
Glesty menggenggam erat tangan putrinya. "Ayo sayang" ajaknya pada bocah imut itu.
"Tunggu" Arland menahan pergelangan tangan Glesty.
"Kenapa kau menghukumnya?.. Hukuman yang bagaimana yang kau maksud?" Arland melepaskan tangan Glesty. Arland tidak habis pikir, kenapa Glesty tega menghukum putranya sampai - sampai anak itu hampir saja kehilangan sebagian tangannya. Lelaki itu mengusap kasar wajahnya sendiri, ia terlihat sangat geram.
"Apa kau tau akibat hukumanmu itu? Heah? Anak itu,,, Arles, dia hampir saja..."
Belum sempat Arland menyelesaikan kalimatnya, Tim medis tiba didepan ruangan itu membawa Arles yang masih belum sadarkan diri. Kedua orang tua Arland juga ada disana.
"Lihatlah anakmu itu!" Ujar Arland, menunjuk jarinya kearah Arles yang tengah tertidur diatas brankas pasien, lengkap dengan alat medis yang melekat padanya. Glesty mengikuti arah tangan Arland, dan betapa terkejutnya wanita itu melihat sosok anak kecil yang sangat dikenalinya tengah terbaring tak sadarkan diri.
"Arles?" Glesty spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aliran darahnya terasa berhenti. Bagaimana mungkin ia saat ini melihat tubuh putranya sedang dalam kondisi ini! Glesty hanya bisa mematung. Ia tak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan melemah.
"Silahkan bawa dia masuk!" Perintah Arland.
Arles pun dibawa masuk melewati ibunya yang sedang tidak berdaya untuk bergerak. "Arles? Kenapa kamu nak?" Teriak Glesty didalam hati.
Arland sengaja membiarkan Glesty menikmati keterkejutannya. Biarkan wanita itu menyesali perbuatannya. Pikir Arland.
"Mama...." Lean menangis karena mamanya jatuh terduduk dilantai.
Arland yang sedikit terkejut, langsung mendekat ke arah Glesty..
"Lean.. Arles kenapa Lean? Apa karena mama menghukumnya?" Glesty menangis didepan putrinya itu.
"Berdirilah..! Jangan duduk disini...!" Arland mengulurkan tangannya ingin membantu. Segeram apapun ia terhadap wanita ini, tapi Arland tetap tidak tega melihat Glesty terduduk lemah dilantai dingin.
Dokter menghampiri mereka. "Untuk saat ini, biarkan pasien beristirahat. Tidak perlu khawatir." Dokter dan timnya pergi setelah menjelaskan beberapa hal.
Glesty memberanikan dirinya untuk menatap wajah Arland yang berada tepat disampingnya. Glesty bermaksud agar Arland menjelaskan apa yang terjadi pada Arles. Namun, Arland tidak mengerti akan tatapan Glesty. Lelaki itu hanya memasang wajah datarnya.
"Sayang, kamu nungguin Arles dulu yah." pinta Glesty pada Lean. Glesty juga menyadari kehadiran kedua orang tua Arland, namun ia sudah tidak merasa heran akan hal itu.
"Aku akan menemui dokter. Titip Lean ya.." ujar Glesty pada Arland, yang hanya di jawab "hmmm" oleh lelaki itu..
.
.
Selepas kepergian Glesty, Lean menghampiri oma opa itu. Oma, opa, kenapa Arles belum bangun? Mama kan sudah bangun!"
Kedua paruh baya itu tersenyum ke arah Lean. "Arles membutuhkan waktu istirahat yang lebih lama sayang."
__ADS_1
Lean hanya memanyunkan bibirnya, kurang bersemangat.
.
.
Glesty bertemu dengan dokter yang telah menangani Arles.
"Dok. Apa yang sebenarnya terjadi pada putra saya dok?"
"Putra anda dibawa kesini oleh pak Arland dalam keadaan tidak sadarkan diri. Putra Anda mengalami retak dan hampir patah dibagian pergelangan tangannya." Glesty terlihat syok mendengarnya.
"Bagaimana mungkin Arles mematahkan tangannya jika dia hanya berdiam di kamar? Batin Glesty.
Lalu dokter menjelaskan bahwa tangan Arles tersebut hampir saja membusuk. Terlambat sedikit saja, anak itu terpaksa kehilangan satu telapak tangannya.
"Berterima kasihlah pada pak Arland, karena beliau yang membantu sangat banyak. Mulai dari membawanya ke rumah sakit ini, mendonorkan darah nya bahkan menanggung semua biaya." Dokter itu tersenyum ke arah Glesty.
.
.
.
