
Hai... Ini author up lagi demi kalianðŸ¤ðŸ¥°.
.
.
_______________
Arland tidak membiarkan Glesty pergi begitu saja dari hadapannya saat ini. Mendengar setiap ucapan yang penuh penekanan dari mulut Glesty beberapa saat yang lalu, Arland menangkap aura kebencian yang wanita itu tunjukkan bukan hanya untuk Arland melainkan juga untuk keluarganya.
"Gles... tunggu!" Tanpa basa-basi lagi Arland memeluk tubuh Glesty dari belakang. Arland sudah tidak tahan menyimpan rasa rindunya pada wanita yang sangat dicintainya ini.
"Aku sangat merindukanmu... sangat merindukanmu Gles.." Lirihnya.
Degh,,
Jantung Glesty merasa terenyuh dibuatnya..
Devan, Lea dan kedua orang tua Arland tidak mengucapkan sepatah katapun saat ini. Mereka hanya terdiam menyaksikan adegan didepannya. Keempatnya juga penasaran akan bagaimana adegan selanjutnya.
"Arland, jangan bersikap begini. Lepaskan aku.." Lirih Glesty yang masih terdengar ditelinga Arland." Air mata keduanya keluar begitu saja..
"Tidak. Aku tidak punya keinginan untuk melepasmu Gles.." Suara Arland mulai berat dan penuh getaran.
.
.
Ditempat lain.
Arles yang masih betah di dalam selimutnya kini sedang menangis tanpa sepengetahuan Lean. Arles kesakitan menahan perih pada tangannya. Bahkan saat ini pergelangan tangan kirinya sudah terlihat bengkak dan sedikit membiru. "Mama.. tolong.. ini sangat sakit.."
Arles mengingat kejadian tadi siang saat insiden berdarah yang menimpa temannya. "Aku pasti dihukum Tuhan karena sudah berbuat kasar." Batin Arles, bocah itu merasa menyesal telah berbuat kasar pada temannya.
.
.
\=\=\=\=\=
Glesty berusaha menepis tangan Arland yang masih betah memeluknya. Setelah berhasil terlepas dari pelukan lelaki itu Glesty membalikkan badannya menghadap Arland. "Tolong jaga sikapmu. Jangan berlebihan." Ucapnya. Arland sedikit syok melihat wajah Glesty yang juga dibasahi oleh air mata.
Kemudian Glesty menggeser tubuhnya dikarenakan tubuh Arland menghalangi pandangannya dari kedua orang tua itu.
"Nyonya, Tuan, tolong jaga baik-baik putra anda agar tidak lagi muncul dihadapan saya." Tegas Glesty, lalu ia benar-benar pergi dari sana.
Kedua orang tua itu tau benar maksud Glesty. Keduanya hanya bisa menarik nafasnya berat.
Arland? Pria itu tetap keukeh mengejar Glesty.
Tinggallah diruang itu kedua orang tua Arland, Devan juga Lea.
"Bunda, Ayah, ayo kita pulang." Ajak Devan lalu berdiri dari duduknya tanpa mau menghiraukan keberadaan Lea.
Devan yang adalah keponakan mereka, memang terbiasa memanggil orang tua Arland dengan panggilan ayah dan bunda.
__ADS_1
"Van, dengarkan aku dulu." Lea berusaha menggapai tangan Devan, tapi laki-laki itu tidak membiarkan Lea menyentuhnya.
"Maaf, kita sudah selesai LEA." Tegas Devan. Lalu pergi dari hadapan Lea. Lea tidak mau membuang kesempatan. ia lalu menyusul Devan.
Lea sudah tak memperdulikan tatapan semua orang yang mereka lewati saat ini, banyak yang menatap aneh ke arah Lea.
"Bukankah wanita itu Alin?"
"Dia gadis pemain iklan itu bukan.?"
Beberapa orang membicarakan tentang Lea dan ada juga yang mengambil gambar maupun video melalui ponsel mereka.
Keluar dari hotel tersebut, mobil Devan ternyata sudah siap menunggunya. Devan benar-benar kecewa pada Lea jadi ia tidak menghiraukan gadis itu lalu masuk ke dalam mobil.
"Van.. van.. tunggu van.. van jangan pergi... jangan tinggalin aku please.." Lea mengetuk-ngetuk mobil yang sudah tertutup rapat itu.
Devan tidak perduli. Ia lalu menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya begitu saja. Lea bahkan terjatuh karena heels yang ia kenakan tersandung saat mencoba berusaha berlari agar bisa menghentikan mobil Devan.
