
Malam ini, Pukul 20.00 waktu setempat.
Keluarga itu dikejutkan dengan teriakan Lean.
"Mamaaaaa... Papaaaaaaa! Keluarga itu bahkan telah hampir menyelesaikan makan malam.
Glesty-Arland spontan berdiri dari tempat duduknya untuk merespon panggilan Lean. Demikian pula dengan oma, opa serta onty Angel.
"Ada apa sayang?"
"Tu mama.. Paa.." Arles menunjukkan jarinya ke arah Televisi yang sedang menyala. Sementara Lean, gadis kecil yang baru saja berteriak itu, hanya menatap kagum pada layar televisi karena melihat salah satu dari unclenya ada disana.
"DEEVAAAN?" Mereka semua serempak menyebut nama pria itu.
"Waaaaa.. uncle kita ada di TV Arles."
Para pemburu berita dari berbagai media tengah berkumpul disebuah aula besar. Kilatan kamera memenuhi ruangan itu, tatkala Devan muncul dipermukaan.
Karena jumpa pers yang disiarkan secara langsung itu mengundang seluruh stasiun TV tanah air (anggap aja seperti itu ya gaesπ€£), maka dengan sangat mudah khalayak ramai menyaksikannya dimanapun berada.
Undangan yang mendadak kepada semua media berita dari sang direktur tertampan sejagad raya ini mungkin saja akan menjadi jawaban atas pertanyaan para nitizen maha benar tentang hubungan Alin dan Devan yang sempat heboh beberapa minggu yang lalu.
Para wartawan sudah sangat tidak sabar ingin meluncurkan banyak pertanyaan kepada Devan, yang sengaja mengundang mereka pada malam ini.
Devan duduk tanpa didampingi oleh siapa pun, dihadapan banyaknya pemburu berita lengkap dengan kamera yang bertebaran didalam ruangan tersebut.
"Trima kasih kepada teman-teman media yang telah hadir memenuhi undangan saya. Saya mengundang teman-teman kesini, tidak ada hubungannya dengan jabatan saya. Jadi, mohon jangan menanyakan perihal pekerjaan ataupun tentang kondisi terkini perusahaan."
Semua orang terlihat mengangguk paham.
Ditempat lain,
Alina Lea : Jadi mau bicara apa pria jahat ini?
"Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa pentingnya saya memanggil teman-teman media sekalian. Dan mungkin ada yang tidak mengenal saya. Saya pun juga bukan seorang selebritis yang terbiasa melakukan kegiatan semacam ini. Tapi saya berada disini, setelah mengumpulkan keberanian saya."
"Jadi, saya ingin bertanya kepada kalian terlebih dahulu, apakah ada hal yang ingin kalian tanyakan kepada saya?"
"Ada pak! banyak pak!" Jawab mereka serempak.
Alina Lea: Heh, memangnya hal apa yang orang lain ingin tahu tentangnya?.
Semua orang saling menatap. Baru kali ini ada orang seperti ini. Bukannya langsung membuat klarifikasi malah mengajukan pertanyaan kepada media terlebih dahulu. Ini yang mau diinterogasi sebenarnya siapa sih?
"Saya beri kesempatan kepada kalian untuk bertanya. Silahkan!"
Seluruh wartawan mengangkat tangan dan siap melontarkan pertanyaan. Akan tetapi Devan menahan pertanyaan mereka dengan memberi kode dari tangannya. "Bertanyalah satu per satu" pintanya santai.
"Apakah memang benar bahwa hubungan anda dengan Alin hanya settingan?"
Devan: Lelaki itu tersenyum miris. "Tidak. Itu bukanlah settingan." Jawabnya singkat.
Alina Lea: Jadi ini tentang aku?π³
"Lalu dimana Alin saat ini?"
Devan: "Dia---- berada dihatiku." Jawab Devan dengan wajah yang tak terbaca.
Alina Lea: Jawaban macam apa itu?π€¨π€¨π€¨
"Apa kalian pernah bertemu dalam beberapa hari ini?"
Devan: "Ya"
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kalian?"
__ADS_1
Devan: "Hanya kesalahan prasangka. Kami-- baik-baik saja."
Alina Lea: Baik-baik saja palamu.
"Benarkah Alin telah melakukan kesalahan?"
Devan: "Tidak.. saya yang salah."
"Jadi apa Alin marah pada anda atau semacamnya?
Devan: Tersenyum miris "Tentu saja marah, mungkin dia membenci saya.
"Jadi, apa Alin mau menemui anda setelah semua ini?
Devan: "Tentu saja tidak mau. Dan itu wajar, karena dia manusia normal."
Alina Lea: Jadi ini semacam klarivikasi tentang aku?π
"Kesalahan apa yang sebenarnya dilakukan oleh anda?"
Devan: "Karena itu tadi, saya berprasangka buruk padanya."
"Lalu benarkah anda telah mencampakkannya?"
Devan: "Iya. Dan... saya sangat menyesal."
Alina Lea:πππ
"Kenapa anda tega mencampakkan wanita cantik seperti Alin jika dia tidak melakukan kesalahan?"
Devan: "Itu saya lakukan diluar kendali. Saya sangat marah saat itu."
"Lalu, bagaimana kondisi Alin saat ini?"
Devan: "Saya berharap.....dia... baik-baik saja!"
Devan: Harapanku... dia.. selalu bahagia, dan hidup bersamaku selamanya.
.
Uhuk-uhuk.. Alin yang berada di apartemen Leon seketika tersedak oleh makanan ringan yang tengah ia nikmati. "Apa katanya? Bahagia bersama?π Dasar gila."
.
