I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Hadiah Dari Oma (Season 2)


__ADS_3

Hai hai hai..


Kita lanjut yakπŸ₯°


Masih di kediaman Oma Opa di Kota B.


"Arleeess.. bisakah tidak menggangguku? Aku sangat mengantuk." Lean berakting, seolah tidurnya diganggu oleh Arles.


"Kunyuk, aku tahu kau tidak sedang tidur. Ayo ikut aku. Kau sudah janji akan menemani Calistaku malam ini kan?"


"Maaf, aku berubah pikiran." jawab Lean singkat.


"Kenapa? Karena Nino? Kau ingin berkencan dengan Nino melalui ponselmu itu kan?"


"Ah... sok tahu!"


"Jadi benar kau tidak mau tidur bersama dengan Calis? Baiklah. Aku yang akan menemaninya. Tapi aku tidak yakin sahabatmu itu bisa tidur nyenyak disampingku." tutur Arles, membuat Lean merinding.


"Arles... tunggu. Iya, aku akan menemaninya. Mana boleh kau yang menemaninya, kalian bukan pasangan sah." Lean menyusul langkah Arles menuju kamar Arles yang ditempati Calista. Arles tertawa dalam hati melihat reaksi Lean, yang hendak melindungi sahabatnya itu.


"Iya.. kau sangat pintar adikku," Arles merangkul bahu Lean dan mengelus kepalanya.


"Arles, jangan merangkulku. Kau.. lenganmu sangat berat."


"Diamlah, aku sudah lama tidak melakukan ini padamu. Kalau aku dan Calis sudah menikah, kau tidak akan mendapat rangkulan gratis dari pria tampan sepertiku lagi."


😏"Kau sangat PD. Pacarku juga tampan."


πŸ™„"Itu karena kau baru jatuh cinta. Nino itu biasa saja. Aku jauh lebih tampan"


"Diamlah, atau aku tidak akan menemani calon istrimu itu."


"Oma... jika karena keadaanku yang sekarang, keluarga disini tidak bisa menerimaku, mintalah baik-baik kepada Arles. Aku yakin, dia akan mendengarkan keluarganya Oma.."


"Suara Calis?" Lean dan Arles saling menatap.


Langkah mereka terhenti, karena mendengarkan perkataan Calista yang yang berasal dari ruang lekuarga. Keduanya segera menghampiri perkumpulan para orangtua itu, dan benar saja, Calista berada disana.


"Sayang, kamu disini?" Suara lembut Arles menggema, mengejutkan semua orang. Ia menghampiri Calista.


Untuk sejenak, Calista terdiam. Ia sibuk menetralkan perasaannya.


"Kenapa menatapku? Apa ada masalah?" tanya Arles dengan nada santai. Semua mata tertuju padanya dengan air muka yang terlihat aneh.


Sedangkan Oma, dia masih berada tepat di depan Calista dengan tangan keduanya saling bertautan.


"Apa terjadi suasana romantis antara Oma dengan pacarku? Kenapa berpegang tangan begitu?"


Caliata tersenyum menanggapi Arles dan menengadahkan wajah melihat Arles yang berdiri di sampingnya. Dia tidak ingin pacarnya ini mengetahui apa yang terjadi barusan.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Kenapa tidak menunggu dikamar saja?"


"Ah... iya.. aku hanya ingin ngobrol dengan keluargamu saja. Hehe"


"Ah.. begitu.. jadi, apa semua orang baik padamu?"


"Tentu saja baik Arles." Calista tersenyum lagi.


"Oh.. syukurlah. Kalau begitu, kembalilah ke kamar bersama Lean. Lean, bawa Calista ke kamar!" Perintah Arles dengan santainya. sementara dirinya sendiri mengambil posisi duduk di sana.


"Boy, kamu belum mengantuk?" tanya Arland.


"Tadinya iya pah, tapi sekarang tidak lagi." Jawaban Arles membuat keluarga besarnya saling pandang.


Kini mata Arles tertuju pada Opa dan Oma yang sangat disayanginya itu.


Hening beberapa saat.


"Ah... apa kalian semua belum mengantuk? Ini sudah waktunya beristirahat.!" Opa membuka suara memecah keheningan.


Opa, Oma, apa kalian keberatan akan hubunganku dengan Calista?"

__ADS_1


Semua orang kembali menegang.


Terlihat senyum simpul dari sudut bibir Arland dan Glesty. Keduanya sudah yakin, Arles pasti sudah tahu apa yang terjadi barusan.