Dan, Nihil. inilah yang ia dapatkan sekarang, luka dihatinya.
Dan tiba-tiba, entah dari mana datangnya, saat ini Lea dikelilingi oleh banyak sekali wartawan yang melontarkan berbagai pertanyaan padanya, menyangkut hubungan percintaannya dengan Devan.
"Iya, benar.... aku,,, telah melakukan kesalahan, dan sekarang aku dicampakkan." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Lea yang menimbulkan berbagai macam spekulasi.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Arland tidak ada niat untuk pergi dari sana. dia malah berdiam saja di mobil dan tak henti-hentinya melihat ke arah rumah minimalis itu. Ia sudah persis seperti detektif yang sedang melakulan tugas pengintaian dan menunggu kapan waktunya bergerak untuk menangkap target.
Ia tiba-tiba mengingat dua bocah itu. Perkataan Arles padanya tadi siang berlarian dikepalanya.
"aku sudah tidak butuh paman untuk berpura-pura jadi papaku lagi."
"Aku sudah tidak butuh papa."
"Aku kecewa karena paman tidak mendengar saat ku panggil papa"
Mengulang kalimat-kalimat tersebut dikepalanya membuat Arland begitu merasa bersalah.
"*Apa gara-gara aku anak itu meluapkan amarahnya pada teman-temannya....? Benar. pasti benar begitu.
"Arles,, maafkan aku. Tanpa sengaja aku telah mengingkari janji. Kau pasti sangat kecewa*." Arland kembali memgeluarkan butiran bening itu dari matanya.
Arland lalu teringat bahwa ia memiliki nomor ponsel Arles. "Lebih baik aku menghubunginya."
Tuuuut... tuuuut.... tuuuut... tuuuut... tuuut...
Arles tidak mampu lagi menjawab ponselnya. bocah itu juga tidak ingin bicara dengan siapapun. Ia sedang menahan sakit luar biasa dipergelangan tangannya.
"Ah, mungkin saja dia sudah tidur."
__ADS_1
Tapi Arles merasa terganggu dan sedang ada yang mengganjal dikelapanya. Arland kembali memgingat bagaimana bocah itu hanya menggunakan sebelah tangannya saja saat mendorong ibu temannya, memluk mamanya, bocah itu bahkan egois meminta duduk di boncengan motor bagian depan tadi siang.
"Sepertinya anak itu tidak banyak menggerakkan tangan kirinya."
"Ah, semoga kau baik-baik saja Arles" Batin Arland.
Setelah melihat rumah minimalis itu dalam keaadan gelap dan menyisakan cahaya kecil yang artinya pemiliknya akan segera beristirahat, Arland pergi dari sana. Kali ini, dia ingin menemui Lea, adik iparnya.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Dikamarnya yang hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu tidur, Glesty sedang duduk termenung. Ia kembali mengingat tentang pria itu, pria yang kembali bersikap manis terhadapnya.
"Arlaand, aku juga sangat merindukanmu. Rasa rinduku ini sangat menyakitkan. Menyakitkan karena aku masih membencimu dan keluargamu. Maafkan aku karena masih menyimpan dendam." Glesty menangis sejadi-jadinya dalam kesendirian sambil menatap sebuah foto berukura 4R yang didalamnya ialah Arland yang sedang tersenyum.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Arland menyusuri setiap sudut kota B namun tidak menemukan keberadaan Lea. Ia pun telah menghubungi Devan, namun sepertinya Sepupunya itu sudah tidak ingin tahu tentang Lea. Arlamd juga telah mengecek kamar yang ditempati Lea di hotel, tapi gadis itu telah chek out dari hotel tersebut.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Saat ini, Lea sedang duduk bersembunyi di dekat sebuah jembatan layang yang ada di kota B yang kebetulan sedang sepi. Saat ini sedang hujan gerimis, sedangkan Lea merasa dirinya harus bersembunyi dari kejaran pada wartawan berita dan semua orang. Ia menyalakan ponsel dan mengirim pesan.
Lalu, ia menghubungi nomor ponsel asisten pribadinya.
.
.
\=\=\=\=\=
Ditempat lain, Leon sedang menscrool media sosial pribadinya pada layar ponsel miliknya. Lelaki itu tampak tersenyum kecil dengan satu sudut bibirnya dan sesekali menggeleng kepalanya.
"Aku sudah bilang, tapi kau tidak percaya. Dasar gadis bodoh." gumam Leon.
.
.
.
Bersambung.........
Gaes... Terima kasih ya telah membaca. 🥰
__ADS_1
Salam sehat dari Reetha untuk kalian semua😊😊😊😊