I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ke Rumahnya Lagi (Season 2)


__ADS_3

Hari ini Glesty bangun lebih pagi dari biasanya. Karena, hari ini ia berencana mengunjungi Dini, mamanya Calista, sekalian mau melihat keadaan gadis yang digilai oleh putra tampannya itu.


Glesty berencana ingin membangun kerjasama bisnis kecil-kecilan dengan Dini. Alasan aja sih sebenarnya, lebih tepatnya Glesty ingin membantu Dini dan Calista, akan tetapi dia takut akan menyinggung calon besannya itu. "Hadeh.. calon besan? Boro-boro mau besanan. Nara aja udah illfeel sama Arles, satu-satunya dokter tak berperasaan di negeri ini." Glesty heran dengan pikirannya sendiri.


🍁


"Saraapaaan!"


Glesty memberi kode bahwa sarapan telah siap.


"Morning sayang" Arland menghampiri Glesty dan langsung memberi morning kiss di bibir isterinya itu, memeluk Glesty dari belakang.


Lean yang baru saja akan menuruni tangga, masih dalam proses mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih di alam mimpi, tak sengaja melihat pemandangan di dekat meja makan, dimana mama dan papa sedang bermesraan.


"Haaaaaaa!😯😯" Mata Lean membulat seketika. Seumur hidupnya, untuk pertama kalinya Lean menyaksikan hal seperti ini. Apalagi ini papa mamanya sendiri.


"Kau kenapa?" Suara Arles membuat Lean reflek berbalik dan menahan saudara kembarnya itu agar tidak menuruni tangga.


"Tunggu.. tahan.." ucap Lean dengan wajah tegang.


"Apaan sih? Liat hantu?" Arles meneruskan langkahnya dan......


"owhs" Arles pun reflek berbalik sembari memijat pelipisnya. "Kenapa kau tidak bilang? Kau membiarkan papa dan mama menodai mataku!" Kesalnya pada Lean. Terjadilah perdebatan alot antara Arles dan Lean, semakin lama dengan volume suara yang semakin meninggi.


"Boy... ada apa lagi nih?" Tiba-tiba Arland sudah berada di dekat mereka, melihat Arles menjitak-jitak kepala Lean. Memang hanya pelan, tetapi Arland merasa sakit melihatnya.


"Papaa?!" keduanya terkejut, membuat Arland mengerutkan dahi.


"Ayo turun sarapan! dan kamu Boy, jangan kebiasaan menjitak kepala princess papa."


Arles hanya memutar bola matanya πŸ™„ jengah mendengar papa memihak Lean. "Dia yang salah lebih dulu kok pa.. aku tidak akan menodai tangan yang sangat berjasa ini kalau dia tidak macam-macam denganku." bela Arles pada dirinya.


"Benarkah kamu yang salah princess?" tanya Arland. Kini mereka bertiga sudah duduk manis memgelilingi meja makan bersama Glesty.


"Aku tidak salah pa... dia aja yang baper.." jawab Lean sekenanya.


"Emangnya apa lagi ini Lean?" Glesty mulai ikut campur.


"Itu ma, Arles jitak-jitak kepala aku, cuma gara-gara aku bilng dia ga jodoh sama Calis.


"Apa??" papa mama sama-sama setengah berteriak menanggapi Lean. Sementara Arles, melayangkan tatapan permusuhan ke arah Lean.


"Lean, kamu yang salah.." ucap Glesty, singkat.


"Haaa? Lean menunjuk dirinya sendiri lalu menatap kearah papa. "Paaa.. lihat.. mama juga nyalahin aku!"


"Sorry princess.. istri papa selalu benar." ucap Arland cuek.


"Paaa.. jadi papa ga mihak aku sekarang?"

__ADS_1


Papa dan mama hanya tertawa geli.


"Sayang.. lain kali kalo bicara tentang Calista Nara, tolong di filter dong sayang.. kamu bilang putra mama ga jodoh sama Calis, sama aja kamu lagi angkat bendera perang. Kayak ga tau Arles aja deh." Glesty.


"Huffff.. iya deh" Lean pasrah. Tapi dalam hatinya dia masih mengata-ngatai Arles semaunya. "Rasain.. Coba aja dekatin Calis lagi kalau bisa!" batinnya.


