
Hai hai.... Selamat membaca ya gaes...
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mama memasuki ruangan dengan langkah pasti, dan betapa terkejutnya nya ia, melihat adegan didepannya, yang tak seharusnya ia lihat. Tanpa perintah, ia membalikkan tubuhnya.
.
Arland dan Glesty saat ini sedang beradu pandang dalam jarak wajah yang sangat dekat. Sehingga, siapapun yang melihatnya dari arah pintu masuk, akan mengira mereka tengah berci*man. Tentu saja wanita paru bayah itu kini salah sangka.
"Setelah ini akan ada momen yang tepat untuk kembali membujuk Glesty. Ah, semoga saja dia masih mau buka hati dan memaafkanku dan papa. Kalau Arles sudah bangun, baru aku akan mendekati Glesty lagi. Biarkan dia tenang dulu" Batin mama Arland. Ia mengatur kata demi kata yang baik untuk dikatakan pada Glesty.
.
.
Arland semakin mendekatkan wajahnya berharap akan bisa menikmati bibir sexy didepannya ini yang sangat dirindukannya. Namun sayangnya, keberuntungan tidak berpihak. Glesty mendadak menjauhi tubuh Arland yang sedari tadi ia peluk.
Ekspresi wajah Glesty tampak menunjukkan bahwa dirinya tidak menyangka telah bersikap berlebihan. "Ak..aku, tadi ha.. hanya ingin ber..terima kasih Arland." ujarnya canggung.
Terlihat Arland menarik nafasnya berat, tanpa mengucapkan apapun. Ia sadar bahwa dirinya sudah berharap lebih. Arland merasa ditolak oleh sikap Glesty. Ia pun berlalu keluar.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Dua hari berlalu. Arland tidak lagi menampakkan wajahnya dirumah sakit. Ternyata pertemuan mendesaknya dengan perusahaan diluar negeri, mengharuskan laki-laki itu terpaksa meninggalkan tanah air.
.
.
Kantor Grup X di kota J.
Diruang yang berbeda, baik Leon maupun Devan terus saja menghubungi nomor yang sama melalui ponsel mereka.. Menit demi menit berlalu, nomor tersebut selalu dan selalu saja tidak aktif.
Akhirnya Leon sudah tidak sabar. Ia melangkah dengan wajah geramnya. Leon merasa, kepergian adiknya itu disebabkan oleh Devan.
.
Tiba didepan ruang kerja Devan, tanpa basa basi Leon membuka pintu dengan sangat kasar.
Bruuaak.
Pintu terbuka dan Devan tentu saja sangat terkejut. Terlebih lagi dia melihat manager Toni yang muncul dari sana dengan wajah yang sangat menakutkan.
"Ada apa ini? Apa kau tidak punya sopan santun?" Tanya Devan, yang juga menatap tajam ke arah Leon.
"BUGH" Leon menyerang Devan dengan buah genggamannya. Devan tentu saja tidak terima. "Brengs*k."
"BUGH" Devan membalas Leon.
Dan terjadilah baku hantam, yang membuat wajah tampan keduanya berganti dengan tampilan mengerikan.
Kacamata bening yang biasa bertengger pada hidung mancung Leon pun sampai terlepas. Namun, lelaki itu masih sempat memungutnya lagi.
__ADS_1
Devan menebak bahwa aksi berani Manager Toni ini adalah sebagai tanda protes atau pembalasan untuk Lea. Memikirkan hal itu Devan semakin geram. Ia sangat marah pada pria dihadapannya ini.
"Kemana Lea? Haaah? Kemana kau membuangnya?" Akhirnya Leon bertanya, yang membuat Devan menghentikan gerakannya.
"Ap.. apa?" Devan mengerutkan kening.
"Aku bertanya dimana Alina Lea! Kau tidak dengar? Sarkas Leon.
"Apa maksudmu? Bukan kah kau selalu ada didekatnya? Hah?" Balas Devan tak kalah tajam. Namun, sedetik kemudian, kekhawatirannya akan gadis itu menguasai kepalanya.
Menyadari lawannya yang kini lengah, Leon melancarkan serangannya. Ia mendorong tubuh Devan hingga terhempas pada dinding.
Tak puas dengan itu, Leon kembali mengepalkan tangannya dan hendak menghadiahi bogem mentahnya pada wajah laki-laki yang telah menyakiti adiknya ini.
Saat hendak menghujani Devan dengan tinjunya, ada sebuah tangan kuat yang menahan tangan Leon.
"Pa.. Pak Arland?" Devan merasa terkejut sekaligus bersyukur karena Arland muncul disaat ini.
Arland tidak melepaskan tangan Leon, sebelum Leon melepaskan cengkeramannya pada Devan.
Dengan berat hati Leon melepaskan Devan, lalu membalas tatapan Arland padanya.
"Sekarang kau sedang menatapku?" Tanya Arland santai.
"Iya" Jawab Leon singkat.
"Katakan, perihal apa ini? Apa ini tentang Lea?" Tanya Arland datar. Arland merasa sedikit kagum akan keberanian Leon.
Tidak ada jawaban dari keduanya.
