari menghampiri Arland yang berdiri tak jauh darinya. Arlandpun mensejajarkan tingginya dengan bocah itu. Tampak aura bahagia pula pada wajah Arland, ia tersenyum lembut ke arah boca itu. Arles yang merasa bahwa Arland juga merindukannya, ia memeluk lelaki dewasa itu dengan erat.


Mama Arland? Wanita setengah baya itu hanya menegang melihat pemandangan didepannya. Begitu banyak pertanyaan yang ada dikepalanya saat ini.


Lama mereka berpelukan melepas kerinduan karena bertemu lagi secara kebetulan. Jujur saja, ia sangat merindukan bocah ini dan adik imutnya. Rasanya seperti kedua bocah itu adalah miliknya.


"Maaa," suara Arland mengagetkan sang mama. Karena terpesona oleh Arland dan bocah itu, sampai - sampai ia tidak menyadari jika dirinya sudah mematung sangat lama.


Arland mengambil satu tangan Arles dan berdiri, berjalan mendekati mamanya. Arland menyelidik tatapan mamanya. "Espresi apa ini ma,? Apa mama harus sebegitu terkejutnya melihatku dekat dengan bocah ini? Tanya Arland, dan melirik Arles disampingnya.


"Arles, wanita ini adalah mamanya paman," Arland memperkenalkan mamanya kepada Arles.


"Halo nyonya. Nama saya Arles," sapanya sopan dan tak lupa pula menundukkan badan seperti memberi hormat.

__ADS_1


"Wah, manis sekali kamu sayang, sangat sopan pada orang tua," puji mama Arland, yang telah mengembalikan ekspresi wajahnya agar terlihat lebih santai. "Aku harus tau kedekatan macam apa yang ada diantara kedua lelaki ini." batinnya.


\=\=\=\=\=\=


Lea telah menyelesaikan pemotretan hari ini. "Mbak Alin, direktu baru saja menghubungi saya, meminta mbak Alin segera ke ruangannya untuk makan siang." kata Ima, asisten Alin. "Oke Im, aku akan menemuinya." jawab Alin.


Tiba di depan ruang direktur. Sekertaris Devan yang memang sudah tahu akan kunjungan kekasih direkturnya ini, dengan sigap membukakakan pintu dan mempersilahkan Alin masuk. Alin pun mengucapkan "terima kasih" sambil tersenyum. Pintu kembali tertutup.


Devan yang menyadari kehadiran kekasinya, segera berdiri dari kursi empuknya dan berjalan kearah Alin, tanpa aba - aba langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Kenapa dia?" batin Lea. Perlakukan Devan yang tiba - tiba membuat Alin bingung, ada apa dengan prua ini.


Lea? Jangan ditanya lagi, tentu saja jantungnya berdetak tak karuan saat ini. "Ta,,ta..pi, kita bahkan masih di deoan pintu. Bagaimana jika ada yang masuk dan melihat kita seperti ini? bisik Lea Pelan.


Devan memutar tubuh mereka, masih dalam kondisi memeluk tubuh indah gadis itu. "Jalan mundur" perintahnya pelan. "Tidak bisa, nanti aku jatuh" jawab Alin, pelan, terdengar sangat manja di telinga Devan. "Aku akan menahanmu" sambung Devan lagi, menatap dalam wajah Alin.. "Ya ampuuun, ganteng sekali wajah ini,," batin Alin.


Menyadari tatapan Alin yang terlihat seperti menginginkan dirinya, Devan kembali berbisik "kamu ada dua pilihan sayang, naikkan kedua telapak kakimu ke atas kakiku atau aku akan menggendongmu. hmm?" Devan kembali menatap lekat kedua mata indah milik Alin.


Dengan pelan dan tanpa paksaan, Alin menginjak sepatu Devan dengan kedua kakinya yang mengenakan heels 7cm, membuat seringai senyum bada bibir Devan. "Maaf sayang, kali ini aku tidak akan menahannya" batin Devan. "Apa kamu takut terjatuh? ucapnya serak, dan diangguki pelan oleh kepala Alin. Devan kembali tersenyum "maka peluk tubuhku dengan benar" bisiknya serak.

__ADS_1


Tanpa sadar, Alin mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan. Wajah mereka kini hampir sejajar. "benar sayang, tanganmu sudah benar seperti ini" Devan kembali mengeluarkan suara serak khas miliknya.


"ayo, aku akan membawamu menuju sofa disebelah sana ucapnya lagi, dan Alin hanya mengangguk pelan dengan matanya yang masih menatap lekat lelaki itu.


Wajah keduanya sangat dekat, dan saling membalas tatapan. Devan memulai langkahnya perlahan. Situasi ini sangat menyenangkan bagi keduanya, meskipun mereka tidak saling mengakuinya. Yang mereka rasakan adalah mereka masing - masing menyukai situasi ini.


Sambil melangkah dengan hati - hati, Devan yang merasa tidak ada penolakan dari Alin, memberanikan diri bertanya "sayang, apa aku boleh melakukannya?" ucapnya pelan.


Waduuuuh, memangnya apa yang harus Lea lakukan? tidak mungkin dia tega menolak pesona lelaki ini.


Lea menampilkan senyuman terindahnya. Iapun mengangguk perlahan. "Biarlah, ciuman pertamaku, kuberikan untukmu," batinnya tulus. "Bagus" batin Devan. Hidung mereka yang tidak pesek itu kini saling bersentuhan. Yang artinya, dengan sekali gerakan Devan akan mendapatkan bibir seksi itu.


Devan kali ini tidak ingin membuang waktu.


*KISS* benar saja, bibir mereka sudah saling bersentuhan. Awalnnya tubuh Alin menampakkan ekspresi terkejut, namun perlahan ia juga membalas sentuhan bibir Devan. Jantung keduanya juga berdebar ditempatnya masing - masing.


Baru dengan bersentuhan bibir saja, sudah memabukkan keduanya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Gaes,, maaf yah, upnya telat. soalnya ketiduran gaes. 😃 . Trima kasih atas dukungan kalian atas karya ini. Sarangheo🥰


__ADS_2