
Arles kembali menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit tempatnya bekerja.
"Jadi... kehadiranku tenyata sangat mengganggunya? Waaaaaaaaah.... Tuhan kuatkan aku! Aku merasa sudah seperti kotoran yang tidak diinginkan!" gumam Arles, seraya memegang bagian dadanya yang terasa sesak.
"Sabar Arlesss... sabar!" batinnya.
ππππ
Dikamar Glesty dan Arland.
Hari ini, Glesty dan suaminya itu sedang ingin bersantai. Hari sudah menjelang siang, namun keduanya tidak juga bersiap untuk melaksanakan rutinitasnya seperti biasa.
Berbeda dengan Arland, hari ini Glesty tidak ingin kemana-mana karena dirinya ingin fokus mengurus keluarga, terutama putranya yang sedang patah hati itu. Glesty berencana untuk menyiapkan sendiri steak, makanan kesukaan putranya itu, bahkan, nanti malam Glesty ingin mengajak putranya itu nonton bioskop bersama.
Sedangkan Arland, pria itu hanya ingin sesekali bermain dirumah, menikmati quality time bersama istrinya. Ia bahkan dengan teganya menyerahkan kepercayaan kepada Lean untuk mengurus semua urusan kantor hari ini.
"Sayang.. mau kemana?" tanya Arland saat Glesty beranjak dari tempat tidur.
"Aku ingin membuat steak kesukaan putraku sayang."
"Nanti dulu.. aku sedang ingin berduaan denganmu." Arland menarik tubuh Glesty dan memeluknya.
"Bukankah sepanjang malam tadi sudah seperti ini?"
"Tapi itu dalam keadaan tidur. Berbeda." Ucap Arland, setengah berbisik ditelinga istrinya.
"Hmmm.. baiklah, terserah mu sayang"
Mendengar kata terserah, Arland benar-benar melancarkan serangannya. Ia mulai memberi sentuhan-sentuhan lembut nan menggelitik pada bagian-bagian sensitive tubuh istrinya itu.
"Ayo mandi bersama, kita lanjutkan di bathroom saja!" bisik Arland, dan Glesty pun mengangguk.
Udah ah, skip. Tar kita dimarahin mimin, (author).
ππππππ
Saat ini, Glesty dan Arles sedang berada di bioskop, menikmati tayangan film bergenre romantis. Entah kenapa, Arles merasa sangat gelisah. Dia merasa sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi.
"Sayang? Kamu kenapa? Kok mukanya gak enak gitu? Baper ya sama jalan cerita filmnya? Kamu sedang membayangkan bersama Calista seperti di film itu?" Glesty malah sempat-sempatnya menggodai anaknya ini.
"Ma.. aku jadi merindukan Calis.. bagaimana kalau kita ketempatnya saja, dari pada berada disini!."
"Sayang... please, tahu malu sedikit dong nak. Kamu itu sedang tidak disukai. Mama malu pada mamanya Calis kalau kamu datang terus kesana sementara jelas Calista sangat tidak menginginkan kehadiran kamu.. yah? Lagian ini tuh film kesukaan mama."
Mama benar-benar ga bisa diajak kerja-sama. "Tapi mama bilang, aku ga boleh patah semangat buat ngejar dia? Apa ini? mama kok ga konsisten?"
"Iya.. tapi kasih jeda dikit dong sayang!! Mau taro dimana muka mama? Sekarang, Mama itu berteman dengan mamanya. Mama ga mau gara-gara sikap pemaksaan kamu, mamanya Calista jadi illfeel juga ke mama. Udah.. jangan ganggu mama mau nonton."
"Ma... coba liat orang-orang disekeliling kita. Mana ada pria muda yang nonton bareng emaknya? Lagian mama kenapa ga ngajak papa aja sih kalau mau nonton film ginian? Tar aku dikira lagi romantisan sama tante-tante lagi."
"Terserah kamu deh Arl.. yang penting mama happy." sahut Glesty, cuek.
Arles hanya bisa mendengus kesal atas perkataan mamaπ.
Pikiran Arles hanya tertuju pada Calista. Kemudian, dia mengambil ponselnya dan menelpon Lean.
"Halo.." jawab Lean diseberang.
"Kunyuk kecil, tolong berikan nomor ponselnya Calista padaku."