"Manager Toni! Kenapa kau terlihat sangat marah pada Direktur Devan? Apa yang sedang kalian perebutkan?" Arland mencengkeram kerah baju Leon. "Jawab aku. Aku harus tahu siapa yang sebenarnya bersalah disini." Arland semakin memperlihatkan kegeramannya.
Melihat reaksi Arland, Leon malah menampilkan senyum sinis. Membuat Arland sedikit mengerutkan kening.
Mendengarkan kata "milikku" dari bibir Manager Toni membuat Devan kembali merasa emosi dan marah. Devan tak suka mendengar pria ini menyebut Alin adalah miliknya.
"Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud seperti kalian?" Arland mulai menekan setiap kata-katanya.
"Termasuk kau.. kakak ipar! Oh bukan.. Mantan kakak ipar!" Leon tersenyum dengan sebelah bibirnya.
"Apa? Kakak ipar? Jadi---" Kini Devan tahu bahwa Alin dan Leon adalah kakak beradik.
"Leon?" Raut wajah Arland langsung berubah. "Kau Leon?" Ulangnya lagi melepaskan cengkeramannya.
Leon lalu melepaskan kacamata beningnya dan titik tahi lalat yang selama ini menempel pada dagunya untuk memaksimalkan penyamaran. Wajah Leon yang asli telah kembali meskipun tidak begitu persis dengan wajah yang di ingat oleh Arland.
"Ya.. ini aku, Antoni Leon!"
Arland menarik dan membuang nafasnya kasar sembari menatap wajah Leon, sang adik iparnya. Arland merasa legah dalam hatinya mengetahui bahwa Leon dan Lea selama ini dekat dengannya. Ia sama sekali tidak merasa marah pada pria ini. Yang ada, Arland merasa bersyukur karena Leon telah menjaga Glesty dengan baik.
Memikirkan kebersamaan mereka dulu, Airmata Arland keluar begitu saja.
Melihat reaksi dari mantan kakak iparnya ini, Leon seketika merasa iba.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Ruang Rawat Arles.
__ADS_1
"Mama.. mama.." Suara Arles pelan.
Mendengarkan suara putranya, Glesty langsung membuka matanya. Ternyata ia tertidur disamping Arles.
Jangan ditanya Lean mana? Bocah imut itu beberapa hari ini tinggal bersama opa oma itu di kediaman Aurel dan mamanya.
"Sayang.. kamu sudah bangun nak?" Glesty memencet tombol yang menjdi bel penghubung dengan dokter yang bertugas.
"Sayang.. Maafkan mama sayang.. maafkan mama ya!" Glesty mengelus-elus kepala bocah itu. Arles hanya tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia saat terbangun ada sang mama yang sangat ia rindukan. Mama yang sempat mengabaikannya ternyata telah kembali.
Tim medis pun datang untuk mengecek kondisi Arles. Karena itu, Glesty diminta untuk menunggu di luar.
"Glesty" Seorang wanita paru baya menyapa Glesty dengan hangat, saat melihat senyum diwajah Glesty yang muncul dari pintu.
"Ini saya bawakan jaket tebal. karena sepertinya jaketmu terlihat tipis. Malam ini sangat dingin. Pakailah ini!" Ujar si mamanya Arland.
Karena perasaan Glesty sedang baik, ia menerima jaket itu, seraya berterima kasih.
Tak lama, tim medis muncul dengan wajah senang. Mereka mengatakan bahwa Arles sudah mendekati kesembuhan total, dan besok atau lusa sudah boleh pulang.
.
Glesty bermaksud untuk kembali menemui Arles, akan tetapi mantan mertuanya itu menahan tangannya.
"Tunggu Glesty, saya mau bicara." ucapnya dengan wajah memohon.
Glesty melirik pada tangannya yang tengah ditahan oleh si mama. Karena paham akan lirikan Glesty, mama melepaskan tangannya.
"Silahkan katakan," ucap Glesty santai.
"Tolong katakan memang benar bahwa putramu itu, adalah darah daging Arland.. Jika kau berkata iya, maka aku akan percaya begitu saja Glesty." Ujarnya.
"Biarkan aku dulu yang bicara nyonya....
Kenapa anda sangat ingin tahu tentang putraku?
Anda mengatakan putra anda tidak mencintaiku itu sebabnya dia tidak jujur padaku tentang siapa dia, dan anda memintaku meninggalkannya. Anda bahkan tidak memberiku kesempatan untuk melihatnya sebelum pergi membawanya keluar negeri.
Kalian tidak pernah berfikir sebesar apa luka yang akan aku rasakan, saat suami yang sangat menyayangiku menghilang begitu saja."
Gleaty menuturkan kalimat panjang itu sambil menatap nanar kearah mantan ibu mertuanya, dengan linangan air mata.
"Glesty.. Maaf" mama menangis.
"Benar! Itu benar! Darah putra berhargamu mengalir dalam tubuh anakku. Lalu, bagaimana? apakah anda akan membawanya juga, seperti membawa pergi ayahnya dulu?" Glesty benar-benar menangis.
Deg deg.. deg deg..
Glesty maupun mama tidak menyadari ada dua orang yang mendengar dan menyaksikan semua itu.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Bersambung ya Gaes..
Terima kasih banyak yah gaes, kalian semua adalah sumber semangat author dalam menulis cerita ini.🥰
__ADS_1
Salam Sehat🥰
Author mengasihi kalian😇