
Masih lanjutan flashback Versi mama Dini.
Hari demi hari sepertinya Calista sangat menikmati hidupnya. Mama Dini juga tidak pernah membayangkan bahwa anak gadisnya ini akan berubah menjadi gadis dewasa hanya dalam beberapa hari.
Calista yang setiap hari biasanya selalu merengek manja jika menginginkan sesuatu, "Mamaa.. belikan tas model ini dong, Calis sukaaa.. Papa... ini ada sepatu model baru, Calis suka. Kalau sudah ada uang, belikan ya pa..."
Calista yang selalu di urus segala keperluannya oleh mama "Mamaa.. Calis mau pake baju yang ini tapi belum di setrika.. Mama.. hari ini Calis pengen makan ini dan itu.."
Calista yang setiap hari menceritakan tentang pacar satu-satunya yaitu Arles, Selama 6 bulan terakhir ini. Mulai dari hari pertama menemukan Arles di kampus yang sama.
"Mamaaaaaaa, papaaa.. Calis sudah menemuka Arles!" Dengan wajah berbinar.
"Mama papa tau? Tadi Calis hampir aja kalah cepat. Soalnya ada cewek yang mau katakan cinta ke Arles. Dan,,,, Arles menolak cewek itu karena Calista. Maa paaa.. Calis keren kan?
"Maa.. hari ini pas jalan bareng, Arles pegangin tangan aku ma... ma.. aku seneng banget."
"Maa.. Arles bilang sayang ke Calis ma.. dia sayang banget sama aku maa.."
Setiap hari, tidak pernah sekalipun lupa menceritakan tentangnya dan Arles.
__ADS_1
"Calis, sudah 6 bulan kamu sama-sama Arles. Tapi, kenapa kamu tidak pernah kenalin ke papa mama?" Tanya mama Dini.
Calis hanya tersenyum malu. "Nanti aja deh ma! Calis malu bawa pacar kerumah. Hehe"
"Trus apa Arles pernah kenalin kamu ke orang tuanya?" Calis menggeleng cepat "tiap hari Arles ngajak main kerumahnya, tapi Calis ga mau ma.. Calis malu. Hehe"
"Mama mau tau, apa saja yang pernah kalian lakukan? Maksud mama adalah kontak fisik." mama bertanya tanpa basa-basi, ingin memastikan bahwa putrinya aman.
"Maaa.. Calis kan udah cerita tiap hari. Masa mama lupa?"
"Apa itu? Gandengan tangan?" diangguki cepat oleh Calis.
"Cuma itu? Tidak ada pelukan? Ciuman?" Selidik mama.
"Bukannya mama menyuruh kamu melakukan itu. Mama cuma mau tau apa Arles pernah lakuin itu ke anak mama."
"Gak ada ma.. kita cuma gandengan tangan. Kayak gini" Calis menautkan jari-jari tangannya pada tangan milik mama. Mempraktikkan hal manis yang dilakukan Arles itu setiap hari.
Mama hanya mengangguk seraya tersenyum "tidak sia-sia putriku mencari bocah itu. Ternyata dia tumbuh jadi anak yang baik." Batin mama.
__ADS_1
Hingga hari buruk itu datang. Papa Yanto (papanya Calis) mengalami kecelakaan lalu lintas.
Ditambah lagi dengan kenyataan tidak menyenangkan lainnya, yaitu hubungannya dengan Arles telah usai dan tidak lagi melanjutkan kuliah.
Seorang Calista Nara tidak pernah lagi bersikap manja. Dia seakan lupa bahwa dirinya hanyalah seorang putri yang selalu merengek, mengatakan apa pun yang dia inginkan. Calista berubah menjadi gadis dewasa, pekerja keras dan mengutamakan keluarganya daripada dirinya sendiri.
Apa lagi nama Arles, dia tidak lagi menyebutkan nama itu. Baginya, tidak perlu harus mengejar seseorang yang ingin pergi meninggalkan kita.
Apakah Calista sedih? Tentu saja. Kecewa? Sudah pasti. Namun, Calista sadar sepenuhnya bahwa hidup tidak berhenti sampai disini. Masih ada hari esok yang harus kita hadapi. Calista menyibukkan dirinya dengan bekerja tiap hari dan berusaha menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang sekelilingnya.
Flashback end.
***
Mama Dini, tidak bisa memjamkan matanya untuk beristirahat. Wanita itu kembali terisak disamping suaminya ketika mengenang masa sulit yang pernah dialami oleh putrinya itu. "Calista... maafkan mama dan papa karena membiarkanmu berkorban seorang diri nak." Lirihnya dalam hati.
"Mama berharap, kamu akan menjadi gadis yang sangat beruntung setelah ini sayang. Mama harap kamu akan bahagia seperti senyuman cantikmu itu." Batinnya lagi.
Ya, selama ini, Calista memang berjuang mati-matian untuk menyambung hidup keluarganya. Rumah sederhana milik mereka telah dijual untuk segala biaya pengobatan papa. Hari demi hari tabungan mama juga semakin menipis terpakai untuk biaya papa dan hidup mereka.
__ADS_1
Beruntungnya, Dion, adik Calista mendapatkan beasiswa untuk belajar diluar negeri, sampai hari ini. Sebenarnya, Dion tidak tega meninggalkan kakak dan mama Dini dalam keadaan begini, papa yang hanya bisa tertidur. Tapi Calista memaksa adiknya itu untuk tetap menerima tawaran beasiswa itu. Karena menurutnya, tidak mungkin ada kesempatan seperti ini lagi. Ini sudah tahun kedua Dion berada di Jepang.
\=\=\=\=\=\=\=\=