"Untuk apa?"
"Jangan banyak tanya."
"Hmmmm. baiklah!"
Arles kini memiliki nomor ponsel Calista.
πππππ
Dirumah Calista.
"Maaa.. perasaan Calis kok gak tenang ya! Apa mama sehat?" Calista menyentuh pipi mama.
"Mama sehat sayang.. mungkin kamu yang tidak sehat nak.."
Aku sehat kok ma.. tp jantung aku rasanya deg-degan ma.. tiba-tiba ada rasa takut."
"Sayang.. berdoa dulu sana, biar tenang hatinya."
"Iya ma..."
drrrrt drrrrt drrrrrrrrt
"Siapa itu?"
"Nomor baru ma. Haloo"
"Calis.. ini aku. Kamu baik-baik saja?" Ternyata Arles yang menghubungi.
"Aku sangat baik-baik aja."
tuut tuut tuut, Calista mengakhiri telpon secara sepihak.
__ADS_1
"Heh.. pantas perasaan Calis ga enak ma, ternyata gara-gara dia."
"Arles lagi?" tanya mama.
"hmmm" menjawab dengan deheman.
π
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu sedikit kasar.
Siapa malam-malam begini menggedor rumah orang dengan cara tidak sopan begini? Calis membuka pintu.
Degh...
"Abang?"
Ternyata tamu tak disangka-sangka ini adalah 3 orang pria bertubuh kekar yang biasa disebut dengan depkolektor.
"Bagaimana Calis? Kau sudah siap?"
"Hah? Si--siap apa bang?"
"Calista? Siapa mereka?" tanya Dini.
"Hai nyonya.. kami datang menjemput anakmu. Karena sesuai perjanjian, jika dia tidak bisa membayar kembali hutang-hutangnya pada boss kami, maka hidupnyalah yang akan menjadi bayarannya.
"Bang... jangan gila. Mana ada kita sepakat seperti itu? Selama ini aku selalu membayar kembali pinjamanku kan bang, cuma sekarang terlambat saja." Protes Calis.
"Tapi boss kami sudah tidak sabar Calis. Dan sepertinya, dia menginginkanmu." ucap mereka, terang-terangan di depan Dini.
Waaah! Calista benar-benar tercengang mendengarnya. Pasalnya, dirinya sudah berlangganan meminjam uang pada rentenir itu, masa iya, tega sama dirinya?
"Bang... boss kamu itu sudah sangat mengenal saya. Dia tidak mungkin bermain-main dengan saya.."
"Ikut kami sekarang. Memohonlah yang benar pada boss. Atau.. kau dengan ibumu ini--"
"Oke-oke.. aku akan datang menemuinya. Tapi bagaimana jika besok saja? Ini sudah malam!"
"Tidak bisa Calis. Harus malam ini juga!"
"Oke, saya ganti baju dulu!"
"Eit.. sini ponselmu. Biar kami yang pegang."
Calista nenyerahkan ponselnya lalu masuk ke kamar dengan perasaan gugup, diikuti mama.
"Caliss.. mama tidak tahu ternyata kamu selama ini meminjam uang pada rentenir? Kenapa harus rentenir nak?" Mama terlihat sangat sedih.
Calista berbisik ditelinga mama: "Maaa.. dengar aku.. aku akan baik-baik saja. Tapi, aku minta ke mama, setelah mereka membawaku pergi, mama kemasin beberapa pakaian mama dan pergi dari sini. Aku juga berjanji akan melarikan diri dari mereka jika aku merasa terancam. Mama ngerti?"
"Tidak sayang.. mama harus ikut denganmu!"
"Jangan ma.... mama lihat tadi? mereka seperti sedang mengancam kita. Aku tidak mau mama kenapa-kenapa. Tolong ya ma.. pergilah numpang dulu di rumah Nino. Calis akan kesana cari mama. yah?" Mama mengangguk.
"Calisss.. kenapa lama sekali? Cepatlah!" Seru ketiga abang sangar itu, membuat Calis merasa semakin takut.
Calista lalu mengenakan pakaian yang menurutnya nyaman dan tepat untuk memudahkan dirinya melarikan diri kalau saja benar dirinya akan terancam.