Jika Alin melihat anda saat ini, apa yang anda mau katakan padanya?
Devan: Lea,--t**olong maafkan aku... dan.. berilah aku kesempatan lagi.. aku.. mencintaimu.. benar-benar mencintai kamu**." Devan mengucapkannya dengan mata yang terasa hangat. Pria itu menahan tangisnya.
"Lea? Anda menyebutnya Lea?" Semua orang bertanya-tanya.
Devan: Iya.. itu nama panggilan sayang. Seperti itulah keluarganya memanggilnya. Lea." Devan sendiri merasa terharu ketika menyebutkan nama Lea. Devan berpikir, betapa sulitnya wanitanya itu saat berjuang untuk berada didekatnya demi hubungan kak Arland dan Glesty. "Mulai saat ini, panggil Dia--- Lea."
.....
Pernyataan cinta Devan menggemparkan seluruh kota J bahkan sampai pelosok negeri. Akhirnya terjawab sudah kehebohan tentang Alin yang sempat jadi tranding topik beberapa minggu yang lalu.
Tapi, banyak yang belum puas dan penasaran! Kira-kira bagaimanakah tanggapan Alin tentang berita ini? Apakah gadis cantik itu akan kembali lagi bersama Devan? Wah.. semua orang menantikannya.
.
"Waaau.. dia sangat romantis!" Glesty tersenyum membayangkan Devan dan Lea. Membuat Arland tak suka. "Kenapa kau memuji pria lain?" Ucapan pedas itu keluar dari mulut Arland. Kini semua mata tertuju pada Arland.
"Haaah?" Glesty terkejut.
"Sayang.. dia saudaramu. Untuk apa cemburu?"
__ADS_1
"Tetap saja. Dia seorang pria dan kau memujinya! Aku tidak suka."
Glesty melirik kearah mertua dan adik iparnya. Ketiga orang itu tengah tersenyum geli setelah mendengar perkataan Arland. Apa-apaan suaminya ini, bikin malu saja.
"Sayang. Kita sudah punya 2 anak. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku." Kesal Glesty.
"Lain kali jangan diulang. Ayo bersiap kita pulang."
"Kakak, anak-anak sudah tertidur. Kurasa besok saja kalian pulang." Angel menghampiri Arland dan Glesty.
"Iya sayang! Kasihan kalau mereka harus terganggu tidurnya!" Jelas Glesty.
Dan benar, Arland melihat kedua anaknya sudah terlelap. Mungkin dua bocahnya itu merasa bosan melihat televisi yang tadi hanya menyiarkan pamannya yang lagi galau itu, hingga keduanya tertidur.
Arland nampak sedikit kesal. "Baiklah, kalau begitu ayo ke kamar aku akan menghukummu setelah ini sayang."
Lagi-lagi perkataan suaminya membuat Glesty mengerutkan kedua alisnya. "Apa salahku? Kenapa aku harus dihukum?"
"Karna kau berani membuatku marah dan cemburu dihari yang sama." Arland melangkah dan mengangkat tubuh Arles untuk dipindahkan ke kamar. Dan papa, pria paruh baya itu inisiatif menggendong Lean ke kamar yang sama dengan Arles.
"Ma.. Angel, saya permisi ke kamar dulu."
"Iya Glesty. Cepetan. Senangi suami kamu biar bisa senyum lagi." Goda mama.
Glesty hanya tersenyum dan pergi menyusul suaminya.
Di Kamar.
Glesty menerima teh hangat yang diantar oleh pelayan ke kamar Arland. Memang kebiasaan Glesty adalah meminum teh hangat sebelum tidur.
Arland keluar dari kamar mandi dengam masih mengenakan handuk.
"Sayang!" Glesty menyambut suaminya itu dengan senyuman.
"Apa? Berusaha merayuku, atau sedang menggodaku?" Arland melangkah kearah Glesty dengan senyum seringai.
"Sayang, maksudku adalah, ayo kita menikmati teh hangat ini." Glesty melirik sekilas teh hangat yang ada ditangannya.
"Aku tidak mau teh.. aku, mau minum susu." Arland mengambil pelan gelas yang ada ditangan Glesty dan menaruhnya di atas nakas.
"Sus-susu? Oh ya.. baik, aku akan membuatkannya." Glesty berbalik dengan perasaan gugup hendak keluar kamar.
"Hei.. mau kemana? Berikan aku susunya." Goda Arland, dengan menarik Glesty mendekat padanya
"I--iya.. a..ku akan membuatnya."
"Tidak perlu membuatnya sayang, aku ingin susu yang satunya.." Arland mulai melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya.
Glesty tersipu malu, dan menggigit bibir bawahnya. Sekarang dia mengerti susu mana yang dimaksud oleh Arland.
.
BERSAMBUNG.
Gaes.. masih bersambung yaπ₯°
Trima kasih kalian masih setia membaca ya gaesπ
Cerita ini akan tamat dalam beberapa eps lagi, (**Ralat, yang tamat itu cerita tentang Kisah Arland dan Glesty. Tapi... tapi... tapi.. Kita akan maju ke beberapa tahun kemudian, untuk menceritakan tentang kehidupan cinta Arles dan Lean).π₯°π₯°π₯°π₯°
Jadi A**ku mau promosikan novel yang baru aja aku buat. masih berjalan 3 eps. Judulnya "Perjodohan Janda Duda." πππππ
Hayuk Gaes, kali aja kalian suka dan mau menemaniku lagi dari awal cerita hingga akhirnya nanti. Seperti karya I Hate You but I Miss You" ini. Hehe.
__ADS_1
Semoga kalian suka ya gaesπ₯°π