"*Dia bahkan sudah tau golongan darahnya sama dengan Arles? Sedangkan aku berbeda?
"Itukah yang membuatnya yakin bahwa Arles adalah anaknya?
"Aku sudah berusaha menjauhinya. Tapi kenapa dia malah semakin dekat?
"Sebenarnya apa yang diinginkan takdir untuk kami?
"Dia juga membayar biaya operasi, bukan 7 juta tapi 70 juta? belum lagi biaya rawat sampai beberapa hari diruangan itu. Berapa lagi yang harus dibayar? Dan aku pun semakin banyak hutang padanya*! "
Glesty merasa frustasi memikirkan semua itu.
.
.
.
Glesty tiba di depan pintu ruang VIP dimana Arles berada. Sebelum masuk, ia menarik nafasnya.
__ADS_1
Saat membuka pintu, ia melihat Arland hanya seorang diri disana. Lelaki itu berdiri dengan gaya coolnya memasukkan tangannya ke dalam saku celana, menatap bocah laki-laki itu.
Menyadari kehadiran seseorang, Arland memutar tubuhnya, dan ternyata itu Glesty. Wanita itu menatap wajah Arlan dan melangkah pelan ke arah laki-laki itu.
Arland tidak tau apa yang terjadi dengan Glesty, wajahnya tampak habis menangis dan masih terlihat sisa-sisa kesedihan disana. Glesty melangkah semakin dekat, semakin dekat, dekat dan kini mereka saling bertatapan. Arland menaikkan salah satu alisnya sebagai respon untuk tatapan wanita itu.
"Maaf.. jika aku bersikap lancang Arland." Lirihnya serak.
Dan
Hugh--- Glesty dengan memeluk tubuh Arland. Detik demi detik, pelukan wanita itu semakin erat. Arland hanya mematung, tanpa membalas pelukan Glesty.
"Kenapa dia memelukku? Apa dokter yang ia temui tadi memintanya melakukan ini?" Batin Arland konyol.
Beberapa menit berlalu, Glesty masih memeluk Arland dan menangis dalam diam. Tidak ada isak tangis, yang ada hanya airmata yang terus saja lolos, diiringi dengan getaran nafas beratnya.
"Terima kasih Arland, aku tahu semua ini tidak bisa kubayar hanya dengan kata terima kasih. Tapi,, aku sangat berterima kasih atas segalanya.
Arland menarik dan membuang nafasnya yang terasa sangat berat. "Jadi, dia seperti ini karena berterima kasih padaku? Maaf Glesty, kau tidak cukup hanya dengan berterima kasih. Yang ku inginkan adalah kau membayarnya dengan sisa hidupmu untuk terus ada disisiku!" Bisik Arland, yang sayangnya hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Arland mulai menggerakkan kedua tangannya. Ia bermaksud untuk membalas pelukan hangat itu. Namun, tiba-tiba dari arah pintu muncul seseorang yang tak lain ialah Anton. Lelaki itu terperanga melihat bossnya yang tengah dipeluk seseorang.
Mengetahui Glesty tidak sadar akan kehadiran orang lain, Arland melayangkan tatapan tajam kepada Anton dan mengangkat satu tangannya memberi kode STOP! JANGAN MASUK!
Tentu saja Anton gelagapan, lalu mengangkat bungkusan kotak makanan yang ada ditangannya. Dan dengan sigap ia meletakkan bawaannya tersebut, dan balik kanan keluar dari ruangan itu.
Tiba dibalik pintu, Anton mengusap-usap dadanya, dan membuang serta menarik nafasnya.
"Anton? Ada apa? Kenapa kau terlihat gugup? Habis melihat hantu? Atau.. hal aneh?" Lagi - lagi Anton harus terkejut karena nyonya besarnya ini mendadak muncul dan menyerang Anton dengan beberapa pertanyaan dalam sekali tarikan napas.
"Em.. anu.. nyonya.. itu.. aku.. Pak Arland di dalam." Anton tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Wanita paru baya itu memicingkan matanya.
"Ha hi hu he ho, kamu tu kalau bicara yang jelas." Tanpa permisi, ia membuka pintu ruangan itu lalu masuk, meninggalkan Anton yang hanya bisa mengangakan mulutnya lalu tanpa sadar menepuk jidatnya sendiri. "Mati aku. Pak Arland akan memarahiku membiarkan nyonya mengganggunya. Huf.." Anton merasa sangat sial hari ini.
.
.
Gaes.. bersambung dulu yah..
Hayo.. Kira-kira pemandangan apa yah yang dilihat si mamanya Arland? 😆😆😆
Terima kasih🥰
__ADS_1
Salam hangat dari Author, buat kalian semua..