"Ya Tuhan.. Aku mohon, jaga mama. Sembunyikan mamaku dari orang jahat." Calista lebih khawatir akan mamanya.
Tidak butuh waktu lama, Calista tiba di rumah yang sudah sangat tidak asing baginya ini, yaitu rumah sang rentenir.
"Bagaimana ini? Kenapa kau memperlihatkan wajah sedih? Sampai kapan kau membuat aku menunggu kau membayarku?"
"Bang.. itu.. papa aku baru saja meninggal bang dan uangku belum terkumpul. Maaf bang!" Calis menunduk lemas.
"Santailah Calista.. kau tidak perlu sesedih itu. Kau hanya perlu membayarku. Kalau kau menurut, malam ini juga akan ku anggap lunas hutang-hutangmu Calista."
"Bang.. aku akan membayarmu dengan uang! Aku berjanji bang.!"
"Tidak bisa Calis! Bagaimanapun juga, kau sudah menyetujui kesepakatannya. Itu sifatnya tetap, tidak bisa diganggu gugat.!" Abang rentenir itu meletakkan surat perjanjian yang telah Calista tandatangani, dan tertulis jelas disana bahwa jika selama 3 bulan menunggak maka Calista bersedia membayar dengan tubuhnya.
"Lari... Calista.. lari!" Suara itu tersengar sangat jelas di telingan Calis.
"Bang, aku mohon.. pengertian sedikit saja.!" Calis masih berusaha meluluhkan hati si rentenir.
"Tidak."
Lalu Calista dibawa masuk secara paksa ke salah satu Kamar dan ternyata ada seorang pria tua disana.
"Siapa lagi ini" batin Calis, terkejut.
Pria tua itu menatap Calista dari atas sampai bawah. Sangat jelas sekali dia menginginkan Calista.
"Ow... nona.. ternyata dia pandai membayar hutangnya padaku dengan yang sepadan." ucap pria tua itu, lalu mendekati Calis.
Tidak akan ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak seorangpun tahu, betapa takutnya Calista saat ini.
__ADS_1
"Tu--tuan.. tolong jangan sentuh saya! Tolong!" Calista memohon.
"Nona.. kau sudah dijual padaku.. aku sudah membelimu dengan harga yang mahal. Tenang saja.. puaskan aku dan aku tidak akan membuangmu. Kau akan jadi milikku selamanya nona." dengan senyum lapar.
Merinding.. Calista benar-benar merinding.
Pria tua itu menyentuh lengan Calista. Calis hanya menggeleng. Seumur-umur, baru diperhadapkan dengan orang yang seperti ini.
"Tuhan... aku mau pergi dari sini. Aku takut dengan orang ini. Tolong aku!"
Calista memundurkan langkahnya. Pria tua itu, mengikuti pergerakan Calista.
Tiba-tiba Calis mendorong kuat tubuh pria tua itu hingga terbentur ke dinding. Dilihatnya ada minuman keras diatas nakas. Calista tidak tinggal diam ia lalu mengambil botol itu dan menyiram minuman ke wajah pria mesum itu.
Pria itu berteriak minta tolong, tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Calista segera keluar dari situ dengan cara melompat dari jendela kamar tersebut yang terbilang cukup tinggi.
Calista mungkin tidaklah seberani itu jika situasinya normal. Karena desakan hatinya untuk melarikan diri, dia memberanikan diri untuk melompat, berlari sekuat tenaga.
"Hei... Calista.. mau lari kemana kau? Berhenti.. kau tidak akan lolos dari kami." Pria sangar tadi berlari untuk mendapatkan Calista. Enak saja jika sampai perempuan itu berhasil kabur.
Calista berlari sekencang yang ia bisa, tanpa alas kaki pula. Jangan ditanya kemana alas kakinya. Calista juga tidak tahu, apalagi authorπ€£
Para pria kekar itu tidak patah semangat. Mereka bisa melihat dengan jelas Calista yang berlari di depan mereka.
Kini Calis sudah tiba di jalan raya, tapi pria pria itu tetap mengejarnya. Heran, tidak ada orang lain bersimpatik melihat ini sehingga mereka cuek saja melihat seorang wanita sedang berlari ketakutan, tetapi tidak menolong. Padahal, ada saja manusia berlalu lalang meskipun tidak banyak, mengingat ini sudah hampir tengah malam.