"Arles, Opamu tidak salah. Oma saja yang bersalah disini. Oma.. minta maaf sayang. Oma janji tidak akan mengulanginya. Maafkan Oma yang bodoh ini sayang!" Oma menghampiri cucunya itu.


Arles terlihat menarik napasnya panjang sebelum mengatakan sesuatu. Ia berusaha bersikap tenang karen Oma terlebih dulu telah meminta maaf.


"Oma.. kalian semua tidak akan mengerti bagaimana rasanya saat aku berjauhan dari dia. Aku sangat tersiksa Oma. Aku hampir gila karena dia terus menolakku Oma... aku,,, pernah menyakiti dia dan aku juga yang mengemis minta dia menerimaku lagi... jika Oma minta dia meninggalkan aku, dia tidak akan segan melakukannya Oma, berbeda denganku. Kalau aku bersedia saat diminta meninggalkan dia, maka itu artinya aku sedang menggali lubang kuburku sendiri. Apa Oma mengerti sekarang?? Aku segila itu menginginkan dia Oma." Arles menatap oma dengan tatapan yang tenang.


"Cukup sayang, oma mengerti... Oma minta maaf Arles, Oma, tidak akan mengulanginya sayang," Oma menyentuh jemari Arles, memohon maaf telah melukai cucunya itu.


"Ya sudah Oma, istirahatlah. Ini sudah tengah malam." Arles pun pergi dari sana.


πŸ’


Tok tok tok.


Arles mengetuk pintu kamar untuk menemui Calista..


Ceklek. Lean membuka pintu.


"Ada apa? Belum apa-apa sudah meridukan Calista?"


"Apa dia masih bangun?"


Lean menggeser tubuhnya sebagai jawaban silahkan masuk, Calista masih bangun.


Arles langsung saja masuk menghampiri Calista yang kini tersenyum melihatnya.


"Sayang" Arles memeluk tubuh Calis yang kebetulan sedang duduk di atas ranjang.


"Hei.. kenapa ini?" bisik Calista.


"Aku merindukanmu sayang."


πŸ™„πŸ˜"Arles, kau keterlaluan." gumam Lean lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan bersembunyi di dalam selimut, malas melihat kemesraan kembarannya itu.


"Sayang..... tadi oma menyinggung perasaan kamu yah.. maafkan aku karena tadi tidak disampingmu ya sayang.." Arles masih memeluk Calista.


"Jadi tadi dia mendengar?"


"Iya sayang, aku tak apa."


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Keesokan harinya. Arland dan keluarganya akan kembali ke kota J. Opa dan Oma memang kerap kali datang ke kota J, tapi keduanya lebih sering menghabiskan waktu di kota B.


Di ruang keluarga. Keluarga besar itu sedang berkumpul sebelum berpencar ketempatnya masing-masing.


Oma menghampiri Calista dan Arles. Masih dengan raut wajah sedih karena perasaan bersalahnya.


"O..ma," sapa Calis dengan sikap canggungnya.


"Calista, maafkan Oma ya sayang" ucap Oma, tulus.


"Aku sudah bilang tidak apa Oma.." jawab Calis, tersenyum lembut.


Arles terlihat menyunggingkan senyum kecilnya melihat ketulusan Oma.


"Terima kasih ya sayang, kamu adalah gadis yang baik, Oma percaya, kamu akan bahagia dengan cucu Oma. Jangan pernah merasa tidak pantas untuk dia ya sayang."


Calista hanya mengangguk.


"Oh.. ini, ini oma mau kasi kamu sesuatu sayang," Oma melepaskan sebuah gelang dari tangannya dan hendak mengenakannya di pergelangan tangan Calis.


"Oma, Oma, jangan Oma.." Calista spontan menarik tangannya. "tidak perlu sampai seperti ini Oma.... aku tidak marah atau apapun terhadap Oma. Tolong Oma jangan berlebihan ya.."


"Sayang, tapi Oma ingin memberi ini sebagai tanda bahwa Oma menerima kamu untuk cucu Oma." mohon si Oma.


"Tidak perlu Oma, aku tahu Oma menerimaku. Itu sudah sangat cukup. Tidak perlu memberikan barang berharga padaku. Itu berlebihan." tolak Calista.

__ADS_1


"Sayang, kalau kamu menolak ini, kamu akan menyesal. Arles itu sama seperti Papa Arland. Lihat mama Gles itu... dia tidak mengenakan perhiasan karena suaminya tidak romantis."


Perkatakan Oma sontak menimbulkan gelak tawa dari semua orang, termasuk Arles.