"Hmmm.. ngomong-ngomong, mama udah siap rapi sepagi ini, mau kemana?" Tanya Arland.


"Iya, jam segini kan mall belom buka mama." Lean menimpali.


"Ini.. mama mau ketemu mamanya Calista. Seperti yang aku bilang tadi malam sayang.. kamu inget kan?"


"Oh... begitu!" Arland mengangguk paham.


"Mendengar nama wanitanya disebutkan, Arles yang hanya diam, langsung melirik mama papanya.


"Apa, lirik-lirik? mau nitip sesuatu buat mantan pacar kamu itu?" goda Glesty pada putranya.


"Maa.. aku juga mau kesana ma. Mama ga lihat aku sudah rapih?"


"Lah.. bukankah kamu mau berangkat kerja? Jangan macem-macem loh boy. Jangan sampai kinerja kamu menurun gara-gara masalah perasaan." Arland.


"Bener tu pa.. mau dipecat? Tar di lengser, Terdampar ntar ditempatnya opa baru tau rasa. Kayak aku donk, atasan aku kan papa jadi posisi aman, ga terancam." canda Lean, yang benar-benar minta di jitak.


"Ya sudah, aku berangkat duluan!" Arles bangkit dari duduknya.


"Tunggu sayang, bagaimana kalau kita sama-sama." Glesty menahan tangan Arles.


"Mama beda keperluan kali sayang.. bukan mau ketemu Calista. Ayo jalan.. emangnya kamu pikir gadis itu bakal bukakan kamu pintu kalau kamu kesana sendirian? Yang ada dia pasti sembunyi di kamar! Ayo.." Glesty berjalan mendahului dan masuk ke mobil putranya itu.


Arles hanya bisa pasrah. Mama memang tak terbantahkan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tibalah mobil Arles di depan gang masuk menuju rumah kontrakan Calista. Ibu dan anak itu berjalan kaki bersama.


Sesekali Glesty melirik Arles yang berjalan disampingnya. Arles tampak berjalan dengan gaya Coolnya, namun raut wajah tampannya itu tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatir. Mungkin saja Arles khawatir dengan respon Calista saat bertemu nanti?


🍁🍁


Tok tok tok.


"Din.. ini saya.. Glesty!"


Ceklek.


Pintu terbuka.


__ADS_1


"Kalian?" Ucap Dini yang langsung berhadapan dengan Arles dan Glesty.


"Boleh kami masuk?" Glesty.


"Oh Silahkan!"


Arles dan Glesty berjalan masuk dan memdapati Calista didalam.


"Calista?" Arles.



Arles melihat Calista yang tengah duduk santai, namun dengan ekspresi wajah yang sama seperti kemarin.


Menyadari kehadiran Arles, Calista berdiri dan bilang "Ma... aku siap-siap berangkat kerja dulu yah!" Seolah-olah dia tidak melihat adanya tamu dirumah itu.


"Calis tunggu.." Arles menahan Calista yang hendak masuk ke kamarnya. Tanpa perasaan malu lagi, pria itu memeluk tubuh Calista, gadis yang sangat dirindukannya itu.


Glesty dan Dini saling melirik, tanpa memgatakan apapun.


"Lepaskan aku!"


"Tidak.! Dengarkan aku dulu Calis..."


"Lepas!"


"Maaf.... maaf.. maaf ya... maafkan aku ya!" Arles memohon dengan suaranya yang semakin terdengar serak.


Glesty dan Dini hanya diam menyaksikan, tidak ingin ikut campur.


"Lepasss.. aku bilang lepaass."


"No.. no."


"Lepas.. bukankah kamu jijik dengan sampah sepertiku?"


"Tolong dengar dulu Calista!"


"Aku tidak punya waktu." Calis berusaha dengan sekuat tenaga menepis tangan Arles, yang akhirnya terlepas dengan kasar.


.


.


Bersambung...


Tengkyu sudah baca😊😊😊


Ada yang nanya di kolom komentar Author domisili mana.?

__ADS_1


Author jawab disini ya: Author Reetha berdomisili di Kota Tarakan Kalimantan Utara.


Hehehe.. ada yang pernah dengar nama tempat asal author? atau ada yang sama? hehehe..


__ADS_2