Berharap ada seseorang yang menjadi pahlawan disaat seperti ini? "Hah.. mimpi.. itu hanya ada di dunia halu calis.. ingat, ini kenyataan hidupmu yang menyedihkan!"
"Mobilll! iya, aku perlu minta tolong pada pemilik mobil itu." Calista memasuki mobil yang tengah terparkir dipinggir jalan.
"Ma ma maaaf...kan saya,, to--tolong bawa saya pergi dari sini!" Dengan napas ngos-ngosan, suara bergetar, Calis meminta tolong, tanpa melihat siapa pemilik mobil tersebut, karena dirinya sibuk melihat kearah pria sangar yang mengejarnya.
"Calista? Naraaaa?"
Ternyata, mereka adalah Arles dan mama Gles yang tampak terkejut melihat Calista.
"Aaaiiis!" hanya itu yang terdengar dari mulut Calis. Dalam situasi ini, Calista ternyata tidak melupakan sakit hatinya pada Arles. Ia pun dengan cepat membuka kembali pintu mobil lalu kembali berlari.
"Hei... tunggu! Jangan lari!" Mata Arles auto melotot menyadari Calista sedang dikejar oleh 3 orang pria. Dengan gerak cepat Arles keluar dari mobil untuk menghentikan 3 pria sangar itu.
Tin tin tiiiiiiiiiiiin.
"Aaaaaaaaaaaaa!" Teriak Calista saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
"Calis awaaaasssss"
BRUAAAAAAKKKK
Arles melihat dengan mata kepalanya sendiri, Calista terpelanting dengan jarak cukup jauh.
Deg deg.. deg deg... deg deg..
"Calissss?" batin Arles
Arles berlari ke arah Calista.
"No...nooo... noo... Ca..ca.. calis... bangun...!"
Glesty pun turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.
"Haaaaaaaaaaa? Nara?"
"Maaaa... Calis maa..."
"Arlesss.. jangan menangis.. periksa dia dan segera ambil tindakan." Perintah Glesty pada putranya yang seperti sedang kehilangan dirinya sendiri. Arles hanya memeluk tubuh berdarah gadis yang dicintainya itu.
"Calis... ayo.. ayo ke rumah sakit ya..!" Arles akhirnya mengendong tubuh gadis itu, tanpa berani memeriksa nadi atau bagian vital lainnya. Arles tidak mau memastikan apapun. Dia benar-benar tidak siap. Arles cukup melihat bahwa Calista mengalami pendarahan hebat. Kepala dan mulutnya mengeluarkan darah yang sangat banyak dan tidak sadarkan diri.
π
Tiba di Rumah Sakit. Ini adalah rumah sakit terbaik di kota J, dimana Arles seharusnya mengabdi. Akan tetapi, pria itu keukeh mengabdi pada rumah sakit milik pemerintah setempat.
Kenapa Calista dibawa ke rumah sakit ini adalah karena Glesty. Karena dia yang mengemudikan mobil, maka dia bebas membawa Calis ke rumah sakit mana saja yang dia mau, yang menurutnya terbaik dan orangtua suaminyalah yang memiliki saham terbesar dirumah sakit ini.
Bukannya meragukan rumah sakit lain, tapi yaaaahh begitulah. Terserah mama Gles.
Dokter yang menanganinya pun semua dokter senior dengan pengalaman hebat, bukan dokter muda seperti Arles. Itu semua juga permintaan Glesty. Sebab, dilihat dari kondisinya, sangat kecil kemungkinan gadis itu akan selamat.
Calista yang bersimbah darah itu kini siap memasuki ruang operasi. Tangan Arles tidak pernah lepas menggenggam tangannya.
Arles mengecup kepala Calista "Semangat ya di dalam. Aku menunggumu keluar dalam keadaan hidup!" Lalu ia melepaskan tangan Calista.
"Dok.. tolong sembuhkan dia!" pesan Arles kepada dokter, dengan wajah memohon.
Glesty mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya, juga menghubungi Dini, mama dari Calista.
.
.
Bersambung.
GAES... trima kasih banyak untuk semua suport kalian. π€©π€©π€©π€©π€©π₯°
__ADS_1