"Ma.. kenapa aku juga dibawa-bawa? Istriku yang tidak menginginkan benda-benda seperti koleksi mama itu. Bukan karena aku tidak mau membelikannya." protes Arland, membuat suasana di ruangan itu kembali riuh.


"Sudah-sudah, Oma, sini berikan padaku saja!" Lean menadahkan tangannya kearah Oma, dengan memasang wajah imutnya.


"Lean, cucuku, kau memang mirip dengan Oma, sangat menyukai barang seperti ini. Tapi maaf, singkirkan tanganmu sayang. Ini untuk gadis spesial kesayangan cucu Oma. Iya kan Arles?" Oma tersenyum ke arah Arles.


"Terserah Oma saja" jawab Arles.


"Ini sayang, Oma pakaikan ke tangan kamu," Oma sudah rada memaksa Calista.


Calista mengedarkan pandangannya. Sepertinya gadis itu ingin melihat bagaimana ekspresi wajah seluruh keluarga ini yang sudah pasti sedang melihat ke arahnya gara-gara Oma. Dan syukurnya, raut wajah mereka terlihat berseri. Terakhir, ia melihat ke arah Arles, dengan wajah canggungnya.


Terlihat Arles menganggukkan kepalanya dan tersenyum, yang berarti "Iya.. terima saja sayang"


"Ya ampun, aku merasa terhina... bahkan gelang ini terlihat lebih tinggi harganya daripada hidupku." batin Calista.


"Nah.. Calista.. ini sangat cocok denganmu. Sayang, maafkan aku, hadiah pemberianmu bulan lalu aku serahkan kepada calon cucu kita ini." ucap Oma kepada Opa.


"Tidak apa.. yang penting hatimu senang.. dengan begitu kau akan tetap sehat." canda Opa kepada istrinya itu.


"Sejak kapan kau tahu aku sakit-sakitan?!" balas Oma, yang lagi-lagi menimbulkan gelak tawa semua orang.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Tiga hari kemudian.


Pernikahan Bagas, sahabat Arles. Benar saja, Arles datang dengan Calista.


"Hai.. Cant-- ups..." Frand langsung sadar dan membekap mulut lancangnya yang hampir saja menyebutkan kata Cantik kepada Calista.


"Csss.. kau ini.. sebut namanya dengan benar." ketus Arles kepada Fran.


"Hehe.. hai Calista.."


"Hai Fran.. kau sehat?" Calista berbasa-basi.


"Sayang, hangan berlebihan.. kamu terdengar mengkhawatirkannya. Kesehatan pacarmu ini saja tidak pernah ditanya." Arles memperingati.


"Yeee.. wajar saja dia menanyakan kabar kesehatanku. Kau seorang dokter jadi sudah pasti selalu sehat." Fran menyela.


πŸ™„"Kalian berdua sangat ribut. Kita kesini untuk berpesta bukan mau adu mulut. Sayang, aku hanya basa-basi menanyakan kabarnya. Kau jangan asal protes" seru Calista.


"Ehm.. tapi.. kapan kau akan sembuh Calis? Kita belum menjalankan rencana yang sempat tertunda." Lagi-lagi Fran nekad bertingkah di depan Arles.


"Maaf Fran, sepertinya itu akan susah. Arles pasti tidak mengizinkan."


"Eh.. Eko Franata. Aku saja yang akan membantumu mendapatkan dia lagi. Jangan menyibukkan pacarku."


"πŸ™„Aku tidak percaya padamu."


"Kau meragukanku? Aku sudah mengalaminya. Kau lihat sekarang, aku sudah mendapatkannya kembali." Melirik Calista.


πŸ’


Kediaman Arland.


"Apa? Nino, jadi kamu adalah .... anak yang dulu kecelakaan di tangga sekolah karena... berkelahi dengan Arles?" Mama Gles merasa syok mendengar ini.


"*Bagaimana mungkin aku membiarkan Lean berhubungan dengan a**nak ini? Dia adalah putra dari wanita ganas dengan perkataan yang sangat kasar."


.


.


BERSAMBUNG.........


guys.. 10* Chapter lagi cerita ini bakalan tamat. Jadi Author mesti persiapin akhir yang sempurna untuk kalian.🀭(Ah.. semoga saja seperti itu)

__ADS_1


Mohon maaf atas keterlambatan Upnya yah. Ada banyak sekali tugas yg minta diutamain. πŸ₯° nyiksa banget rasanya kangen sama kalian.πŸ₯°


__ADS_2